Si Pembuat Ulah Jatuh Cinta

Si Pembuat Ulah Jatuh Cinta
Part 45


__ADS_3

Adka sedang duduk di kursi kebesarannya, dia sedang mengecek berkas berkas yang sudah seperti gundukan gunung.


Adka sampai tidak bisa berpikir jernih, pikirannya sangat pusing dengan gundukan berkas yang tidak habis habisnya itu, di tambah keuangan kantor bulan ini agak menurun, yang lebih bikin Adka pusing dirinya terus saja memikirkan kekasihnya.


Adka sangat pusing seakan kepalanya akan pecah saja, Adka masih pokus dengan berkas berkasnya, namun matanya menangkap ke layar komputer miliknya.


Kebetulan Adka tadi melihat lihat CCTV dirinya mungkin lupa mengembalikan nya. Dari layar komputer tersebut dirinya melihat Gia akan masuk ke dalam loby.


"Ngapain dia kesini?"Guman Adka bingung.


Adka terus menatap layar monitor sambil memperhatikan wajah Gia, namun lamunannya buyar saat ada ketukan pintu dari arah luar.


Tok tok tok..


Saat pintu terbuka ternyata Sekertarisnya membawa secangkir kopi, Adka menatap jengah kepada Sekertaris itu.


Cih cari perhatian saja, bahkan gue udah muak liat mukanya. Adka


Adka seketika langsung kembali pokus kepada berkas berkasnya tanpa memperdulikan sekertarisnya yang berada di sana.


"Ini Pak, saya bawakan kopi buat bapak, saya tau bapak banyak kerjaan, semoga saja kopi bisa mengurangi penat bapak"Kata Sekertaris itu dengan senyum ramahnya sambil menyimpan kopi di meja kerja Adka.


"Saya tidak suka kopi"Kata Adka singkat tanpa menoleh sedikitpun.


"Oh baik lah saya akan ganti"Kata sekertaris itu mengambil kopi di meja.


Namun saat Sekertaris itu baru saja melangkahkan kakinya entah drama atau bener secangkir kopi panas itu tumpah tepat mengenai kakinya.


Sekertaris itu mengaduh kesakitan sambil memegangi kakinya yang terlihat memerah akibat kopi panas itu.


Adka memutar bola matanya malas, Adka bangkit dari duduknya namun sebelum menghampiri sekertaris Adka sempat melirik ke arah komputer kalo Gia berjalan ke arah ruangannya.


Adka dengan cepat menggendong tubuh sekertaris nya ke sofa, dirinya menggambil obat P3K, setelah itu Adka mengangkat kaki Sekertaris menjadi berada di pahanya. membuat rok yang super mini itu agak terangkat ke atas


Maaf kan aku sayang semoga saja ini cara terbaik buat kamu sadar akan sikap kamu.


Wes tidak usah di tanya lagi Sekertaris itu sangat bahagia saat Adka menggendongnya ke sofa di tambah lagi mengobati lukanya.


Akhirnya, rencana ku berhasil kali ini, kau lihat saja Gia. Adka akan jatuh ke pelukanku cepat atau lambat. Sinta


Gia membuka pintu dirinya mamatung di ambang pintu dengan mata yang berkaca kaca, Adka dengan susah payah menoleh ke arah Gia, namun Adka tidak kuat saat melihat mata Gia berkaca kaca menahan air matanya agar tidak jatuh.


Dirinya langsung membuang muka sambil melanjutkan mengobati kaki Sinta. Saat Gia berlari keluar ruangan hati Adka sangat sakit, bahkan saat melihat kekasihnya berlari sambil menangis.


Hati Adka tercubit, ini sangat berat untuk Adka tapi mau gimana lagi.

__ADS_1


Maaf kan aku sayang, maaf sudah membuat mu menangis bahkan aku lebih sakit melihat mu begitu, tapi ini caranya membuat kamu sadar, maaf kan aku. semoga saja keputusan yang aku ambil ini benar. Adka


"Ekhem kamu boleh kembali lagi ke meja kamu."Kata Adka dengan datar.


