Siapa Aku Sebenarnya?

Siapa Aku Sebenarnya?
Bukan Anak Kandung


__ADS_3

"Ibu,kenapa ibu tega ngomong seperti itu sama Bella?" tanya Bella dengan wajah sedih.


"Ini,lihat sendiri!" Bu Santi melemparkan sebuah map berwarna biru hingga jatuh tepat di samping kaki Bella.


Bella berjongkok dan mengambil map itu,dia masih tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.


"Apa ini,bu?" dia bertanya.


"Lihat,dan baca! Biar kamu percaya,kalau kamu memang bukan anak ibu." Ucap Bu Santi.


Bella mulai membuka map itu,dan melihat isi di dalamnya.


Surat dari rumah sakit,itu adalah informasi tentang seorang anak kecil yang pernah menjadi pasien di rumah sakit 'Kasih Ibu'.


Itu semua catatan medis saat Bella kecelakaan,dan karena kecelakaan itulah yang membuatnya hilang ingatan.


"Malam itu hujan turun sangat lebat,kamu berlari di tengah jalan tanpa melihat ada mobil yang sedang melaju dengan kencang di jalan itu,hingga kamu tertabrak dengan mobil Pak Mahendra. Jadi Pak Mahendra membawa kamu ke rumah sakit,tapi setelah sadar kamu malah tidak mengingat apa-apa dan mengira saya sebagai ibu kamu,terpaksa Pak Mahendra menyuruh saya untuk menjaga kamu. Kami sudah berusaha mencari tahu dimana keberadaan orang tua kamu,namun bagai anak yang tak ada orang yang menginginkan,kamu sama sekali tidak memiliki catatan keluarga,seolah kamu memang di buang oleh keluarga kamu sendiri. Itu sebabnya Pak Mahendra sangat menyayangi kamu,hingga Non Kanaya dan Nyonya Dewi sangat membenci kamu." Pungkas Bu Santi mengakhiri ceritanya.


Sekarang Bella baru mengerti semuanya,pantas saja dia terus terbayang dengan wajah orang-orang yang tidak di kenalnya,mungkin mereka adalah keluarga kandungnya.


"Apa karena ini makanya ibu tidak pernah menyayangi Bella?" tanya Bella meminta jawaban dari sang ibu.


"Kamu bukan anak saya Bella,jadi saya hanya bisa menyayangi kamu sewajarnya saja,tidak perlu berlebihan." Jawab Bu Santi datar.


Bella masih berdiri mematung dengan map di tangannya,tidak ingin bertanya lebih lanjut Bella pun keluar dari kamar Bu Santi dengan berlinang air mata,dia sangat terpukul dengan kenyataan itu,ternyata selama ini dia hanya anak angkat,mereka juga tidak tahu siapa keluarga kandungnya.


"Benarkah aku di buang oleh ibu ku sendiri?"


Bella menangis pilu sambil menutup pintu kamarnya,badannya langsung merosot ke lantai. Bella terisak,dia meringkuk sambil memeluk kedua lututnya dan menumpahkan tangisnya di sana.


Adakah tempat untuknya berbagi rasa sedih itu? Tidak ada!


"Tuhan,kenapa rasanya begitu sakit? Aku tidak pernah merasa sesakit ini,tidak mengapa kalau ibu tidak terlalu peduli sama aku,tapi saat tahu kalau ibu ternyata bukan ibu kandung ku,itu membuat aku sangat sakit." Lirih Bella


"Hiks!"


Dia memandang map itu dengan pandangan kosong,semangat hidupnya seperti hilang. Terbang entah kemana.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kemana aku harus pergi? Tidak mungkin terus di sini,aku sadar ini bukan tempat ku,dan lagi jika aku terus berada di sini,mereka hanya akan menyiksa ku. Kanaya dan Nyonya Dewi tidak akan membiarkan aku hidup dengan tenang." Gumam Bella,dia bingung kemana dia harus melangkah? Jika keluar dari rumah itu dia tidak tahu harus tinggal di mana.

__ADS_1


Dan kalau memutuskan untuk tetap tinggal di sana,dia harus siap menderita.


*****


"Akhirnya semua yang aku nanti-nantikan tiba juga." Ucap Kanaya,berbicara dengan mamanya.


"Memangnya apa yang kamu nanti-nantikan?" Tanya Bu Dewi.


"Kehancuran Bella,aku sudah lama menantikan hidupnya itu penuh dengan penderitaan,aku benci dia ma,aku benci banget!" Adu Kanaya pada mamanya,dia memeluk wanita itu dan menangis.


Bu Dewi bingung kenapa Kanaya menangis,tadi dia terlihat sangat happy,tapi sekarang?


"Kenapa sayang? Apa yang membuat kamu sedih begini?"


