
"Rere?"Lirih Marco menatap intens wajah Reina, namun saking sibuknya ruangan itu suara lirih Marco terdengar jelas oleh telinga mereka.
"Marmar kau kenapa? eh atau jangan jangan... kau yang menculik ka Gia?"Tanya Reina sambil menutup mulutnya terkejut.
"Maaf Rere, aku bisa jelasin semuanya"Kata Marco lemah sambil menatap sendu.
"Ck. ck. aku tidak habis pikir kau sejahat itu"Sinis Galuh menatap tajam ke arah Marco yang terduduk lemah di lantai.
"Apa kalian mengenalnya?"Tanya Zek.
"Iya om. dia teman dekatnya Rein"Jawab Reina tanpa mengalihkan mata kekecewaannya dari Marco.
Baru saja Marco menarik nafas ingin bicara namun pintu ruangan sudah di dobrak oleh seseorang dari luar.
"Angkat tangan kalian, kalian semua sudah di kepung"Kata beberapa polisi sambil menodongkan senjata api nya.
Refleks semua orang yang ada di sana langsung mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Mereka berdua pak dalang dari semuanya"Kata seseorang baru saja datang dari belakang polisi.
"Johan?"Guman Adka pelan sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Semua polis itu langsung mengangguk mengerti, tidak menunggu lama dua polisi menggembok tangan Marco dan Lucas.
"Hey lepas! aku belum mendapatkan hartanya!"Teriak Lucas terus memberontak saat polisi membawanya ke luar ruangan itu.
"Ahaha kau lihat saja, kau akan mati Marco!, kau akan mati!"Oceh Lucas.
Sementara Marco menghela nafasnya kasar saat mendengar ocehan pamannya. dengan tatapan sendu Marco menatap intens wajah Reina yang sedari tadi menatapnya.
"Maaf kan aku Rere aku terpaksa"Kata Marco lemah saat melewati Reina.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Beberapa bulan berlalu, setelah kejadian penculikan itu Gia dan Adka semakin lengket saja seperti perangko, di tambah akhir akhir ini Gia selalu ngidam yang aneh aneh membuat Adka pusing bukan main.
Dan sekarang kehamilan Gia sudah delapan bulan lebih, mungkin hanya menunggu beberapa Minggu lagi ke masa persalinan.
Namun tidak lain buat Cia dan johan, sekarang dirinya sudah menjadi seorang ibu dan Johan sudah menjadi ayah. tepatnya Cia baru tiga Minggu melahirkan bayi laki laki yang sangat tampan, bahkan wajahnya sangat mirip sekali dengan Johan. 'Felix Wirantara' Nama putra pertama mereka.
**
Hari pekan ini Cia, Johan, kedua orang tuanya dan kedua orang tua Gia sedang main ke kediaman Gia sekaligus mereka ingin menyiapkan keperluan Gia untuk bersalin nanti.
Kini di ruang tengah kediaman Gia sangat ramai. ruangan tengah itu sangat riuh oleh tawaan semua orang yang melihat tingkah gemas Beby Felix.
"Ih cucu nya Oma gemes banget sih"Kata Tania sambil menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung Beby Felix.
"Iya dong Bun, kan ayah juga gemesin"Goda Arman sambil mengedipkan bahunya.
"Amin amit... huh kamu tuh kapan warasnya sekarang sudah punya cucu juga"Kata Tania sambil membuang mukanya kesal.
"Dia itu tidak akan pernah waras tan, udah dari lahirnya sebleng"Celetuk Riza.
"Astagfirullah dasar kakak ipar kau sungguh tega terhadap ku"Kata Arman dengan wajah so sedih.
__ADS_1
"Ya salam mulai lagi deh"Kata Gia memijit pelipisnya yang terasa pusing melihat perdebatan orang tuanya.
"Mama ga ikutan sayang, mama lagi waras"Kata Rachel.
"Sekarang waras bentar lagi jin rusuhnya keluar iya kan tante"Kata Cia menahan tawanya.
"Benar tuh ci, Mama kan ga bisa diem setiap menit pasti nyerocos"
"Sudah sudah, tuh kan Baby Felix mau nangis mendengar pertengkaran kalian"Kata Tania menepuk nepuk pantat Felix saat mata Beby laki laki itu berembun menahan tangis.
"Tante Gia pengen gendong dong, sekalian itung itung belajar"Kata sambil memamerkan wajah ter imutnya.
"Tidak boleh. nanti kamu kecapean"Kata Adka dengan cepat.
"Ih ga akan cape juga, kan cuman gendong doang yang. boleh ya.. yaa"Kata Gia memelas.
"Tidak."Kata Adka singkat padat dan jelas.
"Dasar nyebelin huh"Kata Gia mode ngambek dengan bibir yang sudah maju lima Mili.
Dengan kesal Gia bangun dari duduknya menuju kursi dekat Mama nya. matanya terus menatap tajam ke arah Adka.
"Eh sayang sini dong, aku ga bisa elus elus perut kamu"Bujuk Adka menghampiri istrinya.
"Jangan mau Gi, modus doang itu mah"Kata Johan mengompori.
"Diem lo"Kata Adka menatap tajam ke arah Johan yang sedang mengelus pipi Cia.
"Yang duduk di situ lagi ya, kan aku ga bisa elus elus si dede"Bujuk Adka menghampiri Gia sambil berjongkok di depannya.
Adka menghela nafasnya kasar "Yaudah deh boleh, tapi Felix aku yang gendong oke"
"Sama aja kali aku kan ga bisa gendong. em tapi oke deh dari pada enggak"Kata Gia membuat Adka menghela nafasnya lega.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Di sepanjang perjalan menuju rumah Gia, Reina dan Galuh sama sama diam. dari keduanya tidak ada yang bersuara sama sekali, Galuh pokus menyetir sementara Reina pokus keluar jendela melihat jalan.
Galuh menepikan mobilnya ke pinggir jalan, Reina yang sadar kalo mobil berhenti dirinya menatap ke arah Galuh yang masih diam.
"Eh ko berhenti sih ka?"Tanya Reina.
Galuh tidak menjawab dirinya masih diam tak bersuara. Galuh terus meyakinkan hatinya terlebih dahulu, dengan perlahan dirinya menghela nafasnya kasar.
Galuh berbalik melihat ke arah Reina, seketika mata mereka bertemu. Galuh dengan perlahan menggenggam tangan Reina.
"Rein aku ingin bicara serius dengan mu"Kata Galuh dengan terus menatap mata Reina.
"I..iya bicara apa ka?"Gugup Reina bahkan sekarang jantungnya berdegup sangat kencang.
'Astaga kenapa aku gugup sekali, tenang Rein tenang kan ka Galuh tidak menembak mu. ahh kenapa jadi ke sana sih' Reina
"Aku mencintaimu Rein. entah sejak kapan rasa ini tumbuh tetapi aku baru menyadari nya saat kau dekat dengan pria lain, hati ku sangat panas aku tidak seka liat kau dekat dengan mereka."
"Jadi apa kau mau menjadi istriku. will you merry me?"Kata Galuh sekali tarik nafas dengan matanya terus menatap serius manik Reina.
__ADS_1
Reina masih saja diam, dirinya sangatlah bingung harus menjawab apa dengan ungkapan Galuh yang sangat mendadak. Galuh menghela nafasnya kasar dengan sikap Reina yang diam saja.
Galuh mengusap tangan Reina lembut. "Aku tidak akan memaksa mu. maaf mungkin ini sangatlah mendadak"
Galuh kembali menyalakan mesin mobilnya kembali untuk melanjutkan perjalanannya menuju rumah Gia.
Reina masih saja diam tidak memyauti ucapan Galuh. Galuh pun sama dirinya diam dengan pikirannya sendiri sambil pokus menyetir.
"Aku juga mencintaimu ka. aku mau menikah dengan mu!"Kata Reina lantang membuat Galuh langsung mengerem secara mendadak.
Tentu saja akibat mengerem mendadak itu, membuat mobil yang berada di belakang ikut berhenti mendadak. dengan ucapan maaf Galuh kepada pengendara lain, dirinya menepikan mobilnya dulu.
"Kamu beneran kan Rein? kamu mau nikah sama aku? aku ga salah denger kan tadi Rein?"Tanya Galuh menggenggam tangan Reina dengan wajah merekahnya.
"Iya ka Galuh ga salah ko. em tapi.."Kata Reina ragu.
"Tapi apa Rein?"Tanya Galuh pensaran bercampur cemas.
"Em itu... gimana dengan pacar kakak aku ga mau di dua apa lagi di madu"Kata Reina cemberut dengan melipat tangannya di depan dada.
Galuh dengan gemas mencubit hidung pesek Reina. "Kau tenang saja, aku akan putuskan mereka semua. semua demi kau. aku janji tidak ada orang ketiga di antara kita, kau adalah wanita satu satunya di hati ku selama lamanya"
Reina berusaha menahan tawanya sambil memalingkan wajahnya, bahkan sekarang pipinya sudah merah mendengar ucapan Galuh.
"Cie... cie salting nie yee"Goda Galuh sambil menoel noel pipi Reina yang memerah.
"Ih ka Galuh apaan sih"Rengek Reina.
"Iya deh iya sayangku maafin deh ya"Kata Galuh menarik dagu Reina agar melihat ke arah nya.
Kepala Reina dengan refleks langsung mengangguk, Reina seakan terhipnotis dengan wajah tampan Galuh yang masih betah menatapnya.
Cup
Tanpa Reina duga Galuh mengecup singkat pipi kanannya, bahkan dirinya masih melongo dengan tingkah Galuh perbuat sementara si pelaku menyengir kuda acuh sambil menyalakan mesin mobil kembali.
"Apa masih kurang hem?"Bisik Galuh saat melihat kekasihnya masih saja diam mematung.
Reina langsung tersadar dari lamunannya, dengan gemas dirinya mencubit perut Galuh. "Ih gelo nya maneh, neangan kasepatan dina kasempitan. yeh rasaken ciwitan Reina genaheun kan? (Ih gila ya kamu, cari kesempatan dalam kesempitan. nih rasain cubitan Reina enak kan?)"
"Aw.. aw.. sayang sakit, ampun ga akan lagi deh yang kanan nanti mah yang kiri"Ringis Galuh.
"Ka Galuh!"Teriak Reina kesal.
"Canda sanyang ku"Kata Galuh melirik sekilas ke arah Reina sambil mencubit gemas pipi kanannya.
"Tau ah Reina kesel sama Ka Galuh, apa jangan jangan kakak sering ngelakuin itu ya sama pacar pacar kakak?"Tanya Reina menatap Galuh mengintimidasi.
"Iya bahkan bukan di pipi lagi tapi di sini"Jawab Galuh santai sambil menunjuk ke arah bibir Reina.
"Ih ka Galuh bekas, Reina ga suka!"Seru Reina dengan bibir yang sudah maju.
Galuh dibuat gemas dengan tingkah kekasihnya itu, kalau Galuh tidak banyak istighfar mungkin saja sekarang dirinya sudah menyerang bibir kekasihnya itu yang lagi cemberut.
BERSAMBUNG....
__ADS_1