
Cia terbangun saat mendengar suara adzan berkumandang, tetapi saat akan bangun di bagian perutnya terasa berat. Cia melihat ke bawah ternyata ada tangan kekar yang melingkar di perutnya.
Cia dengan perlahan memindahkan tangan Johan, dengan susah payah akhirnya bisa. dengan perlahan tangan Cia menepuk pelan tangan Johan.
"Ka Johan bangun dulu yu, kita sholat subuh berjamaah"Kata Cia dengan sabarnya menepuk tangan Johan agar bangun.
"Bentar lagi bi"Guman Johan sambil masih memejamkan matanya, seperti nya Johan mengira kalo yang membangunkan nya itu Bi Ida.
"Ka Johan ih, bangun keburu siang nantinya"Kata Cia masih dengan sabar menepuk tangan Johan.
Johan yang merasa terganggu, dirinya dengan berat hati duduk dengan masih memejamkan mata. Johan mulai membuka mata sambil mengucek ngucek matanya mengumpulkan kesadarannya.
"Eh kamu sayang, ada apa?"Kata Johan dengan mata masih teler.
"Astagfirullah Ka Johan, ini sudah subuh, ayo bangun Ka Johan cuci muka habis itu ambil air wudhu kita sholat berjamaah"Kata Cia menatap Johan tidak percaya.
"Eh iya, aku lupa. kalo gitu aku ambil wudhu dulu. Cup.."Kata Johan mengecup sekilas pipi Cia dengan tidak ada rasa bersalahnya dirinya langsung masuk ke dalam kamar mandi sambil senyum senyum sendiri.
Cia yang mendapatkannya kecupan dadakan, tubuhnya seketika mematung tidak bisa bergerak,tangan Cia meraba pipi bekas kecupan Johan. bersamaan dengan jantungnya berdegup sangat kencang.
Ah apakah itu yang di namakan kecupan dari seorang pria yang kita sayang. ah rasanya seperti terbang ke awan, Astagfirullah sadar Cia, sadar. Johan
Lamunan Cia membuyar saat Johan menepuk bahu Cia. Cia langsung berbalik menatap manik mata Johan
"Hey sayang ko ngelamun di sini, katanya mau sholat berjamaah"Kata Johan.
"Eh i..iyaa ini juga mau ambil wudhu"Kata Cia gelagapan sambil buru buru berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Hey sayang jangan lari lari nanti jatuh"Tegur Johan menahan tawanya namun tidak di hiraukan oleh Cia.
"Hahaha gemesin banget kalo dia lagi gugup kaya gitu, kayanya gue harus sering kasih hadiah dadakan kaya tadi"Kata Johan cekikikan kaya Mbak Kun.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Gia keluar dari kamarnya menuju meja makan dengan wajah tidak bersemangat nya. Gia duduk di kursi sebelah Rendi tanpa memperdulikan ocehan Rendi.
"Gia, kamu gapapa kan? ko kamu pagi ini kelihatan lemes banget"Kata Rachel khawatir.
"Em enggak ko Ma, aku baik baik aja"Kata Gia sambil berusaha tersenyum.
"Iya yah Ma, biasanya tiap pagi selalu bikin rusuh membuat ni rumah kaya di pasar selalu saja ricuh"Kata Rendi menatap aneh.
"Mungkin sudah Khusnul khatimah kali kelakuan bar barnya sekarang mau keluar jona aman menjadi good girl"Kata Rachel namun tidak ditanggapi oleh Gia dirinya terus pokus ke makanannya.
"Ah Ma, ini mah kita harus panggil ustadz kesini, tuh liat ka Gia dari tadi diem terus pasti dia kerasukan"Kata Rendi heboh.
"Iya tuh, ren cepetan cari pa ustadz"Kata Rachel tak kalah heboh.
__ADS_1
Heh solimah gue lagi galau bisa bisanya nuduh gue kerasukan, kalo bukan emak sama adek gue heuh habis kalian. Sabar Gi sabar, Gitu gitu juga emak Lo. Gia
Semen Riza yang sedari tadi hanya diam sambil memperhatikan wajah anak gadisnya, dirinya semakin yakin kalo hubungan nya bersama Adka lagi ada masalah. yang membuat Riza semakin yakin saat melihat mata Gia yang sembab habis menangis.
