
Gia keluar dari gedung dengan wajah kesalnya, Gia sempat menoleh ke belakang, Gia kira Adka akan menyusulnya tapi dugaannya salah. dirinya langsung mencari taksi untuk pulang.
Namun di tengah perjalanan mobil taksi milik Gia di hadang oleh beberapa preman. Gia ketakutan, dirinya berusaha duduk dengan tenang.
Dengan terpaksa Gia keluar, saat salah satu preman itu membuka pintu mobil sambil menodongkan senjata api ke arah Gia.
Gia melihat supir taksi sudah tersungkur lemah di trotoar dengan luka luka yang sangat parah.
"Hai cantik, tadinya kita mau malak tapi ga jadi deh, mendingan kamu temenin kita malam ini, kita jamin kamu bakal ketagihan"Kata Preman 1 mencolek dagu Gia dengan mata genit nya.
"Jangan pegang pegang gue!"Kata Gia membentak dengan emosi yang meluap luap.
"Ih galak bener, pasti ganas di ranjang, ayo neng Abang udah ga tahan"Kata Preman 2 mentap dari atas sampai bawah badan Gia, kebetulan Gia memakai dress yang lumayan terbuka di dada.
"Ayo neng ikut abang"Kata preman 3 menarik tangan Gia sambil mencolek sedikit dada Gia.
Kesabaran Gia habis saat preman itu mencolek dadanya secara terang terang, Gia yang sudah sangat mahir dalam ilmu beladiri sejak kecil, dirinya membuka High heels membuang ke sembarang arah.
Gia dengan cepat langsung menyerang ke tiga preman itu. membuat mereka berkelahi, tidak lama semua preman kewalahan.
Mereka tersungkur di trotoar. para preman dengan susah payah lari ke arah motornya untuk kabur.
Gia menghampiri supir taksi yang tidak berdaya di trotoar.
"Maaf pa, saya akan antar bapak ke rumah sakit, tapi bukan saya nanti orang suruhan saya akan kesini, sebaiknya bapak masuk ke dalam mobil dulu agar lebih aman"Kata Gia sambil berusaha membantu supir taksi untuk bangun.
"Ma... makasih no..nona"Kata Supir taksi di tengah kesadarannya.
"Tidak masalah pak"Kata Gua sambil mendudukkan di jok mobil.
Gia langsung menghubungi bodyguard Papa nya, semua bodyguard langsung meluncur ke temapat Gia dengan khawatir.
Setelah mereka datang Gua menyuruh beberapa orang untuk membantu membawa sopir taksi ke rumah sakit. sementara yang lainnya lagi mengantarkan Gia pulang.
Sesampainya di rumah Gia langsung di kagetkan oleh keberadaan Riza, didirinya sudah tau pasti para bodyguard memberi tahukan kejadian barusan.
"Gi, kamu gapapa kan? ada yang luka? gimana bisa kamu di hadang sama preman?"Cerocos Riza sambil membolak-balik tubuh Gia.
"Huh.. Pa, aku gapapa, apa Papa lupa anak mu ini jago bela diri hem?"Kata Gia
"Tapi sama saja Papa khawatir, di mana Adka? kenapa kamu pulang naik taksi?"Tanya Riza menatap menyelidik.
"Udah lah pa, kan Gia sekarang baik baik aja. udah ya pa, aku mau ke atas cape mau istirahat"Kata Gia sambil melangkah kakinya.
"Ga biasanya anak itu, pasti mereka sedang ada masalah"Kata Riza menatap punggung Gua menjauh.
Gia membanting pintu kamarnya dengan kencang. Gua mengacak ngacak rambutnya frustasi.
"Ah sial!"Teriak Gia frustasi sambil membanting tasnya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Gue benci sama Lo, hiks.. hiks.. gue benci sama Lo Adka, Gue benci hiks..."Kata Gia duduk di bawah kasur menekuk lututnya dengan kedua tangganya menutup wajahnya.
"Huhu.. gue benci sama Lo hiks.. Lo jahat kenapa ga selamatkan gue?, kalo gue ga bisa bela diri mungkin gue udah di mangsa sama preman itu hiks... Lo jahat"Kata Gua menangis histeris dengan tangan di wajahnya.
Gia terus menangis histeris sambil memegang kedua lututnya di bawah lantai.
Sampai Gia cape sendiri, membuat dirinya tertidur dengan posisi kepalnya di tahan lutut sambil memegangi kedua lututnya.
Namun di tempat lain Adka masuk ke dalam kamarnya, dirinya langsung membersihkan diri terlebih dahulu, dirinya butuh berendam untuk menenangkan pikirannya.
Setelah selesai, Adka menjatuhkan dirinya di kasur size nya. Aska berbaring terlentang sambil melihat langit langit kamar nya.
Ada rasa bersalah saat harus membiarkan Gia pulang sendirian, tetapi egonya terlalu besar untuk mengikuti Gia. Dirinya perlu merilekskan pikirannya dengan tingkah Gia.
"Apa Gia sudah pulang dengan selamat? apa gue telpon aja kali ya? gausah deh biar dia sadar oleh sikapnya yang mau selalu di mengerti tanpa mempedulikan gue"Kata Adka sambil terus menatap langit langit.
"Sudah lah, gue sekarang tidur biar besok gue ke kantor bisa langsung kerjain semua pekerjaan gue yang gue tunda, ah mau pecah pala gue. mana keuangan kantor akhir bulan ini turun lagi"Teriak Adka mengacak ngacakkan rambutnya.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Sesampainya di hotel Johan menggambil kartu untuk masuk ke dalam kamar hotel terlebih dahulu. Cia hanya mengikuti kemana Johan pergi karena sedari tangganya digenggam erat oleh Johan.
"Tuan Johan Wirantara?"Kata Wanita itu.
"Iya saya mau ambil kartu masuk kamar hotel yang saya booking"Kata Johan datar.
"Oh ini pak"Kata Wanita itu menyodorkan kartu sambil senyum.
Cia semakin gugup saja, sejak dari tadi Johan terus menggandeng tangan Cia tanpa melepaskannya, Cia sangat canggung karena itu adalah pertama kalinya Cia sangat dekat dengan seorang pria terkecuali Ayahnya.
Tidak lama pintu lift terbuka mereka langsung berjalan ke arah kamar hotel yang tertera di kartu itu.
Saat sudah masuk ke dalam kamar hotel, Johan langsung membanting tubuhnya ke kasur, tubuhnya sangat lelah.
Namun Cia masih mematung di ambang pintu, dirinya menyapu sekeliling kamar hotel. dirinya berdecak kagum melihat banyaknya lilin sampai sampai di kasurnya banyak sekali kelopak bunga mawar.
"Sayang apakah kamu akan terus berada di sana hem?"Tanya Johan masih dengan memejamkan matanya.
"E..eh iya, kalo gitu aku membersihkan diri terlebih dahulu"Kata Cia sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Sayang ko kamu terlihat gugup seperti itu ada apa?"Kata Johan bangkit dari tidurnya melihat istrinya bingung.
"A..ah tidak, itu perasaan ka Johan saja, ah sudah lah aku mau mandi"Kata Cia gelagapan dirinya langsung membuang muka langsung menyambar handuk.
"Dia sangat menggemaskan di saat gugup seperti itu, kayanya gue bakal sering goda dia"Kata Johan tersenyum sambil melihat punggung Cia masuk ke dalam kamar mandi.
Cia buru buru langsung menutup pintu, dirinya bersandar di pintu sambil memgangi dadanya yang berdegup sangat kencang.
"Hah kenapa jantungku berdetak tak karuan begini"Kata Cia terus memegangi dadanya.
__ADS_1
"Ah sudah lah sekarang aku berendam aja, semoga aja hilang"Kata Cia sambil berusaha membuka gaunnya.
