SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Fira Berbicara Dengan Leon


__ADS_3

Fira hanya bisa terdiam ketika Sasha menayangkan itu kepada dirinya. Dia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sasha barusan. Apalagi ini mengenai hubungan dirinya dengan Gumara.


"Lo jangan banyak tanya deh, gak kasian kalau Fira masih sakit. Muka dia keliatan pucat banget," balas Zahra kepada Sasha.


"Iya benar tuh, kasian." Salah satu ketua kelas juga membela Zahra karena kasian melihat Fira jika banyak pertanyaan seperti ini.


Dino melirik kearah Leon dengan sekilas, sampai Leon mengangguk yang artinya dia akan memulai aksinya. Dino lalu menatap kearah semua orang yang ada di sini.


"Fira, lo punya pembantu banyak. Gue lapar pengen makan," ujar Dino dengan sedikit becanda. Padahal untuk pengalihan saja karena memang dia sudah merencanakan dari awal dengan Leon sebelum datang ke sini.


"Oh jadi niat lo datang ke sini hanya buat makan," sindir seorang wanita yang suka gosip. Wanita itu bernama Dinda, dia sengaja ingin ikut datang ke sini karena ingin mengetahui keadaan Fira dan rumah Fira yang terlihat disembunyikan. Lumayan untuk dijadikan bahan gosip dengan para teman-temannya yang lain.


"Malu-maluin lo Dino," maki Zahra sambil menatapnya sinis. Apalagi Dino ke sini hanya ingin minta makan saja.


"Suka-suka gue, boleh kan Fira?" tanya Dino sambil tersenyum penuh arti.


"Tentu, lo bisa ke dapur saja. Nanti ada bibi di sana, pinta saja sama mereka" ujar Fira.


Dino tersenyum lalu dia memutuskan untuk berjalan ke dapur. Sedangkan teman-teman yang lainnya memutuskan untuk mengobrol dan menceritakan semua keadaan kelas ketika sedang tidak ada Gumara.


"Gue izin ke toilet yah," ujar Zahra yang memutuskan untuk pergi dari tempat ini.


Begitu juga dengan Leon yang sepertinya memang ingin mencari sesuatu di sini. Apalagi dia ingat dengan misinya untuk datang ke sini. Walaupun Fira sempat menatapnya dengan curiga tadi. Tetapi sekarang pandangan Fira teralihkan karena banyak yang mengajak dia untuk mengobrol.


"Gue ingin ke toilet juga kayanya," ujar Leon.


Fira hanya mengangguk saja, dia membiarkan teman-temannya melakukan semua yang mereka inginkan. Bahkan dia berharap salah satu dari mereka akan menemukan ibunya yang berada di ikat oleh Gumara.


"Gue perhatiin lo malah melamun terus? Lo lagi mikirin sesuatu?" tanya Sasha merasa penasaran dengan Zahra. Apalagi Fira memang selama ini jarang membahas tentang pribadinya.


"Perasaan lo saja kali. Gue emang lagi tidak enak badan saja," terang Fira kepada Sasha.


"Nyokap dan bokap lo gak ada di sini?" tanya Dinda yang penasaran karena tidak melihat mereka sama sekali di sini.


Fira hanya bisa tersenyum tipis, "Mereka kebetulan sedang keluar kota," bohong Fira yang tidak bisa mengatakan apapun. Beruntung juga Gumara sudah mencopot foto di sini, jadi tidak akan ada yang curiga dengan keluarganya.


"Oh yah, tentang pembullyan itu, gue sudah menyelesaikan semuanya. Kemarin Leon juga mengatakan kepada siswa buat jangan membully lo lagi ," jelas ketua kelas mereka.


"lye benar, jadi lo gak usah khawatir lagi kalau mau berangkat ke sekolah," terang Dinda seorang yang suka gosip.


Sasha menggenggam tangan Fira karena ada rasa bersalah. Ketika waktu kejadian itu, kebetulan Sasha sudah pulang jadi dia tidak tahu. "Gue minta maaf Fira, karena ketika kejadian itu, gue sudah pulang pada saat itu. Dan Zahra masih rapat OSIS jadi gak ada buat lo," ujar Sasha yang merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa," jawab Sasha.


Hingga tak lama kemudian, Dino ditemani oleh dua orang asisten rumah tangga yang bekerja di sini sedang membawa cemilan dan minuman untuk mereka semuanya.


"Cemilan sudah datang," ujar Dino yang kini kembali menghampiri para teman-temannya di sini.


Sebenernya tujuan Dino tadi datang menghampiri para ART rumah ini yaitu untuk menanyakan tentang keadaan rumah ini. Tetapi sepertinya para ART di sini tidak ada yang mau memberitahu dirinya. Mungkin karena takut dipecat oleh Gumara atau Pak Rudi.


"Wah, enak nih."


Semua orang tersenyum bahagia, hingga Zahra datang dan bergabung dengan semua orang yang ada di sini. Sedangkan Fira mencari keberadaan Leon belum datang juga. Ada rasa khawatir karena takut nanti Gumara akan melukai Leon.


Sementara itu. Leon sebenarnya bukan pergi ke toilet, tetapi dia berjalan mencari tempat yang lain. Dia masuk ke sebuah ruangan yang memang ditunjukkan oleh mata-matanya tadi. Dia masuk ke dalam ruangan pribadi Pak Rudi yang ada di rumah ini, tujuannya yaitu mencari ponsel milik Lena. Dia yakin kalau ponsel itu bisa saja ada di rumah ini.


Tetapi ketika Leon baru masuk ke dalam ruangan tersebut. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari seseorang. Membuat Leon kembali menoleh kearah orang tersebut dengan santai.


