
"Kau.."Seru keduanya secara bersamaan.
Keduanya langsung saling melemparkan tatapan tajam. tak henti hentinya Reina terus memelototi ke arah Galuh.
"Wah apakah kalian sudah saling mengenal?"Tanya Felly antusias.
"Tidak"Jawab mereka berdua serempak sambil membuang muka.
"Tante jangan bilang dia..."Selidik Reina mendapat anggukan dari kepala Felly.
"Oh my Good"Kata Reina.
"Sayang kamu tolong anterin Reina pulang"Kata Felly.
"Lah mah, kenapa harus aku kan dia bisa pulang sendiri"Kata Galuh menatap tak percaya Felly.
"Anterin Reina enggak?"Kata Felly melotot ke arah Galuh.
"Pa bantuin dong"Kata Galuh mencari pembelaan.
"Mana berani"Kata Alex acuh tak acuh sambil terus pokus ke ponselnya.
"Baiklah cuman anterin dia kan"Kata Galuh menatap tajam Rein.
"Kau tenang saja, aku bisa pulang sendiri. maaf Tante, om saya permisi pulang dulu"Kata Reina sopan setelah itu keluar dari restoran.
"Nah pergi lah pergi"Usir Galuh membuat Felly menatap tajam dirinya.
"Hey dasar anak nakal kamu ya, cepat kejar dia. anterin Reina pulang ga?"Tanya Felly menjewer telinga Galuh dengan kencang.
"Aduh ma, iya iya. lepasin dulu Napa kan ga bisa kejar kalo gini mah"Kata Galuh meringis sambil memegangi telinganya yang di tarik ke atas.
Galuh keluar dari restoran sambil menggerutu kesal. dirinya tak henti henti terus mengumpati Reina.
Dirinya makin kesal saat tidak menemukan Reina, dirinya terus mencari karena dirinya yakin kalo Reina belum jauh dari sana. matanya melihat seorang wanita sedang berjongkok di depan kedua anak kecil yang tidak bisa melihat.
Hatinya sedikit simpati saat melihat Reina dengan senyum manisnya memberikan dua kantung plastik makan buat mereka.
Galuh keluar dari mobil untuk menghampiri Reina, Galuh berdiri di belakang tubuh Reina, tapi dirinya belum menyadari kedatangan Galuh.
Setelah kedua anak jalanan pergi, Reina membalikkan tubuhnya, seketika mata mereka berdua saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
"Eh... iya ayo saya antarkan kau pulang"Kata Galuh.
"Tidak usah. saya bisa pulang sendiri"Kata Reina sambil melangkah kakinya.
Galuh dengan cepat memegang tangan Reina dengan menariknya. "Buruan aku anterin, kau keras kepala banget ya"
"Ihh lepasin, saya bilang. saya bisa pulang sendiri"Berontak Reina.
"Diem ga. kalo bukan di suruh sama Mama gue juga ogah"Seru Galuh sambil menyeret Reina ke mobilnya.
"Masuk"Kata Galuh membukakan pintu mobilnya.
"Dasar tukang maksa"Sinis Reina sambil duduk kesal.
Galuh naik ke mobilnya, Galuh melewatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Reina berpegangan ketakutan.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Gia terbangun dari tidurnya, tangannya meraba ke pinggir kasur ternyata kosong. Gia langsung membuka matanya, Adka tidak berada di pinggirnya bahkan sekarang masih sangat pagi.
__ADS_1
Gia bangun untuk mencari keberadaan suaminya, namun matanya menangkap sebuah kertas dengan segelas susu di meja. Gia mengambil kertas di atas meja untuk membacanya.
'Sayang maaf, aku ada meeting pagi, jangan lupa minum susunya. love you istri ku tersayang'
Seketika raut wajah Gia berubah, matanya berkaca kaca dengan tangan bergetar saat memegangi kertas itu.
"Hiks.. hiks.. Adka jahat ninggalin aku sendirian. hiks.. kenapa dia ga bangunin aku dulu... hiks.. Adka jahat sama Gia. Adka ninggalin Gia sendiri. Gia benci Adka! hiks..."Teriak Gia menangis histeris di sopa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangganya.
Cia yang tadinya mau ke dapur, namun di urungkan saat mendengar dari kamar sebelahnya dirinya mendengar suara Gia lagi menangis.
