
Reina membuka matanya dengan perlahan. dirinya berusaha bangun untuk duduk, sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Matanya terus menelusuri tempat itu, dirinya mulai bingung apa yang terjadi dengan dirinya? kenapa sekarang dirinya bisa berada di sebuah kamar? kamar siapa ini?
Kakinya dengan perlahan turun dari ranjang untuk berjalan ke arah pintu kamar. namun belum juga melangkahkan kakinya, pintu kamar sedikit terbuka dari luar.
"Rein? ah syukurlah kamu udah sadar"Kata Wanita itu menghampiri Reina dengan wajah tampan bahagia.
"Ko kamu bangun sih mau kemana? kan kamu masih sakit, kamu tiduran aja"Kata Wanita itu mengusap pundak kanan, dengan ekspresi Reina masih saja diam.
"Bunda.."Guman Reina pelan.
"Iya sayang?"Kata Tania langsung merengkuh tubuh Reina.
Reina hanya diam di dalam dekapan Tania. Tania melepaskan pelukannya sambil menatap wajah Reina lekat.
"Bunda? kenapa Reina ada di sini?"Tanya Reina dengan suara lemahnya
"Sudahlah sebaiknya kamu istirahat dulu. nanti bunda ceritain. sebentar, Cia lagi di bawah buatin kamu bubur"Kata Tania membantu Reina agar kembali merebahkan tubuhnya lagi.
Reina menggangguk Kemabli tidur sambil terus memegangi tangan Tania. tidak lama pintu kamar Kemabli kebuka. Cia masuk dengan nampan berisi bubur di tangganya.
"Reina syukurlah kamu udah sadar"Kata Cia berjalan ke arah ranjang.
"Tadi aku dihubungi bunda kalo kamu pingsan. aku sangat terkejut, dengan cepat aku langsung datang kesini untuk memastikan"Kata Cia duduk di tepi ranjang sambil memegangi tangan Rein.
"Terimakasih"Kata Reina dengan senyum manisnya.
"Sudah sudah kita lanjut lagi nanti. sekarang kamu makan oke? sini Ci buburnya"Kata Tania menyodorkan tangganya.
"Kamu makan yang banyak biar cepet sembuh. tadi dokter kasih tau kamu belum makan dari pagi, itu yang membuat kamu pingsan."Jelas Tania sambil menyuapi bubur ke mulut Reina.
"Terimakasih bunda.."Kata Reina dengan senyum manis.
Setelah menyuapi bubur sampai habis Reina menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. dirinya benar benar lupa apa yang terjadi lagi saat sudah mengantarkan pesanan.
Tania menceritakan semua kejadian tadi. Reina terus mengucapkan terimakasih kepada Tania sambil terus memeluk tubuhnya.
"Makasih bunda, makasih karena telah tolongin Reina. dan makasih juga karena bunda selalu menyayangi Reina seperti anak bunda sendiri. Reina tidak tau harus ngomong gimana lagi dengan kebaikan bunda sama Cia"Kata Reina menangis haru sambil terus memeluk tubuh Tania.
"Sudahlah. kan bunda sudah bilang. kita semua sudah jadi keluarga, jadi kamu tidak boleh ngomong kaya gitu lagi"Kata Tania sambil mengusap sisa air mata di pipi Rein.
"Benar kita semua sudah menjadi keluarga"Kata Cia dengan senyum manisnya.
"Makasih bunda... Cia"Kata Reina memeluk Cia dan Tania.
"Ah jadi melow ini. sudah sebaiknya kamu istirahat. kamu hutang penjelasan sama kita tentang kamu tidak Kemabli lagi ke sini"Kata Tania mengusap kepala Reina lembut.
"Eh tapi dulu kamu bilang mau pulang kampung mau jemput adik kamu? sekarang dimana dia?"Tanya Cia membuat Reina membulatkan matanya sempurna.
"Aduh gimana aku bisa lupa sama dia. pasti adek di rumah cemaskan aku karena belum pulang"Kata Reina cemasnya
"Bunda, Cia maaf aku harus segera pulang"Kata Reina turun dari atas ranjang.
__ADS_1
"Apa sakit kepala mu sudah hilang sayang? sebaiknya kamu istirahat saja. kasih tau alamat kamu sekarang biar nanti bunda suruh ayah yang jemput adik kamu"Kata Tania.
"Tidak usah bunda, Reina tidak mau merepotkan kalian terus. Reina janji, Reina akan kesini lagi besok dengan adek"Kata Reina memegang tangan Tania
"Baiklah, tapi biarkan kamu pulang di anter sama supir"Kata Tania memelas karena sangat takut dengan keadaannya Reina di tambah sudah larut malam.
"Baiklah"Kata Reina sambil menghela nafasnya.
"Bunda, Cia titip salam buat ayah sama Ka Gia"Kata Reina.
"Iya pasti sayang"Kaya Tania mengusap ujung kepala Reina.
**
Tidak lama mobil yang ia tumpangi sudah sampai di gang rumah Reina. Reina berjalan menyusuri gang rumahnya yang sudah sepi karena sekarang sudah sangat petang.
Dan benar saja di depan rumah adiknya lagi mondar mandir dengan wajah khawatirnya.
"Teteh pulang"Kata Reina mendekati Cinta
"Teteh! teteh kamana wae (Keman aja) cinta khawatir teteh kenapa napa"Kata Cinta sambil merengkuh tubuh Reina dengan erat.
"Maaf teteh kerja lembur"Kata Reina mengusap kepala Cinta.
"Sudah ayo kita masuk, udara semakin dingin"Kata Reina mengusap kepala Cinta.
Cinta mengangguk. dirinya berjalan masuk secara beriringan sambil bergandengan tangan.
Reina dengan sabar terus mengusap kepala Cinta agar tidur. setelah mendengar suara nafas yang teratur, dengan perlahan dirinya memindahkan tangan adiknya.
Reina menggambil ponselnya yang berada di tasnya untuk di charger. saat sudah mengaktifkan ponselnya langsung banyak sekali notif panggilan suara tak terjawab dari Felly.
Reina langsung teringat dengan janjinya akan ke rumah Felly. dengan cepat dirinya langsung menghubungi nomor Felly.
Namun baru saja Reina akan ngomong, di sebrang sana Felly langsung menyambar dengan ucapannya.
"Reina sayang? kamu baik baik aja kan? tadi Linda kasih tau Tante kalo kamu pingsan. terus sekarang kamu gimana?"Tutur kata Felly di sebrang sana dengan panik
"Reina gapapa ko tante. Tante maaf tadi Reina tidak datang ke sana. pasti Tante sudah masak banyak"Kata Reina tidak enak.
"Tidak Apa apa yang penting kamu baik baik saja. besok pagi Tante ke sana"Kata Felly
"Tidak perlu repot-repot tante"Kata Reina tidak enak.
"Tante tidak repot sama sekali. pokonya Tante besok pagi ke sana"Kata Felly
Reina hanya mengiyakan, Reina kembali menyimpan ponselnya di meja. karena sekarang sudah sangat petang, Reina merebahkan tubuhnya di pinggir Cinta karena mulai mengantuk.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Gia hanya membolak balikkan tubuhnya di atas kasur terus mencari tempat ternyaman, namun tidak bisa. dirinya terus mengingat sang suami yang tidur di sofa luar.
Gia tidak biasa tidur tanpa di peluk sang suami, dan benar saja sekarang dirinya tidak bisa tidur.
__ADS_1
Dengan perlahan dirinya turun ke bawah menghampiri Adka yang tidur di sofa. Gia berdengus kesal saat melihat Adka terlelap nyenyak tidak seperti dirinya tidak bisa tidur.
Dengan kesal Gia naik ke atas tubuh suaminya dengan keras. sontak saja Adka yang sedang tidur sangat kaget saat merasakan ada sesuatu di atas tubuhnya.
Adka membuka matanya melihat siapa yang berada di atas tubuhnya. bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat sang istri duduk di atas tubuhnya dengan mencabikkan bibirnya.
"Eh kamu sayang. ngapain di sini? belum tidur? hoam aku masih ngantuk. sebaiknya kamu kembali lagi ke kamar kamu"Kata Adka pura pura menguap sambil kembali memejamkan matanya.
"Sayang... sayang, jangan tidur dong"Kata Gia sambil menggoyangkan tangan Adka pelan.
Namun masih tidak ada reaksi dari Adka. Adka masih memejamkan matanya pura pura tidur. pikirnya sekali sekali dia yang jailin istrinya.
Tapi di luar dugaan Adka. Gia yang tidak ada jawaban dari Adka dirinya mulai berkaca kaca menatap suaminya lirih.
Gia mulai terisak dengan kedua tangganya di wajah. dirinya sangat sedih melihat Adka tidur sementara dirinya sudah sangat ngantuk tetapi tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.
Adka yang mendengar suara isakkan tangisan istrinya dengan cepat dirinya bangun. Adka mengusap kepala Gia berusaha menenangkan namun tidak ada reaksi sama sekali.
Adka sangat panik, dirinya terus berusaha menenangkan, namun bukan berhenti tangisannya semakin menjadi.
Dengan perlahan Adka mengangkat tubuh sang istri ke pangkuannya. dan benar saja seketika tangisannya berhenti. Gia mendekap tubuh Adka dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidan Adka.
Adka dengan sabar terus mengusap punggung sang istri agar lebih tenang sambil terus mengecup kepala Gia sayang.
"Sudah jangan nangis, coba ceria sini kamu kenapa"Kata Adka sambil merengkuh tubuh sang istri yang masih sesegukan.
"Ka..kamu ja...ja..hat Adka. kamu ti..tinggalin ak..ak..ku sendiri"Kata Gia terengah-engah.
"Jagat?"Guman Adka sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah aku minta maaf oke karena sudah tinggalin kamu di kamar"Kata Adka pasrah agar istrinya tenang.
"A..ak..ku ti..dak bisa tidur"Kata Gia sambil terengah-engah.
"Kenapa kamu tidak bisa tidur Hem?"Tanya Adka melepaskan pelukannya sambil mengelus puncak kepala Gia menatap wajah yang masih menunduk.
"Aku ga bi..sa tidur karena kamu ga peluk aku"Kata Gia langsung memeluk tubuh Adka lagi untuk menyembunyikan pipinya yang merah.
Adka menyunggingkan senyum sambil mengelus rambut Gia. dengan perlahan dirinya mengangkat tubuh sang istri untuk menggendongnya.
Adka menggendongnya sang istri ke atas dengan Gia masih menyembunyikan wajahnya di leher sang suami.
Dengan perlahan Adka menurunkan Gia di ranjang. dirinya menyusul Gia naik ke atas kasur. Gia langsung memeluk Adka dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adka.
"Sekarang kamu tidur oke? ini sudah malam"Kata Adka sambil terus mengelus rambut Gia.
Di sela dekapan Gia menggangguk kan kepalanya sambil memeluk Adka erat. Adka terus mengelus rambut Gia agar tidur.
Dan benar saja, Gia sudah terlelap di dalam pelukannya. Adka mencium dahi Gia lembut. dirinya sekarang sangat kewalahan dengan sikap istrinya yang sering berbeda beda.
Karena sekarang sudah sangat malam, Adka menyusul sang istri ke alam mimpi dengan mendekap tubuhnya dengan erat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1