Siapa Aku Sebenarnya?

Siapa Aku Sebenarnya?
Cemburu


__ADS_3

Mereka masih menunggu,tak ada lagi suara ketukan di luar,pintu juga tak kunjung di buka.


"Kenapa enggak ada yang masuk dari tadi?" tanya Sasya heran.


"Iya,aneh juga ya." Ucap Reno.


"Biar aku lihat dulu," Ririn berniat keluar untuk melihat siapa gerangan di luar.


Baru dua langkah dia berjalan,pintu terbuka dan tampaklah sosok seorang perempuan yang tak lain adalah Bella.


Reno sedikit terkejut melihat Bella,tak di sangka Bella datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. "Kalian sedang ngumpul rupanya," ucap Bella lembut. Gadis itu tidak memperlihatkan sikap sinisnya kepada Ririn maupun Sasya. Reno pikir Bella sedang menahan amarahnya,tapi ternyata tidak.


"Kamu datang kenapa enggak bilang dulu sama aku Bella?" tanya Reno.


Sambil berjalan ke arah Reno,Bella menjawab "Aku ingin memberikan kamu kejutan,kalau ngomong sama kamu akan bakal datang ke sini,itu namanya bukan kejutan lagi dong."


"Kamu bawa makanan juga?" Ririn memandang ke atas rantang yang di bawa Bella.


"Iya,hari ini aku sengaja masak yang spesial untuk calon suami aku!" Bella menekankan suaranya di akhir kalimat,matanya melirik ke arah Sasya,seolah ingin memperjelas bahwa Reno sekarang hanya milik dia seorang.


"Tapi mama juga sudah nyuruh aku bawain makan siang untuk kak Reno. Tuh lihat! Ada di atas meja." Tunjuk Sasya dengan bibirnya.


"Aku juga bawain makan siang buat Reno," tambah Ririn.


Bella tersenyum,dia menatap lembut ke arah Reno,tak ada tanda-tanda kalau Bella akan marah. Reno mulai membeku di tempatnya,dia sangat takut Bella cemburu dan marah padanya.


"Tidak apa-apa,kita bisa makan sama-sama di sini." Jawaban yang keluar dari mulut Bella benar-benar membuat mereka semakin tidak mengerti,seharusnya Bella marah dan menyuruh mereka untuk segera keluar dari ruangannya Reno.


"kamu enggak keberatan kalau Ririn dan Sasya makan sama kita?" Reno memastikan.


"Keberatan?" Bella terkekeh mendengarnya. "Kenapa harus keberatan,aku malah senang bisa makan sama-sama di sini," lanjut Bella.


Meski sikap Bella sangat tenang dan lembut,tapi Sasya tetap merasa ada sesuatu yang sedang di rencanakan Bella. Ririn masih diam,dia hanya berdiri mematung di tengah suasana yang menurutnya sangat menegangkan.



"Reno,tolong pegang ini!" suruh Bella,dia menyodorkan rantang di tangannya kepada Reno.



Dengan perasaan tak menentu Reno mengambil rantang itu. Tunggu sebentar di sini!" Bella kemudian mengambil makanan yang di bawa sama Ririn dan Sasya keluar dari ruangannya Reno.

__ADS_1


"Bella,kamu mau bawa kemana makanan itu?" tanya Ririn,dia mulai mengikuti langkah Bella. Tanpa memperdulikan pertanyaan Ririn,dia terus melangkahkan kakinya membawa rantang dan kotak makan siang,Sasya berjalan cepat untuk bisa menyusul mereka.


Sasya bingung dengan sikap Bella,tadi terlihat begitu tenang dan tidak marah,namun di detik berikutnya sikap tenangnya itu berubah menjadi amarah.


Reno masih di ruangannya,dia tidak berniat mencegah apa yang akan di lakukan sang pujaannya,biar saja Bella bertindak sesuka hatinya,karena apa yang sekarang di lakukan Bella sudah menjadi bukti yang cukup kalau Bella mulai mencintainya.


"Bella,berhenti!" seru Ririn.


Bella tidak peduli,dia terus berjalan membawa semua makanan itu.


"Dasar perempuan gila!" umpat Sasya. "Benar-benar enggak bisa di tebak tu orang," Sasya setengah berlari mengikuti Ririn dan Bella.


