
Setelah memastikan sekertaris kekasihnya keluar, Gia yang sedari tadi duduk di pangkuan Adka dirinya langsung bangkit sambil menatap nya tajam.
Adka dengan sudah payah menelan ludahnya saat melihat suasana mulai tidak aman.
"Apa liat liat"Kata Gia ketus sambil duduk di sofa.
"Sayang"Rengek Adka mengikuti Gia duduk di sofa.
"Huh enak ya punya sekertaris ke gitar spanyol, makin betah kayanya di kantor saking betahnya sampe ga kabarin pacarnya sendiri, eh pas di lihat lagi pelukan"Kata Gua ketus.
"Apa, sana jauh jauh Jan pegang pegang"Kata Gia ketus sambil berusaha melepaskan tangan kekasihnya.
"Kamu marah sama aku?"Kata Adka menatap Gia.
"Pikir aja sendiri"Kata Gua memalingkan wajahnya.
"Maaf dong aku bisa jelasin"Rengek Adka sambil berusaha membalikkan tubuh Gia.
"Ga perlu, semua cowok sama saja, katanya mau jadiin aku sekertaris pribadi lah apa lah. sekarang aja punya sekertaris yang bohai mana ga bilang bil..."Cerocos Gia terputus dengan serangan Adka yang langsung melahap bibir Gia.
Keduanya kehabisan pasokan oksigen, Adka melepas ciuman sambil menetap lekat lekat wajah Gia.
"Makanya dengerin dulu penjelasan aku, jangan ambil kesimpulan sendiri"Kata Adka lembut sambil mengelus rambut Gia.
"Apa?"Kata Gia dengan sinis.
"Jadi gini tadi dia bawa berkas ke ruangan ku untuk di tanda tangani, nah pas dia mau balik dia kepeleset, aku refleks bantuin dia dong. tapi kalo soal kamu jadi sekertaris, kamu tenang aja oke nanti setelah kita wisuda akan ku pecat dia ko"
"Dia cuman sementara aja karena pekerjaan ku akhir akhir ini numpuk Aku kewalahan, mau minta bantuan sama si Johan, eh sama tu orang juga lagi banyak kerjaan jadi mau ga mau aku cari deh sekertaris."Jelas Adka menggenggam tangan Gia sambil menatap lekat manik Gia.
"Oh"Kata Gia beria oh
"Ih pacar siapa sih ini"Kata Adka mencubit gemas kedua pipi Gia.
"Ehehe vis"Kata Gia sambil mengacungkan tangan berbentuk V.
"Eh kamu bawa apa yang?"Kata Adka melirik rantang yang berada di meja.
"Eh iya, ini aku bawain makan siang buat kamu, aku bikin nasi goreng spesial"Kata Gia sambil membuka rantang makanan.
"Wah baunya enak nih, pengen dong suapi ya"Kata Adka dengan muka memelas.
"Ih ga malu apa udah besar juga"Kata Gia melirik sekilas.
"Engga, pokonya nanti kalo kita nikah, aku mau setiap hari di suapi kalo makan"Kata Adka membayangkan.
"Iya deh iya, aaa"Kata Gia memberikan suapan pertama ke mulut Adka.
"Enak?"Tanya Gia menatap Adka.
"Heem top deh calon istri aku"Kata Adka sambil mengacungkan jempolnya.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Dari restoran yang terkenal di kota itu, Johan dan Cia mengajak Reina untuk makan siang setelah keliling mall.
Mereka bertiga duduk di kursi agak pojok biar tidak terlalu bising oleh pengunjung yang lainnya.
Reina berdecak kagum melihat restoran semewah ini untuk makan, biasanya dirinya kalo makan selalu di warteg. ditambah saat melihat harga menu makanan dirinya langsung melotot sambil kejang kejang.
__ADS_1
"Mba ini ga salah, harga ikan bakar hampir 500 ribu?"Kata Rein kaget.
"Iya emang segitu bahkan itu yang paling murah"Jelas Cia membuat Rein goyang itik.
