
Gia masih tertidur lelap di pelukan Adka. karena akibat kegiatan panas mereka semalam, Gia baru bisa tidur jam tiga pagi.
Adka menatap wajah istrinya yang masih di terlelap di dalam dekapan nya, dirinya enggan untuk bangun saat istrinya memeluknya sangat erat membuat dirinya susah untuk bergerak.
Adka mengusap pipi Gia dengan pelan sambil terus menciumi wajah sang istri. Gia terganggu dengan pergerakan Adka, membuat dirinya menggeliat pelan sambil mengeratkan pelukannya.
"Gia sayang, bangun dulu yu udah siang"Bisik Adka sambil mengecup pipi Gia.
"Nghh... lima menit lagi honey"Kata Gia sambil terus membenamkan wajahnya di dada bidang Adka.
"Istrinya siapa sih ini.."Kata Adka menarik gemas hidung Gia.
"Ih yang sakit tau"Kata Gia kesal sambil mengusap hidung nya dengan masih memejamkan matanya.
"Udah ayo bangun, katanya mau jalan jalan"Kata Adka sambil mengusap rambut Gia.
Gia dengan berat hati membuka matanya perlahan, dirinya mendudukkan diri terlebih dahulu sambil mengangkat selimut sampai ke atas lehernya.
Karena kegiatan panas kemarin malam, sekarang dirinya lagi tidak memakai busana sama sekali. Gia merasakan tubuhnya terasa sakit semua.
"Kiss pagi dulu"Kata Adka dengan senyum manisnya.
"Hupt...selalu saja tidak lupa kalo soal itu"Kata Gia sambil mendekatkan bibirnya.
Namun sebelum bibirnya menempel di bibir Adka, Gia langsung menutup hidungnya dan mulutnya.
Perutnya tiba tiba merasa sangat mual saat mencium aroma tubuh suaminya, Gia dengan cepat langsung lari ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya tanpa memperdulikan tubuhnya yang polos itu.
Adka langsung panik bukan main saat mendengar suara Gia muntah muntah di dalam kamar mandi, dirinya langsung menyusul ke kamar mandi.
Dengan langkah cepat dirinya menghampiri istrinya yang masih memuntahkan isi perutnya.
"Gia sayang, kamu kenapa? apakah kamu sakit?"Kata Adka panik dengan mencoba memegang bahu istrinya.
"Sayang, aku mohon jangan mendek..."Kata Gia terputus saat mulutnya kembali mengeluarkan isi perut nya.
"Sayang, sayang... sebaiknya kita ke rumah sakit saja okey?"Kata Adka terlihat panik melihat istrinya terus mengeluarkan isi perutnya.
"Tidak perlu, kayanya aku masuk angin biasa saja, mungkin kalo aku istirahat akan lebih baik"Kata Gia dengan suara lemahnya.
"Baiklah, ayo aku bantu ke kasur"Kata Adka sambil mengulurkan tangganya namun langsung di tepis oleh Gia.
"Aku bisa sendiri honey, sebaiknya kau jauh jauh dulu dari ku, setiap mencium aroma tubuh mu aku terus merasa mual"Kata Gia sambil keluar dari kamar mandi dengan sekuat tenaga.
Dirinya kembali merebahkan tubuhnya setelah memakai bajunya kembali. Adka di buat khawatir saja saat melihat wajah istrinya semakin pucat.
Dirinya terus berusaha membujuk Gia untuk periksa ke dokter, namun bukan Gia kalo dirinya tidak keras kepala. Gia menolaknya, dia terus mengelak hanya masuk angin biasa yang di tidurkan saja nanti juga sembuh.
Adka pergi ke dapur untuk membuat kan Gia bubur, namun dirinya masih bingung gimana cara membuat bubur? memasak air saja dia tidak bisa.
"Ad, lagi ngapain?"Tanya Cia menepuk bahu Adka yang masih mematung bingung.
"Ah kebetulan, tolong buatkan Gia bubur. Gia lagi sakit"Kata Adka antusias.
"Ka Gia sakit? sakit apa? apa udah di bawa ke dokter? terus keadaannya sekarang gimana?"Cerocos Cia tanpa jeda dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Oh my, kau tidak bisa perlahan apa, aku sampai tidak bisa menjawabnya satu persatu"Kata Adka kesal.
"Maaf aku terlalu menghawatirkan ka Gia"Kata Cia dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Cepatlah buatkan buburnya kasian istriku belum makan apapun"Kata Adka sambil berjalan lagi ke arah kamarnya
Kebetulan Johan yang baru keluar dari kamarnya, dirinya mendengar suara ribut di arah dapur, dengan cepat dirinya melihat ke sana.
"Lagi ngapain hem?"Tanya Johan memeluk Cia dari belakang sambil menciumi pipi Cia
"Ini aku lagi buatkan Ka Gia bubur, katanya dia lagi sakit"Kata Cia sambil mengaduk buburnya.
"Wow apakah Adka terlalu bersemangat menyengat Gia? sampai Gia sakit begitu"Kata Johan.
"Ah iya ya? wah kalo benar ka Gia kelelahan karena memuaskan nafsunya akan aku bubur dia seperti bubur ini"Kata Cia kesal.
**
Adka membuka pintu dengan perlahan, dirinya duduk di tepi ranjang sambil mengusap kepala Gia yang masih terlelap tidur.
Tidur Gia terganggu, dirinya dengan perlahan membuka matanya, Gia berusaha bangun untuk menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang.
"Aww..."Ringis Gia sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Sini aku bantu, em kepala mu pusing?"Tanya Adka sambil mengusap sayang kepala Istrinya.
