
Gia terbangun saat merasakan akan membuang air kecil, namun saat akan bangun, perutnya terasa berat seperti ada tangan kekar sedang memeluknya.
Gia melihat ke bawah perutnya ternyata benar saja, ada sebuah tangan melingkar di perutnya.
Dengan perlahan Gia menyingkirkan tangan Adka dari perutnya saat merasakan sudah tidak tahan lagi untuk pipis.
Gia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk segera pipis, setelah sudah lega, dirinya menghampiri Adka yang masih terlelap tidur di atas ranjang.
Gia mengusap pipi Adka, sambil mencolek hidung mancung milik Adka.
Gue tidak bisa bayangkan muka Adka kemarin malam, pasti dia sangat kesal sekali, ck... ck Gia
Karena sentuhan tangan Gia mengganggu tidur Adka, dengan perlahan Adka membuka mata, hal yang pertama kali dia lihat adalah wajah Gia yang sangat dekat dengan senyum manisnya.
"Morning honey"Kata Gia sambil senyum manisnya.
"Heem"Dehem Adka sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Gia.
"Sayang ada apa dengan mu?"Tanya Gia bingung.
"Tidak ada"Singkat Adka.
"Sayang apakah gara gara kemarin malam?"Tanya Gia sambil memeluk Adka dari belakang.
Namun Adka masih tidak bergeming, Gia yang kesal langsung naik ke atas tubuh Adka, membuat Adka membalikan posisi tidurnya terlentang menatap Gia.
Gia dengan jahilnya mengelus dada Adka yang tidak mengenakkan baju, sesekali meniupi telinga Adka.
"Masih marah?"Tanya Gia dengan suara sensual sambil terus mengelus dada dengan memainkan sedikit bulu bulu dadanya Adka.
Adka tidak merespon dirinya hanya memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan tangan Gia, Gia yang melihat itu pun tersenyum senang.
Sekarang Gia tidak lagi memainkan tangganya dirinya mengecupi leher, membuat Adka semakin terbuai saja.
Dengan kejahilan Gia, dirinya duduk tepat di atas pedang Jepang Adka sambil sesekali menggesek gesekkan nya.
Adka membuka matanya saat aset di bawah sana sudah menegang sempurna saat ada benda sesuatu di bawah sana yang nakal.
Adka tidak tahan lagi menahan hasratnya yang semakin tinggi. Dirinya dengan cepat langsung membalikkan tubuh Gia menjadi di bawah Adka.
Mata Adka yang memerah dengan nafasnya yang semakin memburu. Tanpa membuang waktu lama dirinya langsung menciumi bibir Gia seperti orang kesetanan.
Dengan tangganya yang masuk ke dalam kaus belakang Gia, membuka pengait bra. Dengan cepat tangganya mengelucuti tubuh Gia, tidak lama Gia sudah polos tanpa baju.
Adka semakin liar saja ciumannya turun ke bawah saat dua benda kenyal sudah menantang, kecupan yang di berikan Adka membuat tubuh Gia panas dingin seketika sambil mengeluarkan desahan.
Namun Gia merasakan di milik bagian bawah sana ada yang hangat, Gia berusaha mendorong tubuh Adka agar menjauh.
Adka masih saja acuh, Gia semakin kesal, dirinya menendang perut Adka agak keras membuat Adka bangun sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Ah sayang kayaknya aku datang bulan"Kata Gia menyengir kuda.
"Shitt... Terus ini aku gimana?"Tanya Adka melirik miliknya lesu.
"Kamu main solo lagi ya"Kata Gia santai.
"Aghhhh... Menyebalkan sekali kenapa selalu saja gagal"Kata Adka sambil mengacak ngacak rambutnya frustasi.
Dengan wajah kesalnya Adka masuk ke dalam kamar mandi sambil terus mengumpat.
Ini semua gara gara Johan dan Papa Riza, gue gagal membuka segel yang ke dua kalinya, awas saja nanti gue akan balas. Adka
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
Reina terbangun saat mendengar suara adzan subuh. Dirinya langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sekalian mandi.
Saat sudah menunjukan pukul lima pagi, dirinya langsung bersiap. Rein membangunkan adiknya terlebih dahulu sebelum dirinya berangkat bekerja.
"Dek bangun yu, udah mau siang loh"Kata Rein menepuk tangan Cinta.
"Iya teh"Kata Cinta bangun dari tidurnya dengan mata yang masih terpejam.
"Kamu hati hati ya di rumah, teteh mau berangkat kerja dulu"Kata Rein mengusap rambut Cinta.
__ADS_1
"Iya teh hati hati, semoga hati pertama teteh kerja lancar"Kata Cinta dengan senyum manisnya.
