SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Darda Menjenguk Lena


__ADS_3

Amar sudah membelikan sarapan untuk mereka bertiga, tetapi ketika dia pulang ke rumahnya. Dia sudah melihat Leon dengan keadaan kacau seperti ini. Bahkan sudut bibirnya terlihat luka legam seperti habis berkelahi.


"Ini sarapannya," ujar Amar menaruh sarapan mereka di maja.


"Buang saja, gue gak butuh," ketus Leon yang sudah tidak tertarik untuk sarapan sekarang ini. Dia benar-benar kesal dengan Fira yang malah memilih pergi bersama dengan Gumara.


"Lo kenapa sih? Muka lo juga keliatan bonyok begitu. Apa terjadi sesuatu dengan lo? Jangan bilang lo digebukin warga karena menculik anak orang lagi," kata Amar membuat Leon malah menatapnya dengan tajam.


"Cerewet lo kaya cewe!" sinis Leon.


Amar mengedepankan matanya mengitari ruangan ini, dia sebenernya mencari keberadaan Fira yang tidak ada di tempat ini.


"Ke mana Fira? Dia kok gak keliatan?" tanya Amar yang merasa bingung karena wanita itu seperti tidak ada di sini.


"Dia sudah pergi di bawa oleh Gumara," jawab Leon.


"Kok bisa? Gumara yang kata lo orang yang suka bully itu? Dia membawa Fira pergi?" tanya Amar yang kini merasa heran.


Leon menganggukkan kepalanya sambil


menjambak rambutnya karena frustasi. Apalagi tadi


Fira lebih memilih untuk bersama dengan Gumara dibandingkan dengan dirinya. Leon tidak pernah frustasi seperti ini hanya karena seorang perempuan.


Baru kali ini dia malah merasa kepikiran. Apa ini karena sekarang Fira sudah mendominasi kehidupan dirinya.


"Fira juga lebih memilih pria berengsek itu ketimbang gue," balas Leon kesal.


Amar malah tersenyum ketika mendengar hal tersebut dari Leon. Sudah jelas sekali kalau sebenernya Leon sedikit cemburu karena Fira lebih memilih Gumara dibandingkan dengan dirinya.


"Jadi ceritanya lo cemburu?" goda Amar.


"Gue? Nggak, ngapain juga gue cemburu dengan orang yang seperti itu?" ketus Leon mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dia tidak cemburu hanya kesal saja dengan Fira.


"Gak usah bohong sama gue, bilang aja kalau sekarang lo udah punya perasaan dengan dia," goda Amar.


"Apa sih lo! Gak jelas banget tau gak. Gue tuh lagi kesal saja, Fira bisa ikut dengan Gumara begitu saja. Secara di sekolah, dia selalu menghindar dari Gumara," jelas Leon.


Lalu dia tiba-tiba teringat dengan perkataan Leon tadi tentang Gumara yang tahu kalau Fira tidak pulang ke rumah. Apa mereka mempunyai hubungan dekat? Hingga Gumara bisa tahu kalau Fira tidak pulang ke rumah. Kenapa dia malah jadi overtaking sekarang.


"Ah sial!" maki Leon lagi yang hendak akan menendang meja.

__ADS_1


"Mending lo berangkat sekolah sekarang deh,


daripada membuat furnitur rumah gue rusak," usir Amar karena mereka sama-sama akan sekolah.


Bedanya Amar masih di sekolah yang dulu tempat Leon bersekolah. Sedangkan sekarang Leon sudah bersekolah di sekolah yang baru.


Leon tidak berkata apapun, dia langsung mengambil tasnya lalu pergi dengan begitu saja.


"Sial, gue harus sekolah dan mastikan sendiri," maki Leon benar-benar dibuat kesal.


Amar bisa memaklumi tingkah Leon yang satu ini. Dia memang selalu seperti itu ketika sedang kesal. Lalu Amar memakaikan ponselnya sebelum berangkat ke sekolah. Dia masih melacak nomor yang diberikan oleh Leon kepadanya kemarin.


Sementara itu.


Di tempat lain, Darda yang sudah memakai seragam sekolahnya, tetapi dia tidak berangkat ke sekolah. Dia tidak mau diawasi oleh orang misterius yang selalu mengirimkan dia pesan.


Yang membuat dia kesal lagi adalah ketika dia dibuat banyak sekali kegiatan oleh kepala sekolah.


Membuat dia menjadi sibuk dan tidak bisa mengusut tuntas kasus tersebut. Pak Rudi sepertinya memang sengaja membuat dia sibuk.


Keterlibatan Pak Rudi dalam kasus yang terjadi dengan Lena membuat Darda semakin yakin. Hanya saja dia sampai sekarang tidak punya bukti. Selian dia adalah orang yang menutup akses rooftop sekolah dan kasus itu ditutup.


"Lo gak kapok yah datang ke sini terus!" sindir orang tersebut ketika melihat Darda datang. Sepertinya penjaga itu sudah terbiasa dengan Darda yang sering datang ke sini tetapi terus saja dihalangi.


"Kami pikir akan percaya dengan bocah ingusan seperti lo!" sinis orang tersebut membuat Darda menjadi kesal.


"Bos kalian juga bocah ingusan," dengus Darda kesal ketika dia disebut bocah ingusan. Mentang-mentang orang yang ada dihadapannya bertubuh kekar. Darda tetap berani melawannya. Hanya saja dia selalu kalah dengan orang tersebut. Kali ini Darda tidak akan membuang tenaganya karena tahu bos dari dua penjaga tersebut.


