
"Galuh Fernando Pratama"Guman Rein menatap nanar nasibnya yang tidak aman.
Rein berusaha tenang, dirinya menatap tajam wajah Galuh.
"Kau nyuri kartu nama CEO di sini ya? wah kau keterlaluan, gue harus kasih tau orang orang"Kata Rein.
"Tolong... tolong... ada orang yang ngaku ngaku CEO di sini tolong help me.."Teriak Rein membuat Galuh bersama Gleend melongo tak percaya.
"Hey wanita aneh, kau sehat? ngapain kau teriak teriak di ruangan ku, mana ada orang yang akan mendengar teriakan kau yang cempreng itu, ini di lantai atas bodoh!"Seru Galuh menatap Rein tak percaya.
"Ah iya juga ya? ini semua gara gara kau tau ga"Kata Rein berdecak pinggang.
"Astagfirullah, Gleend bereskan wanita jadi jadian itu kepala ku berasa pecah dekat dekat sama dia"Kata Galuh duduk di kursi kebesarannya sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing.
"Baik tuan muda"Kata Gleend tegas.
"Ayo nona kita keluar dari sini"Kata Gleend memegangi tangan Rein agar keluar.
"Hey gue bisa keluar sendiri, huh dasar pria sinting, jelema gelo (Manusia gila)" Bentak Rein menghempaskan tangan Gleend sambil keluar dengan membanting pintu sangat keras.
"Kurang ajar sekali! Baru kali ini ada wanita yang berani membentak ku secara terang terangan"Kata Galuh mendengus kesal.
"Kau urus wanita itu, saya liat dia memakai baju office girls, panggil ketua OB kesini sekarang!"Kata Galuh menatap tajam Gleend.
"Baik tuan muda, saya permisi keluar dulu"Kata Gleend pamit undur diri.
Galuh hanya menggangguk sambil pokus ke layar monitor nya. Tidak lama pintu ruangan nya terbuka lagi, dari ambang pintu Gleend bersama Roy masuk.
"Maaf tuan, apakah saya punya kesalahan?"Tanya Roy sopan sambil mengingat ngingat kesalahan apa yang membuat CEO nya memanggilnya.
"Tidak ada"Kata Galuh tanpa menatap Roy dirinya terus pokus ke layar monitor.
"Lantas tuan.."Kata Roy terputus saat Galuh menatapnya dengan tajam.
"Saya tidak mengijinkannya anda bicara, saya belum selesai bicara"Kata Galuh sambil menatap tajam.
"Maaf tuan"Kata Roy menunduk tidak enak.
"Bawahan kau yang punya masalah dengan saya, saya mau kau memecatnya sekarang juga"Kata Galuh tegas bangkit dari kursinya.
"Maaf tuan, yang mana? bawahan saya banyak"Kata Roy ragu ragu.
"Menyusahkan! kau Gleend cepat panggil dia sekarang ke sini"Kesal Galuh.
"Baik Tuan muda"Kata Gleend keluar dari ruangan.
Tidak lama pintu terbuka, menampakan Wajah Reina yang di belakang tubuh Gleend dengan mimik wajah kesalnya.
"Hey apakah kau tidak tau kalo gue lagi kerja? main suruh suruh aja seenaknya gimana kalo CEO disini tau"Kata Rein ketus.
Roy menyenggol tangan Rein dengan mata mengedip ngedipkan matanya. Rein dibuat bingung dengan tingkah Roy.
"Ada apa Roy? kau aneh sekali, mata kau kenapa? apa kau ke lilipan?"Tanya Rein polos.
"Hais.. kau ini yang sopan lah di depan CEO"Bisik Roy tidak percaya.
"Hey apakah kau juga kena tipu dengan dia?, aku kasih tau ya dia itu cowok sebleg yang ngaku ngaku sebagai CEO di sini"Bisik Rein.
__ADS_1
"Sudah bisik bisik nya hah!"Teriak Galuh memperhatikan keduanya masih terus bisik bisik.
"Hey pria sinting, kau tidak bisa apa bicara itu dengan lemah lembut dikit"Ketus Rein sambil menatap tajam ke arah Galuh yang sedang duduk sambil menyilang kan kakinya di sofa.
"Berani sekali kau mengatai ku secara terang terangan hah!"Seru Galuh bangkit dari duduknya menahan emosi.
"Kenapa aku harus tidak berani"Kata Rein bangun dari duduknya tam kalah emosi.
"Reina kau yang sopan lah, dia itu beneran atasan kita di sini, dia memang CEO disini"Kata Roy menegangkan Rein agar kembali duduk.
Rein menatap lekat lekat wajah Roy, memang benar saja di mata Roy tidak ada kebohongan, Roy menganggukan kepalanya, Rein seketika langsung tidak enak hati.
Rein menundukkan kepalanya sambil meremas tangganya yang berada di bawah.
Ya ampun jadi benar pria sinting itu CEO disini, Ya Allah selamatkan lah aku. Rein
"Cepat kau pecat dia sekarang juga di hadapan ku"Seru Galuh melipatkan tangganya di depan dada dengan suara tegas dan dinginnya.
"Ba.. baik tu.. tuan"Kata Roy gelagapan.
"Reina maaf kamu sekarang saya pecat"Kata Roy menatap wajah Rein yang sedari tadi menunduk.
Rein menatap wajah Roy lekat lekat, pikirannya Roy Reina akan menangis memohon mohon agar tidak di pecat namun di luar dugaannya.
"Baiklah tidak masalah"Kata Rein dengan senyum manisnya.
"Tapi mana bayaran saya selama satu hari ini?"Kata Rein menyodorkan tangannya.
"Hah!"Kata mereka serempak dibuat melongo oleh tingkah Rein.