"Lain kali kau lebih teliti, agar kejadian tadi tidak terulang kembali."Kata Adka datar sambil menurunkan kaki Sinta dengan kasar.


Sinta keluar ruangan Adka dengan wajah kesalnya, dirinya terus saja mengumpat Adka habis habisa. Sementara Adka kembali duduk di kursi kerjanya.


Namun pikirannya tidak bisa berpikir jernih, bahkan sekarang lebih parah lagi semua pikirannya ngebleng dipenuhi oleh bayangan wajah Gia.


"Ah pokus Adka pokus"Kata Adka mengacak ngacak kan rambutnya frustasi.


"Kenapa bayangan wajah Gia selalu menari menari di pikiran ku"Dengus Adka kesal.


"Apakah keputusan tadi yang gue ambil benar? apakah itu terlalu keterlaluan? apakah gue terlalu egois dengan keinginan gue? ahh..."Teriak Adka frustasi.


"Apakah Gia baik baik saja? Dia pergi kemana? apakah begitu sakitnya dia saat melihat gue Deket sama dia?"Banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan Adka saat perasaannya tidak mulai enak.


Namun tiba tiba ponselnya berdering, dari layar ponsel tertera nama 'Om Riza', Adka di buat bingung ada keperluan apa beliau tiba tiba menelpon.


"Iya Pah ada apa?"Tanya Adka.


"Kamu masih tanya kenapa hah! apa yang kamu lakukan kepada putri saya, Samapi sampai dia kecelakaan Samapi sampai masuk rumah sakit!"Bentak Riza


Sementara Adka yang mendengar kabar Gia kecelakaan, tangannya langsung bergetar, sampai Samapi dia tidak bisa menahan berat tubuhnya membuat dirinya terduduk lemas di lantai.


"Ingat kalo terjadi sesuatu sama putri saya, maka anda yang akan saya salahkan yang pertama kalinya"Kata Riza tersungut emosi


"Apakah kamu tau hah! akibat keegoisan kalian, kemari malam akibat kamu tidak mengantar Gia, Gia di tengah perjalanan di cegat sama preman, apakah kamu tau Gia sampai mau di lecehkan oleh mereka"


"Samapi sampai anak saya semalaman terus menangis, apakah kamu tau hah! dan sekarang apa dia sampai kecelakaan saat pulang dari perusahan anda. apa yang anda lakukan ke putri saya apa hah"


"Untung orang suruhan saya melihatnya dan mengikuti nya kalo tidak mungkin putri saya masih di sana di dalam mobil."Teriak Riza emosi yang meluap lupa


Sementara Adka yang mendengar semua tuntunan ucapan Riza dirinya mematung, tangganya bergeta seketika mata yang berkaca kaca, tidak terasa air matanya mengalir deras


"Ma..maaf, maaf kan saya. saya salah, tolong beritahu saya di rumah sakit mana Gia sekarang?"Tanya Adka masih gemetaran dengan air matanya yang keluar begitu saja.


"Tidak akan! kalo kedatangan anda kesini cuman bikin Gia menangis"Bentak Riza


"Sudah Pa, hiks.. hiks.. sudah, Gia berada di rumah sakit xxx"Kata Rachel menangis tersedu sedu di sebrang sana


"Terimakasih, saya akan segera ke sana sekarang"Kata Adka langsung mematikan sambungan.


Tanpa ba Bu Bu lagi Adka langsung menyambar kunci mobilnya. Adka langsung berlari keluar ruangan dengan tergesa gesa.

__ADS_1


"Pa, mau kemana satu jam lagi kita akan ada meeting dengan perusahaan Dilgar grup"Teriak Sinta.


"Kau cancel saja"Kata Adka sambil terus berlari ke arah Lift.


