
Disebuah kontrak kecil, seorang wanita sedang duduk di dekat jendela kamarnya dengan tatapan kosong.
Wanita tersebut mengingat kembali kejadian tiga hari yang lalu, dirinya sangat bersyukur bisa keluar dari rumah seperti neraka itu.
Flashback on
Seorang wanita keluar dari dalam bus membawa tas ransel nya, dia melihat ke arah sekeliling sambil membuang nafasnya dengan pelan.
"Semoga adek baik baik saja"Kata Wanita itu.
Wanita itu berjalan kaki ke tempat tujuannya, karena uang yang dia bawa sudah habis buat membayar bus.
Tidak lama wanita itu berjalan, wanita itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis, dirinya membuang nafasnya terlebih dahulu, dengan pelan wanita itu berjalan ke arah pintu.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum"Teriak wanita itu sambil mengetuk pintu.
"Waalaikusalam"Teriak seseorang dari dalam.
Saat pintu rumah terbuka, terlihat seorang gadis cantik dengan rambut di ikat satu di belakang.
Gadis itu syok melihat wanita itu, dirinya langsung menghamburkan ke pelukan wanita tersebut sambil terisak.
"Teteh, adek kangen pisan (banget) sama teteh, naha teteh tinggalken adek di dieu nyalira (kenapa teteh tinggalin adek di sini sendirian)"Gadis tersebut memeluk wanita itu sambil terisak.
"Maafkan teteh ya dek, teteh janji moal ninggalken adek nyalira deui (Gak akan ningallin adek sendiri lagi)"
"Sudah jangan nangis lagi, Goreng nyaho (Jelek tau)"Kata wanita menggoda adiknya sambil mengusap air mata yang tersisa di pipi.
"Cantik gini loh teh"Kata gadis tersebut sambil mengerutkan bibirnya.
Namun dari arah dalam keluar dua wanita sambil menatapnya dengan kebencian.
"Sudah ku duga, maneh bakal balik dei ka die (kamu bakal balik lagi ke sini)"Kata wanita setengah tua itu menatap sinis
"Bibi apa kabarnya"Kata wanita itu basa basi sambil senyum manisnya.
"Cih sangat menjijikkan, karena kamu udah ke sini besok bibi akan menikahkan kamu sama juragan jengkol"Kata wanita setengah baya itu sambil melotot.
"Rein ga mau nikah sama Abah Abah, kenapa ga anak bibi aja kan bisa kenapa harus Rein terus yang ngalah!"Teriak Reina tersungut emosi.
"Berani kamu ya bicara tinggi di hadapan saya, Inget maneh kur numpang tidieu, jadi maneh tong loba ngabantah! (Inget kamu hanya numpang di sini, jadi kamu jangan banyak ngebantah)"Teriak wanita setengah tua itu.
Kejadian pagi itu mereka terus bertengkar sampai siang harinya, akhirnya Rein terpaksa mengiyakan nya saat bibinya mengancam adik nya yang harus menggantikan menikah sama juragan jengkol.
Pada malam harinya tiba, Rein duduk sambil melamuni nasibnya. Dari arah pintu adeknya yang bernama Cinta masuk mendekati Rein yang sedang duduk di sofa.
Cinta memeluk kakaknya dari samping sambil menyandarkan kepalnya di bahu Rein.
"Kalo teteh mau, kita kan bisa pergi dari rumah ini secara diam diam"Kata Cinta.
"Hupt.. teteh ga punya uang lagi dek, uang teteh se'ep kanggo ongkos bus (habis di pake buat bayar bus)"Kata Rein mengelus kepala Cinta.
"Teteh tenang aja, cinta gaduh (punya) uang tabungan, mungkin cukup buat kita pergi ke kota"Kata Cinta menatap Rein.
"Tidak usah, mendingge (Mendingan) cinta simpen"
__ADS_1
"Cinta mohon, kita pergi dari sini sekarang mumpung bibi lagi pada tidur, cinta ga mau teteh nikah sama si tua bangka itu"Kata Cinta memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Baik lah, tapi teteh janji kalo ada uang teteh akan ganti uang adek"Kata Rein mengusap sayang kepala adiknya.
