
Pesta pernikahan itu di gelar benar benar megar dan besar besaran. Di tambah lagi banyak nya awak media yang berlomba lomba meliput acara bahagia itu.
Adka dan Gia kini sedang duduk di kursi pengantin seperti bak nya raja dan ratu.
Gia masih saja mengingat di mana Adka tadi mengucapkan ijab kabul nya hanya dengan satu tarik nafas saja.
Pria yang ia cintai sejak dulu kini sudah menjadi suami sah nya, suami yang dimana sudah mengucapkan janji akan mencintai nya sepenuh hati.
"Kanu sangat cantik sekali sayang"Bisik Adka tepat di telinganya Gia.
"Kamu juga lebih tampan hari ini"Kata Gia mencubit gemas kedua pipi Adka.
"Siapa dulu dong, suaminya neng Anggia"Kata Adka sambil menepuk dadanya sombong.
"Astaga, benarkah ini suamiku? Kenapa sangat narsis sekali"Kata Gia memijit pelipisnya.
"Terimakasih, terimakasih kau sudah menerima segala kekurangan ku, aku berjanji akan membahagiakan mu, dan aku berjanji akan menjagamu walaupun taruhannya nyawa ku sendiri"Kata Adka memegang kedua tangan Gia sambil menatap manik Gia serius.
"Iya sayang ku aku percaya itu"Kata Johan tiba tiba datang sambil menirukan suara wanita.
"Sialan! gue lagi serius ganggu aja Lo.. pergi dari sini"Kata Adka kesal memukul keras lengan Johan.
"Ish... Kau ini jangan terlalu serius lah santai sedikit"Kata Johan menahan tawanya saat melihat mimik wajah Adka yang sedang tidak bersahabat.
"Kau ci, pergilah dari sini bawa suami mu yang gila ini"Kata Adka menatap tajam Johan.
"Berani sekali kamu mengusir kita? Tidak akan aku akan di sini sama ka Gia, kalo mau ngusir, usir saja ka Johan"Kata Cia membuang muka sambil bergelayut manja di lengan Gia.
"Sayang kamu tidak membelaku?"Kata Johan dengan wajah memelasnya.
"Tidak"Kata Cia singkat sambil memeluk tubuh Gia erat.
"Tuh lihat kau pergilah, merusak pemandangan ku saja"Kata Adka mengusir sambil mendorong tuh Johan.
"Menyebalkan! Aku tidak akan pergi"Kata Johan kesal sambil mendekati Cia.
"Kamu kenapa ci ga biasanya?"Tanya Gia mengusap pipi Cia.
"Ka Johan sangat menyebalkan, gara gara ulahnya tadi aku sempet terlambat ke sini"Kata Cia melirik Johan sekilas.
"Lah sayang ko menyalahkan ku sih, kan kamu juga semalam menikmatinya tuh"Kata Johan tidak terima.
"Ka Johan berani menyalahkan Cia? Ka Johan selalu saja seperti orang kesetanan menggempur ku"Kata Cia membuat muka.
"Astagfirullah, kalian jadi sebenarnya lagi ngebahas tentang itu"Kata Gia memijit pelipisnya yang terasa pusing.
"Tolong gue bengek.. hahaaa"Kata Adka tertawa geli.
"Diem Lo, awas saja nanti"Kata Johan beradu tatapan tajam bersama Adka.
Setelah pertengkaran Cia dan Johan selesai, kini Adka dan Gia akan melakukan sesi foto bersama bersama keluarga, dan foto mereka berdua.
Tubuh mereka saling menempel satu sama lain, sampai si pedang Jepang di bawah sudah cenat cenut saat menempel sama lubang semut.
Tahan bro.. tahan... Nanti malem bentar lagi ko. Adka
Sepanjang sesi foto, Adka sambil menahan adiknya yang sudah bangun sejak tadi.
