
Yuna tidak habis pikir dengan adiknya yang sudah hampir membuat anaknya tidak nyaman di sekolah. Apalagi dia baru tahu tentang peneror tersebut adalah ulah adiknya sendiri. Pantas saja Zahra tidak menceritakan kepadanya tentang teror Darda. Sepertinya memang Zahra juga sengaja menyembunyikan ini dari dirinya.
"Anak dan ibu sama saja," maki Yuna.
Tiba-tiba Yuna teringat dengan kejadian yang diceritakan oleh suaminya. Sampai anaknya ingin mengungkap kasus tersebut. Hingga mendapatkan sebuah teror. Bukannya pelakunya belum tertangkap sampai sekarang.
"Bagaimana kalau pelaku yang sudah membuat kekasih anaknya benar Yura?" batin Yuna.
Ketika dia sedang mengendarai mobilnya, tiba-tiba ada yang menghalangi jalannya, membuat Yuna memberhentikan mobilnya. Pria yang memakai baju warna hitam dengan otot yang kekar turun dari motor.
"Keluar!"
Orang-orang tersebut menggedor kaca mobil milik Yuna dengan paksa. Sedangkan Yuna merasa heran karena ada orang yang kini meminta dia untuk keluar.
Siapa orang yang sudah menghalangi mobilnya. Dia benar-benar tidak tahan dengan semuanya. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menghadapi orang-orang tersebut. Yang sudah menganggu dirinya.
"Keluar atau kami akan merusakkan mobil ini!"
Kalau sudah begini, malah dia menjadi kesal. Yuna tidak punya pilihan lain, akhirnya dia keluar dari mobilnya. Belum lagi Yuna melihat orang tersebut yang kini membawa senjata tajam.
Ketika Yuna sudah keluar dari mobil tersebut, orang itu menarik Yuna dan mendorong kan pisau pada wanita itu. Membuat Yuna terkejut, dia berusaha untuk tenang. Jika orang itu pencuri maka dia akan memberikan uang untuk orang tersebut.
"Kalian ingin apa? Ingin uang? Aku akan memberikan itu jika kalian mau," jelas Yuna yang sangat yakin kalau mereka adalah seorang perampok.
"Kami ingin nyawamu."
Deg
Jantung Yuna benar-benar bergetar ketika tahu kalau orang-orang tersebut ingin membunuhnya. Dia mengira orang tersebut adalah sekelompok para perampok, jika menginginkan nyawanya artinya memang orang tersebut suruh orang lain untuk menghabisi dirinya.
"Siapa orang yang sudah menyuruh kalian?" tanya Yuna yang berusaha untuk berontak. Dia yakin kalau orang tersebut ada yang menyuruh.
"Hahaha itu tidak penting, cepat bunuh dia!" ujar orang jahat yang pakai baju warna hitam dengan muka yang memang ditutupi wajahnya.
"Aku mohon jangan lakukan itu, kalian mau uang, aku akan memberikan itu pada kalian."
"Sudah kami bilang kalau tidak butuh uang. Tapi nyawamu!" ujar orang tersebut dengan sinis.
Yuna benar-benar hanya bisa memejamkan matanya, dia tidak menyangka kalau ada orang yang berusaha untuk membunuh dirinya. Padahal dia tidak punya musuh sama sekali.
Bugh!
Sebuah pukulan tiba-tiba mengenai orang yang sedang mencekal tangan Yuna hingga membuatnya terlepas. Orang itu terkejut ketika melihat ada yang datang.
"Bocah ingusan! Jangan mencoba untuk menganggu kami!"
"Kalau kalian berani, lawan bocah ingusan ini."
Yuna melihat kearah orang yang datang, dia menutup mulutnya benar-benar tidak percaya. Dia sungguh tidak percaya dengan ini.
"Darda."
Bugh
Bugh
Darda melawan orang-orang yang memakai baju berwarna hitam itu, sebuah pukulan yang dia lakukan dengan kuat tenaga membuat dia hampir mengalahkan semua orang-orang tersebut.
"Darda awas!"
Orang itu mengeluarkan sebuah pisau dari belakang Darda, sedangkan hanya bisa berteriak ketika melihat itu. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Bugh!
__ADS_1
Darda sudah hampir melawan orang-orang tersebut. Hingga orang jahat itu mencekal pisau mengenai Darda.