Mereka berdua mengemasi barang mereka ke dalam tas ransel nya. Setelah semua barang-barang tidak ada yang tertinggal, mereka melihat ke adaan sekitar dari jendela.
Mungkin malam ini keberuntungan sedang berpihak kepadanya, penjaga yang di tugas kan oleh juragan jengkol juga lagi tidur..
Dengan segera Rein mengambil seprai, dirinya mengikat dengan barang yang menurutnya kuat, setelah memastikan seprei di ikat, dirinya menurunkan seprei sampai di bawah sana.
Mereka secara bergantian turun ke bawah sana sambil berpegangan erat kepada seprei tersebut, akhirnya mereka berhasil turun dari lantai dua.
Dengan mengendap mengendap, Rein bersama Cinta menjauhi rumah tersebut dengan perasaan lega.
"Hah.. syukurlah kita bisa keluar dari rumah itu"Kata Cinta menghela nafasnya.
"Iya dek, Allah baik sama kita, Allah mempermudahkan kita keluar dari rumah itu"Kata Rein mengusap sekilas rambut Cinta sambil terus berjalan tak tau arah.
"Heem, oh ya teh kita sekarang mau kemana? Hari sekarang sudah semakin petang, kita mau tidur di mana?"Tanya Cinta melirik sekilas.
"Kita langsung ke terminal bus saja, mungkin kita langsung ke kota saja malam ini juga"Kata Rein.
"Sekarang jam sepuluh malam, kita harus cepat cepat dek, tadi teteh sempat tanyain sama orang terminal di sana, katanya bus jurusan ke kota xxx berangkat jam set sebelas"Jelas Rein menggandeng tangan Cinta agar mempercepat langkahnya.
Flashback of
**
Lamunan Rein buyar saat ada sebuah tangan menepuk bahunya. Rein membalikkan tubuhnya ternyata Cinta.
"Ada apa dek, ko belum tidur?"Tanya Rein.
Rein menatap sendu adiknya yang kelaparan, uangnya sisa tabungan adeknya hanya ada 20 ribu buat makan buat besok, sementara Rein belum juga menemukan pekerjaan.
"Maafkan teteh dek, teteh belum ada uang, tapi uang tabungan kamu masih ada sedikit"Kata Rein menatap sendu Adiknya.
"Tidak apa teh, buat malam ini cinta akan minum air putih buat mengganjal lapar, biar uang itu buat kita makan besok saja"Kata Cinta dengan senyum manisnya.
"Maaf teteh belum bisa bahagiakan kamu"Kata Rein memeluk tubuh adiknya
"Tidak apa, dekat sama teteh saja aku sudah cukup bahagia,teteh besok harus semangat biar cepat dapat pekerjaan"Kata Cinta melepaskan pelukan sambil kasih semangat.
"Kalo gitu Cinta ke dapur dulu ya teh"Kata Cinta sambil keluar kamar.
Rein menatap nanar punggung Cinta yang tak terlihat lagi, hatinya tercubit saat adiknya menahan lapangan dengan meminum air putih saja.
Rein berjanji pada dirinya sendiri besok harus mendapatkan pekerjaan bagaimana pun caranya.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Pagi harinya Rein sudah rapi dengan baju untuk melamar pekerjaan. Setelah berpamitan kepada Adiknya, Rein mencari lowongan pekerjaan ke beberapa tempat dengan berjalan kaki.
Sudah beberapa tempat yang ia datangi namun tidak ada lowong, ada juga lowongan pekerjaan di sebuah hotel namun karena ijasah Rein hanya Sampai SMA, Rein tidak diterima.
Kini hari sudah semakin siang, Rein sudah sangat kelelahan mencari lowongan pekerjaan, ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang Rein bayangkan.
Rein mendudukkan dirinya di sebuah tempat duduk kayu di pinggir jalan, kakinya terasa sakit dan keram karena sedari tadi di pake bejalan terus.
__ADS_1
Tangan Rein meraba sesuatu di sebelah, Rein mengambil sebuah poster, di dalam poster tersebut di sebuah perusahaan tersebut sedang membutuhkan pekerjaan.