Kini acara sudah selesai tepat pukul tujuh malam, Adka dan Gia berjalan beriringan masuk ke dalam mobil untuk pergi ke sebuah hotel yang sudah Adka siapkan.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat tujuan mereka berdua berjalan secara bergandeng masuk ke dalam kamar hotel.
Adka merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Gia masuk terlebih dahulu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Tidak lama Gia keluar dengan lilitan handuk dan rambutnya yang masih basah. Adka dengan susah payah menelan selivannya yang akan menetes, dirinya berusaha mengendalikan dirinya.
Adka langsung menyambar handuknya karena sudah tidak tahan lagi, dirinya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tentu saja Gia bingung melihat tingkah Adka yang sangat aneh.
Setelah memakai baju piyama tidurnya, Gia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang di penuhi oleh banyak kelopak bunga mawar merah.
Tidak lama juga Adka keluar dari kamar mandi dengan handuk di lilitkan setengah badan, Adka langsung masuk ke ruang ganti, sereh itu dirinya menyusul Gia berbaring di atas ranjang.
"Huh.. sangat lelah sekali"Kata Gia memeluk tubuh Adka dengan eratnya.
"Malam ini bahkan akan sangat lebih melelahkan"Bisik Adka penuh arti.
"Ish.. kau itu mesum sekali"Kata Gia memukul dada Adka kesal.
"Biarin sama istri sendiri juga"Kata Adka memeluk Gia lebih erat sambil menenggelamkan wajahnya di dada Gia sambil sesekali menggesekkan nya ke benda kenyal itu.
"Yang geli ih"Kata Gia namun tidak di gubris oleh Adka.
"Sayang ku, cinta ku, bangun lah sebentar, tolong pijatkan kakiku, kakiku rasanya sangat sakit seharian tadi berdiri terus"Kata Gia.
"Huh.. baiklah"Kata Adka dengan malas bangun.
"Nah seperti itu sayang, sangat enak sekali"Kata Gia merem merasakan pijitan Adka.
Adka mempunyai ide, kini tangannya tidak lagi memijat kaki Gia, tangganya sekarang mulai naik ke atas, dari paha dan sekarang dirinya sudah di atas Gia.
Gia yang belum sadar kalo Adka sudah di atas nya, karena keenakan pijatan dari Adka.
Gia langsung membuka matanya, alangkah terkejutnya dia saat melihat wajah Adka sangat dekat dengannya.
Gia berusaha mendorong tubuh Adka, namun Adka dengan cepat langsung mengunci tangan Gia dengan tangan satunya lagi.
Adka tidak membuat waktu lama lagi, dirinya langsung membungkam bibir Gia yang sedari tadi mengoceh dengan bibirnya.
Adka terus memperdalam ciuman nya, Gia yang tadinya hanya diam, sekarang dirinya mulai membuka mulutnya, membuat lidah Adka dengan cepat masuk.
Mereka saling menukar selivannya, Samapi keduanya mulai kekurangan pasokan oksigen, mereka melepaskan ciumannya.
Nafas mereka memburu, mata mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
"Kau tenang saja sayang, aku akan melakukannya secara perlahan"Bisik Adka di telinga Gia dengan suaranya yang sudah serak.
Gia hanya mengangguk malu malu monyet, jantungnya berdegup sangat kencang saat Adka membisikan kata kata itu.
Adka tidak membuang waktu lama lagi, dirinya mulai menciumi leher Gia, sambil sesekali menggigitnya membuat meninggalkan beberapa tanda merah.
Gia mengigit bibir bawahnya mencoba menahan suaranya agar tidak keluar,Adka sambil berusaha melepaskan semua baju yang di kenakan Gia di sela ciumannya.
Sekarang tubuh Gia tidak ada penghalang benang sedikit pun, dua benda kenyal yang ukurannya besar sudah terpampang nyata di depan Adka.
Adka tidak bisa menahan hasratnya lagi yang sudah membuncah, dirinya langsung melahap dua benda kenyal itu.
