Si Pembuat Ulah Jatuh Cinta

Si Pembuat Ulah Jatuh Cinta
Part 66


__ADS_3

Kedua motor ojek online berhenti di depan rumah yang sangat megah bak istana itu. Reina dan Cinta berjalan menuju gerbang yang dijaga oleh satpam.


"Wah teh rumahnya meuni Alus kie kawas di dongeng dongeng ( Bangus gini kaya di dongeng dongeng)"Kata Cinta berdecak kagum melihat sebuah rumah megah di depannya.


"Iya ayo kita masuk"Ajak Reina menarik pelan tangan Adiknya.


"Teteh beneran kenal sama orang rumah di sini?"Tanya Cinta memastikan.


Reina hanya menggangguk, setelah sudah di bolehkan masuk oleh satpam rumah Tania. Reina menggandeng tangan adiknya menuju pintu rumah.


Tok tok tok


"Assalamualaikum"Teriak Reina sambil mengetuk pintu.


"Waalaikusalam sebentar"Teriak seseorang dari dalam rumah.


Tidak lama pintu rumah terbuka, dari dalam menampakkan wajah wanita cantik dengan rambut di gerainya. wanita tersebut masih mematung dengan wajah terus menatap Reina lekat.


Tanpa di duga wanita itu dengan cepat memeluk tubuh Reina dengan erat.


"Reina, ini benar kan kau? kenapa kau tidak kembali lagi ke sini?"Tanya wanita itu terus memeluk tubuh Reina erat.


"Maaf ka Gia. Reina takut merepotkan kalian semua"Jawab Reina melepaskan pelukannya.


"Kau tidak boleh bicara seperti itu. kita kan keluarga. eh apakah ini adik kamu?"Tanya Gia melirik Cinta.


"Halo teh, saya Cinta adiknya teh Rere"Kata Cinta dengan senyum manisnya.


"Baiklah ayo masuk tidak enak kita terus disini, kebetulan semuanya lagi berkumpul"Kata Gia sambil menggandeng tangan Reina dan Cinta masuk.


"Tante, om lihat deh Gia lagi sama siapa!"Teriak Gia menuju ruang keluarga membuat semua yang ada di sana menatap ke arah Gia.


"Selamat malam. Bunda, ayah dan ka Adka"Kata Reina dengan senyum manis.


"Ya Tuhan jadi yang di katakan bunda benar Rein kembali lagi?"Kata Arman tak percaya.


"Kesini lah nak, ayah sangat merindukanmu"Kata Arman sambil merentangkan kedua tangannya.


Reina berlari kedalam pelukannya Arman. Arman masih tidak percaya bisa ketemu lagi dengan Rain. tangganya terus mengusap rambut Reina.


"Kenapa kamu gak kembali lagi Rein? ayah sangat merindukanmu"Tanya Arman dengan tangan masih terus mengusap rambut Reina.


"Maaf Ayah, Rein takut ngerepotin kalian terus"Kata Reina melepaskan pelukannya sambil menunduk.


"Reina kita kan sudah menjadi keluarga, kau ingat dulu kan. jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi ayah tidak suka mendengarnya"Kata Arman mengusap tangan Reina.


"Ayah mau tanya, apa benar kamu dulu pergi dari rumah bibi kamu?"Tanya Arman.


"Iya, Reina mau di jodohkan lagi sama bibi ayah" Lirih Reina menundukkan kepalanya.


"Keterlaluan banget mereka, kalau bunda ada si sana bunda akan jambak tuh rambut bibi kamu."Kata Tania tersungut emosi.


"Sudahlah kan sudah laku, yang penting kan Reina sudah di sini"Kata Reina mengusap tangan Tania yang berada di sebelahnya.


"Oh iya. bunda, ayah kenalin itu adik aku Cinta"Kata Reina menatap Cinta duduk di depannya.


"Halo om, tente"Kata Cinta tersenyum canggung.


"Panggil kita kaya kakak kamu saja sayang"Kata Tania dengan senyum manisnya.


Mereka bercanda gurau melepas kerinduannya bersama Reina. Cinta juga sekarang sudah tidak canggung lagi, bahkan sekarang dirinyalah yang selalu membuat lelucon untuk mereka tertawa.


Saking asiknya mereka tanpa sadar Cia dan Johan tidak ada di sana.


"Eh iya bunda, ka Cia sama ka Johan kemana ga keliatan?"Tanya Reina.


"Mereka tadi keluar mau beli mie ayam katanya"Jelas Tania.


...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...

