
Seorang pria datang ke sebuah ruangan tempat
seseorang sedang terbaring lemah. Pria itu hanya bisa
menatap kearah wanitanya yang terbaring lemah.
"Aku minta maaf Lena."
Pria itu hanya mengatakan permintaan maaf pada wanita yang diketahui namanya Lena. Dia adalah wanita yang menyukai dirinya dan dia tidak sadar hanya karena mengejar wanita lain.
"Hanya kamu yang tulus mencintaiku, maafkan aku 'gumam pria itu sambil membawa sebuah bunga untuk Lena.
"Dulu kamu selalu ingin bunga dariku bukan? Aku membawakan ini untukmu, berharap kamu cepat bangun," gumam pria itu lagi yang kini menggenggam tangan Lena dengan lembut.
Entah keberanian dari mana, pria itu memberikan sebuah kecupan pada tangan Lena. Andai dia lebih memperhatikan Lena dulu, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
"Aku pergi dulu Lena," gumam pria itu yang merasa
kalau ada seseorang yang mengawasi dirinya.
Dia langsung mengambil jaket hitam yang dia gunakan. Tidak lupa menutup mukanya juga karenamerasa takut dengan yang dia liat.
Ada rasa khawatir juga takut kalau orang yang mengawasi dirinya adalah orang yang jahat.
Dia keluar dari rumah sakit ini sambil berlari, dia menyadari kalau ada orang yang mengikuti dirinya. Sampai dia bersembunyi di balik pohon. Entah siapa yang mengikuti dirinya saat ini.
"Mana dia?" tanya orang yang mengikutinya.
"Mungkin lari ke arah kanan," gumam dia.
"Kalau begitu kita ke sana saja."
Dia bernapas lega ketika orang-orang itu sudah pergi menjauh dari dirinya. Dia langsung mencari motor ninja merah milik dirinya lalu pergi dari tempat ini.
Pagi hari
Leon mendapatkan sebuah info dari anak buahnya kalau mereka gagal menemukan orang yang menjenguk adiknya. Dia yakin kalau orang itu tahu tentang kejadian adiknya. Atau mungkin bisa jadi dia penyebab adiknya celaka.
"Sial! Kalian tidak becus mencari orang seperti itu saja!" marah Leon.
"Maaf tuan muda."
Rian langsung menahan anaknya yang hendak akan memukul anak buahnya. Dia tidak mau nanti anaknya akan sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Tahan emosi kamu, Leon!"
"Maaf Daddy."
Leon menundukkan kepalanya, dia memang tidak bisa menahan emosi jika itu bersangkutan dengan adiknya. Dia tidak akan memaafkan orang yang sudah membuat adiknya merasa celaka.
"Lebih baik kamu sarapan dulu Leon," saran Indah kepada anaknya.
"Iya Mommy."
Leon akhirnya memutuskan untuk sarapan bersama dengan keluarganya. Hatinya masih belum bisa tenang sebelum dia bisa menemukan orang tersebut.
Dia harus memasang CCTV sepertinya agar adiknya itu bisa tahu tentang dirinya. Semua yang dia lakukan selama ini sudah berjalan dengan baik.
"Kamu jangan terlalu memikirkan tentang misi Daddy mu itu Leon, lebih baik fokus ke sekolah saja, Lena pasti tidak lama lagi juga akan sadar dari komanya ," saran dari Indah.
"Aku tetap pada pendirian ku Mommy. Aku pasti akan menemukan pelakunya," gumam Leon.
Indah hanya menghela napasnya ketika mendengar ucapan dari anaknya. Dia memang sama persis seperti suaminya. Selalu keras kepala dan tetap kepada pendiriannya.
"Terserah kamu saja Leon," gumam Indah yang akhirnya memutuskan untuk pasrah saja dengan semua ini.
"Sudah sayang, jangan menganggu anak kita terus," gumam Rian yang kini ikut bergabung dengan mereka.
"Iya, aku minta maaf," gumam Indah.
