
Leon akhirnya datang ke rumah yang memang sudah dia tempati sedari kecil dulu. Dia memang tinggal di sini sudah lama bersama dengan ayah angkatnya. Berbeda dengan Lena yang tinggal bersama dengan kedua orang tua kandungnya.
"Akhirnya kamu datang nak," ujar Rehan yang melihat kearah anak angkatnya. Rehan tersenyum karena dia sudah menanggap Leon sebagai anak kandungnya sendiri.
"Ada apa papah memanggil aku untuk datang ke sini?" tanya Leon yang kini duduk bersama dengan Rehan.
"Bagaimana perkembangan adik kamu sekarang?" tanya Rehan. Selama ini dia memang selalu sibuk di kantor sampai lupa dengan perkembangan kasus Lena. Rehan hanya ingin tahu perkembangan kasus keponakan perempuannya.
"Perkembangan kasusnya maksud papah?" tanya Leon.
"Iya tentu saja, apakah kamu sudah menemukan pelaku yang sebenarnya?" tanya Rehan sambil menyesap sebatang rokok.
Leon menatap kearah Rehan sekilas. "Papah tidak usah khawatir, aku sudah menemukan orang yang terlibatnya, Pak Rudi dengan orang yang dibelakang dia, bisa dibilang atasan Pak Rudi, aku dan teman-teman sudah menyekap satpam yang selalu meneror Darda selama ini," ujar Leon memberitahu semuanya.
Berbeda dengan raut wajah Rehan sekarang, dia terkejut ketika mendengar kalau Darda diteror. "Darda di teror?"
"Iya, satpam sekolah itu meneror Darda untuk mencegah dia mengungkapkan kasus ini. Apalagi Darda cucu pemilik sekolah itu, dia pasti punya wewenang tinggi. Hanya saja sampai sekarang Darda masih menyembunyikan identitasnya sebagai cucu dari pemilik sekolah ini," jelas Leon.
Rehan hanya mengangguk paham sekarang, ada alasan mengapa Hamdan menyembunyikan identitas Darda di sekolah itu. Tetapi yang membuat dia heran adalah Hamdan yang sepertinya tidak tahu kalau anaknya kena teror.
"Hamdan tidak tahu kalau anaknya diteror," gumam Rehan. Kalau memang dia tidak tahu, maka Rehan harus memberitahunya. Artinya memang anaknya sudah tidak aman lagi sekarang.
"Sepertinya begitu," jawab Leon dengan santai.
"Kalau begitu, nanti papah akan menghubunginya,"ujar Rehan.
Leon mengangguk, lalu dia ingin tahu dengan keluarga Darda. Apalagi orang yang ada dibelakang kepala sekolah. Dia harus tahu tentang semua ini dari awal.
"Papah sudah kenal lama dengan Pak Hamdan kan? Termasuk dengan keluarga mereka, apa papah tahu kalau ibunya Darda punya saudara?" tanya Leon yang membuat Rehan terdiam.
Pria itu tidak menjawab sama sekali pertanyaan dari Leon. "Memang kenapa kamu menanyakan tentang dia?"
"Dia adalah orang yang ada di belakang layar, dia yang membantu Pak Rudi."
Rehan menaikan sebelah alisnya ketika mendengar hal tersebut. Artinya memang orang itu terlibat dalam hal ini. "Jadi maksud kamu, dia adalah pelakunya?"
"Aku menduga seperti itu," gumam Leon.
Rehan berdiri dan masuk ke dalam kamarnya setelah mendengar ucapan dari Leon barusan.
Sedangkan Leon melihat kepergian dari ayahnya dengan sekilas. Ada rasa heran dengan ekspresi wajah ayahnya. Dia merasa kalau ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
__ADS_1
****
Sementara itu.
Di rumah Amar.
Susan sedang membantu untuk membereskan rumah ini karena dia tidak punya kegiatan sama sekali. Melihat keadaan anaknya yang kini sudah membaik, membuat dia jadi merasa laga. Amar juga melarang dirinya keluar sembarangan dengan anaknya karena pasti nanti suaminya akan mencari dirinya.
"Biar aku bantu yah, mah."
Fira mengatakan itu dan dia membantu ibunya untuk membersihkan ruangan ini. Walaupun ibunya tadi sempat melarang dirinya tetapi Fira tetap bersikeras. Fira juga merasa bosan jika diam saja di sini. Terlebih dia tidak sekolah dan ponselnya memang tidak ada.
"Kamu masih sakit nak," ujar Susan mengingat anaknya yang memang sakit.
"Tidak kok, aku sudah mendingan."
Fira memang sudah tidak merasa sakit, hanya perih saja lukanya belum sepenuhnya mengering. Dia melihat rumah ini yang sedikit berantakan memang. Tetapi wajar karena Fira tahu kalau di sini di tempati oleh dua orang pria.
"Kamu yakin sudah baikan?" tanya Susan kepala anaknya
"Iya aku sudah baikan, lagian tidak ada yang harus aku lakukan di sini. Diam saja di sini malah bosan," jelas Fira dengan jujur.
"Makanya mamah ingin membantu membersihkan tempat ini, daripada tidak ada kegiatan," ujar Susan kepada anaknya.