"Ya Allah, ya karim Gusti nu agung bisa bisana lauk emas (ikan mas) kie hargana (harganya) 500 ribu yang paling murah lagi. nih ya ba kalo Rein mah harga lauk emas (Ikan mas) di kampungan mah cuman 30 ribu plus nasi"Jelas Rein menggeleng kepala pusing pala onah, eh Barbie.
"Santai aja kali Rein, ka Johan teraktir ko jadi kamu tinggal pesen aja"Kata Gia dengan senyum manis.
"Gapapa nih aa Johan?"Tanya Rein menyelidik.
"Iya kamu pesen aja"Kata Johan.
Karena perutnya yang ga bisa di ajak kompromi Rein semangat 45 dirinya langsung memesan beberapa makanan yang dia ingin sedari dulu belom kesampaian. dan benar saja baru sekali suapan Rein langsung makan dengan lahap sampai habis tak tersisa.
"Huh kenyang"Kata Rein sambil mengusap perutnya.
"Aku sampe ga percaya loh tadi kamu bisa habisin empat porsi sekaligus"Kata Cia.
"Hehe kebablasan ka, makanan na enak pisan disini mah euy"Kata Rein cengegesan.
"Eh Lo Rein, sekarang Lo tinggal di mana?"Tanya Adka
"Enggak tau aa, kayanya aku mau ke kampung lagi deh"Kata Rein berubah sendu.
"Lo yakin mau balik lagi ke sana? kalo
Lo mau tempati aja apartemen gue yang kosong sebelum Lo dapet tempat tinggal"Kata Johan.
"Iya mendingan kamu tinggal aja di apartemen ka Johan dari pada harus balik lagi ke kampung"Kata Cia menatap Rein.
"Hatur nuhun eh 'terima kasih' tawarannya aa, mba saya mau balik ke kampung aja te enak (enggak enak) kalo harus numpang mah"Kata Rein.
"Makasih ya mba saya beruntung sekali bisa kenal mba Cia sama aa Johan, sekali lagi terima kasih kalian baik banget sama Rein"Kata Rein sambil menangis terhura eh terharu.
"Iya kan kita sesama umat muslim harus saling tolong, jadi ga usah sungkan"Kata Cia sambil senyum manis.
"Iya mba makasih"Kata Rein sambil memeluk Cia.
"Pengen ikutan"Kata Johan membuat Cia melotot.
"Ehehe vis sayang bercanda ko"Kata Johan cengegesan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh ya Rein Lo berangkat ke sana nya kapan?"Tanya Johan membuat Rein melepaskan pelukannya.
"Kayanya besok pagi deh aa"Kata Rein.
"Terus lo nanti malem tidur dimana?"Tanya Johan.
"Ehehe di mana ya, yang pastinya mah di kasur tapi te apal (Ga tau) kasur siapa"Kata Rein cengegesan.
"Gimana kalo kamu nginep di rumah aku aja?"Tanya Cia.
"Ga usah makasih mba, saya masih ada sedikit uang buat cari kosan kecil buat tidur satu malam"Kata Rein sambil senyum ramah.
"Ga ada penolakan kamu nanti malam nginep di rumah aku, nanti aku kenalin sama sodara aku dia juga baik ko, dan kalo untuk uang kamu, kamu simpan aja buat ongkos kamu pulang kampung"Kata Cia.
"Iya sebaiknya Lo nginep semalem aja di rumah Cia"Kata Johan menengahi.
"Tapi saya malu sama orang tua mba Cia"Kata Rein sendu.
__ADS_1
"Kamu tenang aja bunda sama ayah pasti suka ko sama kamu"Kata Cia meyakinkan.
"Em yaudah deh mba saya mau, makasih ya mba sekali lagi kalian baik banget sama Rein"Kata Rein memegang tangan Cia dengan mata berkaca-kaca.
"Astagfirullah Rein kamu udah berapa kali ucapin terima kasih"Kata Cia menggeleng gelengkan kepalanya.
