Si Pembuat Ulah Jatuh Cinta

Si Pembuat Ulah Jatuh Cinta
Part 47


__ADS_3

Gia terbangun dari tidurnya saat merasakan tenggorokannya terasa kering. Gia melirik ke bawah tangganya yang terasa berat, ternyata kekasihnya terlelap tidur sambil memegangi tangganya.


Gia terus mengawasi wajah Adka yang masih terlepap dengan seksama, tangganya terulur membelai wajah Adka.


"Maafkan kesalahan ku, aku berjanji kalau kau mengajak ku untuk menikah aku akan dengan senang hati menerimanya, aku yakin itu rencananya tuhan buat kebahagiaan kita"Kata Gia mengusap rambut Adka dengan senyum mengembang.


"Iya aku akan mengajakmu nikah besok subuh"Kata Adka tiba tiba yang masih memejamkan matanya.


Gia terlonjak kaget saat Adka membuka matanya, pipinya langsung merah padam seperti tomat, merasa malu dirinya menutup wajah dengan kedua tangganya.


"Ah sejak kapan kau bangun"Kata Gia dengan masih menutup wajahnya.


"Sebelum kau bangun"Kata Adka santai sambil berusaha menahan tawanya.


Memang sejak tadi dirinya sudah bangun, namun saat Gia akan membuka mata, Adka langsung pura pura tidur lagi.


"Berarti kau mendengar semua ucapan ku?"Tanya Gia memastikan sambil mengintip sedikit di sela jarinya.


"Heem"Kata Adka di ikuti anggukan kepala nya.


Gia di buat semakin malu, dirinya langsung menarik selimut sampai ke atas kepalnya dirinya menenggelamkan wajahnya yang sudah memerah di bawah selimut.


Tingkat yang Gia buat membuat Adka terkekeh, dirinya tidak bisa lagi menahan tawanya saat melihat tingkah Gia yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Haha... sudah lah sayang kau keluarlah, perut ku sangat sakit sekali ini"Kata Adka sambil terus tertawa.


Dengan kesal Gia keluar dari bawah selimut, Gia melirik tajam Adka yang sedari tadi tidak berhenti tertawa.


"Sana keluar kalo tertawa terus, akan ku ambil lagi kata kata ku tadi"Kata Gia menatap tajam.


"Ehehe.. jangan dong sayang nya aku, kan ga seru nanti sejarahnya kita ga jadi nikah. nah terus aku di embat sama sekertaris aku yang mon'tok"Kata Adka menggoda.


"Ya sudah sana, aku juga bisa nikah sama temen anak nya Papa, mereka sama sama tajir dan tak kalah tampan nya dari kamu"Kata Gia sinis.


"Jangan gitu dong canda yang canda beneran.."Kata Adka berusaha membujuk Gia.


"Masa bodo sana pergi mesra mesraan lagi"Kata Gia melambaikan tangganya mengusir.


"Maaf yang, maaf ya, ya ,ya"Kata Adka memelas sambil bergelayut manja di tangan Gia.

__ADS_1


"Ahaha.. iya, iya udah ah geli yang"Kata Gia berusaha menahan geli saat Adka gesek gesekan rambutnya di tangan Gia.


"Em apa benar apa yang kau ucapkan tadi?"Kata Adka merubah posisi duduknya menghadap ke arah Gia dengan nada berubah serius.


"Apa aku kau kurang yakin dengan ucapan aku tadi?"Balik tanya Gia.


"Bukan seperti itu sayang, aku hanya memastikannya saja, dan kalo benar pun aku pasti menjadi orang yang sangat bahagia di dunia ini"Kata Adka memegang tangan Gia sambil menatap satu sama lain.


"Aku tanya sekali lagi sama kau.. apakah kau mau menikah dengan pria yang banyak kekurangan ini"Kata Adka menatap manik Gia penuh harap.


"Kau bisa mendapatkan wanita lebih sempurna dari ku, kau lihat kan aku sekarang tidak bisa berjalan, aku sekarang berjalan menggunakan kursi roda, aku merasa semakin tidak patas mendapatkan cinta sempurna mu"Kata Gia lirih sambil menunduk.


"Hey kau tak boleh bicara seperti itu, kalau aku benar benar mencintaimu, aku pasti akan menerima segala kekurangan mu, apa yang di diri kau tak punya, dan apa yang di diri ku yang tak ku punya,"


"Kekurangan itulah yang harus kita saling melengkapi kekurangan kita masing masing. kau tak boleh berbicara seperti itu lagi aku tak suka mendengarnya"Kata Adka menatap manik Gia sambil memegang kedua pipinya.


