Si Pembuat Ulah Jatuh Cinta

Si Pembuat Ulah Jatuh Cinta
Part 51


__ADS_3

Kini Gia sudah bisa berjalan dengan normal lagi, setelah dua Minggu ini dia terus berusaha berlatih berjalan bersama Adka.


Adka juga dengan sabar terus membantu Gia berlatih berjalan, dan benar saja dengan kesabaran Adka Gia sekarang sudah bisa berjalan dengan normal.


Seperti yang di ucapkan Adka tempo hari dulu, setelah Gia sembuh, dirinya akan melaksanakan pernikahan bersama Gia, pernikahan tersebut akan di selenggarakan besok lusa.


Adka sudah menyiapkan semuanya dari hari hari yang lalu, dari gedung, baju pengantin beserta yang lainnya, kalo sudah siap kenapa enggak ye kan.


...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...


Kini Adka di sibukkan dengan setumpuk kan berkas berkas yang ia tunda beberapa hari lalu, sejak sekertarisnya di pecat sekarang semua pekerjaan nya tidak ada yang membantu.


Namun sesekali dengan seenaknya Adka menyuruh Johan untuk membereskan semua pekerjaan nya, dengan pekerjaan Johan juga sedang numpuk.


"Ishh.. kenapa berkas berkas ini tidak habis habisnya sama sekali"Dengus Adka mentap kesal sambil menatap setumpukan berkas berkas yang masih banyak.


Tanpa Adka sadari dari arah pintu ruangan nya, masuk seorang wanita cantik sambil membawa rantang di tangganya.


"Selamat siang sayang"Kata wanita itu sambil mengecup pipi Adka secara bergantian.


Adka yang tadinya pokus ke berkas berkasnya, sekarang menatap wanita di depannya, seketika kepenatannya hilang saat melihat wajah cantik wanita itu sambil senyum manisnya.


"Sayang, kenapa ko ga beri tahu ku dulu, kalo kau mau kesini Hem"Kata Adka menarik Gia ke pangkuan nya.


"Kalo aku bilang sama kamu terlebih dahulu, itu namanya bukan kejutan calon suami ku"Kata Gia mencubit gemas hidung Adka, seketika membuat hidung itu memerah.


"Kau tau, lihatlah pekerjaan ku sangat banyak sekali, aku sampai kewalahan"Kata Adka memeluk pinggang Gia sambil memejamkan matanya.


"Kau tenang saja aku akan membantumu, agar pekerjaan nya cepat selesai"Kata Gia mengusap kepala Adka yang berada di punggungnya.


"Tidak usah, nanti kau kecapekan lebih baik kau duduk saja di sana, menunggu ku"Kata Adka menunjukan ke arah Sofa.


"Enggak, aku akan membantu calon suami ku ini"Kata Gia menatap manik Adka.


"Kau ini selalu saja keras kepala"Kata Adka mencubit gemas kedua pipi Gia.


"Oh iya, kamu membawa apa?"Tanya Adka melirik rantang yang berada di atas meja.


"Oh iya sampai lupa kan, ini aku bawakan makan siang buatmu, aku tau pasti kamu belum makan siang kan karena sibuk dengan pekerjaan mu"Kata Gia menggambil tanyanya habis itu membuka rantang tersebut.


"Wah, itu kelihatannya enak sekali"Kata Adka mentap isi di dalam rantang tersebut.


"Kau makan lah sambil bekerja, aku akan menyuapi mu"Kata Gia sambil menarik kursi satunya lagi yang berada di depan meja kerja Adka.


"Bukan mulut mu aaa.."Kata Gia sambil menyendokan satu suapan ke arah mulut Adka.


Adka dengan senang hati membuka mulutnya lebar-lebar sambil sesekali melirik ke arah wajah Gia di sela pekerjaan nya.


Setelah makanan di rantangnya sudah habis, Gia membantu pekerjaan Adka setengahnya.


Dengan sangat terpaksa dirinya harus duduk di sofa, karena Adka menyuruhnya untuk duduk. Namun tidak selang lama Gia sudah terlepap di sofa


Akhirnya semua berkas sudah selesai saat waktu menunjukkan pukul empat sore, Adka melirik sekilas ke arah Gia yang masih tertidur pulas di sofa.


Adka mendekati tubuh Gia, dirinya mentap lekat lekat wajah Gia yang sedang tertidur, bibirnya terangkat sedikit menyunggingkan senyum.