Matanya membulat ketika melihat pasangan yang ada di sini. Mereka memakai seragam sekolah SMP, terlihat begitu sangat dekat. Dan dibelakang foto tersebut ada sebuah tulisan. Love.
"Kamu ngapain nak?" tanya Susan ketika Fira yang sedang membersihkan laci.
"Aku hanya menemukan sebuah foto lama, itu tidak penting sih."
Fira kembali menaruh foto tersebut ke dalam laci. Kemudian dia kembali membereskan semua barang-barang yang ada di tempat ini. Lebih baik nanti dia tanyakan kepada orangnya langsung.
"Oalah, kirain ada apa, habisnya muka kamu kaya tegang begitu," komentar Susan sambil bercanda. Tetapi Fira hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis saja.
Sampai pintu terbuka dan Amar datang dengan membawa banyak sekali belanjaan. Dia membawa banyak sayur dan kebutuhan yang dia perlukan untuk mengisi lemari pendingin dan stok makan Fira dan ibunya selama tinggal di sini.
"Aku datang," ujar Amar yang merasa bahagia karena di rumahnya tidak sendirian. Dia terlihat kesusahan sekali membawa banyak belanjaan yang memang dia beli di pasar tadi.
"Sini biar Tante bantu," ujar Susan yang kini membawa belanjaan yang memang ada ditangan Amar. Dia melihat Amar yang terlihat kesusahan membawa makanan.
"Makasih Tante," ujar Amar yang kini melihat Susan pergi ke dapur.
__ADS_1
"Sama-sama," ujar Susan dengan tulus.
"Jika tidak keberatan, nanti sekalian buat masak untuk kita yah Tante. Aku belum pernah coba masakan buatan Tante," gumam Amar sambil bercanda.
"Boleh, sebentar nanti Tante buatkan," gumam Susan yang berjalan menuju kearah dapur untuk membereskan sayuran.
Berbeda dengan Fira yang kini menatap Amar dengan pandangan yang begitu serius. "Lo beli belanjaan banyak sekali. Bukannya lo hanya seorang pelajar, lo gak nyuri kan?" tuduh Fira karena khawatir dengan Amar yang bisa beli belanjaan banyak seperti tadi.
"Enak aja lo bilang. Walaupun gue pelajar SMA, tapi gue juga punya kerja sampingan kali," balas Amar. Sebenernya ini sedikit berbohong karena pada kenyataannya Amar di beri uang oleh Leon untuk membeli kebutuhan mereka.
"Kerja apa emang?" tanya Fira yang menatap dirinya dengan curiga.
Amar berpikir sejenak, dia memang tidak bekerja. Tetapi bagaimana caranya agar Fira percaya kalau dia bekerja. Karena selama ini dia bergantung kepada Leon dan Papahnya. Itu alasan dia selalu membantu Leon juga selama ini.
Lalu Amar teringat dengan jaket kurir yang dia gunakan waktu untuk menemukan orang yang meneror Darda. Beruntung dia masih menyimpan jaket tersebut. Amar membuka kamarnya dan memperlihatkan jaketnya.
"Tuh gue bekerja sebagai kurir paket!"
Fira sedikit heran dan curiga, tetapi kali ini dia mencoba untuk percaya saja. Karena ada hal yang ingin dia tanyakan juga tentang foto yang tadi ditemukan di laci. Fira masih penasaran dengan hubungan Amar dengan orang yang dia kenal.
"Tadi ketika gue sedang membersihkan tempat ini. Gue gak sengaja liat sebuah foto," gumam Fira.
Amar menatap kearah Fira sambil menaikan sebelah alisnya. "Foto apa?"
"Foto lo sama Sasha? Lo punya hubungan dengan teman gue?" tanya Fira membuat Amar terdiam. Rupanya Fira melihat foto lamanya dengan Sasha dulu.
"Dia teman lo juga?" tanya Amar yang merasa heran karena Fira bisa kenal dengan Sasha.
Fira kemudian memutuskan untuk duduk. Diikuti oleh Amar yang kini ikut duduk berdua dengan Fira. Jika membahas tentang Sasha, maka dia akan langsung cepat.
"Iya dia teman gue. Sebenernya dia teman dekat gue sih lebih tepatnya. Gue gak nyangka kalau lo pernah ada hubungan dengan dia," jelas Fira.
Dia merasa sekarang dunia begitu sempit, ternyata Amar pernah punya hubungan dengan temannya yang bernama Sasha.
"Kita pacaran dulu, hanya saja pada saat itu Sasha bilang dia suka dengan Darda. Makanya putusin gue, termasuk dengan temannya yang bilang kalau dia sudah jadian dengan Darda," jelas Amar.
"Tunggu dulu, jadi lo pacar yang dimaksud oleh Sasha dulu beda sekolah?" tanya Fira yang terkejut dengan hal ini. Fira baru ingat kalau Sasha selalu bilang belum bisa melupakan mantannya yang beda sekolah dengan dirinya.
"Iya, gue pacaran sama dia."
"Astaga, kenapa gue baru tahu sekarang," heboh Fira senang sekali mendengar hal ini. Apalagi Sasha selalu merasa galau dengan mantannya.
__ADS_1
"Sasha selama ini selalu galau tahu sama lo, kenapa tiba-tiba lo gak pernah hubungin dia lagi,"gumam Fira.
"Tunggu, kok ada yang aneh di sini," gumam Amar.