Setelah sudah sampai di lantai bawah, Adka langsung berlari tergesa gesa keluar perusahaan tanpa memperdulikan tatapan semua karyawan nya. Adka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Ah kau memang bodoh! Adka! kau sangat bodoh!"Teriak Adka sambil memukul stir.


"AGHHHH... gue emang bodoh.. hiks... gue udah bikin hati Gia sakit kenapa Adka kenapa? Lo terlalu pikirin diri Lo, tanpa memikirkan perasaan Gia, kenapa Adka Aghh..."Teriak Adka mengacak ngacak rambutnya frustasi.


Tidak lama mobil yang di kendarai Adka sampai di rumah sakit tujuan, Adka langsung keluar dari mobil, dirinya berlari masuk ke dalam rumah sakit.


"Sus Aya mau tanya korban kecelakaan beberapa menit lalu atas nama Anggia? dia di ruangan no berapa?"Tanya Adka dengan wajah paniknya.


"Oh untuk nona Anggia, dia masih berada di IGD, dia masih ditangani oleh dokter, ruangannya nanti tuan belok kanan di sini ada tulisan IGD"Kata Suster itu menunjuk jalan.


"Baik terima kasih sus"Kata Adka langsung berlari tergesa gesa menuju ruangan IGD.


Setelah menemukan IGD yang pertama kali yang Adka lihat, dirinya melihat Rachel duduk di kursi tunggu sambil menangis histeris di dalam dekapan Riza.


Dengan perlahan Adka menghampiri mereka, Adka langsung terduduk di lantai di bawah Rachel dan Riza sambil bersujud


"Maaf.. maaf kan Adka... kalo bukan karena kesalahan Adka Gia gak mungkin seperti ini.. maaf"Kata Adka sambil berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Tidak ada jawaban dari mereka berdua, Riza terus menatap kepala Adka yang menunduk dengan tatapan dinginnya. sementara Rachel berusaha mengendalikan dirinya. Rachel membuang nafasnya dengan kasar sambil membantu Adka bangun.


"Sudah bangun, ini semua takdir Allah, kita sekarang hanya harus bisa berdoa"Kata Rachel membantu Adka bangun.


"Tapi ini semua kesalahanku Ma, mungkin ini semua ga akan terjadi "Kata Adka Lirih.


Namun Air mata yang berusaha agar tidak turun sebisa mungkin Adka menahannya agar tidak turun, namun seketika runtuh Adka menangis di depan Rachel.


"Sudah lah kau lelaki tidak baik kau menangis, Mama juga belajar ikhlas, ditangisi juga ga akan bisa merubah kembali keadaan Gia, kita sekarang hanya bisa berdoa agar Gia baik baik saja"Kata Rachel berusaha kuat.


Bohong, bohong kalo Rachel tidak sedih bahkan dirinya orang pertama yang merasakan sakit di dadanya saat mengetahui anaknya masuk rumah sakit.


"Sekarang kau jelaskan gimana anak saya bisa menangis sat keluar dari perusahaan kau"Tanya Riza datar.


Dengan ragu Adka menceritakan semua kejadiannya, Riza yang mendengar penjelasannya dirinya langsung naik pitam matanya memerah menahan amarah.


"Apakah kau tidak punya otak hah! putri saya datang ke perusahaan anda untuk meminta maaf, terus anda menyambutnya dengan rencana kau yang bodoh itu!"Bentak Riza dengan emosi yang meluap-luap.


"Su.. sudah pa, Adka juga ga tau kan kalo Gia datang mau minta maaf, jangan saling menyalahkan semuanya sudah di garis bawahi oleh tuhan"Kata Rachel berusaha menenangkan Riza dengan deraian air mata.


"Ma.. maaf"Kata Adka berulang kali, hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Adka, dirinya semakin merasa bersalah.

__ADS_1


Saat suasananya sudah lebih tenang, mereka menunggu sudah satu jam namun pintu IGD belum terbuka juga, namun beberapa saat kemudian pintu IGD terbuka Rachel, Riza bersama Adka langsung berdiri dari duduknya menghampiri dokter.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2