Gia tidak bisa menahan suaranya lagi agar tidak keluar, sekarang Gia mendesah saat Adka menggigit pu**ng nya agak keras.
Gia di buai dengan kecupan Adka, dirinya menekan kepala Adka agar lebih memperdalam lagi kecupannya.
__ADS_1
Kini tubuh Adka juga sudah polos tanpa benang, seketika Pedang Adka berdiri dengan gagahnya, Pipi Gia memerah saat melihat benda kepunyaan Adka berdiri di depannya.
Dirinya bergidik ngeri saat membayangkan benda besar tersebut akan masuk ke dalam miliknya.
Namun saat akan melakukan penyatuan, baru saja miliknya akan masuk ke dalam lubang semut, tiba tiba ponselnya berdering.
"Angkat lah terlebih dahulu, siapa tau itu penting"Kata Gia menatap manik Adka yang sudah di penuhi nafsunya.
Adka dengan terpaksa bangun untuk menggambil ponselnya, dirinya berusaha menahan hasratnya karena deringan ponsel yang sangat menggangu ritual malam pertamanya.
Dari layar ponsel tertera nama Johan, dengan wajah kesalnya Adka mengangkat sambungan telpon.
"Kau mau apa hah!"Teriak Adka kesal.
"Wes slow jangan ngegas begitu lah kawan"Johan
"Cepat katakan mau apa kau"Kata Adka menahan emosi.
"Cuman mau menanyakan gimana malam pertamanya, apakah menyenangkan?"Johan
"Sangat menyenangkan sekali, sampai sampai aku ingin membunuh mu"Kata Adka kesal mematikan sambungan secara sepihak.
"Siapa?"Tanya Gia membenarkan selimut agar menyelimuti tubuhnya yang polos.
"Orang gila, yang kurang kerjaan"Kata Adka kesal sambil menyibakkan selimut yang di tubuh Gia.
Adka langsung naik lagi ke atas tubuh Gia, namun naas saat akan melakukan penyatuan lagi deringan ponsel yang kembali berbunyi, bahkan sekarang beberapa kali.
Adka tidak menggubris suara deringan ponsel, namun Gia mendorong tubuh Adka agar menjauh. Adka dengan sangat kesal menggambil ponselnya.
"Ada apa lagi kau brengsek!"Teriak Adka emosi yang meluap-luap.
"Beraninya kau meneriaki ku hah!"Teriak seseorang di sebrang sana.
Adka melihat layar ponselnya, ternya sekarang yang nelpon adalah Papa mertuanya.
"Eh, Papa maaf Adka tidak tahu, ada apa Papa menelpon Adka?"Tanya Adka gugup.
"Tidak ada"Singkat Riza.
"Astagfirullah terus Papa menelpon ku untuk tujuan apa"Kata Adka menahan emosi.
"Hey menantu macam apa kau ini, jadi Papa tidak boleh menghubungi mu hah!"Seru Riza.
"Tidak, tidak begitu maksud ku"Kata Adka.
"Terserah"Kata Riza sambil mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Adka berdengus kesal dirinya langsung mematikan ponselnya agar tidak ada yang menggangunya lagi.
Namun saat akan balik ke ranjang, Adka mendapati Gia sudah tertidur dengan lelap di atas ranjang, Adka menarik rambutnya frustasi.
Dirinya terus mengumpati Johan dan Riza sambil berjalan ke arah kamar mandi, dirinya malam ini terpaksa harus menuntaskan hasratnya dengan bersolo dengan sabun.
Sementara di arah lain Riza dan Johan bertos ria, karena berhasil mengerjai Adka, mereka tidak membayangkan gimana wajah kesalnya Adka yang di ganggu acara malam pertamanya.
Sementara Rachel dan Cia hanya diam melihat tingkah para suaminya yang sangat jahil kepada calon pengantin.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1