"Iya teteh berangkat assalamualaikum"Pamit Rein sambil mencium sekilas kening Cinta.
Rein berjalan menuju ke jalan raya, uangnya hanya cukup untuknya naik anggot saja, bahkan hanya untuk berangkat, mungkin nanti pulangnya Rein akan berjalan kaki.
Di sepanjang perjalanan Rein terus tersenyum senang, namun senyumnya seketika hilang saat angkot berhenti di lampu merah.
Rein melihat ke mobil di sebelahnya melihat seseorang yang tidak asing baginya.
Rein menatap sendu wajah Tania yang duduk di kursi belakang, saat Tania juga menatapnya Rein dengan cepat langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Maaf bunda, Rein tidak mau merepotkan kalian lagi, Rein terlalu malu, Rein hanya orang kampung dan tidak punya apa apa, Rein merasa tidak pantas berada di dekat kalian. Reina
Kini angkot yang Rein tumpangi berhenti di depan gedung perusahaan besar. Dirinya langsung masuk ke dalam loby yang masih sepi tanpa karyawan.
Dirinya melihat sekeliling mencari seseorang, namun matanya menangkap seorang pria yang berjalan ke arahnya.
"Reina?"Tanya lelaki itu.
"Iya saya Reina, Ko bapak bisa tau nama saya ya?"Tanya Rein menatap lekat wajah pria itu.
"Ah iya perkenalkan nama saya Roy, saya ketua OB di sini"Kata Roy sambil menyodok tangganya.
"Salam kenal pak, semoga saja pekerjaan saya tidak mengecewakan bapak"Kata Rein ramah sambil menerima uluran tangan Roy.
"Jangan panggil bapak, kau panggil ku nama saja, kayanya umur kita tidak terlalu jauh buat menjadi bapak mu"Kata Roy dengan senyum manisnya.
"Saya tidak berani pak"Kata Rein sambil menunduk.
"Tidak apa agar bisa lebih Akbar saja"Kata Roy menatap intens wajah Rein.
"Em iya kalo begitu saya permisi untuk bekerja dulu, permisi"Kata Rein senyum ramah sambil meninggal Roy begitu saja.
"Wanita yang sangat menarik"Guman Roy tersenyum sambil melihat punggung Rein yang semakin menjauh.
Rein kebingungan dirinya dengan bodohnya tidak menanyakannya kepada Roy ruangan OB dimana, namun dirinya melihat seorang wanita dengan cepat Rein mendekati wanita tersebut.
"Oh ruangan OB, ayo ikut saya, saya juga sekalian mau ke sana"Kata wanita itu ramah.
Rein menggangguk sambil mengikuti langkah wanita itu.
"Em tadi kau mengerti perkataan ku?"Tanya Rein
"Iyap, aku juga asal dari Sunda ko, hanya merantau ke kota ini"Kata Wanita itu.
"Wah kebetulan sekali, perkenalkan nama ku Reina"Kata Rein menyodorkan tangan.
"Saya Friska"Kata Friska menerima uluran tangan.
"Apa kau sudah lama fris bekerja di sini?"Tanya Rein sambil berjalan beriringan.
"Lumayan sudah satu tahunan lah kurang lebih"Kata Friska menatap sekilas Rein.
"Apakah kau anak baru di sini? Aku berasa tidak pernah melihat mu"Kata Friska menatap Rein di sebelahnya.
"Iya aku anak baru, aku baru bekerja hari ini"Kata Rein.
"Nah sudah sampai"Kata Friska saat sudah berada di depan pintu.
"Terimakasih fris"Kata Rein tersenyum ramah.
"Iya tidak masalah ayo masuk"Kata Friska menggandeng tangan Rein masuk ke dalam.
"Loh ko kamu ikut masuk sih"Kata Rein bingung.
"Astaga terus aku mau masuk kemana, kan aku bekerja sebagai office girls"Kata Friska.
"Wah benar kah? Kita bisa jadi teman dong?"Kata Rein antusias.
"Muhun Neneng Rein, jug buru genti baju office girls kaditu (Iya neneng Rein, noh cepet ganti baju office girls ke sana"Kata Friska menunjuk rak di pojok sana.
"Siap komandan"Kata Rein langsung menggambil baju di dalam rak tersebut.
__ADS_1
Setelah sudah memakai baju office girls, Rein dan Friska mulai membereskan semua ruangan, dengan mengepel lantai, mengelap kaca kaca dan yang lainya.
Mereka mengerjakan pekerjaan itu dengan tawa riang dari keduanya, Friska sekarang juga tidak lagi kesepian saat datangnya Rein, obrolan mereka juga nyambung membuat mereka berdua nyaman.