Leon akhirnya makan bersama dengan keluarganya. Sudah lama sekali memang dia tidak merasakan kehangatan ini. Hanya kurang kejadian adiknya saja yang dulu selalu jahil kepadanya.
Sampai ponselnya berdering tanda ada yang mengubungi dirinya. Dia menaikan sebelah alisnya heran karena tidak tahu siapa orang yang mengubungi dirinya.
Sampai dia mengangkat teleponnya dan ternyata suara perempuan.
"Akhirnya lo mengangkat telepon dariku juga Leon."
Leon mendengar suara tersebut dan rupanya itu suara Fira. Wanita itu dengan cepat mempunyai nomor dirinya. Padahal dia tidak merasa memberikan nomor teleponnya pada wanita itu.
"Kenapa?"
"Gue mau jemput lo," ujar Fira.
Leon membulatkan matanya ketika menyadari kalau Fira hanya mengetahui kalau dia tinggal di rumah Amar. Ini yang akan membuat dia malah menjadi kesal sekarang.
"Tidak usah!" jelas Leon menolak ajakan dari Fira barusan. Apalagi itu artinya dia harus datang ke rumah Amar dulu.
__ADS_1
"Gue lagi jalan ke sana sekarang. Jadi gak ada penolakan!" ujar Fira.
"Sial," maki Leon mematikan sambungan
teleponnya. Dia jadi kesal karena Fira main seenaknya sendiri. Dia harus datang ke rumah Amar terlebih dahulu sebelum Fira nanti datang ke rumahnya. Ini yang akan membuat dia jadi merasa malu.
Leon menyudahi sarapannya dan langsung berpamitan kepada kedua orangtuanya. Membuat kedua orangtuanya malah heran dengan anaknya.
"Kamu buru-buru sekali Leon," ujar Rian.
"Iya ada urusan. Aku pamit duluan," ujar Leon.
"Kamu gak bawa kendaraan?" tanya Indah kepada anaknya.
"Tidak Mommy. Orang-orang akan curiga padaku.
Aku akan pesan taksi online saja," ujar Leon.
Indah hanya mengangguk paham, "Yaudah kalau begitu, kamu hati-hati," gumam Indah kepada anaknya.
Leon menyalami tangan kedua temannya, lalu dia berjalan keluar untuk saat ini. Beruntung dia sudah pesan motor online yang membuat dia cepat daripada pesan taksi online.
Sampai hingga tak lama kemudian, dia sudah sampai di depan rumah Amar dan masuk dengan terburu-buru. Amar yang melihat Leon mendobrak pun pun terkejut.
"Lo bikin gue kaget saja! Untung gue gak berpikir lo maling," seru Amar.
"Lagian mana ada orang yang maling ke tempat kaya gini? Orang juga mikir dulu kalau mau maling," ujar Leon.
"Iya juga, mana ada maling ke tempat rumah kaya gue," gumam Amar membenarkan semuanya. Tidak akan ada orang yang maling ke rumah dia yang sederhana ini.
"Nah kan," gumam dia dengan pelan.
Amar melihat kearah Leon dengan sekilas saja, lalu matanya melihat kearah lain untuk saat ini. "Lo sendiri, kenapa datang ke sini?" tanya Amar penasaran.
"Fira akan datang ke sini, makanya gue buru-buru datang ke sini!" ujar Leon menjelaskan.
Amar hanya mengangguk paham, lalu terdengar suara orang yang memanggil nama Leon. Siapa lagi kalau bukan Leon saat ini.
"Leon," terdengar suara teriakan dari orang yang memang dia khawatirkan.
Amar hanya mengkode Leon saja untuk keluar sekaran dan tentu saja Leon menurutinya. Dia langsung keluar dari rumah ini dan membenarkan kaca mata yang dia gunakan saat ini.
"Akhirnya lo muncul juga, gue ke sini sengaja mau ngajak lo berangkat bersama, gue gak terima penolakan !" ujar Fira langsung menarik tangan Leon. Fira memang sengaja ingin memamerkan kepada temannya kalau dia sudah bisa menaklukkan pria cupu seperti Leon.
__ADS_1
BERSAMBUNG