
Flashback on
Gia keluar dari perusahaan dengan keadaan menangis, tanpa Gia sadari di dalam mobil yang tidak jauh dari sana, ada beberapa orang yang sedari tadi mengawasinya.
Gia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat mobil yang mengawasinya mengikutinya dari belakang.
Di sepanjang perjalanan Gia terus berteriak sambil terisak, dirinya tidak bisa berpikir jernih, dadanya sangat sesak saat mengingat kejadian barusan yang ia lihat.
Gia menangis histeris di dalam mobil, dirinya terus memukul stir mobil sambil menjambak rambutnya frustasi.
"Agh.... Lo jahat Adka, Lo jahat hiks... hiks... gue benci cama Lo, gue benci sama Lo!"Teriak Gia sambil terus memukul stir mobil dengan air mata yang tidak bisa di tahan untuk tidak keluar.
"Hiks.. hiks.. gue benci sama Lo gue benci...."Kata Gia lirih menundukkan kepalanya.
Namun saat Gia mengangkat wajahnya, ternyata di depan mobilnya, mobil truk sedang melaju dengan kecepatan tinggi, Gia syok dong, saat Gia berusaha membanting stir mobilnya ke arah kanan.
"Ahh...."Teriak Gia saat truk sangat dekat dengan mobilnya.
Namun naas karena mobil truk itu jaraknya sangatlah dekat, saat Gia akan membanting stir ke arah kanan, Mobil truk itu menyenggol sedikit bagian belakang mobil Gia.
Kejadian yang tidak diinginkan pun akhirnya terjadi, mobil yang dikendarai Gia tiba tiba menjadi miring ke kanan.
Mobil itu langsung berbalik, karena keadaan keduanya yang sangat kencang, membuat mobil Gia berguling guling agak jauh. namun sesaat mobil Gia berhenti berguling saat terhentikan oleh sebuah pohon.
Mobil yang mengikuti Gia langsung panik bukan main, mereka langsung keluar dari mobil berjalan ke arah mobil Gia yang terbalik dengan tergesa gesa.
"Cepat beritahu bos!"Teriak pria itu ke temannya.
Pria itu berusaha membantu mengeluarkan Gia dengan di bantu oleh beberapa teman pria itu. Karena saat itu kaki Gia yang tertindih oleh pintu mobil membuat para pria itu agak kesusahan.
Dengan susah payah mereka mengeluarkan Gia, Alhamdulillah Gia bisa keluar dari dalam mobil tersebut, saat menggendong tubuh Gia ke dalam mobil milik mereka, tidak selang lama mobil Gia langsung meledak.
Flashback of
***
"Keluar dari korban?"Tanya Dokter itu saat keluar dari dalam ruangan.
"Iya dok, kita orang tuanya"Kata Riza sambil memegang tangan Rachel.
"Saya pacarnya dok"Kata Adka bergegas menghampiri dokter itu.
"Jadi begini Pa, Bu, Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritisnya, mungkin saya akan segera pindahkan ke ruang inap"Jelas Dokter itu.
"Alhamdulillah.."Jawab mereka serempak.
"Baik pak tolong lakukan yang terbaik buat anak saya"Kata Riza menatap dokter itu.
"Iya pa, itu sudah jadi kewajiban saya sebagai dokter untuk melakukan pelayanan yang terbaik untuk pasien"Kata dokter itu sambil senyum ramah.
**
Kini Gia sudah di pindahkan ke ruangan inap. Cia bersama Johan juga berada di sana setelah Riza memberitahu mereka kalo Gia sedang ada di rumah sakit.
Adka duduk di kursi sebelah ranjang sambil terus memegang tangan Gia yang sangat lemah.
"Sayang ayo bangun lah, aku minta maaf dengan perbuatan ku yang konyol tadi, aku sangat menyesal..."Lirih Adka sambil terus menciumi punggung tangan Gia yang lemah tanpa henti.
Sementara Riza bersama yang lainnya hanya bisa diam duduk di sofa sambil melihat ke arah Adka yang sedari tadi tidak henti hentinya mengucapkan kata maaf sambil menciumi punggung tangan Gia.