Karena tidak tega membangunkannya kekasihnya, dengan tubuhnya yang sangat lelah, dirinya mengangkat tubuh Gia sampai ke lantai bawah.


Adka memasukan tubuh Gia kedalam mobil secara perlahan agar tidak menggangu acara tidur Gia.


Setelah Gia sudah masuk, dirinya menyusul masuk ke dalam, Adka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan area parkiran perusahaan.

__ADS_1


Disepanjang perjalanan Adka sesekali melirik wajah Gia yang masih terlepap.


Tidak waktu lama mobil Adka sudah sampai di halaman rumah Gia, Adka dengan perlahan mengusap halus pipi Gia gemas.


Mungkin karena usapan tangan Adka di pipinya, Gia membuka matanya perlahan, hal yang pertama kali ia lihat di depannya adalah wajah Adka yang sangat dekat.


"Oh maaf aku membangun kan mu"Kata Adka.


"Tidak apa-apa, kenapa kita beradu di mobil? Yang ku ingat, tadi aku masih tidur di sofa"Kata Gia kebingungan.


"Kita sudah sampai di rumah mu sayang"Kata Adka mengusap pipi Gia.


"What mana bisa? Kit.."Kata Gia menggantung saat melihat area sekitar Memeng benar dirinya sudah berada di depan rumah nya.


"Mungkin lah, kau tidur sangat nyenyak, sampai di sepanjang perjalanan kau menggorok"Kata Adka dengan senyum penuh arti.


"Apakah benar aku ngorok? Jangan coba coba membohongi ku"Kata Gia sambil menatap tajam.


"Ahaha.. kau ini aku hanya becanda"Kata Adka gelagapan saat melihat tatapan mautnya.


"Sangat menyebalkan sekali"Kata Gia sambil keluar mobil dengan membanting pintu mobil dengan keras, Adka dengan buru buru ikut keluar.


"Cepat sana pulang, aku tidak mau melihat wajah mu yang sangat menyebalkan itu"Kata Gia ketus dengan terus berjalan ke arah pintu depan tanpa menoleh sedikitpun.


"Hey sayang, apakah kau tidak mengajakku untuk mampir terlebih dahulu?"Teriak Adka di depan mobilnya.


"Aku tidak menerima tamu, Sudah cepatlah sana kau pulang"Kata Gia menatap sekilas Adka sinis, setelah itu Gia menutup pintu rumahnya dengan kencang.


"Ish.. sangat menyebalkan sekali, untung saja kau calon istri ku, kalau bukan sudah aku tendang ke hutan Amazon"Kata Adka kesal sambil masuk ke dalam mobilnya.


...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...


Ditambah lagi dirinya harus melihat acara siaran langsung sepasang suami istri sedang suap suapan, membuat dirinya semakin kesal saja.


"Cih... Menyebalkan saja, kalo mau mesra mesraan sono di kamar, di meja makan itu buat makan, bukan buat mesra mesraan"Kata Adka ketus sambil duduk di sebelah Om Zek.


"Serah kami lah, apa hubungannya dengan kamu, nyolot aja, lihat lah om Zek juga sedari tadi diam, tak seperti kamu"Kata Cia menatap sekilas dengan membuang mukanya.


"Iri dia itu sayang, kasian ga bisa mesra mesraan kaya kita, kayanya dia lagi perang dunia bersama Gia, jadi sekarang sikapnya seperti orang gila"Kata Johan dengan santainya sambil terus menyuapi Cia tanpa melihat ekspresi wajah Adka.


"Hey Lo jangan so tau deh, mentang mentang udah punya bini"Seru Adka sambil bangkit dari duduknya dengan wajah kesal.


"Biarin saja, kita mah sudah halal juga, iya kan sayang?"Kata Johan acuh dengan anggukan di kepala Cia.


"Sudah lah kau makan, jangan ribut terus"Kata Om Zek menarik tangan Adka untuk duduk.


"Huh.. semua manusia hari ini sangat menyebalkan"Dengus Adka kesal sambil memasukan makanan yang ada di sendok nya ke dalam mulut.


...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...


Di sebuah rumah kontrakan kecil, Rein dan Cinta sedang makan mie instan di meja makannya.


"Dek, teteh udah punya pekerjaan, besok teteh udah mulai bekerja"Kata Rein di sela makannya.


"Wah benar kah? Mereun engke lusa mah urang tiasa ngatuang nasi? (Berarti lusa kita bisa makan nasi lagi dong?)"kata Cinta dengan riang.


