
Fira sudah menceritakan semuanya kepada Sasha tentang apa yang terjadi dengan dirinya. Termasuk dengan hubungan dia bersama Gumara yang merupakan saudara tirinya. Kali ini dia tidak menutupi lagi tentang dirinya.
"Jadi maksud lo, rumah yang kemarin banyak penjaga itu rumah Gumara dan kepala sekolah?" ujar Sasha yang benar-benar terkejut dengan hal ini.
Fira mengangguk membenarkan semuanya, kalau memang itu bukan rumah dirinya. "Makanya gue kabur dari rumah itu karena gak mau tersiksa di sana," jelas Fira menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya selama ini.
"Gue turut prihatin dengan kejadian yang menimpa lo, kenapa lo gak pernah bilang sama gue sebagai sahabat lo sih, siapa tahu kan gue bisa bantu," kata Sasha yang merasa kasian dengan temannya.
"Iya maafin gue karena gue belum bisa cerita waktu itu," jelas Fira.
Sasha mengangguk karena paham dengan situasi Fira, apalagi dibelakang Fira selalu ada Gumara selama ini. Pasti Fira merasa tidak nyaman karena selalu diawasi oleh Gumara, sekarang dia penasaran karena Fira bisa tinggal di rumah Amar. "Terus, kenapa lo bisa kepikiran buat datang ke rumah ini?"
"Karena ini rumah Leon, gue pernah datang ke sini ngikutin dia. Katanya Leon tinggal di sini berdua dengan Amar, Leon sepupu Amar," jelas Fira membuat Sasha mengerutkan keningnya.
"Tunggu dulu, maksud lo bagaimana? Leon sepupu Amar dan ini rumah mereka? Setahu gue kalau Amar itu gak punya saudara, dia tinggal sendiri di sini setelah kehilangan kedua orangtuanya," jelas Sasha yang memang tahu tentang Amar. Dulu dia juga sering datang ke sini dan banyak cerita tentang pacarnya.
Fira menatap Sasha dengan pandangan yang serius. Dia tahu kalau Sasha sudah kenal dengan Amar lama lewat fotonya. Apa mungkin kalau selama ini Leon sudah berbohong kepada dirinya tentang sepupunya Amar.
"Apa Leon berbohong sama gue yah," gumam Fira mengingat memang semalam juga dia tidak ada di rumah ini. Seperti memang Leon dan Amar sengaja berbohong kepada dirinya.
"Bisa jadi sih, lagian tuh si Leon kaya orang misterius begitu menurut gue yah. Awal masuk sekolah dia malah kaya cowo cupu. Terus tahunya kan dia ternyata tampan banget," ujar Sasha mengingat perubahan dari Leon dari awal masuk sekolah hingga sekarang. Dia malah terlihat begitu berbeda dari biasanya.
"Iya juga sih," komentar Fira mengingat tentang Leon. Tetapi yang Fira tahu kalau motif Leon datang ke sekolah ini untuk menemukan pelaku yang sudah membuat Lena terluka. Makanya dia sampai datang ke sekolah ini.
"Apa lo gak merasa curiga dengan dia, maksud gue dengan keluarga dia? Gue yakin sepenuhnya kalau Leon bukan sepupu Amar," jelas Sasha yang menjadi khawatir dengan Fira
"Gue akan tanya ke dia nanti. Yang jelas gue tahu motif dia menjadi pura-pura cupu itu. Dia ingin mencari pelaku yang sudah membuat Lena celaka, adapun hubungan Lena dan Leon yang gue ketahui kalau mereka teman masa SMP."
Fira menjelaskan semua itu kepada Sasha, hanya itu yang memang dia ketahui tentang Leon sekarang ini. Dia jadi semakin yakin kalau Leon memang sengaja menyembunyikan identitas aslinya.
"Mereka hanya teman masa SMP saja? Apa lo gak merasa curiga kalau hanya teman SMP tetapi malah mau menyelidiki kasus temannya seperti ini," jelas Sasha membuat Fira terdiam. Dia juga sebenernya merasa yakin kalau memang ada yang disembunyikan oleh Leon di sini.