__ADS_1


Johan menghentikan mobilnya di depan warung mie ayam yang berada di pinggir jalan. Cia waktu kecil sering ke sana, walaupun tempatnya berada di pinggir jalan tetapi rasanya tidak diragukan lagi.


"Mang Yono mie ayam nya tiga"Kata Cia sambil duduk di kursi.


"Wah neng Cia sekarang mah ni geulis (cantik) pisan euy. sama siapa neng itu, ni gagah Jeung (sama) ganteng"Kata Pak Yono.


"Suami Cia mang"Kata Cia dengan senyum manisnya.


"Wih udah nikah aja. bentar neng mang siapin dulu"Kata mang Yono.


"Sayang ko tiga sih, satu lagi buat siap"Tanya Johan


"Buat aku"Kata Cia sambil tersenyum.


"Muat gitu?"Tanya Johan meraba perut Cia memperhatikan


"Muat dong ka. aku laper banget"Kata Cia sambil memperlihatkan deretan giginya.


Tidak lama pesanan mereka datang. Johan masih tidak percaya melihat istrinya makan dua mangkuk mie ayam sekaligus dengan lahapnya.


Bahkan mie ayam miliknya masih utuh tidak di makan sedikitpun saking asik memperhatikan Cia makan.


"Sayang itu beneran kamu kan? kamu ga lagi kerasukan?"Tanya Johan menatap tak percaya melihat kedua mangkuk mie ayam sudah habis tak tersisa.


"Ih ka Johan. iya lah ini aku"Kata Cia mencabikkan bibirnya.


"Hehehe... maaf dong sayang kan aku cuman memastikan"Kata Johan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tau ah. sini mi ayamnya Cia masih mau"Kata Cia sambil menyambar mangkuk mie ayam Johan yang masih utuh.


Johan hanya pasrah dengan mata terus memperhatikan Cia makan mie ayam miliknya. jujur saja dirinya juga lapar karena saat akan makan malam bersama Cia mengajaknya keluar.


Matanya terus memperhatikan bibir Gia yang terus mengunyah, berasa air liurnya akan jatuh melihat mie ayam miliknya sedang di makan lahap oleh sang istri.


Kini satu mangkuk mie ayam sudah habis lagi. Cia memegangi perutnya yang terasa kenyang.


"Sayang ayo kita cepet pulang ini mah gawat"Kata Johan menarik pelan tangan Cia saat pikirannya memikirkan kalau istrinya beneran kerasukan jin makanan.


"Udah ga usah banyak tanya, mang itu uangnya saya taro di atas meja"Teriak Johan sambil terus menarik tangan Cia menuju mobil.


Tetapi saat akan masuk ke dalam mobil, dari arah belakang ada seseorang memanggil nama Cia. Cia dan Johan dengan refleks melihat ke arah belakang nya.


"Kamu Cia kan?"Tanya pria tersebut.


"Iya. kamu siapa ya?"Tanya Cia mengernyitkan dahinya.


"Aku Gery temen kecil kamu dulu"Kata Gery dengan senyum.


"Wah Gery? apa kabar kamu? ko jarang keliatan dan ga pernah main ke rumah Cia lagi sih?"Tanya Cia.


"Aku dulu ikut sama ayah aku ke luar negeri"Kata Gery.


"Oh. kirain ke mana"Kata Cia


"Kau sekarang semakin manis dan cantik aja"Kata Gery dengan senyum manisnya membuat mata Johan melotot sempurna.


"Ekhem"Dehem Johan dengan hati yang mulai panas.


"Eh sampai lupa, ka Johan kenalin ini Gery temen kecil aku dulu"Kata Cia menggandeng tangan Johan.


"Halo ka. sejak kapan kamu punya Kakak Ci aku ko gak tau?"Tanya Gery sambil memperhatikan tangan keduanya yang bergandengan.


"Saya suaminya Cia"Kata Johan dingin sambil menekan kata suami.


"Sudah yu sayang kita pulang"Kata Johan membelai pipi Cia.


"Baiklah. Gery aku pulang dulu ya. assalamualaikum"Kata Cia dengan senyum manisnya.


"Iya. waalaikusalam"Kata Gery dengan senyum terpaksa.

__ADS_1


Mobil Johan melesat dengan kecepatan sedang. namun mata Gery terus memperhatikan mobil Cia dengan tatapan sendunya.


Gery sejak kecil sudah menyimpan perasaannya kepada Cia. namun ayahnya menyuruh Gery untuk sekolah di luar negri, dengan berat dirinya harus berpisah dengan Cia.


