
Leon di kelas benar-benar tidak bisa berkonsentrasi sekarang, apalagi dia melihat Fira yang ternyata tidak datang ke sekolah sekarang. Ada rasa khawatir ketika tahu kalau Fira bersama dengan Gumara.
Sampai terdengar bel istirahat berbunyi, Dino menatap kearah Leon yang sepertinya sedang melamn. Dino sendiri berpikir kalau memang sekarang Leon sedang memikirkan sesuatu.
"Lo kenapa melamun terus? Jangan bilang kalau sekarang lo lagi mikirin Fira?" tanya Dino ketika melihat Leon yang tadi melihat kearah bangku kosong milik Fira.
Dino sendiri tahu kalau Fira tidak akan masuk sekolah karena kemarin di bully oleh siswa lain. Bahkan video nya pun sudah tersebar di grup kelas.
"Dia gak datang ke sekolah hari ini," gumam Leon padahal dia sudah memberikan baju sekolah untuk Fira berangkat.
Leon berjanji akan melindungi dirinya, tetapi tetap saja Fira memilih Gumara.
Leon menjambak rambutnya frustasi sekarang ini. Dia bahkan tidak yakin kalau semuanya malah jadi seperti ini.
"Jadi benar lo mikirin dia? Untuk apa sih lo mikirin wanita kaya dia?" kesal Dino yang tidak habis pikir dengan temannya itu. Masih saja memikirkan wanita seperti Fira.
Andai saja Leon tahu kalau orang yang menyuruh Lena dibully oleh Gumara itu adalah Fira. Itu juga rahasia yang selama ini disimpan oleh Dino untuk menggertak Fira agar jauh dari Leon.
"Bukan itu masalahnya, dia tadi bersama dengan Gumara di bawa. Gue khawatir dengan dia. Lo tahu kemarin dia habis dibully itu malah datang ke rumah, dia tidak ingin pulang dan malah ingin bersama dengan gue, tetapi pagi ini Gumara datang dan wanita itu malah pergi bersama dengan Gumara," ujar Leon menceritakan semuanya kepada Dino.
Sedangkan Dino hanya bisa terdiam mendengar perkataan dari Leon barusan.
Sepertinya dia harus menceritakan semuanya kepada Leon tentang rahasia Fira dan Gumara. Dino berpikir sejenak, apa ini waktu yang tepat untuk dia menceritakan semuanya.
"Leon, ada hal yang harus lo ketahui," ujar Dino dengan serius.
"Apa?" tanya Leon menatap Dino dengan serius.
Belum sempat Dino mengatakan semuanya, cacing di dalam perut Dino malah berbunyi, pertanda kalau dia merasa lapar saat ini. Dia menggaruk kepalanya karena timingnya yang tidak pas. Kenapa perutnya itu malah susah untuk diajak kompromi sekarang.
"Sorry, gue lapar sekarang." Dino tidak jadi mengatakan semuanya, dia berpikir untuk memberitahunya nanti saja ketika memberikan buku diary Lena agar Leon percaya padanya.
"Udah serius juga gue!"
Leon mendengus kesal, dia kira Dino akan berbicara serius dengan dirinya. Rupanya pria itu hanya merasa lapar saja. Tetapi tidak bisa dipungkiri kalau Leon juga sekarang merasa lapar, semuanya karena dia tidak sarapan tadi ketika di rumah Amar. Dia langsung pergi begitu saja karena tidak mood setelah Fira dibawa pergi oleh Gumara.
"Habis pulang dari sini, kita ketemu di rumah sakit," jelas Leon mengajak Dino untuk berkunjung ke rumah sakit. Kebetulan dia tahu kalau Darda juga sedang menjenguk adiknya saat ini.
"Rumah sakit mutiara, tempat Lena ada di sana?" tanya Dino memastikan.
__ADS_1
"Iya, Darda ada di sana sekarang," bisik Dino dengan pelan karena memang ini sedikit rahasia. Bisa saja ada mata-mata yang selalu meneror Darda mendengar hal ini, makanya Leon berhati-hati mengatakan itu. Sebelum orangnya itu akan tertangkap nanti.
Dino menaikan sebelah alisnya, kalau Darda ada di sana artinya dia hari ini tidak masuk sekolah. "Dia tidak masuk sekolah?"
"Sepertinya iya, kita tidak tahu alasannya. Tetapi akan lebih baik kalau memang tahu dari mulutnya langsung kan alasannya," gumam Leon.
"Okeh gue paham. Nanti pulang sekolah kita ke sana," gumam Dino yang hanya mengangguk paham.
Leon dan Dino akhirnya memutuskan untuk pergi kantin sekolah dan memesan makanan untuk mereka berdua. Mata Leon hanya melihat dua teman yang biasa dekat dengan Fira saja. Dia hanya meliriknya sekilas lalu mengabaikannya. Lagian mereka tidak terlalu dekat sama sekali.