"Nanti gue akan tanya ke dia langsung," jelas Fira.
Sampai akhirnya terdengar suara motor terhenti. Fira langsung berdiri karena teringat dengan ucapan Leon, dia harus hati-hati dengan orang yang datang ke sini karena takut Gumara dan ayahnya akan datang ke sini.
Fira mengintip di jendela dan tersenyum ketika melihat orang tersebut adalah Amar dan ibunya.
"Lo kenapa sih Fir? Kaya orang panik begitu."
__ADS_1
"Gue khawatir kalau orang itu adalah Gumara, tapi rupanya itu Amar sama nyokap gue."
Sasha tersenyum karena orang yang dia tunggu akhirnya datang juga. Diam-diam Sasha malah membenarkan rambutnya sebelum Amar akan membukakan pintu rumah ini.
"Assalamualaikum."
Susan dan Amar datang membuka pintu, dia melihat kearah Fira yang sedang duduk. Lalu mata Amar melihat orang yang selama ini dia rindukan ada di sini. Sungguh dia benar-benar tidak menyangka kalau Sasha akan datang kembali ke sini. Banyak pertanyaan di dalam benaknya sekarang. Termasuk dengan hubungan dirinya di masa lalu yang memang kurang baik.
"Waalaikumsalam."
"Sasha," gumam Amar yang merasa bahagia ketika melihat Sasha. Sudah lama wanita itu tidak menginjakkan kakinya di rumah ini.
Fira ikut tersenyum ketika melihat hal tersebut. Mungkin ini saatnya dia membiarkan Amar berdua dengan Sasha. Akan lebih baik jika dia ikut bersama dengan ibunya ke dapur dan memberikan waktu untuk dua pasangan ini menyelesaikan masa lalunya.
"Mah, sini aku bantu. Kita ke dapur yuk," ajak Fira menarik tangan Susan untuk pergi ke dapur.
Susan awalnya merasa heran karena anaknya malah membawa dia untuk pergi ke dapur. Tetapi dia mengikuti anaknya saja, sepertinya memang anaknya sengaja ingin memberikan waktu untuk Amar dan Sasha berdua.
"Tadi itu, teman kamu kan?" tanya Susan yang menaruh belanjaan. Dia mengingat kalau memang dia adalah teman anaknya.
Fira mengangguk lalu dia membisikan sesuatu kepada ibunya. "Dia mantan Amar, aku ingin menyatukan mereka kembali," ujar Fira.
"Mamah mengatakan apa sih, emangnya mamah setuju kalau aku sama Leon?" tanya Fira yang sedikit kesal. Apalagi dengan fakta kalau ternyata Leon berbohong kepada dirinya tentang pangkuan bahwa dia sepupu Amar. Pada kenyataannya memang Amar tidak punya hubungan apapun dengan Leon. Sasha sendiri yang bilang faktanya padanya.
"Iya kelihatannya dia orang yang baik," jawab
Susan.
Sedangkan Fira hanya terdiam karena memang dia sendiri tidak yakin kalau Leon orang yang baik. Apalagi pria itu penuh dengan misterius.
"Jangan melihat orang dari covernya saja mah, kita gak tahu bukan kalau ternyata dia pembohong!" balas Fira yang sebenarnya kecewa.
Susan menatap kearah anaknya dengan sekilas." Kenapa kamu bilang begitu? Apa Leon pernah membohongi kamu?" tanya Susan.
Fira mengangguk membenarkan semuanya. Leon sudah berbohong tentang dirinya yang mengaku sebagai sepupunya Amar. Tetapi pada kenyataannya bukan sama sekali. "Iya, dia pernah berbohong," jawab Fira seadanya.
Susan tersenyum mendengarkan perkataan tersebut. Dia tahu kalau anaknya sepertinya tengah kecewa sekarang. "Kalau memang dia orang baik, pasti dia punya alasan tersendiri mengapa dia berbohong padamu."