Pikirnya kalau dirinya pulang akan langsung melamar Cia, namun sekarang harapannya sudah hilang saat mendengar kalo Cia sudah menikah.


Di dalam mobil Johan fokus menyetir dengan perasaan kesalnya. gara gara Cia menyebut dirinya Kakak membuat orang salah paham.


Bahkan dengan berani seorang pria memuji kecantikan sang istri secara terang terangan di depannya.


Johan melirik sekilas ke arah Cia yang masih bodo amat. Cia bahkan duduk dengan matanya yang melihat ke luar jendela.


Namun tiba tiba kepalanya terasa sangat pusing. dirinya dengan berusaha menahannya agar tidak membuat Johan khawatir


"Sayang aku mau kamu mengganti panggilan kamu ke aku"Kata Johan memecahkan keheningan.


"Kenapa? aku nyaman dengan panggilan ke ka Johan"Kata Cia menatap Johan dengan sakit di kepalanya.


Johan mentap wajah Cia yang tampak pucat, namun dirinya masih kesal dengan panggilan Kakak membuat orang menyangka dirinya kakaknya Cia.


"Pokoknya aku tidak suka kamu panggil dengan sebutan Ka johan"Seru Johan kesal membuat dirinya tidak sadar membentak Cia saat membayangkan Kemabli pria tadi memuji kecantikan sang istri.


"Ma.. maaf"Kata Cia menunduk sendu dengan pusing di kepalnya makin sakit.


Pandangan Cia tiba tiba buram ,kepala semakin sakit luar biasa. tiba tiba Cia tidak sadarkan diri dengan kepala bersandar di dekat kaca pintu mobil.


"Sayang? sayang?"Tanya Johan saat Cia tidak bersuara lagi.


Johan menepikan mobil terlebih dahulu. wajah Cia sangat pucat. tangganya menepuk pelan pipi Cia namun Cia tidak bangun juga. Johan seketika panik dirinya sangat menyesal telah membentuk Cia.


Dengan wajah khawatirnya Johan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan satu tangannya menggenggam tangan Cia erat.


Tidak lama mobil Johan memasuki area rumah sakit. Johan mengangkat tubuh Cia kedalam rumah sakit dengan wajah sangat khawatirnya saat melihat wajah sang istri sangat pucat.


Johan tidak bisa tenang, dirinya terus mondar mandir di depan pintu IGD cemas karena dokter yang memeriksa istrinya belum juga keluar.


Dirinya juga sudah memberi tahukan kepada Tania. sekarang mereka semua sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit


Pintu terbuka sedikit, dari dalam sana menampakkan dokter keluar. dengan cepat Johan menghampiri dokter itu dengan tergesa gesa.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? apa dia baik baik saja?"Tanya Johan dengan wajah khawatirnya.


"Tuan tenang saja. dia baik baik saja.."Kata dokter terputus dengan Johan langsung protes.


"Hey kau gimana sih! istri saya tadi sangat pucat, kau bilang dia baik baik saja hah!"Bentak Johan.


"Tuan maaf memang nona Cia baik baik saja"Jelas dokter itu mentap kesal karena omongannya selalu di putus.


"Apa kau tidak becus memeriksa pasien hah!"Bentak Johan tidak terima.


"Astagfirullah, tuan nona Cia memang baik baik saja, hanya saja dia sekarang lagi mengandung. jadi jangan terlalu kecapean"Kata dokter itu menjelaskan dengan sabar.


"Dokter bilang apa? istri saya lagi hamil?"Tanya Johan memastikan.


"Iya. nona Cia lagi hamil. usia kandungannya memasuki satu mingguan"Jelas dokter perempuan itu dengan senyum ramahnya.


Johan dengan cepat masuk kedalam ruangan tempat istrinya tanpa memperdulikan dokter itu.


Wajahnya tak luput dari senyum bahagianya menghampiri Cia yang masih berbaring di atas ranjang.


"Sayang"Kata Johan langsung merengkuh tubuh Cia erat dengan kebahagiaan terpancar di wajahnya.


Dirinya mengecupi semua wajah Cia, Cia hanya bisa diam dengan tingkah suaminya yang sangat aneh.


Johan terus menatap wajah Cia dengan senyum merekahnya sambil memegangi tangan Cia dengan sesekali mengecupi nya.


"Ka Johan kenapa? dan ko Cia ada di sini? memangnya Cia kenapa?"Tanya Cia melihat ke sekeliling.


"Tidak ada. hanya saja aku lagi sangat sangat bahagia"Kata Johan menciumi tangan Cia dengan senyum kebahagiaan nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2