"Iya, kamu sabar dulu ya, teteh akan berusaha neangan artos kanggo tuang arurang sadidinten na (Mencari uang buat makan kita sehari harinya)"Kata Rein.


"Em apa adek juga boleh cari pekerjaan teh?, Buat bantu bantu teteh juga"Tanya Cinta ragu.


"Sudahlah kamu diam di rumah saja, biar teteh yang cari uang"Kata Rein menatap adiknya yang sedang menunduk.

__ADS_1


"Tapi adek bosen diem di rumah terus, kan kalo bekerja adek punya kesibukan"Kata Cinta menatap Rein penuh harap.


"Tidak, kamu diam lah di rumah, kalo kamu bosan kamu boleh main ke luar tapi jangan terlalu lama"Kata Rein membereskan piringnya saat sudah menghabiskan makanannya.


"Baiklah"Kata Cinta pasrah.


"Sudah sebaiknya kamu tidurlah, nanti teteh akan menyusul setelah mencuci piring"Kata Rein mengusap kepala adiknya.


Cinta hanya menggangguk sambil berjalan ke arah kamarnya dengan lesu, sementara Rein membuat nafasnya perlahan habis itu dia mencuci piring bekas makannya.


...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...


Cia masih menyandarkan kepalnya di sofa dengan menonton televisi sambil menunggu Johan datang dari ruangan kerja nya.


Tidak lama pintu kamar terbuka, Cia mentap Johan dengan senyum manisnya. Johan berjalan ke arah sofa, dirinya merebahkan tubuhnya di sofa dengan kepalanya yang berada di atas paha Cia.


"Apakah pekerjaan nya sangat banyak ka?"Tanya Cia sambil mengusap rambut Johan.


"Banyak sekali aku sangat lelah"Kata Johan memeluk pinggang Cia sambil menyembunyikan kepalanya di perut Cia.


"Lebih baik ka Johan mandi dulu,biar seger"Kata Cia sambil terus mengelus kepala Johan.


"Baiklah, tapi aku ingin kau memandikan ku"Kata Johan menatap jahil.


"Ish.. ka Johan ini selalu saja berpikir mesum"Kata Cia mengerucut bibirnya.


"Biarin sana istri sendiri juga, ayo lah yang mandiin aku"Kata Johan sambil duduk dengan menatap Cia penuh arti.


"Ish ka Johan sana mandi lah"Teriak Cia kesal.


"Baik lah baiklah, kau semakin hari semakin cerewet saja istri ku, kau tunggu lah di ranjang habis mandi aku tidak akan mengampuni mu malam ini"Kata Johan menaik turunkan alisnya penuh arti.


"Ka Johan!"Teriak Cia kesal membuat Johan langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.


Sangat menggemaskan sekali kalau dia lagi marah. Johan


Johan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang di lilitkan setengah badan. Johan sempat melihat Cia langsung tertidur saat dirinya keluar.


Johan tau kali Cia berbaring memunggunginya sambil berpura pura tidur. Johan masuk keruang ganti untuk memakai bajunya.


Setelah selsai Johan menaiki ranjangnya, dirinya membaringkan tubuhnya di sebelah Cia yang memunggunginya.


Johan langsung memeluk tubuh Cia dari belakang, namun tidak ada respon sama sekali dari Cia.


"Jangan berpura pura tidur seperti itu, aku tahu kau tidak tidur"Bisik Johan di telinga Cia, membuat Cia merinding.


Dengan cepat Johan membalikkan tubuh Cia, membuat mata mereka bertemu dengan jarak hanya beberapa senti saja.


"Kau tidak bisa membohongi ku sayang, acting mu sangat lah payah"Kata Johan mencubit gemas hidung Cia.


"Ish... Kenapa ka Johan bisa tahu kalo aku pura"kata Cia kesal..


"Ka Johan sangat menyeb..."Kata Cia terputus saat Johan langsung membungkam mulut Cia dengan mulutnya.


Sementara Cia yang mendapat serangan dadakan, matanya langsung membulat sempurna saat Johan langsung menyambar bibirnya.


Lama kelamaan Cia mulai kebawa suasana, yang tadinya dirinya hanya diam, sekarang Cia mulai membalas ciuman dari Johan.


Karena tidak mau membuang waktu lebih lama, Johan langsung menyerang Cia, di sepanjang malam itu pun mereka menghabisi malam itu dengan panas


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2