"Sudah mah, malah membas tentang dia. Lebih baik kita masak sekarang dan aku akan membuatkan camilan untuk Sasha dan Amar," jelas Fira yang mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Susan hanya tersenyum melihat tingkah anak muda jaman sekarang.
***
Semetara itu, di ruangan tamu. Sasha menatap Amar dengan pandangan penuh curiga. Apalagi dengan cerita Fira yang tadi membuat dia malah merasa kalau yakin terjadi sesuatu.
"Gue tahu kalau lo bohong tentang Leon kepada Fira kan?" ujar Sasha yang memang tahu tentang keluarga Amar.
Amar menatap kearah Sasha dengan sedikit terkejut. Dia lupa kalau Sasha memang tahu tentang dirinya. Fira bicara apa saja tentang Leon kepada Sasha? Amar jadi sedikit mendengus kesal. Padahal dia berharap Sasha datang ke sini dan mereka akan menyelesaikan masa lalu mereka dulu. Tetapi Sasha malah mengintimidasi dirinya dengan pertanyaan ini.
"Lo bisa diam gak? Jangan sampai nanti Fira mendengar hal ini, Lo banyak cerita dengan dia?" ketus Amar.
Sasha malah tertawa melihat ekspresi wajah Amar seperti itu. Dia memang sudah banyak mengenal Amar dari dulu. Jadi dia bisa membedakan kalau sedang panik seperti ini. Sudah Sasha duga kalau Fira dibohongi oleh Amar dan Leon.
"Lo lucu, jadi maksud lo, gue harus menyembunyikan fakta ini dari Fira?" tanya Sasha.
"Setidaknya untuk sementara, Leon belum siap menceritakan semuanya, dia masih punya misi untuk menemukan seorang yang terlibat dalam kecelakaan yang menimpa Lena," jelas Amar yang memberitahu Sasha.
Sasha sekarang paham mendengar hal tersebut. Baiklah, gue gak akan menceritakan semuanya pada Fira," ujar Sasha.
"Awas saja kalau sampe bocor, gue gak akan maafin lo," balas Amar.
Sasha tertawa sambil melirik seisi rumah ini yang terlihat masih sama. Hanya saja kali ini terlihat bersih dari dulu. "Rumah ini masih sama, tapi keliatan bersih dan terurus," jelas Sasha.
"Semuanya karena Fira dan Ibunya yang baik membantu gue," balas Amar.
Sasha hanya mengangguk paham, tidak mungkin juga Amar yang mau membersihkan semuanya sendiri. Apalagi Sasha tahu kalau Amar sedikit sibuk. "Gue akan merahasiakan ini dari Fira, tetapi gue gak yakin kalau Fira gak bakal tahu."
"Yah setidaknya lo sebagai sahabatnya dia jangan dulu cerita, gue takut nanti Leon malah ngamuk sama gue," ketus Amar membayangkan kalau Leon akan marah padanya.
"Lo keliatan ketakutan banget sama Leon, pasti dia menyeramkan yah sampai orang kaya lo bisa takut juga ." Sasha malah meledek Amar yang biasanya sok jadi jagoan malah seperti takut dengan Leon.
"Lo gak tahu aja gimana kalau Leon sudah murka," balas Amar yang selalu kena amukan dari Leon yang kadang lepas kendali.
Tanpa mereka berdua sadari, tadi sebenernya Fira sempat menguping pembicaraan mereka. Fira sebenarnya tidak niat menguping, hanya saja dia penasaran yang yang dilakukan oleh Amar dan Sasha, dia berharap Amar dan Sasha beneran balikan. Tetapi yang dia dengar malah sebuah fakta lain.
Kalau Leon ternyata benar membohongi dirinya tentang identitas dirinya, dia bukan sepupu Amar.
"Lalu siapa Leon yang sebenarnya?" batin Fira.
__ADS_1