"Hebat yah bisa mengendap ke rumah orang lain seperti ini," sindir Gumara.


Leon terdiam lalu dia menoleh kearah belakang, dia tidak menyangka kalau Gumara akan mengetahui dirinya yang berjalan kearah sini.


"Sepertinya gue salah masuk ruangan," ujar Leon yang hendak akan pergi dari sini.


Tetapi belum sempat Leon pergi, tangannya sudah di cekal oleh Gumara terlebih dahulu. "Lo mau apa sebenernya hah?"


Gumara mendorong Leon hampir kearah meja. Dia menatapnya dengan tajam karena ada hal yang ingin dia bicarakan saat ini.


"Lo pikir gue bodoh, gue tahu semua rahasia lo yang pura-pura jadi orang miskin kepada Fira, rumah yang waktu itu, Fira bilang itu rumah lo, sedangkan gue tahu kalau lo anak Pak Rehan kolega bisnis ayahnya Darda bukan?" ujar Gumara sambil tertawa sinis.


Leon menoleh kearah Gumara, dia lupa kalau Gumara memang tahu tentang dirinya. Tetapi sekarang itu sudah tidak penting lagi. Kalau pun Fira mengetahui nya juga itu tidak penting.


"Itu semuanya gak penting."


"Gue akan membongkar rahasia lo nanti," ujar Gumara.


"Gue gak perduli dan gak takut. Gue juga tahu kalau lo saudara tiri Fira, kelakukan mines Lo sana bokap lo juga juga tahu," balas Leon tidak mau kalah dengan Gumara.


"Sialan," umpat Gumara dengan kesal lalu dia menendang meja dengan keras.


Leon memutuskan untuk pergi dari ruangan ini. Dia mendengus kesal karena tidak menemukan bukti apapun juga. Dia berjalan melewati sebuah kamar, dia mendengar suara ketukan tetapi dia tidak mendengar suara apapun.


Sampai dia mendengar suara Fira yang memanggil namanya. "Leon."

__ADS_1


Leon menoleh kearah orang yang memanggil namanya, dia menaikan sebelah alisnya sekilas. " Kenapa Fira?"


"Harusnya gue yang tanya, kenapa lo malah ada di sebelah sini, toilet nya kan ada di belakang."


Fira mengatakan itu kepada Leon, sedangkan Leon hanya tersenyum sinis kepada Fira. "Gue sedang mencari sesuatu di sini, lo pasti tahu yang gue cari apa di sini," bisik Leon kepala telinga Fira dengan jarak yang begitu dekat.


"Apa maksud lo?" tanya Fira.


"Gak usah pura-pura sama gue lagi. Sekarang gue tahu hubungan antara lo dengan Gumara, jangan-jangan lo juga terlibat kan, atau bisa jadi lo pelakunya?" sinis Leon kepada Fira.


Fira awalnya terkejut ketika mendengar ucapan dari Leon barusan. Bagaimana pria itu bisa tahu hubungan dirinya dengan Gumara. Tiba-tiba Fira ingat kalau Dino tahu hubungan dirinya dengan Gumara.


"Jadi Dino sudah memberitahu lo?" gumam Fira yang tidak bisa melakukan apapun.


"Lo terlibat atau pelakunya bukan?" tanya Leon lagi dengan rahang yang sudah mengeras karena emosi dengan Fira.


"Gue gak terlibat Leon, gue berani bersumpah kalau kejadian itu gak ada hubungannya dengan gue. Walaupun awalnya gue yang menyuruh Gumara buat bully Lena, tetapi gue gak tahu tentang kejadian di tangga itu, gue sama sekali tidak tahu kenapa Pak Rudi menutup kasus ini," jelas Fira berusaha untuk meyakinkan Leon.


"Lo pikir gue percaya sama lo yang penuh dengan kebohongan ini. Lo ingat pertama kali kenal gue, bahkan lo jadikan gue bahan taruhan buat bohongin para teman lo!" maki Leon dengan sinis kepada Fira.


"Okeh kalau yang itu gue emang salah dari awal Leon. Tetapi gue berani bersumpah kalau gue gak terlibat dalam kasus Lena. Kalaupun ayah tiri gue terlibat, gue gak tahu sama sekali," ujar Fira yang kini hanya bisa berkaca-kaca. Leon pasti akan salah paham dan membenci dirinya.


Leon pergi dengan begitu saja meninggalkan Fira yang seperti bersedih karena hal ini. Sedangkan Dino melihat kearah Leon yang sudah kembali bergabung dengan mereka semuanya. Tetapi Leon sudah mengambil tasnya seperti hendak akan pergi.


"Lo mau ke mana?" tanya Dino.


"Gue pulang duluan, sudah bertemu dengan Fira nya juga," ujar Leon yang memutuskan untuk pergi keluar duluan.


Dino melihatnya dengan pandangan khawatir. Setelah itu Fira melihat kearah para teman-temannya. Dia hanya bisa tersenyum tipis dan bergabung.


"Leon aneh banget, dia langsung pamit begitu saja. Padahal dia bilang kalau dia rindu lo di sekolah," ujar Dinda si wanita suka gosip.


Dino yakin kalau Leon tengah marah dan ingin melampiaskan semua kemarahannya. Dia harus mengikutinya karena takut terjadi sesuatu dengan pria itu.


"Gue juga pamit yah."


"Kok lo juga ikutan pamit?" tanya Dinda kepada Dino.


"Ada urusan! Pamit yah Fira," ujar Dino yang akhirnya dia memutuskan untuk menyusul Leon pergi dari tempat ini. Dia takut nanti Leon malah akan berbuat sesuatu.


"Semoga Leon tidak berbuat macam-macam," batin

__ADS_1


Dino.


__ADS_2