"Udah udah sekarang kita pulang, aku anterin kamu pulang dulu ya sayang nanti aku langsung ke kantor ada meeting"Kata Johan.
"Iya ka ayo kita pulang"Kata Cia sambil menggandeng tangan Rein.
"Sayang aku mau di gandeng juga"Kata Johan sambil membuntuti keduanya di belakang.
"Sabar belum muhrim as Johan. hupt"Kata Rein menahan tawanya.
'Ish nyebelin banget, gue berasa sebagai bodyguard nya aja, untung stok kesabaran gue masih banyak' Johan
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Gia duduk di sofa ruangan Adka dengan wajah cemberut, setelah makan siang Adka kembali pokus lagi ke layar komputernya. membuat Gia kesal berasa dirinya tidak dia anggap di ruangan itu.
"Ih yang ada aku loh di sini, pokus terus sampe aku ga di anggap ada disini"Kata Gia cemberut sambil melipat tangannya di depan dada.
"Bentar yang nanggung, ini juga bentar lagi beres"Kata Adka tanpa menoleh ke arah Gia.
"Au ah aku mau pulang aja"Kata Gia ketus sambil menyambar tas yang berada di atas meja.
"Aku pulang bye"Kata Gia sambil membanting pintu dengan kencang.
`Ah gawat ini. dasar sekertaris sialan pekerjaan gue banyak banget lagi awas aja kalo Gia kenapa kenapa Lo gue pecat` Adka
"Yang jangan pulang dulu dong maafin aku"Kata Adka sambil berusaha mengejar Gia.
"Yang oyy yangg tunggu dulu"Teriak Adka sambil berlari.
Adka terus berusaha mengejar Gia namun naas saat sudah hampir menangkap tangan Gia, Gia langsung masuk ke dalam lift khusus karyawan. Adka tidak ambil pusing dirinya langsung masuk ke dalam lift khusus dirinya agar lebih cepat sampai di loby.
Tidak lama lift terbuka Adka berlari menuju lift khusus karyawan. semua karyawan yang melihat CEO berlari dengan wajah paniknya mereka merasa aneh pasalnya CEO yang mereka kenal itu angkuh, dingin dan irit bicara.
Tidak lama Adka menunggu di depan lift, lift terbuka Gia syok kenapa kekasihnya sudah berada di depannya kapan dia bisa ada di bawah. apakah Adka bisa terbang?.
Gia kembali mengubah manik wajahnya dengan menatap sinis ke arah Adka. Gia berjalan melewati Adka dengan menatap tajam.
Sementara para karyawan masih bingung dengan apa yang mereka tonton yang dimana CEO mereka yang terkenal dengan sikap Angkuh, dingin bahkan irit bicara.
Sekarang di depan cewek itu CEO dirinya bahkan merengek seperti anak kecil dengan sebutan 'Sayang' Whatt sayang batin semua karyawan baru sadar.
"Sayang maaf aku dong, ya ya kamu jangan ngambek aku sedih loh"Kata Adka mengikuti langkah Gia dari belakang.
"Yang udah dong maafin aku, aku salah yang sayang"Kata Adka terus membuntuti Gia.
Sudah beberapa kali Adka ngomong namun tidak ada jawaban sama sekali dari Gia. Adka mulai jengkel dirinya menarik tangan Gia membuat tubuh mereka menempel, mata keduanya bertemu membuat jantung keduanya berdetak tidak beraturan.
Adka memajukan wajahnya sampai bibirnya menempel di bibir Gia. Gia langsung melotot saat Adka me****** bibirnya tanpa malu di depan semua karyawan.
Gia terus memberontak sambil terus memukul dada Adka, namun Adka tidak memperdulikannya. Gia pasrah dengan pipi yang merah seperti ke ****** rebus.
Huh dasar Adka sebleng maen sosor sosor aja. kayanya berasa dunia milik berdua kayanya yang lain cuman ngontrak.
BERSAMBUNG....
__ADS_1