Siang harinya mereka berdua beristirahat di ruangan nya di sebuah kursi. Mereka terlentang di kursi tersebut dengan keringat bercucuran.
"Hah.. sangat lelah sekali. Kenapa OB di sini sangat sedikit di gedung perusahaan yang sangat besar ini"Kata Rein menatap langit langit ruangan itu.
"Itulah banyak orang yang tidak mau pekerjaan rendah ini, banyak mereka yang melamar kerja di sini namun saat di beri tahu hanya bagian OB saja yang kosong mereka tidak jadi melamar pekerjaan"Jelas Friska.
"Sudah lah kita cari minuman dingin di kantin kantor, tenggorokan ku terasa kering, kan cuman ruangan CEO saja yang belum di bersihkan"Kata Rein bangun dari tidurnya.
"Baiklah ayo"Kata Friska menggandeng tangan Rein keluar ruangan.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin, setelah membeli minum yang di traktir oleh Friska mereka kembali lagi untuk keruanga nya.
Namun di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan Roy, Roy meminta buat Friska membersihkan toilet yang mungkin terlewat.
Sementara Rein di tugaskan untuk membersihkan ruangan CEO.
Rein menaiki lift untuk ke lantai atas, tidak lama pintu lif terbuka, karena sudah di beri tahu letak ruangan CEO oleh Roy, Rein langsung masuk ke dalam ruangan yang Roy beritahu.
Rein berdecak kagum saat melihat ruangan itu yang terlihat sangat luas, mungkin ruangan itu sebesar rumah kontrakan yang ia tempati sekarang.
Rein mulai membereskan setiap inci ruangan tersebut. Saat sedang mengelap meja CEO, Pintu ruangan itu akan terbuka, karena Rein kaget dirinya langsung bersembunyi di bawah meja CEO.
"Bagaimana apakah nanti sore saya ada jadwal?"Tanya pria itu.
"Ada tuan muda, nanti sore kita ada pertemuan dengan perusahaan Maxsim"Jelas pria satunya lagi.
Pria itu menyimpan jasnya di kurs kerjanya, namun saat akan duduk di kursi kebesarannya dirinya menangkap seorang wanita sedang bedara di bawa meja kerjanya sambil memejamkan matanya.
"Hey kau keluar dari sana!"Bentak Pria itu menggeram.
Rein yang mendengar bentakan pria itu dengan ketakutan Rein keluar dari bawah meja dengan ragu ragu.
"Ngapain kau di ruangan ku! Kau mau mencuri ya!"Bentak Pria itu sambil menatap tajam Rein.
Rein memberanikan diri menatap pria di depannya itu, mata keduanya langsung membulat sempurna saat melihat wajah masing masing.
"Kau"Ucap mereka bersamaan.
"Hey wanita gila, kau lagi? Kau mencuri ya di ruangan ini?"Kata Pria itu mentap tajam Rein.
"Harusnya aku yang mencurigai mu, kenapa kau berada di ruangan CEO Perusahaan ini?"Kata Rein tak kalah menatap tajam.
"Dia tidak tahu siapa diriku? Wah yang benar saja"Guman pria itu.
Pria itu menyunggingkan senyum dunianya, sementara pria satunya lagi hanya diam di belakang pria itu.
"Wah benar bener wanita itu lagi, aku sangat kagum dengan keberaniannya membentak tuan muda"Guman pria yang satunya lagi.
"Nih baca dengan benar!"Kata Pria menyodorkan kartu namanya.
"Apa ini?.."Tanya Rein sambil membolak balikkan kartu nama itu.
"Apa kau tidak bisa lihat itu kartu nama bodoh!"Seru Pria itu kesal.
"Saya tau, makanya kalau saya bicara anda jangan seenaknya memotong ucapan saya"Kata Rein menatap kesal pria itu.
"Coba kau lihat nama saya dan nama CEO di meja sana"Kata Pria itu tersenyum sinis menunjuk meja yang ada nama CEO.
"Kurang kerjaan saj.. eh tunggu tunggu"Kata Rein terus membaca nama di kartu nama sama di meja kerja CEO.
Wajahnya seketika memucat saat nama yang berada di meja CEO sama dengan kartu nama yang pria itu berikan.
"Galuh Fernando Pratama"Guman Rein menatap nanar nasibnya yang tidak aman.
BERSAMBUNG....
***Woy woy woyy like, komen, and vote nya mana sayang😭😭... Othor santet lama lama kalian Semua 😭🤣.
Canda eh ada yang inget nama panjang Reina? yang inget komen okey Beby, Othor lupa😭🤣***
__ADS_1