
"Kenapa dengan Fira?" Lena merasa khawatir dengan wanita itu.
"Dia pingsan."
Leon akhirnya menggendong Fira dan naik ke atas ranjang king sizenya. Sedangkan Lena melihat kearah ponsel milik Fira yang tergeletak. Dia melihatnya dengan seksama untuk saat ini.
"Leon, coba lo liat ini," ujar Lena memberikan ponsel milik Fira kepada Leon.
Sedangkan Leon mengepalkan tangannya ketika melihat sebuah video yang dikirimkan oleh Gumara ke ponsel milik Fira. Rupanya semuanya gara-gara Gumara, wanita itu sengaja menyiksa ibunya Fira untuk mengancam wanita itu.
"Sialan, bajingan ini!"
Leon mengepalkan tangannya karena kesal, dia tidak mau melihat Gumara yang terus saja menganggu Fira. Ini saatnya dia memberikan pelajaran kepada dua orang tersebut. Bahkan dia juga melihat Pak Rudi yang terus menganiaya istrinya.
"Sial, gue harus memberikan mereka semuanya pelajaran." Leon yang kini sudah merasa marah dan melihat kearah Fira yang memejamkan matanya. Wanita itu pingsan karena syok melihat ibunya sendiri disiksa layaknya seekor anjing.
"Leon lo jangan gegabah, lebih baik tunggu Fira bangun dulu," saran dari Lena yang tidak mau kalau Leon juga terluka. Apalagi ini demi membela Fira, akan lebih baik jika melaporkan hal ini ke pihak kepolisian.
"Nggak, gue gak bisa tinggal diam. Lo jaga Fira di sini, dia hanya pingsan karena syok melihat ibunya yang terluka," saran dari Leon.
"Bagaimana kalau nyokap dan bokap kita saja yang menyelesaikan ini," ujar Lena.
"Mereka sibuk, bahkan untuk kasus lo aja waktu itu mereka nyuruh gue buat mengusutnya. Jadi akan lebih baik jika sekarang gue yang akan turun tangan sendiri."
Lena terdiam ketika mendengar penjelasan dari Leon, memang benar kalau keluarganya selama ini terlihat sibuk. Bahkan nyaris tidak pernah ada waktu untuk dirinya kecuali di malam hari saja. Dia jadi merasa kasian sendiri dengan kehidupan ini.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, kalau terjadi sesuatu hubungin gue. Nanti gue akan panggil polisi," ujar Lena.
"Cukup jaga Fira buat gue," ujar Leon.
Leon pergi begitu saja dari rumah ini, dia akan menemui Gumara dan Pak Rudi di rumahnya dan membawa ibunya Fira.
Sedangkan Lena hanya bisa melihat kearah Fira saja, dia mengambil selimut untuk wanita itu dan menunggu dia sadar. Pasti wanita itu syok melihat keadaan ibunya. Lena jadi merasa kasian dengan nasib Fira. Semoga Leon bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.
***
Sementara di tempat lain. Amar diam-diam menemui Sasha karena ada hal yang ingin dia katakan kepada wanita itu. Semuanya berhubungan dengan Zahra, apalag Amar sudah menyuruh Sasha untuk menjauhi wanita itu, tetapi Sasha tidak mau mendengarnya.
"Lo udah berhasil ke rumah Zahra?" tanya Amar kepada Sasha.
"Sorry, gue gak tahu masalahnya apa. Tetapi sulit untuk gue bisa masuk ke dalam rumah Zahra. Apalagi sekarang gue dengar dia tidak tinggal di rumahnya."
Amar sedikit kecewa dengan hal ini. Tetapi mau bagaimana lagi sekarang, dia tidak punya pilihan lain meminta bantuan pada Sasha. Hanya wanita itu yang bisa membantu untuk mengambil ponsel lama milik Lena.
"Yaudah kalau begitu, gue harap lo hati-hati dengan Zahra, dia bukan wanita yang baik. Gue pamit dulu."
Amar hanya mengatakan itu kepada Sasha, lalu dia kembali naik ke dalam motornya. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Sampai tiba-tiba ada sebuah pesan dari Leon, Amar menghentikan motornya lalu dia membuka ponselnya.
__ADS_1
(Datang ke rumah Gumara sekarang)
Amar membaca pesan tersebut dan akhirnya dia menuju kearah rumah Gumara, kebetulan Amar sudah pernah datang ke sana waktu itu.
Sampai sekitar 20 menit kemudian, dia melihat banyak para anak buah Leon yang sedang berkelahi dengan penjaga rumah Gumara. Amar menghentikan motornya dan berjalan menuju ke sana.
Bugh.
Bugh
Sebuah pukulan dilayangkan oleh para anak buah Leon dan Gumara. Semuanya sedang berkelahi di sini, Amar pun ikut menyerang mereka. Apalagi mengetahui kalau Leon yang menyuruh dia datang ke sini. Pasti ada sesuatu yang sedang dilakukan oleh Leon.
"Selamatkan Bu Susan."