"Bagaimana aku tidak sedih ma,di akhir hayatnya yang papa ingat cuma Bella,selalu Bella." Ucap Kanaya di sela tangisnya.


Melihat anaknya yang menangis bersedih seperti itu,membuat Bu Dewi semakin benci terhadap Bella,dia bahkan berjanji pada Kanaya,kalau dia akan membuat Bella merasakan apa yang di rasakan oleh putrinya.


"Kamu tenang saja sayang,mama akan pastikan Bella tidak akan pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Jika pun mati,maka dia harus mati di rumah ini dalam keadaan penuh derita." Ucap Bu Dewi,sorot matanya penuh dendam. Kebenciannya tak bisa lagi di tahan,dia akan melakukan apa saja untuk membuat Bella menderita.


Bella yang malang,saat ini dia hanya mengingat potongan-potongan kecil memori masa kecilnya.


****


Malam terus berlanjut,hanya suara jangkrik yang terdengar memecah keheningan malam. Bella masih tidak bisa memejamkan matanya barang sedetik pun,pikirannya kacau,kepalanya juga sangat sakit.


"Kenapa tak ada satupun yang aku ingat,kenapa ingatan aku berhenti di sana,di hari kecelakaan itu? Siapa ibu ku? Dia di mana?"


Bella terus bertanya-tanya,pertanyaan yang dia tidak tahu kapan ada jawabnya.


°°°°|||°°°°


"Cuci piring dulu,setelah itu baru berangkat sekolah!" suruh Bu Santi.


"Baik bu." Bella menjawab singkat.


Dia buru-buru menyelesaikan semua tugasnya biar tidak terlambat datang ke sekolah.


"Bell,gue mau berangkat sekarang ke sekolah,lo mau berangkat bareng gue nggak?" tanya Kanaya,"

__ADS_1


Bu Santi merasa aneh mendengar ajakan Kanaya,tidak mungkin dia sebaik itu mengajak Bella berangkat bersama kalau bukan karena ingin melakukan sesuatu terhadap Bella.


Bella yang saat itu sedang mencuci piring menatap ibunya,seolah meminta persetujuan dari wanita itu. Sambil mengangkat bahunya Bu Santi berkata "Terserah kamu!"


"Tidak apa-apa,bu?" dia memastikan.


"Tidak apa-apa,tinggalkan saja piring-piring itu,biar ibu yang melanjutkan." Ujar Bu Santi tanpa menoleh ke arah Bella.


Sebenarnya Bella merasa takut berangkat ke sekolah bersama Kanaya,dia takut Kanaya memiliki niat buruk terhadap dirinya,tapi karena jam sudah menunjukkan pukul 07:25 terpaksa Bella membuang jauh-jauh pikiran buruknya itu,dia harus pergi ke sekolah hari ini apapun yang terjadi.


Sebab lomba lari antar kelas akan di laksanakan hari ini. Jadi sebagai peserta Bella harus ikut,kalau dia tidak datang hari ini maka dia akan dinyatakan gugur.


***


"Nih,bawa tas gue!" suruh Kanaya melempar tasnya ke arah Bella begitu mereka turun dari mobil.


"Ternyata ini tujuan Kanaya yang sebenarnya." Bella membatin.


Bella berjalan mengikuti Kanaya dari belakang,semua mata mulai menatapnya,tatapan mereka dingin dan menusuk. Bella menundukkan pandangannya,tidak ingin beradu pandang dengan mereka.


"Buruan dong jalannya,lelet banget sih!" omel Kanaya.


Begitu melewati koridor sekolah,anak-anak cowok langsung menghinanya.


"Wih... Keren banget ni Kanaya,babu baru lo ya?" tanya salah seorang siswa yang satu kelas sama Kanaya.


"Iya,babu baru gue." Kanaya menjawab cuek.


"Kasihan banget hidup lo Bell," ledek yang lainnya.


Dan sekarang mereka sudah tiba di ruang kelas Kanaya,Bella memanggilnya hendak memberikan tas Kanaya kembali dan menyuruhnya untuk membawanya sendiri masuk ke ruang kelas.


"Nay,ini tas kamu! Aku bantuin bawa sampai di sini aja." Ucap Bella,memberikan kembali tas Kanaya.


Kanaya menolaknya, "Jangan setengah-setengah dong,bawa masuk sampe ke dalem!" Suruh Kanaya.


Kalau menuruti kata hatinya,tentu saja Bella tidak ingin masuk ke sana,sebab di sana sudah pasti ada David dan teman-temannya,kan mereka satu kelas sama Kanaya.


Kelas yang di tempati Kanaya adalah kelas yang paling bagus yang ada di sekolah mereka,karena yang berada di kelas itu semuanya adalah anak orang kaya,itu sebabnya kelas mereka di sebut kelas elite.

__ADS_1


•••[[[~~]]]•••


__ADS_2