Rein dengan buru buru melihat alamat perusahaan tersebut, dirinya langsung berjalan kaki ke alamat tersebut, kebetulan alamat perusahaan itu tidak jauh dari tempat Rein sekarang.
Beberapa menit kemudian, Rein sudah sampai di depan gedung perusahaan yang sangat besar, dirinya berdecak kagum melihat bangunan menjulang tinggi tersebut.
Rein memasuki loby, dirinya menanyakan ke resepsionis.
"Maaf mba, saya mau tanya katanya perusahaan ini lagi membutuhkan karyawan, apakah benar?"Tanya Rein kepada wanita resepsionis itu.
"Iya mba kami sedang membutuhkan karyawan, namun sekarang hanya ada lowongan karyawan di bagian office girls mba"Kata Wanita itu.
"Tidak apa apa yang penting saya dapat pekerjaan. Ini surat lamaran kerja saya"Kata Rein menyerahkan surat lamaran kerjanya dengan senyum mengembang.
"Tidak usah mba, kalo di bagian office girls bisa langsung masuk tanpa memakai surat lamaran"Jelas wanita itu dengan senyum ramahnya.
"Benarkan? Saya akan mulai bekerja kapan?"Tanya Rein berbinar.
"Besok mba bisa mulai bekerja, mba harus pagi pagi datang kesini, sebelum semua karyawan datang mba harus datang lebih awal"Kata Wanita itu.
"Baiklah mba saya akan datang lebih awal"Kata Rein sambil terus tersenyum.
"Iya, perusahaan ini buka dari jam 5 pagi, sementara para karyawan mulai bekerja jam enam lebih lima belas menit"Jelas Wanita itu.
"Baik mba terimakasih informasinya, kalo begitu saya permisi undur diri, saya jamin saya tidak akan mengecewakan mba"Kata Rein sambil terus tersenyum.
Wanita itu menggangguk, Reina keluar dari loby perusahaan tersebut dengan senyum mengembangkannya.
Saking bahagianya Rein sampai tidak memperhatikan jalan, membuat Rein menabrak dada seseorang dari arah depan.
"Ah... Maaf kan saya tuan, saya tidak sengaja"Kata Rein menundukkan kepalanya.
"Kalo jalan itu pakai mata, kau kira ini jalanan punya nenek moyang mu, jalan seenaknya"Kata Pria itu nyolong.
"Maaf ya pak, tapu saya rasa jalan itu pake kaki ya? Emang bapa pake mata?"Tanya Rein polos sambil memperhatikan pria itu dengan seksama
"Hey,kau tidak sopan juga ya,Untung saja aku kuat jadi tidak terjatuh, Kau buang jas ku, aku tidak Sudi memakai jas yang sudah di sentuh oleh orang lain"Kata Pria itu sambil memberikan jas nya ke pria di belakang nya.
"Baik tuan"Kata pria di belakang nya
Rein mengangkat kepalnya, Rein sempat terpana oleh ketampanan pria di depannya itu, namun dirinya langsung tersadar, Rein menatap tajam pria di depannya.
"Hey dasar ya, mentang mentang jelama aya, sombong pisan (Orang ada, sombong banget"Kata Rein dengan sinis.
"Dasar wanita aneh, bicara apa kau tadi? saya tidak mengerti, sana kau pergi bicaralah dengan kambing"Kata pria itu menatap jengah Rein dengan tangan mengibas ngibas mengusir.
"Ayo kita pergi, membuang buang waktu ku saja"Kata Pria itu menatap sekilas jam tangganya.
Pria tersebut berjalan begitu saja melewati Rein dengan pria yang sedari tadi di belakang pria itu.
"Dasar lalaki gelo! (Lelaki gila!)"Teriak Rein dengan sangat kesal.
Teriakan Rein yang sangat keras membuat kedua pria itu masih mendengar nya.
"Dasar wanita aneh"Guman pria itu
"Wah berani sekali nona itu meneriaki tuan muda, sangat menarik"Guman pria satunya lagi.
__ADS_1
"Semoga saja tidak bertemu lagi dengan lelaki sebeleng itu, huh sangat menyebalkan"Kata Rein mendengus kesal sambil membalikkan tubuhnya untuk berjalan pulang.
BERSAMBUNG....