"Tapi aku akan selalu menyusahkan kau, bahkan aku hanya bisa duduk di kursi roda saja"Kata Gia lirih dengan air mata yang menetes di kelopak matanya


"Hey dengarkan aku, kata dokter tadi kau hanya mengalami keretakan tulang di bagian kaki kau saja, itu tidak akan lama hanya sebulan bahkan kurang, kau tenang saja aku akan menemanimu sampai kau sembuh"Kata Adka mengusap air mata di pipi Gia.


"Apakah itu benar?"Kata Gia memastikan sambil menyeka air matanya.


"Terimakasih kau selalu ada di samping ku saat susah maupun senang, aku sangat beruntung mempunyai dirimu"Kata Gia membalas pelukannya dengan erat.


"Aku sangat lebih beruntung sayang"Kata Adka mengusap rambut Gia sambil sesekali mengecupnya.


Tanpa mereka sadari, dari arah pintu ada sepasang mata yang melihat kejadian haru di antara mereka.


Kedua orang tersebut membuka pintu, membuat adegan pelukan keduanya harus terlepaskan saat ada orang masuk.


"Eleuh eluhh.. si markonah mentang mentang udah baikan sekarang nempel terus, lah tadi boro boro nempel kaya perangko gitu ngelirik aja enggak"Kata Rachel berdecak pinggang.


"Biarin ngiri aja, kalo mau noh sama Papa lagi nganggur tuh, kalo bosen juga gapapa nanti Gia cariin pria yang lebih macho dan yang lebih muda dan tak kalah kerennya dari Papa deh"Kata Gia menaik turunkan alisnya.


"Wah gi benet?, itu nya besar ga?"Tanya Rachel tak kalah sebleng nya.


"Iyup. Mama tenang aja, di jamin puas itunya juga lebih plus plus dari adik si Papa"Kata Gia berusaha menahan tawanya melihat wajah sang Papa.


"Astagfirullah anak sama emak sama aja, sama sama sebleng"Guman Adka menggeleng melihat tingkah laku kekasihnya dan calon mertuanya yang sebelas dua belas.

__ADS_1


"Beuu mantap dong, bisa kali Mama minta nomor telponnya"Kata Rachel menyindir sambil melirik ke kilas ke wajah suaminya yang sudah memerah.


"Ada dong ma, nanti Gia kasih deh sama Mama"Kata Gia tanpa sadar membuat Adka melorot


"Heh! kalian apa apaan, kamu lagi Gi, ko jadi bawa bawa istri Papa sih, sampe tawarin pria lain lagi, Papa ga terima ya ma, Mama ngeremehin adik Papa ini "Seru Riza tersungut emosi.


"Awas ya ma, kalo berani nanti habis pulang dari sini akan ku buat kau tidak bisa bangun satu Minggu. nanti kita buktiin yang katanya kecil ini"Kata Riza dengan mata tajam mengancamnya.


Seketika Rachel langsung bergidik ngeri, membayangkan nya saja membuat anunya linu.


"Hehehe... enggak berani deh pa"Kata Rachel bergidik ngeri sambil menggeleng dengan cepat.


"Sayang itu yang terakhir tadi kamu bilang apa?, coba ulangin sekali lagi?"Kata Adka penuh penekanan.


"Ehehe yang mana ya yang? lupa aku, ehehe mungkin kamu salah denger kali yang"Kata Gia sambil cengengesan tidak jelas.


"Pendengaran ku masih normal loh, iya kan Pa, Papa juga denger ucapan terakhir Gia"Tanya Adka sambil mengedipkan matanya mengasih kode.


"Iya tuh Papa denger tadi"Kata Riza tersenyum penuh arti.


"Ehehe.. cuman bercanda ko yang sumpah, iya ga ma?"Tanya Gia melirik Rachel butuh pembelaan.


"Bohong tuh Ad, mama sering liat dia sering telponan diem diem sambil senyum-senyum sendiri entah tau siapa?"Kata Rachel berbohong untuk mengimpor ngompori untuk balas dendam.


"Mah ko gitu sih, yang ucapan Mama bohong, jangan di percaya suer"Kata Gia mengacungkan jarinya membentuk huruf V.


Adka langsung menarik telinga Gia dengan gemas, dirinya berhasil menjahili Gia, sementara Riza dan Rachel bertos ria sambil tersenyum kebanggan bisa menjahili balik anaknya.


"Aduh.. yang lepasing, yang sakit.. aduh.."Kata Gia mengaduh.


"Itu balasannya kamu nakal sih"Kata Adka melepaskan jeweran nya.


"Ma, bantuin dong, ah ini semua gara gara Mama"Kata Gia memelas ke arah Rachel.


"Mama ga ikutan ya"Kata Rachel acuh tak acuh


"Awas ya kalian, urusan kita belum selesai"Kata Gia sambil membuang mukanya kesal.


Mereka yang melihat tingkah menggemaskan Gia, mereka tidak bisa menahan tawanya lagi, seketika tawa mereka menggelar di ruangan itu, membuat Gia makin kesal saja dibuatnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2