Dengan cepat dirinya langsung masuk ke dalam kamar Gia, Cia takut terjadi apa apa sama Gia.
"Ka Gia? ka Gia kenapa ko nangis?"Kata Cia menghampiri Gia duduk di sofa sambil mengelus kepalanya.
Gia tidak menjawab dirinya langsung memeluk tubuh Cia dengan erat, bahkan tangisannya semakin menjadi.
"Hiks... hiks.. Adka jahat Ci. Adka jahat"Isak Gia di dekapan Cia
"Kenapa Adka? Adka sakitin ka Gia?"Tanya Cia mendapat geleng di kepala Gia.
"Adka jahat ga bangunin aku kalo mau ke kantor, di..diaa jahat ninggalin aku sendiri hiks.."Kata Gia sambil melepaskan pelukannya dengan semakin nangis tersedu sedu.
Cia di buat melongo, Gia menangis histeris hanya karena masalah sepele? what dimana Gia yang dulu yang sangat kuat tidak pernah menangis. dan sekarang Gia seperti anak kecil.
Cia terus menenangkan Gia agar berhenti menangis, namun bukan berhenti malah Gia semakin menjadi. Cia sudah kewalahan, dirinya dengan cepat langsung menghubungi Adka.
Adka yang mendengar istrinya menangis histeris, dirinya dengan cepat langsung bergegas pulang.
Tidak lama Adka sudah sampai di kediaman rumahnya, dengan cepat dirinya berlari ke atas kamarnya. Adka melihat istrinya masih menangis di tenangkan oleh Cia.
"Sayang aku udah pulang"Kata Gia menghampiri Gia duduk di sebelahnya.
Gia yang mendengar suara Adka, dirinya langsung menghamburkan pelukannya ke dekapan Adka. seketika tangis Gia langsung berhenti.
"Kenapa kamu tinggalin aku? aku takut kamu pergi"Kata Gia lirih dengan sesegukan.
"Udah cup cup cup, kan aku udah ada di sini"Kata Adka mengusap kepala Gia.
Namun tidak ada jawaban dari Gia, Adka heran dirinya melepaskan pelukannya sambil memegangi kedua bahu Gia.
Adka bersama Cia seketika panik, melihat Gia tidak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat. dengan cepat dirinya menggendong tubuh Gia untuk di bawa ke mobil.
Cia mengikuti langkah Adka menuju mobil sambil memberitahu Johan kalo dirinya mau ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit Adka dengan cepat menggendong tubuh Gia menuju IGD, dirinya bahkan terus mengusap wajah Gia dengan kepanikan yang sangat luar biasa.
Tidak lama Gia berada di dalam IGD, dari dalam keluar dokter. dengan cepat Adka dan Cia menghampiri dokter tersebut.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?"Tanya Adka tidak sabar.
"Beliau tidak apa apa. pasien hanya kecapean, untuk memastikan kecurigaan saya. mungkin pasien harus di bawa ke dokter kandungan"Kata Dokter itu dengan senyum ramahnya.
"Kena.."Kata Adka terputus oleh Cia.
"Baik dokter terima kasih"Kata Cia langsung memeluk dokter itu secara refleks karena saking senangnya.
Adka di buat bingung saja dirinya mengikuti langkah Cia masuk ke dalam ruangan IGD.
"Ka Gia"Teriak Cia sambil berlari memeluk tubuh Gia yang sedang di pindahkan oleh suster ke kursi roda.
Cia memeluk tubuh Gia dengan wajah tak henti henti tersenyum.
__ADS_1
"Kau kenapa? aku lihat kau sangat senang hari ini?"Tanya Gia.
"Hehe.. ayo cepetan Ka kita Let's go"Kata Cia sambil mengambil alih dorongan kursi roda dari suster.
"Hey pelan pelan!"Protes Adka saat Cia mendorong kursi roda agak kencang.
"Hehe.. iya maaf"Kata Cia cengegesan.
Adka menggelengkan kepalanya melihat tingkah Cia yang sangat bersemangat, dirinya hanya mengikuti dari belakang dengan Cia yang mendorong kursi roda ke tempat memeriksa kandungan.
"Kaka bawa masuk ka Gia. Cia akan tunggu di sini"Kata Cia dengan senyum merekah.
"Iya. ayo sayang"Kata Adka mendorong kursi roda masuk.
Gia di perintahkan dokter untuk tiduran di ranjang sambil di bantu oleh Adka. Adka masih saja sangat bingung saat melihat dokter cewek itu sangat pokus ke arah monitor di depannya.
"Tuan coba anda perhatikan layar monitor ini"Kata Dokter itu sambil menunjuk ke arah monitor.
"Emangnya ada apa di sana? itu hanya ada seperti dua titik yang sepertinya berbentuk seperti katak"Jawab Adka santai.
Dokter itu dibuat tercengang dengan tuntunan bicara Adka, dia kira Adka tau itu ala ternyata jawabannya salah. bahkan dirinya sangat menyesal menanyakannya.
"Itu adalah janin tuan. jadi dugaan saya benar. istri anda lagi mengandung, bahkan mengandung anak kembar, kandungannya baru satu minggu"Kata Dokter itu dengan senyum ramahnya.
"Oh lagi mengandung toh. hah.. apa dokter mangadung? berarti istri saya lagi hamil anak kembar dok?"Tanya Adka tak percaya dengan senyum mengembangnya.
Dokter itu hanya mengangguk. Adka dengan cepat menciumi semua wajah Gia saking senangnya.
"Sayang kamu hamil, kamu hamil anak kembar"Kata Adka memegangi tangan Gia.
"Sayang, aku akan jadi seorang ibu?"Tanya Gia dengan air matanya yang tidak bisa di bendung lagi.
"Iya kamu akan jadi seorang ibu dan aku jadi Ayah"Kata Adka sangat senang.
Adka membantu Gia agar turun dari ranjang. Karena masih sedikit lemas dengan perlahan Adka memapah Gia agar duduk di depan dokter.
"Jadi ada yang nona Gia rasakan akhir akhir ini?"Tanya Dokter itu dengan senyum manis.
"Saya sering merasakan sangat lemas kalo habis muntah muntah dan saya ingin selalu tidur di kasur bawaannya sangat malas, bahkan saya sangat aneh kenapa saya selalu saja sedih dengan hal sangat sepele"Jelas Gia.
"Nah ini yang harus diperhatikan buat tuan Adka. hormon ibu hamil berbeda beda, ibu hamil memang sangatlah sensitif. namun nona Gia tenang saja, muntah muntah di pagi hari sangatlah wajar untuk yang lagi menanggung bahkan yang mengandung muda kaya nona Gia ini"
"Nanti saya akan tuliskan obat buat meredakan mual mual, tapi inget tuan Adak. kalo nona Gia ingin sesuatu harus selalu di turutin, mungkin saja itu keinginan janin atau sering di sebut ngidam"Jelas Dokter itu.
"Ngidam? bahasa dari planet mana itu?"Tanya Adka bingung.
"Dan kenapa mual mual setiap pagi itu wajar, apakah kau tidak punya belah kasihan. istri saya selalu lemas anda bilang itu sangat wajar!"Seru Adka.
Dokter itu sangat bingung haru menjawab apa, Gia mencubit pinggang Adka dengan kencang membuat dirinya meringis. Gia memelototi Adka seperti mengartikan untuk dirinya diam.
"Apa kita boleh melakukan itu? apakah tidak apa apa?"Tanya Adka dengan santai membuat Gia memelototi Adka dengan pipi yang sudah memerah padam menahan malu.
"Santai saja, memang semua suami selalu menanyakan perihal itu. melakukan hubungan intim boleh saja asalkan pelan pelan dan tidak terlalu sering, kali bisa hanya seminggu tiga kali"Kata Dokter itu dengan senyum manisnya.
Setelah selesai penjelasan tentang seputar ibu hamil, Adka mengikuti langkah Gia dan Cia dari belakang untuk pulang.
Cia juga tampak sangat senang sekali saat mendengar Gia benaran sedang hamil. bahkan Adka di buat kesal karena sedari tadi Cia selalu saja nempel pada Gia.
Bahkan saat pulang pun Gia duduk di kursi belakang dengan Cia terus mengelus perut Gia yang masih rata dengan senyum merekah nya.
Membuat Adka semakin frustasi saja sekarang dirinya seperti supir yang mengantar majikannya. dirinya tidak bisa dekat sama sekali dengan istri tercintanya Cia tidak memberikan celah sedikitpun.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....