Cia terus berusaha membuka resleting belakang gaunnya, tapi tetap saja tidak bisa. Cia dengan ragu ragu membuka sedikit pintu kamar mandi, kepalanya keluar melihat melihat Johan masih berbaring di tempat tidur.
Cia menepis rasa malunya bagai mana juga dirinya harus mandi, dengan ragu ragu Cia membuka suara.
"Em ka Johan, boleh tolongin Cia buat buka resleting gaun, Cia kesusahan buat buka"Kata Cia langsung menutup pintu kamar mandi saat Johan menoleh.
Johan langsung terbangun dirinya mentap kepala Cia keluar pintu dan langsung menutupnya saat dirinya menoleh. Johan jadi gemas sendiri melihat tingkah istrinya yang malu malu.
Dengan perlahan Johan membuka pintu, membuat jantung Cia semakin berdegup sangat kencang. Johan mendekati Cia yang sedang berdiri membelakanginya.
"Kenapa kamu ga bilang dari tadi hem.. kan aku bisa bantu bukain"Kata Johan sambil berusaha membuka resleting.
Cia tidak menjawab jantungnya dibuat berdetak tak beraturan. Tidak lama resleting gaun sudah melorot ke bawah.
Sampai menampakkan punggung Cia yang sangat putih nan mulus, membuat Johan menelan selivannya dengan susah payah.
Tubuhnya seketika memanas, namun Johan terus berusaha menahan diri untuk tidak kebablasan.
"Ka..lo gitu aku keluar dulu"Kata Johan sambil membalikkan tubuhnya untuk keluar kamar mandi.
Setelah memastikan Johan keluar Cia langsung bernafas lega. dirinya langsung membuka semua pakainya habis itu Cia masuk kedalam bathroom.
Saat keluar Johan mencoba mengontrol tubuhnya dengan jantung yang berdegup tidak karuan.
"Ah sial liat punggungnya yang mulus aja udah buat badan gue panas dingin kaya gini gimana nanti coba"Kata Johan mengacak-ngacak rambut nya.
"Gue sekarang harus bisa kontrol diri gue, gue yakin nanti bakal lebih menggoda umat dari pada tadi"Kata Johan.
Satu jam berlalu Cia keluar kamar mandi dengan rambut di lilit oleh handuk, Cia menatap sekilas ke arah Johan yang sedang duduk di sofa sambil terus pokus ke ponselnya, Cia dengan cepat kilat langsung berlari ke arah tempat ruang ganti.
Namun sejak tadi, saat melihat pintu kamar mandi mulai terbuka Johan langsung menyambar ponselnya.
Dirinya pura pura tidak tahu kalo Cia keluar agar tidak mengakibatkan hal yang tidak di inginkan seperti tadi. Yaelah Bambang sikat aja kali ye udah halal juga.
Saat Cia sudah masuk kedalam ruangan ganti baju Johan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Satu jam berlalu Johan keluar dari kamar mandi. dirinya mendapati Cia sudah tidur di atas kasur. Johan langsung masuk ke dalam ruang ganti, tidak lama Johan keluar dengan menggunakan kaus oblong dengan celana pendek.
Johan ikut naik ke atas ranjang, dirinya menatap wajah Cia sedang tertidur, Johan di buat kagum dirinya baru melihat Cia membuka jilbabnya, wajah cantiknya tidak menguranginya walau tidak memakai jilbab.
Johan merebahkan tubuhnya di sebelah Cia tangganya membelai wajah Cia, membuat si empunya yang sedang tidur agak terusik oleh usapan tangan Johan.
'Huh.. gagal maning gagal maning. kalo si Adka tau gue gagal buka segel dia bakal tertawain gue, huh.. mau di taro dimana muka gue' Johan
Johan memeluk tubuh Cia dengan erat, bibir Johan terangkat sedikit menyunggingkan senyum saat Cia membalas pelukan nya.
Mungkin Cia pikir Johan itu guling. Di dinginnya malam mereka menghangatkan nya dengan tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1
BERSAMBUNG....