
Yuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia datang ke sebuah rumah yang memang hanya dia yang tahu. Ini adalah rumah di mana adiknya tinggal. Dia menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di tempat tujuannya.
Bahkan Yuna tidak menyadari kalau ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Orang tersebut tersenyum karena tahu tempat yang ditemui Yuna.
"Permisi!"
Yuna mengetuk pintu rumah itu, hingga tak lama kemudian seorang wanita muda muncul membukakan pintu. Dia sempat terkejut ketika melihat orang yang datang ke sini.
"Tante Yuna."
Yuna hanya tersenyum tipis kepada keponakan dirinya, selama ini tidak ada yang tahu kalau wanita itu adalah keponakan dirinya. Dia sengaja disuruh bersekolah yang sama dengan anaknya agar mudah memantau kegiatan anaknya di sekolah.
"Ibu kamu mana?" tanya Yuna yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan saudaranya. Apalagi dia hanya ingin memastikan sesuatu. Suaminya menyalahkan dirinya karena hal ini.
"Mamah sedang keluar, Tante masuk dulu."
Akhirnya Yuna masuk ke dalam rumah tersebut. Dia duduk di kursi sambil menunggu kehadiran adiknya yang sepertinya sedang keluar.
"Bagaimana sekolah kamu?" tanya Yuna.
"Baik-baik saja Tante."
Yuna hanya mengangguk, dia melihat kearah keponakannya itu dengan sekilas. Dia mengira kalau wanita itu sangat baik. Apalagi selalu melaporkan semua kegiatan Darda di sekolah.
Yuna tiba-tiba teringat dengan teror tersebut. Apa keponakannya tahu tentang Darda yang memang sengaja ada yang meneror. Tetapi kenapa malah tidak melaporkan kepada dirinya.
"Apa kamu tahu kalau ada orang yang meneror
Darda selama di sekolah? Orang itu mencegah Darda untuk mengungkapkan kasus yang terjadi dengan pacarnya," jelas Yuna membuat wanita itu hanya diam. Terlihat raut wajahnya begitu gugup ketika akan berkata dengan jujur. "Em.. aku tidak tahu Tante."
Yuna menatap kearah keponakannya itu dengan serius. Dia tahu sekarang kalau keponakannya itu tengah berbohong padanya. Buktinya saja sekarang wanita itu terlihat begitu gugup.
"Kamu yakin Zahra?"
Deg
Zahra tidak bisa berkata apapun juga ketika Yuna menatap dirinya dengan tajam seolah mengintimidasi dirinya. Dia hendak akan mengatakan semuanya, tetapi pintunya sudah lebih dulu terbuka.
Yura datang membuka pintu rumahnya dan dia malah merasa terkejut karena melihat Yuna ada di sini.
"Kak Yuna."
Yuna melirik kearah adiknya yang akhirnya datang juga. Sedangkan Zahra menghela napasnya karena ibunya datang. Dia tidak perlu menceritakan semuanya untuk saat ini.
Zahra tidak mau banyak terlibat dalam pembicaraan ini, akhirnya dia memutuskan untuk mengindari pembicaraan ini. "Mamah sudah datang Tante, kalau begitu aku ke kamar dulu."
__ADS_1
Zahra akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mau mendengar perdebatan yang pasti akan terjadi. Tantenya tadi seperti menatap dirinya dengan pandangan aneh.
"Ada a yang ingin aku tanyakan kepadamu Yura!" ujar Yuna.
Yura akhirnya duduk bersama dengan kakaknya. Dia juga penasaran dengan kedatangan kakaknya ke rumahnya. Jarang sekali kakaknya mau datang ke rumahnya. Apalagi selama ini Yura selalu bersembunyi karena malu.
Belum lagi setelah dirinya yang memang sudah dicoret dari daftar nama keluarganya. Ini membuat dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Kak Yuna ingin menanyakan apa?"
"Apa kamu sengaja menyuruh orang untuk meneror anakku?" tanya Yuna dengan pandangan mata yang tajam.
Yura menatap kearah kakaknya yang menanyakan hal ini padanya. Dia sudah bisa menebak dari awal kalau kakaknya pasti akan menanyakan tentang hal ini.
"Maaf tapi aku melakukan itu untuk membuat Darda tidak mengungkapkan kasus yang terjadi dengan kekasihnya."
Yuna yang mendengar itu pun langsung menggebrak mejanya dengan tajam. Dia menatap kearah Yura dengan tidak terima.
"Kamu terlibat atau kamu pelakunya? Sehingga kamu ingin menutupi kasus ini hah? Sampai meneror anakku segala agar tidak mengungkap kasus ini," marah Yuna.
Yura terdiam seribu bahasa ketika Yuna mengatakan hal tersebut. Dia tidak bisa melawan kakaknya yang memegang kuasa penuh sekarang. Dia bisa ditendang dari yasayan itu. Jangan sampai dia yang malah kena batunya.
"Kalau pun iya memangnya kenapa? Aku melakukan itu demi kebaikan kita semuanya. Jika aku terlibat maka, nama baik sekolah ini juga akan tercoreng. Aku sengaja menutupinya," jelas Yura.
"Demi kebaikan? Kamu pasti punya motif lain melakukan itu kan?" tanya Yuna dengan penuh selidik.
"Lalu mengapa kamu meneror anakku? Yang notabenenya keponakan kamu juga?" tanya Yuna.
"Okeh aku minta maaf, aku salah tentang hal itu. Dia sudah ingin mengungkap kasus itu, aku tidak mau dia mengungkapkan semuanya," terang Yura kepada
Kakaknya. "Yaudah kalau begitu, aku izin pamit dulu. Ingat jangan pernah ganggu anakku."
"Iya kak," jawab Yura.
"Aku masih melindungimu sekarang, tetapi tidak dengan nanti Yura. Jangan membuat masalah apalagi menyangkut dengan keluargaku!" ancam Yuna.
Yuna akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat adiknya. Dia sudah memberikan peringatan kepada adiknya. Setelahnya dia kembali naik ke dalam mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sedangkan Yura mantap kepergian dari kakaknya. Dia tersenyum sinis ketika melihat semuanya. Ada rasa yang membuat dia malah jadi kesal. Dia pikir akan menuruti keinginan kakaknya begitu saja. Jelas dia tidak akan bisa menang.
Yura menatap kesal melihat Yuna yang tadi menggertak dirinya. Dia langsung memutuskan untuk menghubungi bawahannya.
"Hallo."
"Iya ada apa Bu Ketua?"
__ADS_1
"Bawa anak buah mu untuk membunuh Yuna. Aku tidak ingin kakakku itu ikut campur dengan urusanku!" balas Yura kepada orang yang ada ditelepon itu. Akan lebih baik jika dia menghabisi kakaknya agar tidak ikut campur dengan urusan dia.
"Tapi bos?"
"Lakukan saja, jangan banyak membantah!" maki Yura yang memang penuh dengan ambisi.
"Baik, Bu Ketua, saya akan menyuruh anak buah saya melakukan hal tersebut."
"Bagus."
Yura akhirnya tertawa dengan sinis, dia akhirnya bisa menghabisi kakaknya. Seandainya kakaknya itu tidak ikut campur dengan urusan dirinya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
***
Semetara diluar rumah, seseorang tengah mengintip karena merasa penasaran. Seseorang keluar dari rumah tersebut dan dia kembali naik ke dalam mobilnya. Orang tersebut melihatnya dengan sekilas sambil bersembunyi.
"Sekarang gue sudah tahu tempat tinggal dia di mana," gumam seseorang yang melihat itu sambil tersenyum sinis.
Dia mengintip rumah tersebut, siapa tahu memang dia menemukan sebuah jejak. Tetapi dia membulatkan matanya ketika mendengar seseorang yang sedang menelepon.
Lebih terkejut lagi ketika dia mendengar rencana tersebut. "Sial, wanita itu memang berbahaya," gumam orang yang sedang mengintip itu.
Lalu dia menyipitkan matanya ketika melihat sebuah foto, ada dua wanita di sana. Lebih terkejut lagi ketika dia kenal dengan foto tersebut.
"Zahra, jadi dia..."
Dia benar-benar tidak menyangka dengan yang dia liat barusan dibalik jendela. Benar-benar diluar dugaan dirinya. Zahra adalah anak dari wanita yang disebut ibu ketua.
"Sial, harusnya gue sadar dari awal!" maki orang tersebut.
Sekarang dia paham dengan yang terjadi ini. Semuanya ada hubungannya memang dari awal. Bodohnya dia baru menyadari sekarang. Harusnya dia tahu dari dulu.
Apalagi tadi tadi mendengar ucapan dari orang didalam, rencana jahat orang tersebut.
Bruk...
Orang tersebut tidak sengaja menyenggol pas bunga hingga jatuh. Membuat orang yang ada di dalam rumah itu terkejut.
"Siapa itu?"
Yura keluar membuka pintu rumahnya, dia melihat kearah pas bunga yang terjatuh. Tidak mungkin kalau hanya angin bisa membuat pot bunga itu jatuh.
"Apa ada orang lain di sini?" gumam Yura yang kini membenarkan kembali pot bunga yang jatuh. Kemudian dia kembali masuk ke dalam rumahnya.
Orang yang tadi tidak sengaja menyenggol pas bunga tersebut bersembunyi. Dia bernapas lega ketika melihat Yura kembali ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Gus harus segara pergi."