***
Di kantin sekolah, Sasha benar-benar sendirian sekarang. Apalagi Zahra mah ke ruangan OSIS sekarang. Katanya ada kegiatan yang memang harus dilakukan oleh dia. Dia benar-benar merasa kesepian sekarang ini.
Belum lagi dengan Fira yang kemarin jadi bahan bullying, dia sekarang tidak masuk ke sekolah. Mana nomor ponselnya tidak aktif lagi. Sasha sendiri jadi tidak bisa menghubunginya untuk mengetahui kabarnya.
"Sialan!"
Zahra langsung datang menghampiri Sasha sekarang, dia menatap kearah wanita itu dan langsung bergabung duduk. Terlihat dari raut wajahnya, kali ini memang Zahra terlihat emosi dbahkan berani sampai memaki seperti itu.
"Kenapa lo keliatan kesal banget, rapat OSIS nya gak jadi?" tanya Sasha penasaran. Apalagi tadi Zahra bilang kalau dia akan rapat OSIS. Tetapi sekarang wanita itu malah terlihat mendengus kesal.
Sasha hanya menatapnya dengan sekilas, entah kenapa setiap melihat Zahra datang selalu membahas Darda yang tidak suka. Bahkan wanita itu malah terkesan memakinya.
"Dia lagi sakit kali, makanya gak datang ke sekolah," gumam Sasha.
Zahra tidak langsung percaya begitu saja, bahkan kalau dalam keadaaan sakit pun Darda selalu datang ke sekolah, tetapi dia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo Tante."
"Kenapa Zahra?" tanya orang tersebut.
"Darda tidak masuk sekolah hari ini, Tante."
"Dia masuk ke sekolah kok, tadi berpamitan sama Tante."
Zahra yang mendengar itu pun tersenyum sinis. Rupanya memang benar kalau Darda tidak masuk sekolah dan ibunya tidak tahu sama sekali.
"Oh begitu Tante, makasih yah Tante."
__ADS_1
Zahra langsung mematikan sambungan teleponnya. Ada perasaan jengkel dalam hati Zahra ketika mengetahui kalau Darda rupanya bolos sekolah. Artinya memang benar kalau dia sudah berbohong sekarang.
Sasha yang melihat itu pun merasa penasaran." Kenapa?"
"Mantan gebetan lo emang suka bohong, dia pergi ke sekolah tetapi tidak berangkat ke sekolah," maki Zahra.
Sasha memutar bola matanya jengah ketika mendengar ucapan dari Sasha barusan. "Jangan bilang mantan gebetan juga kali. Lagian gue masih sayang mantan gue daripada Darda yang super dingin itu," gumam Sasha.
"Mantan lo yang beda sekolah dengan lo itu?" sindir Zahra.
"Sudah ah, jangan bahas lagi."
Zahra mengangguk, lalu dia mengepalkan tangannya ketika mengingat sesuatu. "Darda memang dari awal adalah biang masalahnya. Bahkan dia tidak datang ke sekolah di saat banyak kegiatan begini," maki Zahra.
"Sudah mending lo pesan makan dulu, daripada protes begini." Sasha berusaha untuk menenangkan Zahra sekarang. Dia tahu kalau Zahra emosi maka, dia yang akan menanggung malu.
"Gak bisa begitu, gue harus melaporkan ini semuanya kepada kepala sekolah," ujar Zahra yang kini sudah kembali berdiri.
Sasha yang melihat itu pun menaikan sebelah alisnya, untuk apa juga sampai seperti itu. "Zahra, mending jangan dibawa ribet deh. Biarkan saja," ujar Sasha.
"Nggak, gue tetap akan ke ruangan kepala sekolah."
Zahra mengatakan hal seperti itu, lalu dia memutuskan untuk pergi dari kantin. Sasha hanya menghela napasnya dengan panjang.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mencuri dengar ucapan mereka seperti itu. Dia tersenyum sinis sambil memegang ponselnya. Lalu dia mengirimkan ancaman untuk Darda.
(Lo gak berani datang ke sekolah sekarang, tetapi gue pasti akan menemukan lo, jangan berusaha untuk mencaritahu kejadian itu)
Dia tersenyum sinis ketika sudah mengirimkan pesan itu kepada Darda,
"Lo pikir bisa menghindar begitu saja? Walaupun lo menyembunyikan identitas lo yang sebenarnya. Tetapi gue tahu kalau lo adalah cucu dari pemilik sekolah ini. Tetapi sayang, gue berada di pihak paman lo dan anaknya. Mereka adalah orang yang menutup kasus Lena."
Orang misterius itu hanya bergumam pelan, sebelum akhirnya dia pergi dari kantin. Setelah dia menguping pembicaraan tadi, dia jadi tahu kalau Darda tidak masuk sekolah.
\*\*\*
Jangan lupa follow, komen dan share teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..
Sekian dulu yaa
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya