
Setelah menyiapkan makan malam, Cia menunggu kedatang suaminya sambil nonton televisi di ruang tamu.
Tidak lama pintu hotel terbuka, dari arah pintu Johan masuk dengan wajah penatnya.Cia menghampiri Johan dengan senyum manisnya, seketika wajah penatnya langsung hilang seketika.
Cia menyalami tangan yang sudah berstatus suaminya itu, sama dengan Johan dirinya juga berbalik mencium kening istrinya.
"Mandilah terlebih dahulu ka, habis itu kita makan malam, aku sudah memasak"Kata Cia.
"Baik lah, kau tunggulah di meja makan, aku akan segera menyusul"Kata Johan mengusap pipi Cia sekilas langsung masuk ke dalam kamar.
Cia menanggapi dengan anggukan, dirinya pergi ke arah dapur untuk mengambil piring, setelah semua makanan sudah berjajar dengan rapi, dirinya berjalan ke arah kamar.
Cia membuat pintu kamar dengan perlahan, takutnya Johan sudah beres mandi, ternyata Johan belum selesai mandi, masih ada suara percikan air dari dalam kamar mandi.
Dengan buru buru, Cia menggambil baju ganti buat Johan di dalam ruang ganti, setelah menemukan baju yang pas dirinya langsung keluar dari ruangan itu.
Namun saat membuka, dari arah depan Johan berdiri dengan bertelanjang dada, Cia buru buru menutup matanya.
"Ah.. ka Johan cepet pake baju"Teriak Cia sambil menutup mata dengan tangganya.
"Itu kau ngapain di situ, kan sudah ku bilang kau tunggulah di meja makan"Kata Johan sambil terus berjalan mendekati Cia.
Cia yang mendengar pergerakan Johan semakin mendekat, dirinya menyodorkan baju ganti buat Johan, habis itu Cia langsung keluar dengan berlari tergesa gesa.
"Sangat menggemaskan sekali, membuat gue semakin suka menggoda nya saja"Kata Johan terkekeh sambil terus melihat punggung Cia keluar dari pintu kamar.
Cia langsung duduk di kursi meja makan dengan nafas yang tidak beraturan. dirnya berusaha menetralkan nafasnya kembali agar kembali normal.
"Astagfirullah, kenapa kalo deket sama ka Johan jantung ku selalu mau copot saja"Kata Cia sambil memegangi dadanya yang berdegup tidak karuan.
"Ah benar saja sekarang lebih baik, ayah.. bunda.. anak mu punya kelainan jantung"Teriak Cia membayangkan.
"Siapa yang punya kelainan penyakit jantung?"Tanya Johan tiba tiba tepat di belakang telinga Cia.
Cia langsung menoleh ke arah suara, seketika mata mereka bertemu membuat jantung keduanya berdegup sangat kencang.Cia langsung mengalihkan pandangannya.
"Ah... itu.. iya ayo makan ka aku sudah lapar"Kata Cia sambil menggambil nasi dan lauk pauk.
"Baik lah, kau sangat menggemaskan sekali sayang"Kata Johan duduk di kursi sambil terus menatap Cia dengan menahan tawanya.
Cia semakin gelagapan saja, dirinya dengan cepat mengambilkan nasi beserta lauk pauknya ke dalam piring Johan tanpa mengangkat kepalanya sedikit pun.
Mereka berdua makan dengan hening, hanya saja ada suara dentingan sendok di sepanjang makan malam mereka.
Setelah makan malam selesai, Cia masuk kembali ke dalam kamar, dirinya menonton televisi sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Sementara Johan sedang berada di ruang tamu menyelesaikan pekerjaan kantor yang belum selesai.
Tidak terasa jam sudah menunjukan jam sebelas malam, Johan merapikan semua berkas berkasnya di atas meja ruang tamu, dirinya berjalan ke kamar.
Johan dengan perlahan membuka pintu kamar, dirinya takut kalo Cia sudah tidur. namun dugaan nya salah, Cia sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Johan berjalan mendekat, dirinya ikut naik ke atas ranjang, ke pokusan Cia beralih melirik kepinggir saat merasakan ranjangnya bergerak, dan ternyata Johan sudah berada di pinggirnya.
"Kenapa belum tidur hem"Kata Johan mengusap pipi halus Cia.
"Aku menunggu ka Johan"Kata Cia.
"Sudah malam tidur lah"Kata Johan mendapatkan anggukan dari Cia.
Cia membuka jilbabnya, dirinya menyimpan kerudung di atas naskah. dirinya merebahkan tubuhnya membelakangi Johan.
Johan yang melihat leher putih milik Cia, dirinya dengan susah payah menelan selivannya. dirinya ikut merebahkan tubuhnya di samping Cia.
Dengan perlahan Johan mendekati tubuh Cia, dirinya memeluk pinggang Cia dari belakang, membuat Cia yang tadinya memejamkan matanya sekarang dirinya membuka matanya lagi.
Cia berbalik menghadap ke arah Johan, tanpa melepaskan pelukannya saat sudah membalikkan tubuhnya Johan malah mempererat pelukan dengan menelusup kan kepalanya di dada Cia.