Jleb
"DARDA!"
Yuna berteriak ketika anaknya yang ditusuk oleh pisau. Dia langsung menghampiri anaknya karena merasa syok. Begitu banyak darah yang mengalir para perut anaknya yang membuat dia merasa khawatir. Darda adalah anak satu-satunya yang dia miliki.
Sedangkan orang-orang tersebut kabur dari tempat ini setelah melakukan Darda yang kini terluka. "Ayo kabur!"
"Nak, kamu bertahan," gumam Yuna kepada Darda.
"Aku sudah tidak kuat," ujar Darda pelan dengan muka yang sudah pucat karena darah yang memang sudah keluar begitu banyak.
Yuna langsung menghubungi suaminya untuk meminta pertolongan. Dia memegangi perut anaknya yang memang keluar darah juga. Dia benar-benar panik dan harus membawa anaknya ke rumah sakit.
"Hallo Pah, tolong aku. Darda ada yang nyerang."
"Bagaimana bisa?" tanya Hamdan.
"Hubungin ambulans, nanti aku jelaskan."
"Posisi kami di mana sekarang?" tanya Hamdan yang terkejut dengan keadaan anak dan istrinya.
"Iya baiklah. Kalian tunggu."
Yuna merangkul anaknya dalam pangkuan dirinya. Dia benar-benar merasa bersalah dengan keadaan anaknya.
"Kamu bertahan Darda," gumam Yuna yang hanya bisa menangis sendu. Bagaimana pun dia hanya anak satu-satunya milik dirinya. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apalagi.
***
Sementara itu, Sasha baru mengetahui kalau Amar yang memang sedang sakit. Dia diberitahu oleh Fira dengan hal ini. Dia tidak berpikir untuk melakukan semuanya dengan baik.
"Permisi!"
"Loh Sasha, ayo masuk.
"Di mana Amar? Aku khawatir dengan keadaan dia," gumam dia dengan pelan. Dia sama sekali tidak tahu harus melakukan apalagi.
"Ada di kamarnya. Mau aku panggilkan?" tawar Fira.
"Gak usah, gue masuk ke kamarnya saja," ujar Sasha yang masuk ke dalam kamar Amar. Ditemani oleh Fira yang memang mengekor dari belakang.
Amar terkejut ketika melihat Sasha sampai datang ke rumahnya. Apalagi wanita itu memang jarang sekali ke sini semenjak mereka putus.
"Mar, bagaimana keadaan lo. Fira bilang lo sakit karena mau nolongin nyokap nya," jelas Sasha.
Diam-diam Amar tersenyum karena Sasha rupanya perhatian juga dengan dirinya. Dia sedikit merasa bahagia sekarang.
"Gue baik-baik saja. Lo gak usah khawatir. Lo kan tahu kalau gue jagoan," canda Amar.
"Bisa aja lo," balas Sasha.
Amar memperhatikan baju seragam sekolah yang masih digunakan oleh Sasha saat ini. "Lo habis pulang sekolah."
"Iya begitu deh. Oh yah gue lupa kasih tahu lo juga Fira," jelas Sasha yang kini menoleh kearah belakang.
"Kenapa?" tanya Fira yang merasa heran.
"Gumara sudah tidak diskors lagi. Dia sudah mulai masuk sekolah, lo kapan mau sekolah juga? Gue kesepian tahu gak ada lo, hanya sama Zahra saja," jelas Sasha.
Fira sendiri tidak tahu harus berangkat ke sekolah atau tidak sekarang. Dia sudah kabur dari rumah besar milik Gumara. Jadi, dia tidak tahu harus berbuat apalagi. Apalagi memikirkan tentang sekolah.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian, pintu rumah ini terbuka. Dino masuk ke dalam rumah sambil membawa makanan.
"Hallo semuanya, gue datang ke sini sambil bawa makanan nih.' Dino mengatakan itu lalu berjalan masuk ke dalam kamar Amar.
Dino sendiri memang sengaja disuruh oleh Leon untuk membawakan makanan untuk Amar dan Fira. Apalagi Amar yang sedang sakit dan Fira tidak diperbolehkan keluar sembarangan oleh Leon.
"Makasih banyak Dino, gue rapihkan dulu di meja yah. Nanti kita makan bersama."