Beberapa saat kemudian tangan Gia bergerak perlahan membuat semua orang menghampiri Gia yang sedang berbaring, dengan perlahan kelopak mata Gia terbuka.
__ADS_1
Gia terus mengumpulkan kesadarannya, dirinya melihat ke arah sekeliling namun saat matanya berhenti di arah Adka, Gia langsung membuang muka ke arah lain.
"Sayang kamu sudah bangun, syukurlah"Kata Adka dengan senyum mengembang nya.
"Ma, Pa, Gia ingin minum"Guman Gia lirih namun masih terdengar oleh mereka.
"Sebentar akan Mama ambilkan"Kata Rachel berjalan ke arah meja menggambil minum.
"Ini sayang minumlah"Kata Rachel sambil membantu Gia minum.
"Sayang apa ada yang sakit?"Kata Adka namun tidak di gubris oleh Gia.
Riza mengerti keadaan hati Gia, dirinya langsung mengusap kepala Gia dengan lembut. namun tidak dengan Adak dirinya terus menatap Gia dengan tatapan sedih.
"Apa ada yang sakit hem?"Kata Riza mengusap kepala Gia.
"Kaki Gia terasa ngilu pah"Guman Gia lirih.
Adka dengan sigap langsung memegang kaki Gia dengan panik. "Mana yang sakit sayang.. yang mana?"
Namun masih saja Gia tidak menjawab ucapan Adka, dirinya hanya menatap Adka dingin.
"Yang sabar ka"Kata Johan mengusap punggung Adka
"Em sudah lah, jangan terlalu di paksakan, nanti kau jelaskan secara perlahan"Bisik Riza mengusap punggung Adka.
"Em sayang kayanya sekarang aku harus balik ke kantor, nanti sore aku kesini jemput kamu"Kata Johan mengelus pipi Cia.
"Baik lah, hati hati"Kata Cia sambil mengangguk.
"Iya pasti, om, Tante saya pamit dulu, semoga Lo cepet sembuh gi"Kata Johan sambil keluar dari ruangan.
"Iyaa"Kata mereka serempak.
"Pa, cepat panggil dokter!"Serua Rachel membuat Riza memencet tombol untuk memanggil dokter.
Tidak selang lama Dokter masuk kedalam ruangan, Dokter itu langsung memeriksa keadaan Gia.
Setelah pemeriksaan sudah selesai, dokter itu menyuntikkan obat tidur, tidak lama Gia sudah tertidur.
"Sepertinya dugaan saya benar, mungkin saat kejadian, kaki nona Gia tertimpa benda berat membuat tulang kakinya mengalami keretakan, mungkin untuk sementara waktu nona Gia nanti harus memakai kursi roda"Jelas Dokter itu.
"Sebisa mungkin hindari menggerakkan kaki dan tungkai yang patah.Kompres bagian yang sakit dengan es yang dibalut handuk, untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan"
"Jangan mencoba untuk meluruskan tulang yang salah posisi.Jika ada luka terbuka, tutupi dengan baju atau kain yang bersih.Jika terjadi perdarahan, tekan luka tersebut dengan kain bersih"Jelas nya lagi.
"Namun kalo lebih parah lagi dari itu, sebaiknya nona Gia langsung di bawa ke rumah sakit" Tambah dokter itu lagi.
"Apakah itu tidak akan lama dokter?"Kata Riza.
"Tidak akan, kalo melakukan apa yang saya jelaskan tadi dengan rutin mungkin hanya satu bulan kurang juga nona Gia bisa berjalan seperti semula lagi"Kata Dokter itu.
"Baik dokter terimakasih"Kata Riza
"Kalo begitu saya permisi dulu"Dokter itu menggangguk sambil berjalan keluar.
Adka masih duduk mematung dirinya tak henti henti menyalahkan dirinya. dirinya terus menatap mata Gia dengan lekat yang terpejam, penyesalan di dalam dirinya semakin dalam.
Maafkan aku sayang, ini semua salahku, kalo bukan karena rencana konyol ku, mungkin kau akan baik baik saja. Adka
"Sudah lah ma, sebaiknya kita pulang dulu, nanti kita sore kesini lagi"Kata Riza menenangkan Rachel yang sedari tadi menangis sambil memegang tangan Gia.