Wes tidak usah di tanya lagi, Cia semakin salah tingkah dibuat nya, ini adalah pertama kalinya dekat dengan pria sangat intim itu.
"Ka Johan kenapa?"Kata Cia berusaha tenang.
Cia hanya bisa diam dengan jantungnya yang semakin berdegup sangat kencang. namun Cia merasakan ada benda aneh di bawah, benda yang sangat keras, benda itu seperti menusuk nusuk pahanya.
"K..ka Johan?"Kata Cia semakin gugup saja.
"Em, apakah kamu merasakan adik ku di bawah sana?"Kata Johan di sela pelukannya.
"Adik? ka Johan punya adik? sejak kapan ko Cia ga tau sih?"Kata Cia mengernyitkan dahinya.
Johan menatap manik Cia dengan seksama, bagaimana bisa Cia tidak mengerti soal adik, bahkan menyangka nya adik beneran, wah istrinya sangat polos sekali.
"Bukan adik yang itu sayang"Kata C
Johan mencolek hidung Cia gemas sambil berusaha menahan hasratnya.
"Terus yang mana?"Kata Cia semakin bingung.
Johan menggambil tangan Cia, dirinya dengan nakal menyimpan tangan Gia di bawah sana, yang dimana benda tersebut sudah mengeras sempurna.
Cia langsung menarik tangannya lagi saat sudah meraba sekilas benda tersebut.
__ADS_1
"Ka Johan itu apa? ko keras banget?, dan kenapa ko ada di bawah ka Johan?"Kata Cia dengan polosnya.
Johan menghela nafasnya, dirinya baru menyadari kalo istri nya itu sangat lah polos.
"Sayang apa aku boleh meminta hak ku? ini sangat menyiksaku"Bisik Johan dengan suara berat nya.
Cia semakin gugup, jantungnya semakin berdetak tak karuan, apakah sekarang sudah waktunya dirinya memberikan kewajibannya sebagai istri?
Cia memberanikan diri menatap mata Johan, matanya memerah seperti menahan sesuatu, Cia tidak kuat menatap mata Johan lama lama semakin berdetak sangat kencang saja jantungnya.
Johan menghela nafasnya dengan kasar saat tidak mendapat jawaban sama sekali dari bibir Cia.
"Aku tidak akan memaksa mu, aku akan menunggumu Samapi kau siap"Kata Johan turun dari ranjang sambil berjalan lesu ke arah kamar mandi.
Cia dengan cepat langsung memberhentikan Langkah Johan.
"Ka, a..aku siap ko"Kata Cia gugup.
Johan yang tadinya lesu sekarang menjadi girang bukan kepalang. dirinya tanpa banyak waktu langsung mendekati Cia.
Dengan perlahan Johan mencumbu bibir Cia, karena ini yang pertama kali buat Cia dirinya hanya bisa diam tanpa membalas ciuman dari Johan.
Johan sedikit gemas melihat Cia diam saja, dirinya menggigit bibi bawah Cia agar terbuka, dan benar saja lidah Johan masuk kedalam sana menelusuri setiap isi di dalam sana.
Lama mereka berciuman, Cia juga sudah mulai membalas ciuman Johan tanpa sadar. setelah keduanya kehabisan pasokan udara mereka melepas ciuman dengan nafas yang memburu.
Johan kembali mengecup namun sekarang ke bagian leher, Johan mengigit leher putih tersebut membuat meninggalkan beberapa jejak kemerahan disana.
Cia hanya memejamkan matanya sambil menahan gejolak di tubuhnya yang belum Cia rasakan sebelumnya.
Tanpa Cia sadari, Johan sudah melepas semua pakaian yang melekat di tubuh Cia, tubuh Cia sudah polos tanpa sebenang apapun. Johan pun membuka seluruh pakaiannya yang ia pakai, membuat adiknya berdiri gagah.
Cia dengan perlahan membuka matanya saat merasakan dingin di tubuhnya. Cia melirik ke tubuhnya ternyata dirinya sudah polos tanpa memakai apapun.
Cia semakin malu saja, pipinya memerah menahan malu dengan cepat tangannya menutup bagian intim nya.
Johan terkekeh melihat tingkah Cia yang menurutnya sangat menggemaskan, Cia perlahan menengok ke arah Johan alangkah terkejutnya saat melihat benda asing baginya yang sangat besar sedang berdiri tegak.
"Ah.... Ka Johan itu apa ko besar banget ukuran nya"Teriak Cia menutup matanya.
"Sudah lah aku sudah tidak bisa menahannya lagi, apakah boleh?"Tanya Johan dengan suara serak nya.
Cia mengintip sedikit di sela jarinya dirinya menganggukan kepalnya. Johan yang mendapat persetujuan dirinya dengan perlahan langsung membuat penyatuan.
Cia hanya memejamkan matanya sambil menahan air matanya agar tidak keluar saat merasakan sakit yang luar biasa di bawah sana.
__ADS_1
Saat adik Johan berhasil membobol benteng pertahanan, Cia mencengkram kuat seprai bersama dengan teriakan Cia. malam itu pun menjadi malam yang panas buat mereka berdua.
BERSAMBUNG...