Bella langsung menghentikan langkahnya begitu dia tiba di tempat para karyawan kantor yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Semuanya ada enam orang,dan mereka semua adalah timnya Reno. Mereka tersenyum menyambut kedatangan Bella.



"Sudah ketemu sama pak Renonya,mbak?" tanya salah satu karyawan di sana.


"Sudah dong!" jawab Bella ramah. "Oh iya,tadi aku lihat ada banyak bekal makan siang di mejanya Reno,terlalu banyak kalau di makan berdua aja. Jadi makanan ini aku bawain untuk kalian saja,kalian mau kan?" tanya Bella.


"Mau dong mbak!" jawab mereka kompak dan penuh semangat.


Sasya tersenyum sinis melihat apa yang dilakukan Bella. Sedangkan Ririn menggenggam tinjunya menahan amarah yang hampir meledak.


"Iya,makasih banget atas makanannya," tambah yang lain lagi.



"Pasti enak ni,"



"Makasihnya jangan sama aku,sebab ini makanan dari mereka berdua!" Bella dengan santainya menunjuk ke arah Ririn dan Sasya yang kebetulan berdiri di belakangnya.



Semua mata tertuju ke arah dua perempuan itu,tatapan mereka berbeda-beda. Ada yang menatap sinis,dan yang lainnya saling berbisik.


Ririn tahu kalau bawahannya Reno pasti sedang membicarakan tentang dirinya yang selalu berusaha mencari perhatian dari Reno.


Sasya tidak nyaman dengan suasana yang tegang dan memalukan itu,jadi dia memilih untuk melenggang pergi dari sana. Bella juga melakukan hal yang sama,dia kembali masuk ke dalam ruang kerja calon suaminya. Dan Ririn hanya bisa mendengar cibiran yang keluar dari mulut para karyawan.

__ADS_1


"Itu kan mbak Ririn,dia pasti mau merebut pak Reno dari mbak Bella,makanya dia berusaha untuk terus mendekati pak Reno."


"Iya,pakek acara bawain makan siang segala lagi."


Kupingnya panas mendengar ocehan mereka,Ririn memberanikan diri untuk menjawab tuduhan mereka yang mengatakan kalau dirinya berusaha merebut Reno dari Bella.


"Eh kalian semua,dengar ya! Sekali lagi saya dengar kalian ngomongin saya yang bukan-bukan,saya bakalan laporin kalian ke pak Reno,biar kalian di pecat sekalian." Ririn mengancam,sorot matanya begitu tajam.


Mereka terdiam dan menunduk,tidak berani lagi mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Ririn marah.


\*\*\*\*


"Aku pikir kamu beneran mau makan sama Sasya dan Ririn,ternyata semua cuma sandiwara aja." Ucap Reno.


Mereka baru aja selesai makan siang,dan sekarang sedang duduk sambil menikmati pemandangan di atap gedung perusahaannya mama Reno.


"Membiarkan mereka makan siang bersama kita,ya enggak mungkin lah!" ucap Bella. Dia menatap Reno seraya menggelengkan kepalanya.


"Bisa aja kan,kamu lagi baik hati."


"Aku heran sama kamu Ren." Bella terlihat serius.


"Heran kenapa?" kini Reno mulai fokus terhadap apa yang akan di katakan Bella.



"Ya heran aja,sudah tahu niat Ririn mau membuat hubungan kamu dan aku berantakan,masih aja kamu pertahankan posisi dia sebagai sekertaris kamu,emang enggak ada orang lain apa untuk posisi itu?"



"Hahaha..."



Reno tertawa lucu mendengar perkataan Bella,menganggap omongannya sebagai lelucon membuat Bella kesal.



"Aku sedang serius Reno,jangan di anggap becandaan dong," ujar Bella. Reno menghentikan tawanya dan menggenggam tangan Bella. Saat itu angin bertiup sepoi-sepoi,cuaca juga agak sedikit mendung dan suasana menjadi lebih tenang.


__ADS_1


Mendapati Reno yang menatapnya begitu dalam,membuat jantung Bella berhenti berdetak,dia menunggu apa yang hendak di katakan cowok itu.


Menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara. "Bella,aku tidak akan tergoda dengan Ririn,dia cuma teman aku aja,enggak lebih. Dan di dalam hati aku cuma ada kamu,cuma kamu yang memiliki tempat spesial di hati aku setelah mama," tutur Reno. Kata-katanya membuat Bella terdiam.


__ADS_2