Fira menerimanya dengan senang hati. Lalu dia memutuskan untuk menaruhnya di meja makan.
"Gimana keadaan lo?" tanya Dino kepada Amar yang masih berbaring. Lukanya memang belum sedikit mengering. Apalagi Amar sendiri yang ngeyel tidak mau jika harus berada di rumah sakit.
"Gue udah mulai baikan sekarang," jawab Amar.
Lalu mata Dino tertuju kearah Sasha yang ada di tempat ini. "Lo sendiri kan datang ke sini?"
"Emangnya kenapa sih?" tanya Sasha heran.
"Lo gak bawa teman lo yang satunya kan?" tanya Dino dengan nada yang sedikit khawatir. Apalagi Dino sudah mendengar penjelasan dari Leon. Dia tetap harus berhati-hati di sini, karena bisa saja Zahra memanfaatkan pertemanan mereka dengan mengendalikan Sasha.
Sedangkan Sasha menaikan sebelah alisnya karena dia tidak paham. Lalu dia teringat dengan Zahra. Mungkinkah orang yang dimaksud itu adalah Zahra." Maksud lo Zahra?"
"Iya, lo sebaiknya hati-hati dengan wanita itu, kalau bisa jangan berteman lagi dengan dia," peringat Dino.
"Emangnya kenapa? Suka-suka gue dong mau berteman sama siapa aja. Kok lo ngatur-ngatur kaya nyokap dan bokap gue!" ketus Sasha yang memang tidak terima dengan hal tersebut.
Amar melihat kearah Sasha yang berkata seperti itu, sepertinya memang Sasha belum tahu apapun, Amar tahu kalau Sasha adalah tipe wanita yang sedikit polos. "Apa yang dikatakan oleh Dino juga ada benarnya. Sebaiknya kamu hati-hati saja, tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga."
Sasha malah menaikan sebelah alisnya." Emangnya kenapa sih? Kok kalian katanya gak suka banget dengan Zahra. Lo juga Dino, dulu lo juga kayanya gak suka banget dengan Fira, sekarang kenapa tiba-tiba jadi baik?" tanya Sasha.
"Karena Fira bukan pelaku yang sudah membuat Lena celaka," batin Dino dalam hati. Tetapi dia tidak akan mengatakan ini untuk sekarang.
"Jangan banyak tanya, kalau pun gue mengatakan yang sebenarnya pun. Lo pasti gak akan percaya," jelas Dino yang yakin kalau Sasha tidak akan percaya dengan penjelasan dirinya tentang Zahra.
Amar yang mendengar perdebatan itu pun akhirnya melirik kearah Sasha. "Sudah kalian jangan berdebat. Gak tahu kalau gue masih sakit!" balas Amar.
Sasha merasa kalau Amar juga menyembunyikan sesuatu dari dirinya. "Ada apa sih Amar?" tanya Sasha.
Amar akan menjawab, tetapi ponselnya malah berdering tanda ada yang menghubunginya. Dia menaikan sebelah alisnya karena tertera nama Leon.
"Siapa?" tanya Dino penasaran.
Sedangkan Sasha yang di dekat Amar, bisa melihat sendiri siapa orang yang menghubunginya. Rupanya Leon yang menghubungi Amar.
"Leon."
"Angkat saja," ujar Dino.
Akhirnya Amar memutuskan untuk menerima telepon tersebut. "Hallo Leon."
"Darda tertusuk. Dia sekarang ada di rumah sakit."
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Amar yang sedikit terkejut dengan fakta ini.
"Dia berusaha menolong nyokap nya. Ada orang yang berusaha untuk mencelakai nyokap nya," jelas Leon.
"Gue belum bisa datang ke sana karena keadaan gue belum pulih. Nanti gue akan menyuruh Dino ke sana ," jelas Amar. Leon menghubungi dirinya pasti akan meminta bantuan dirinya untuk datang ke tempat kejadian demi menyelidiki hal ini. Tetapi Amar masih dalam keadaan sakit untuk saat ini.
"Oke kalau begitu, jaga diri lo baik-baik."
Amar memutuskan sambungan teleponnya. Dan dia melihat kearah tiga orang yang ada di sini.
"Darda ada di rumah sakit. Dia tertusuk oleh pisau."
__ADS_1
"Apa?"
"Kok bisa?"