SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Leon Perhatian Kepada Fira


__ADS_3

Leon mengambil tasnya kembali dan melihat kearah Darda dan juga Dino yang ada di sini. Dia akan segara pulang karena masih ada urusan dengan Fira yang saat ini ada di rumah Amar.


"Sorry, gue ada urusan."


"Lo mu ke mana?" tanya Dino merasa penasaran dengan Leon yang terlihat terburu-buru setelah mendapatkan telepon dari seseorang yang Dino sendiri tidak tahu siapa.


"Gue mau pulang duluan. Besok kita bisa bertemu di sekolah untuk membahas ini," ujar Leon tetapi ditolak oleh Darda.


"Tidak, jangan di sekolah!"


Darda tidak mau kalau di sekolah karena dirinya selalu diawasi oleh seseorang dan ini yang membuat dia merasa tidak bebas. Apalagi orang tersebut yang selalu mengancam dirinya agar tidak menceritahu kejadian tentang Lena.


Dino menaikan sebelah alisnya karena dia merasa kalau Darda menyembunyikan sesuatu dari dirinya. " Kenapa lo gak mau bertemu di sekolah? Apa alasan lo sama seperti dulu dengan Lena? Makanya lo melakukan hubungan secara diam-diam?" tanya Dino.


Darda tidak bisa menyembunyikan lagi, lebih baik jika memang dia cerita saja agar mereka tahu. Syukur kalau Dino nanti tidak salah paham lagi padanya. Apalagi Leon menatap dirinya dengan pandangan curiga. Itu yang membuat dia sedikit tidak nyaman.


"Ada seseorang yang selalu ngawasin gue di sekolah. orang itu selalu meneror gue di sekolah. Jadi, lebih baik kita bertemu di suatu tempat saja," jelas Darda.


Leon terdiam sambil menatap mata Darda dengan serius, mencari kebenaran dari perkataan orang tersebut. "Apa ini ada hubungannya dengan orang yang membuat celaka Lena?"


Darda mengangguk membenarkan itu semuanya. Orang itu tahu kalau gue selalu diam-diam menyelidiki kasus Lena. Dia melarang gue untuk mengusutnya," jelas Darda membuat Leon dan Dino terkejut.


"Boleh gue minta nomornya?" kata Leon.


Darda mengangguk dan dia mengeluarkan ponselnya. Dia memberikan nomor orang tersebut kepada Leon. Darda selalu menghubungi nomor orang tersebut tetapi selalu tidak diangkat dan kadang tidak aktif.


"Ini dia nomornya," jelas Darda.


Leon menerimanya sambil mengangguk, dia akan meminta Amar nanti untuk menyelidiki orang yang tersebut. "Baiklah nanti kita ketemuan di tempat lain saja. Nomor orang ini gue ambil, nanti gue kabarin kalau sudah nemu pemiliknya. Gue pergi dulu," ujar Leon yang memang buru-buru harus pergi ke rumah Amar sekarang.


Fira sedang ada di rumah Amar dan ini membuat dia harus datang ke sana. Apalagi Amar mengatakan kalian Fira dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Itu membuat Leon merasa khawatir. Takut terjadi sesuatu dengan Fira, apalagi dia takut ini ada hubungannya dengan wanita itu yang memberitahu tempat kaja dian itu


"Lo hati-hati Leon," ujar Darda.


Dino melihat kepergian dari Leon barusan, mungkin dia juga harus pulang sekarang. Dia tidak mungkin lama-lama di sini terus.


"Dino tunggu dulu," panggil Darda sebelum pergi.


"Kenapa?" tanya Dino menaikan sebelah alisnya


heran.


"Lo pasti sudah tahu banyak lewat buku diary Lena kan?" tanya Darda sedikit ragu. Darda yakin kalau banyak rahasia yang ditulis oleh Lena di buku diary nya.


"Iya tentu saja, termasuk tentang diri lo. Dia sangat mencintai lo selama ini," ujar Dino mengatakan itu kepada Darda.


"Gue memang pengecut selama ini karena tidak bisa menampilkan dia di publik. Tapi kamu tahu ada orang yang memang mengincar gue karena gue adalah cucu pemilik sekolah itu. Gue takut terjadi sesuatu dengan Lena dulu."

__ADS_1


Dino paham dengan posisi Darda saat ini, walaupun dia kecewa dengan pria itu. Tetapi Darda sudah membuktikan dengan membantu dirinya ketika dibully oleh Gumara dulu.


"Gue percaya sama lo, kalau begitu gue pergi dulu. Jika ingin bertemu jangan lupa hubungi gue saja."


Dino mengatakan itu lalu dia memutuskan untuk pergi rumah Darda sekarang. Dia naik motor Vespa nya. Darda hanya melihat kepergian dari temannya. Ada rasa khawatir dalam dirinya sekarang. Ada alasan mengapa tadi dia tidak pergi ke sekolah. Darda tidak mau terus diawasi oleh orang itu.


Di rumah Amar.


Amar awalnya terkejut ketika ada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Biasanya kalau Leon akan masuk ke dalam rumahnya dengan begitu saja tanpa mengetuk pintu.


Sampai akhirnya karena Amar merasa penasaran, akhirnya Amar membuka pintunya dan terkejut ketika melihat orang tersebut yaitu Fira. Wanita yang waktu itu mengaku sebagai kekasihnya Leon.


Lebih terkejut lagi dengan penampilan wanita itu yang bisa dikatakan buruk. Bajunya kotor sekali seperti lumpur. Basah kuyup dan tercium bau yang sedikit tidak sedap.


"Lo tidak apa?" tanya Amar ketika melihat kearah Fira.


"Gue ingin ketemu dengan Leon," ujar Fira seperti memohon kepada Amar.


Amar menatap kearah orang tersebut yang malah merasa tidak tega. Bahkan dia merasa khawatir ketika melihat penampilan wanita itu dari biasanya.


"Yaudah lo masuk dan duduk dulu. Leon belum pulang, biar gue hubungin dia dulu," ujar Amar sedikit berbohong tentang Leon yang belum pulang karena memang rumahnya bukan di sini.


Fira hanya mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa rapuh sekarang ini. Dia benar-benar jadi bahan bullying orang teman-temannya.


Semua orang selama ini tidak pernah ada yang berani menyentuh dirinya dan menyakiti dirinya karena takut dengan Gumara. Selama ini yang selalu melindungi Fira adalah Gumara.


"Makasih banyak."


Fira meminum teh tersebut sambil mengambil handuk yang diberikan oleh Amar barusan. Sambil menunggu Leon yang sepertinya memang belum datang ke rumahnya.


Amar hanya memperhatikan wanita yang ada di depannya. Dia sebenarnya ingin bertanya tentang keadaan wanita itu sekarang, tetapi dia merasa tidak berhak untuk menanyakan itu. Dia akan membiarkan Leon yang menayangkan tentang itu nanti.


Hingga tak lama kemudian, Leon memarkirkan motor ninja warna putihnya itu di depan rumah Amar. Lalu dia masuk ke dalam rumah Amar dengan perasaan khawatir.


Mata Leon tertuju kepada Fira yang terlihat kotor dengan baju seragam dirinya sekarang. "Lo kenapa?"


Fira menatap kearah Leon sekilas, lalu dia menundukkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya pelan.


"Gue jadi bahan bullying semua siswa yang ada di


sekolah," ujar Fira.


"Terus kenapa sekarang lo malah datang ke sini?" tanya Leon.


Amar melotot ketika melihat Leon yang malah seperti tidak punya hati seperti ini. Dia bahkan tidak menyangka dengan ucapan Leon. Pria itu sama sekali tidak punya perasaan.


"Gue gak mau pulang ke rumah, makanya gue memutuskan untuk datang ke sini," ujar Fira.

__ADS_1


Leon baru menyadari kalau baju seragam sekolah Fira saat ini kotor, dia bahkan tidak tahu mengapa semuanya jadi seperti ini.


"Baju lo kenapa bisa kaya gini?" tanya Leon yang penasaran.


"Gue jadi bahan bullyan orang-orang, semua orang membenci gue karena mereka semuanya tahu sudah menjadikan lo bahan taruhan," gumam Fira mengatakan itu.


Leon menaikan sebelah alisnya ketika mendengar ucapan dari Fira barusan. Lalu ponselnya berdering dan Dino mengirimkan sebuah video kepada Leon.


Dia membuka ponsel tersebut dan terkejut ketika posisi Fira yang kini menjadi bahan bullyan. Leon melihat Fira yang memang dipermalukan di sini. Bahkan dia sempat mendengar perkataan dalam video tersebut. Kalau Fira sudah tidak ada yang bela lagi karena Gumara sedang diskors sekarang.


"Selama ini lo berlindung di kaki Gumara," sindir Leon yang merasa tidak suka dengan hal ini.


Fira hanya menundukkan kepalanya saja, dia memang tidak pernah jadi bahan bullyan lagi karena ada Gumara yang suka dengan dirinya. Makanya, tidak ada yang berani dekat dengan dia karena Gumara pasti akan memberikan pelajaran kepada orang tersebut. Kecuali orang yang mendekatinya adalah wanita.


"Sudah, lebih baik lo membersihkan diri dulu deh," saran dari Amar kepada Fira karena merasa kasian. Wanita itu sungguh merasa sangat berantakan sama sekali


"Dia gak akan mau mandi di kamar mandi kecil," ketus Leon karena tahu Fira orang kaya. Terlihat dari dia yang selalu berangkat ke sekolah memakai mobil pribadi dan diantar supirnya.


"Gue mau, tapi gue gak punya baju ganti," gumam Fira sambil menggigit bibir bawahnya.


Leon menghela napasnya, benar juga kalau Fira tidak punya baju ganti, tetapi Leon sedikit tidak tega kalau Fira menggunakan baju kotor dan basah seperti ini.


"Nanti gue pikirkan," ujar Leon.


"Kamar mandinya di dekat dapur belakang," ujar Amar memberitahu.


Fira hanya mengangguk dan memutuskan untuk pergi dari kamar mandi. Dia akan membersihkan baju yang kotor karena dibully oleh teman-temannya.


Setelah Fira pergi dari sini, Leon memberikan nomor orang yang meneror Darda tadi kepada Amar. Dia yakin kalau Amar bisa membantu dia untuk melacak orang tersebut. "Ini nomor seseorang, lo lacak nomor itu di mana," ujar Leon kepada Amar.


"Ini nomor siapa?" tanya Amar bingung.


"Gue gak akan nanya kalau tahu, bego yah lo kadang-kadang!" marah Leon dengan kesal.


"Gak usah ngatain gue juga, lebih baik lo pikirin tuh kasian anak orang jadi bahan bullyan gara-gara lo," balas Amar.


Leon terdiam sejenak, memang Fira dibully hanya karena dirinya? Atau memang ada alasan lain mengapa wanita itu dibully. Leon berpikir sejenak, dia harus bertanya kepada Dino karena dia pasti tahu.


"Lo siapkan kamar kosong buat Fira, dia sepertinya mau di sini."


"Lo gila? Dia anak gadis orang. Gue gak mau yah kalau sampai terlibat menculik anak gadis orang. Apalagi ini rumah gue," tolak Amar yang tidak mau nanti dia kena masalah.


"Gue yang akan mengurusnya nanti, lo ikutin kata gue saja." Leon dengan tegas mengatakan itu. Amar hanya bisa pasrah menuruti keinginan Leon barusan.


Walaupun begitu, Amar tersenyum karena secara tidak langsung, Leon kini sudah sedikit berubah karena dia perhatian dengan seorang wanita.


"Sepertinya lo sudah mulai ada rasa dengan wanita itu," batin Amar yang berjalan menuju kamar tamu untuk menyiapkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2