"Kurang ajar, lo berani mengatai bos kami!" marah orang botak tersebut kepada Lena dengan marah. Dia bahkan tidak yakin dengan semua ini.


"Jangan buang tenaga buat bocah seperti dia," ujar pria yang satunya yang terlihat gondrong.


"Katakan pada bos kalian kalau gue datang lagi ke sini.


Sekarang hubungan gue dengan bos kalian sudah baik-baik saja."


Darda mengatakan itu dengan sabar, dia tidak akan buang tenaga lagi ketika datang ke sini. Lagian dia sudah tahu semuanya. Termasuk dengan Leon, semuanya karena kemarin dia sengaja bolos ke sekolah dan menemui papahnya.


Orang tersebut lalu menghubungi bosnya dan mengatakan kalau Darda ada di sini. Dia juga mengirimkan bukti foto Darda yang kini ada di sini.


"Hallo bos. Orang yang kemarin selalu datang ke sini, sekarang datang kembali."

__ADS_1


"Apa dia tidak sekolah?" tanya orang tersebut.


"Sepertinya iya, dia juga bilang kalau sekarang sudah berteman dengan bos," ujar orang yang pakai baju botak itu.


"Dia tahu kalau gue bos kalian?" tanya orang tersebut yang tidak menyangka sama sekali. Ternyata Darda diam-diam mengetahui semuanya, dia salut dengan orang tersebut. Tetapi dia juga jadi penasaran dengan Darda yang bisa mengetahui tentang dirinya.


"Iya bos."


"Yaudah biarkan saja dia masuk."


"Bos percaya dengan dia?" tanya orang tersebut.


"Iya, gue percaya dengan dia, tetap awasi saja ketika dia ada di dalam," ucap orang tersebut.


"Baik bos kalau begitu," akhirnya dia menutup sambungan teleponnya. Lalu matanya melirik kearah Darda yang memang sudah diberikan izin oleh bosnya.


Darda bersikap dengan tenang karena memang sekarang dia tidak usah adu otot lagi dengan mereka." Gimana? Gue udah bisa masuk kan?" tanya Darda.


"Iya, lo udah bisa masuk, tetapi gue tetap bakal ngawasin lo," ujar penjaga yang pakai baju hitam tersebut.


Darda tersenyum mengangguk setuju, lalu akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan yang memang sangat dia rindukan. Karena di sana ada seseorang terbaring lemah di sana.


"Apa kabar Len? Maaf baru bisa ke sini lagi," gumam Darda sambil mengelus rambut wanita yang memang sangat dia cinta selama ini.


"Maaf karena aku baru bisa masuk ke dalam ruangan ini, karena selama ini aku hanya bisa memperhatikan kamu di luar rumah sakit, aku gak berani masuk ke dalam karena di depan ruangan kamu ada dua penjaga. Tapi kali ini aku bisa masuk Len, semuanya karena aku tahu bos dari dua penjaga itu," gumam Darda.


Awalnya Darda kemarin datang ke kantor ayahnya dan mencari tentang kolega ayahnya yang sedikit mirip dengan ayah Lena. Dari sana Darda bisa menebak kalau Lena dan Leon ada hubungan. Sampai Darda bertanya kepada papahnya Leon yang kebetulan kolega ayahnya, dia bertanya tentang penjaga di rumah sakit tersebut hingga dia menemukan jawabannya.


Darda sedikit kesal setelah tahu kalau bos dari penjaga di rumah sakit ini adalah anak buah Leon. Harusnya Darda curiga waktu itu ketika Leon yang dengan mudah bisa keluar masuk ruangan Lena begitu saja.


"Kamu cepat sadar yah, Lena. Aku berjanji akan membantu Leon dan Dino untuk mengungkapkan kasus ini, semua aku lakukan karena aku cinta sama kamu, itu kan kata yang ingin kamu dengar dulu, maafkan aku."


Darda memberikan sebuah kecupan manis ke tangan Lena dengan lembut. Dia berharap kalau Lena akan bangun. Walaupun dia tahu sekarang Lena masih dinyatakan koma belum sadarkan diri.


Darda mengirimkan pesan kepada Dino sekarang." Bawa buku diary Lena."


Darda yakin semua rahasia tersebut ada di buku diary Lena. Termasuk dengan hubungan antara Fira dan Gumara. Karena dulu ketika awal masuk, Lena dan Fira begitu dekat sebelum ada Sasha dan Zahra.


"Aku tahu Lena, ini pasti ada hubungannya," gumam Darda yang menggenggam tangan Lena dengan erat. Seolah tidak ingin berpisah lagi untuk saat ini. Dia bahkan tidak pergi ke sekolah karena ingin bertemu dengan Lena dan menyadari kalau di sekolah dia merasa diawasi oleh seseorang yang Darda sendiri tidak tahu orangnya.


Darda hanya tahu kalau orang yang mengawasi dirinya bukan Gumara atau Pak Rudi. Karena ketika dia sedang menguping pembicaraan tersebut mereka di depan ruangan. Orang itu mengirimkan dia pesan seolah tahu yang dia lakukan.

__ADS_1


"Bedebah itu pasti akan tertangkap Lena. Aku janji padaku," gumam Darda yang berjanji sambil menggenggam tangan Lena.


__ADS_2