"Heem"Kata Gia sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan suaminya.
"Sebentar aku ambilkan dulu bubur di bawah, Cia lagi membuatnya. kamu harus makan okey"Kata Adka mengusap pipi Gia sambil mengecupnya dengan singkat.
"Eh sayang kenapa? apa ada yang sakit? beritahu aku yang mana?"Panik Adka saat melihat istrinya.
"Jangan tinggalin aku"Kata Gia menarik tangan suaminya ke dalam pelukannya sambil memeluknya dengan erat.
Adka di buat bingung dengan sikap Gia, tadi istrinya muntah muntah karena mencium aroma tubuhnya, dan sekarang istrinya terus menempel padanya.
"Hey honey ada apa dengan mu? kau tidak mual lagi mencium aroma tubuh ku?"Tanya Adka sambil terus mengelus rambut Gia.
Gia menggelengkan kepalanya di sela pelukannya, Gia malah terus mengeratkan pelukannya di tubuh Adka.
Adka terus mengelus rambut Gia sayang, namun pintu kamarnya terbuka memperlihatkan Cia dan Johan masuk dengan sebuah nampan bubur yang di bawa oleh Johan.
"Ka Gia sakit apa?"Kata Cia khawatir mendekati Gia di ranjang.
"Tidak apa apa, mungkin hanya kecapean sama masuk angin biasa saja"Kata Gia sambil senyum manis.
"Ad ka Gia sakit bukan karena ulah kamu kan?"Tanya Cia dengan wajah menyelidik.
"Heh emangnya aku berbuat apa?"Tanya Adka bingung.
"Hey kawan kau tidak menyengat Gia sampai pagi bukan? Sampai membuat Gia kelelahan?"Tanya Johan.
Adka menyadari kesalahannya, emang dirinya semalam menyengat bisanya dengan membabi buta, tubuh istrinya membuat dirinya candu dirinya tidak pernah puas.
"Adka?"Kata Cia dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Ah.. itu... iya mana buburnya Gia belum makan sedari tadi"Kata Adka mengalihkan pembicaraan.
Gia hanya tersenyum dengan wajah pucat nya melihat tingkah Adka yang terpojok dengan pertanyaan kedua suami istri itu.
Kini hari sudah semakin siang, Cia pamit karena dirinya harus mengantarkan makan siang buat suaminya di kantor.
Gia masih sama, dirinya masih berbaring di ranjang dengan memeluk tubuh suaminya dengan erat. Adka dibuat tidak bergerak oleh Gia.
Adka dibuat bingung dengan sikap Gia hari ini, tidak biasanya istrinya itu sangat manja padanya.
Bahkan dirinya ingin menggambil air minum ke bawah pun Gia merengek akan menangis dengan terus mengucapkan Adka akan pergi meninggalkannya.
Dirinya juga menelpon sekertarisnya buat membatalkan pertemuannya dengan klien siang ini, bangun untuk menggambil minum saja membuat Gia akan menangis bagaimana dirinya pergi ke kantor?
Gia terus mengelus dada Adka dengan tangannya, dirinya membiarkan apa yang Gia berbuat sambil terus mengelus kepala istrinya sambil mengecup dahi.
"Sayang"Kata Gia sambil terus mengelus dada Adka.
"Iya Gia sayang, ada apa?"Tanya Adka menatap lekat lekat wajah Gia.
"Em kamu mau kan turutin semua keinginan aku"Tanya Gia menatap suaminya penuh harap.
"Apapun untuk istri tercinta dan tersayang aku"Kata Adka mengecup kepala Gia.
"Benarkan?"Tanya Gia berbinar sambil mendudukkan dirinya di atas kasur.
Adka di buat heran, kemana wajah lesi istrinya itu?
"Heem, kamu mau apa Gia sayang?"Tanya Adka mengusap kepala Gia sayang.
"Aku mau makan cilok"Kata Gia.
"Baiklah kau tunggu sebentar aku akan membelikan nya"Kata Adak mengecup mesra pipi Gia.
"Tapi aku mau cilok yang jualannya mempunyai lesung pipi"Kata Gia senyum dengan memperlihatkan giginya.
Bagai di sambar petir di siang bolong, dirinya melongo saat mendengar permintaan istrinya. kang cilok yang jualannya punya lesung pipi? ah yang benar saja.
"Sayang itu sangat susah, yang ga punya lesung pipi juga kan sama"Kata Adka membujuk.
"Pokoknya aku ga mau tau, aku mau cilok yang jualannya mempunyai lesung pipi!"Lirih Gia dengan mata berkaca-kaca.
Adka membuang nafasnya dengan kasar, dirinya dibuat semakin bingung saja tadi tingkah Gia yang sangat aneh, dan sekarang? keinginannya yang di luar nalar pikirnya.
"Baiklah, aku akan mencarinya"Pasrah Adka mengusap rambut Gia.
"Benarkah?"Kata Gia dengan mata berbinar.
"Iya kau istirahat lah"Kata Adka mengusap kepala Gia sambil berusaha tersenyum.
Adka menyambar kunci mobilnya sambil keluar dari kamar, sekarang dirinya harus mencari kang cilok yang mempunyai lesung pipi kemana? dirinya frustasi dengan permintaan istrinya yang sangat aneh.
"Aghh... kalo tau istriku menginginkan cilok dengan penjualnya yang mempunyai lesung pipi, mungkin dulu kalo ketemu yang jualan cilok aku akan mencolok pipi mereka dengan paku biar mempunyai lubang"Gerutu Adka kesal sambil berjalan ke arah mobilnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1