__ADS_1
"Om titip Gia sama kalian berdua"Kata Riza menatap Cia bersama Adka.
"Baik om"Kata Cia sambil mengangguk
Namun Adka masih masa diam sambil terus menatap ke arah Gia. Riza menghampiri Adka, dirinya duduk di sebelah Adka sambil mengusap punggungnya.
"Sudah lah jangan terlalu menyalahkan diri, kata Mama Rachel benar semuanya sudah takdir Allah, nanti kamu jelaskan pelan pelan kepada Gia, tapi Inget jangan memaksanya"Kata Riza mengusap punggung Gia.
"Hupt.. baik lah Pa, tapi apakah Gia akan memaafkan kesalahannya saya? saya tidak yakin Gia akan memaafkan saya"Kata Adka Lirih.
"Kalo belum dicoba kita tidak akan pernah tau kan. sudahlah Papa pulang dulu"Kata Riza bangkit dari duduknya.
"Ayo Ma"Kata Riza menggandeng tangan Rachel keluar ruangan.
**
Adka duduk di kursi sebelah ranjang, dirinya terus memegang tangan Gia dengan erat, tidur Gia terganggu oleh tangan Adka yang terus memegang tangannya.
Gia perlahan membuka matanya, pertama kali yang ia lihat adalah wajah Adka, dengan cepet Gia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Maaf"Kata Adka sambil terus memegang tangan Gia.
"Lepaskan"Kata Gia sambil berusaha melepaskan genggaman tangan dari Adka.
Cia yang tau kalo mereka butuh waktu berdua, Cia langsung keluar dari ruangan itu.
"Maaf kan aku"Kata Adka Lirih.
"Saya tidak akan pernah memaafkan anda, sebaiknya lepaskan tangan anda dari tangan saya, sebaiknya anda keluar dari sini"Kata Gia mencoba melepaskan genggaman tangan Adka.
Tanpa persetujuan dari Gia, Adka langsung memeluk tubuh Gia dengan erat, Gia memberontak, tangannya terus memukul mukuli dada Adka tapi tidak di hiraukan oleh Adka.
"Lepasin... hiks.. hiks... lepasin, kamu jahat Adka kamu jahat"Kata Gia terisak sambil terus memukul dada Adka.
"Tidak akan, sebelum kamu mendengar semua penjelasan dari aku, kamu salah paham sayang"Kata Adka sambil terus memeluk tubuh Gia.
"Semuanya sudah jelas tidak perlu kau jelaskan, Lepas aku mohon, lepas"Kata Gia dengan lirih.
Adka melepaskan pelukannya, dirinya memegang kedua tangan Gia, namun Gia masih saja membuang wajahnya ke arah lain.
Adka membuat nafasnya dengan kasar, dirinya mulai menceritakan kejadian sebenarnya walaupun Gia masih hanya diam tidak berkutik.
"Kamu tatap mata aku, tatap Gi, apa di mata aku kamu melihat kebohongan, kamu tatap Gi"Kata Adka memegang kedua pipi Gia agar melihat ke arah nya.
Gia memberanikan diri melihat mata Adka, Gia tidak tahan lagi dirinya langsung menghamburkan pelukannya, Gia terus terisak di dekapan Adka sampai sesegukan.
"Maaf aku, aku juga salah"Kata Gia di sela dekapan Adka dengan masih terisak.
"Sudahlah jangan menangis lagi, kau tidak salah di sini aku yang salah"Kata Adka melepaskan pelukannya sambil menghapus air mata yang berada di pipi Gia.
"Sekarang kamu tidur lah, aku akan menjaga kamu di sini"Kata Adka menuntun Gia untuk berbaring.
Cupp
"Aku sangat mencintaimu"Kata Gia mengecup sekilas pipi kanan Adka.
Cupp
"Aku lebih mencintaimu, tidur lah"Kata Adka mengecup sekilas kening Gia.
Adka terus mengelus rambut Gia, dirinya terus memandangi mata Gia yang terpejam. karena dirinya juga sangat lelah, Adka pun ikut tertidur sambil tangganya terus memegang erat tangan Gia.
__ADS_1
BERSAMBUNG......