Dirinya tidak bisa ikut campur dalam hubungan mereka, Riza berpikir mereka pasti bisa memperbaiki hubungan mereka kembali, tetapi kalo suatu saat sudah di luar batas Riza akan turun tangan sendiri.
"Udah jangan ribut, kata Papa apa kalo makan itu ga boleh sambil ngomong, cepet habisin makanannya"Kata Riza menatap dingin keduanya, membuat keduanya yang tadinya heboh tidak jelas sekarang langsung diam membisu.
Setelah sarapan selesai Gia pamit untuk masuk ke kamar. Rachel semakin khawatir saja melihat Gia pagi ini tidak biasanya.
"Ma, pa aku berangkat dulu assalamualaikum"Kata Rendi sambil mencium punggung tangan keduanya secara bergantian.
"Waalaikusalam hati hati"Kata Rachel mendapatkan anggukan dari Rendi.
"Pa, Gia kenapa ya pagi ini sikapnya beda seperti biasanya, dia terlihat murung Mama khawatir"Kata Rachel menatap sedih pintu kamar Gia yang tertutup.
"Kayanya hubungan Gia sama Adka lagi ada masalah deh, kemarin malam aja pas Papa tanya soal Adka, Gia langsung mengalihkan pembicaraan, tadi juga Papa liat matanya Gia bengkak kayanya habis nangis"Jelas Riza menjelaskan tanpa memberitahu kan kejadian semalam bisa bisa Rachel akan ngamuk kaya macan.
"Berani beraninya anak itu membuat Gia nangis, awas aja nanti kalo ketemu Mama bejek bejek tuh di Adka"Kata Rachel tersungut emosi sambil menirukan sedang mengulek.
Ngeri banget dah punya bini bar bar kaya gini, untung tadi ga keceplosan ceritain kejadian semalam, kalo keceplosan ah ga jamin dah umur si Adka panjang. Riza
"Sudah lah sayang, Papa yakin mereka bisa selesaikan masalah mereka. udah Mama berangkat aja duluan katanya mau arisan, biar Papa nanti aja ke kantornya Papa mau temuin Gia dulu"Kata Riza mengisap kepala Rachel.
"Oke deh kalo gitu sini in kartu kredit Papa, Mama nanti pulangnya mau shopping"Kata Rachel menyodorkan tangganya.
Kartu kredit ku, ah demi istri tercinta aku bisa gimana lagi, kalo ga di kasih habis lah aku ga di kasih jatah nanti malam. Riza
"Dada.. Papa ku tersayang, Mama mau berangkat dulu. Cup.. cup.. cup.. cup..cup.. cup.."Kata Rachel sambil mengecup seluruh wajah Riza.
Riza yang tadinya tidak rela kartu kredit nya di ambil istri, sekarang dirinya sangat bahagia mendapati kecupan dari sang istri tercinta.
Setelah Rachel berangkat, Riza melangkah kan kakinya untuk naik ke kamar Gia. setelah berada di depan pintu Riza langsung mengetuknya.
Tok tok tok..
"Gi ini Papa, apa boleh masuk?"Tanya Riza.
"Masuk aja Pa, ga dikunci ko"Teriak Gia dari dalam.
Riza membuka pintu kamar, dirinya melihat anak gadisnya sedang berdiri di pinggir jendela sambil menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
"Sayang kamu ga Papa kan?"Tanya Riza mengusap kepala Gia.
Gia berbalik menatap manik mata Riza, Gia menggeleng sambil berusaha tersenyum. "Gia gapapa ko Pa"
Riza menarik Gia kedalam pelukannya, Riza memeluk anak gadisnya dengan sangat erat namun Gia hanya bisa diam.
__ADS_1
"Papa tau hubungan kamu sama Adka lagi tidak baik, ceritakan lah sama Papa, biar pikiran kamu bisa agak plong"Kata Riza mengusap kepala Gia sayang.