Leon mengatakan itu kepada Amar ketika baru saja datang. Kemudian, Amar mengangguk dan dia berjalan masuk untuk menyelamatkan Bu Susan. Sedangkan Leon sedang berkelahi mengalahkan siswa yang lain.
"Lo pikir bisa masuk ke dalam rumah gue dengan mudah!" Gumara tiba-tiba muncul dengan langsung menyerang Amar..
Bugh..
Bugh..
Amar dan Gumara berkelahi satu sama lain, mereka saling menyerang. Tidak ada yang mau kalah di sini. Begitu pun dengan Gumara yang menatap sinis kearah Amar. Dia tahu kalau Amar adalah anak buah Leon.
Begitu juga dengan Leon yang kini melawan Pak Rudi. Dia menyerangnya dengan tegas, bahkan dia berpikir untuk menyingkirkan semua orang.
"Bocah ingusan!"
Bugh
Bugh
"Jangan pernah ikut campur dengan urusan saya, bocah ingusan!"
Pak Rudi tiba-tiba mengeluarkan senjata tajam dari sakunya dan tersenyum sinis kearah Leon. "Kamu harus mati bocah ingusan!" maki Pak Rudi yang kini hendak akan menembak Leon. Tetapi dia kalah cepat dengan gerakan kaki Leon yang menendang tangan Rudi sehingga merasa kesakitan dan menjatuhkan pistol tersebut.
Bruk.
Pistol tersebut terjatuh dengan begitu saja, sehingga membuat Rudi kini tidak punya senjata apapun untuk melawan Leon.
Leon tersenyum sinis kearah Pak Rudi. "Seorang pengecut seperti Pak Rudi ingin mengalahkan bocah ingusan ini!"
Bugh
Bugh
Leon memukuli Pak Rudi hingga dia terjatuh. Dia tersenyum puas ketika sudah memberikan pelajaran kepada Rudi.
"Ayo bangun!" maki Leon dengan tegas kepada pria itu.
__ADS_1
Rudi terlihat lemah tidak berdaya dan Leon hanya tersenyum sinis melihat pria itu bangka tersebut tidak bisa melakukan apapun lagi.
"Masih berani melawan bocah ingusan ini," gumam Leon yang akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Pak Rudi.
Ketika Leon sudah membelakanginya, Rudi berusaha untuk bangkit dan mengambil kembali pistolnya. Dia menodongkan pistol tersebut pada Leon.
Dor
Suara tembakan terdengar begitu sangat keras, hingga Leon akhirnya terjatuh dengan darah yang mengalir.
"LEON!"
Fira berteriak dengan Lena yang baru saja datang, mereka menghubungi pihak kepolisian setelah Fira sadar dari pingsan. Semuanya karena Lena khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Leon.
"Saudara Rudi, anda kami tangkap!"
Polisi yang melihat itu langsung meringkus Rudi dan semua anak buah yang berjaga di tempat ini.
Sedangkan Fira menatap kearah Leon yang sudah berlumuran darah.
"Leon, jangan tinggalin gue!" ujar Fira yang mengoyang-goyangkan tubuh dari Leon.
"Leon, lo tahan dulu, gue akan panggil ambulan." Lena mengatakan itu dan dia memutuskan untuk menghubungi mobil ambulans.
"Maafin gue," ucap Leon yang terbata kepada Fira.
Fira menggelengkan kepalanya, dia tidak mau kehilangan Leon. Bagaimana pun dia adalah sosok pahlawan yang sudah membuat kehidupan dirinya jadi lebih baik.
Dia rela datang ke sini pasti untuk menyelamatkan ibunya. "Bertahan demi gue," ujar Fira menggenggam tangan Leon dengan erat. Memberikan sebuah kecupan manis pada tangannya.
"Gue gak kuat, maafin gue," gumam Leon yang akhirnya memejamkan matanya.
"Leon, jangan tinggalin gue!"
Amar datang sambil merangkul Bu Susan yang memang terlihat kesusahan untuk berjalan. Lalu matanya melihat kearah Leon yang terluka.
"Leon," gumam Amar terkejut ketika melihat kearah Leon.
Hingga ambulans datang, Leon akhirnya dibawa ke mobil ambulans sekarang. Bersama dengan Lena yang juga ikut masuk ke dalam.
Sedangkan Fira memeluk ibunya setelah dia merasa semuanya baik-baik saja. "Aku merasa khawatir."
"Semuanya akan baik-baik saja."
"Bawa Bu Susan ke rumah gue saja untuk diobati," saran Amar.
"Makasih Amar."
"Gue akan bawa Bu Susan ke rumah gue, lo temani Lena ke rumah sakit dan hubungi keluarganya," saran Amar.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," gumam Fira yang akhirnya memutuskan untuk ikut masuk ke mobil ambulans bersama dengan Lena. Dia melihat kearah Leon yang kini sudah tidak sadarkan diri..
Fira menatap Leon dengan pandangan sendunya, berharap pria itu akan tetap selamat.