"Cih dasar wanita mata duitan"Ketus Galuh.
"Dasar wanita aneh, cepat kau keluar dari sini, berikan dia uang agar cepat keluar dari perusahaan ku"Kata Galuh melirik Roy kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Baik tuan"Kata Roy dengan sedikit membungkukkan kepalanya.
"Huh siapa juga yang mau lama lama di perusahaan ini, CEO nya juga pria sinting kaya kamu"Kata Rein ketus.
Rein keluar dari ruangan Galuh sambil terus menatap tajam Galuh kesal. dirinya menghentak hentakan kakinya menuju lift.
Sesampainya di ruangan tempat office girls Rein langsung masuk ke dalam ruangan kesal. Friska yang ada di sana mulai kepo, Reina dengan kesalnya menceritakan semua kejadiannya.
"Astaga kau ini baru sekali bekerja sudah buat ulah, sama CEO lagi"Kata Friska memijit pelipisnya
"Aku tidak tau lah kalau dia CEO di sini"Kata Rein kesal.
"Terus sekarang kau mau bekerja dimana?"Tanya Friska
"Entahlah aku tidak mau memikirkan nya sekarang, kepalaku sangat pusing"Kata Rein sambil menggambil tas nya.
"Huh baiklah aku akan sering ke rumah mu buat main, semoga saja kau cepat dapat pekerjaan"Kata Friska menepuk pundak Rein.
"Hey hey.. kau ini, emang kau tau rumah ku dimana"Kata Friska menatap kesal sahabatnya.
"Hehe.. kan nanti aku akan tanyakan kau kalo mau ke sana"Kata Friska cengegesan.
"Serah mu, papay sayang ku, cinta ku, aku pergi dulu"Kata Rein keluar ruangan.
__ADS_1
Rein keluar dari perusahaan dengan wajah kesalnya, dirinya tak henti henti menggerutu dan memaki maki Galuh habis habisan.
"Heuh... kalo gue tadi gak istighfar, gue habisin tuh pria sinting, nyebelin banget jadi orang"Teriak Rein kesal.
Namun saat Reina menunggu angkot di pinggir jalan, matanya menangkap seorang wanita separuh baya sedang di hadang para beberapa preman.
Rein dengan cepat berlari ke arah preman itu, Reina yang tau sedikit sedikit ilmu beladiri, dirinya langsung menghajar kedua preman itu sampai tersungkur ke trotoar.
Preman itu langsung kabur bersama rekannya menaiki motor. Rein menggambil tas yang tergeletak di atas trotoar.
"Ini tante tas nya, lain kali hati hati"Kata Rein dengan senyum manisnya.
"Makasih ya udah bantuin Tante, ini tante ada sedikit uang buat kamu"Kata Wanita separuh baya itu sambil menggambil uang yang ada di dalam dompetnya kepada Rein.
"Tidak apa tante, saya ikhlas bantuin Tante"Kata Rein mendorong uang yang di tangan Wanita itu se sopan mungkin.
"Ayolah Tante mohon terima ya, Tante sedih loh kalo kamu tidak terima ini"Kata Wanita itu memelas.
"Em baiklah Tante, Reina mau tapi hanya dua lembar saja, itu terlalu banyak"Kata Rein dengan terpaksa.
"Baiklah"Kata Wanita itu pasrah sambil menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan.
"Perkenalkan nama Tante Fellyska"Kata Felly menyodorkan tangannya.
"Oh iya Tante, saya Reina Matsuhima"Kata Rein menerima jabatan tangan Felly.
"Wah apakah kamu keturunan Jepang?"Tanya Felly.
"Tidak Tante, hanya saja umi kasih tau Rein kalo dulu kakek sama nenek sempat tinggal di Jepang, nenek dulu suka sama nama nama Jepang jadi Reina di kasih sedikit nama Jepang sama nenek"Jelas Reina
"Kalo begitu Reina pamit dulu ya Tante, Assalamualaikum"Kata Rein sambil senyum ramahnya.
"Waalaikusalam hati hati Rein"Kata Wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu tidak mengalihkan penglihatannya dari punggung Rein yang berjalan berjalan, bibirnya menyunggingkan senyum.
"Jadi namanya Reina, semoga saja kita bisa ketemu lagi Reina, dia sangat baik dan sopan, aku sangat menyukainya, andai saja putraku berjodoh sama Reina, mungkin putraku akan meninggalkan wanita wanitanya yang tidak punya sopan santun itu."Guman wanita itu.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Sesampainya di depan rumahnya, Reina membuka perlahan pintu rumahnya, dirinya melihat Cinta sedang berbaring di atas ranjang sambil melihat langit langit kamar.
"Assalamualaikum, teteh pulang"Kata Rein dengan senyumnya.
"Ko udah pulang aja sih teh ini masih siang loh"Kata Cinta bangkit dari tidurnya menghampiri Rein.
"Kebetulan kerjaan teteh enggak banyak jadi teteh cepet deh pulang nya"Bohong Reina.
"Lihat teteh bawa apa ini?"Kata Rein sambil mengangkat kantung plastik yang berada di tangganya.
"Wih nasi uduk itu ka? pasti enak"Kata Cinta dengan mata berbinar.
"Iya, gih sana kamu makan dulu"Kata Reina memberikan kresek yang di dalam ada dua nasi uduk.
Cinta keluar dari kamarnya dengan berlari kecil, Reina menatap punggung adiknya dengan sendu.
"Maaf kan teteh dek, teteh terpaksa bohong sama adek kalo teteh pulang cepet, teteh janji besok teteh akan cari kerjaan lagi"Guman Reina.
__ADS_1
BERSAMBUNG...