Seketika Gia tidak bisa lagi menahan air matanya, Gia menangis terisak di dalam pelukan Riza, Riza hanya diam sambil terus mengelus rambut Gia.
"Sudah jangan nangis lagi, masa anak Papa cengeng seperti ini"Kata Riza melepaskan pelukannya dengan tangannya mengusap air mata yang tersisa di pipi Gia.
"Sekarang ceritakan sama Papa"Kata Riza sambil menuntun Gia untuk duduk di sofa.
Dengan masih sesegukan Gia menceritakan semua keluh kesahnya pada Riza. Riza sekarang tidak bisa menyalahkan Gia atau pun Adka, di sisi lain dia mengerti kalo anak gadisnya yang belum siap ke jenjang pernikahan.
Di sini lain juga sebagi lelaki Riza juga bisa merasakan perasaan Adka yang ingin cepat cepat menikah. sekarang hanya jalan keluarnya salah satu di antara mereka harus mengalah.
"Papa tidak menyalahkan kamu di masalah ini Adka juga salah, kalo kalian sama sama egois seperti ini masalah kalian tidak akan selesai selesai. hanya satu jalan keluarnya, di antara kalian harus ada yang mengalah"
"Papa percaya sama kamu, kamu sudah dewasa kan, kamu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, Inget sayang penyesalan akan hanya datang di akhir"
"Jangan sampai karna masalah ini kamu putuskan hubungan kalian. Sebaiknya kamu nanti siang pergilah ke perusahaan Adka, kamu minta maaf sama dia duluan"Kata Riza mengusap pundak Gia.
"Kalo gitu Papa berangkat kerja ke kantor dulu, kamu pikir pikir dulu ucapan Papa barusan. Cup.."Lanjut Riza mengecup sekilas kening Gia sebelum keluar dari kamar.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Siang harinya saat menimbang bimbangkan semua ucapan Papanya, Gia berencana akan pergi ke perusahaan Adka untuk meminta maaf.
Tidak lama mobil Gia berhenti di depan gedung perusahaan Wirantara company. Gia langsung keluar dari mobil tak luput dengan senyum manisnya saat berpapasan sama beberapa karyawan di sepanjang loby.
Gia masuk ke dalam lift, tidak lama pintu lift terbuka, dengan wajah cerianya Gia melangkah kakinya menuju ke ruangan Adka.
Gia sempat melirik ke meja Sekertaris kekasihnya, ternyata kosong. tanpa mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu, Gia langsung membuka pintu ruangan Adka.
Gia membuka pintu ruangan kerja Adka dengan senyum mengembang, namun seketika senyumnya memudar, tubunya mematung di ambang pintu, dadanya sakit seperti di cabik cabik dan di tusuk tusuk oleh pisau.
Dirinya yang tadinya akan meminta maaf dengan kesalahan, sekarang niatnya di urungkan saat melihat Adka sedang duduk di sofa dengan tak lain itu adalah kekasihnya.
Yang membuat dirinya semakin sakit melihat kekasihnya sedang mengobati luka sekertaris dengan kaki sekertaris nya berada di pantat Adka.
Adka sempat menoleh sekilas ke arah Gia yang berada di ambang pintu, namun seperti tidak perduli, dirinya melanjutkan mengobati kaki sekertaris.
Oh tidak ditanya lagi Sekertaris Adka tersenyum licik melirik Gia, dia semakin senang saat Adka tidak perduli dengan keberadaan Gia.
Gia sudah tidak tahan lagi, dirinya langsung membalikkan tubuhnya, dengan air mata yang tidak bisa di tahan lagi.
Dirinya berlari sekencang kencangnya menuju lift. di dalam lift Gia tidak bisa menghentikan tangisannya.
Sampai pintu lift terbuka pun dirinya tidak bisa menghentikan tangisannya walaupun semua karyawan menatap Gia heran, Air matanya seketika tidak bisa berhenti keluar dari kelopak matanya.
Gia terus berusaha berlari keluar perusahaan dengan perasaannya yang campur aduk, Gia langsung masuk kedalam mobilnya, dirinya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat mobil Gia sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG....