
"Siapa tamunya Ren?" tanya bu Fanya.
Reno yang sudah berpakaian rapi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja langsung membuka pintu.
"Aku lihat dulu,ma." Ucap Reno,dia bergegas menuju pintu sambil membawa tas kerjanya.
CEKLEK...
Wajah yang tak asing lagi baginya,senyuman bahagia terukir di wajah wanita yang berdiri di depannya.
"Tante!" ucap Reno matanya tidak berkedip sama sekali. Rasanya sangat aneh kalau Mirna datang ke rumahnya pagi-pagi buta begini.
"Siapa Ren?" kembali bu Fanya bertanya.
"Tante Mirna,ma!" sahut Reno.
"Tante ada perlu sama mama kamu Ren," Mirna menampakkan wajah sedihnya.
Reno yang memang sedang buru-buru tidak sempat mengobrol lebih lama dengan tantenya,dia langsung berangkat ke kantor setelah menyuruh wanita itu masuk.
\*\*\*
"Kedatangan kamu benar-benar mengagetkan aku. Katanya kamu di luar negeri,tapi kok sekarang malah ada di sini? Kapan nyampenya?" bu Fanya bertanya heran,dia merasakan perasaan tidak enak dengan kedatangan Mirna.
"Aku sama mas Andre..." Mirna tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. Dia sengaja melakukan hal itu untuk membuat Fanya penasaran dengan ceritanya.
"Kamu sama mas Andre kenapa?" tanya bu Fanya.
"A-aku..." Mirna mulai terisak.
"Kamu kenapa Mir? Ayo katakan sama aku!" desak mamanya Reno.
"Hubungan aku sama mas Andre sedang bermasalah mbak," adu Mirna. Wanita itu menangis sambil memeluk kakaknya. Bu Fanya tercengang melihat kejadian di depan matanya.
Rumah tangga adik angkatnya itu tiba-tiba bermasalah? Dia merasa kurang percaya. Selama ini yang diketahuinya Andre dan Mirna akur-akur saja "Pantesan Mirna menyuruh anaknya untuk menginap di rumahku,ternyata ini alasannya." Batin Fanya.
"Sekarang Andre ada di mana?" tanya Fanya penasaran.
"Aku enggak tahu,mbak. Dia pergi begitu saja dan meninggalkan aku sama Sasya,aku sengaja mengatakan pergi ke luar negeri beberapa hari untuk menenangkan pikiran,namun pada kenyataannya aku tidak kemana-mana,aku kehilangan tempat tinggalku. Dan yang lebih parahnya lagi adalah Andre sudah membuat perusahaan aku bangkrut,mbak." Mirna semakin menangis sedih.
__ADS_1
Bu Fanya berusaha menenangkannya,wanita itu kemudian mengambil ponselnya berniat menelpon Sasya. Sasya sudah keluar duluan tadi,katanya dia sedang ada keperluan sebentar.
"Mbak tidak perlu menghubungi Sasya," cegah Mirna. "Aku menutupi masalah ini dari dia,aku enggak mau dia tahu tentang papanya itu."
"Memangnya apa yang dilakukan Andre sehingga perusahaan kalian sampai jatuh bangkrut seperti ini?"
"Dia di tipu sama temannya sendiri Mbak,uang perusahaan di bawa kabur sama temannya itu,tidak hanya itu mas Andre ternyata juga selingkuh di belakang aku." Ungkap Mirna.
Bu Fanya ikut prihatin mendengar nasib adik angkatnya itu. "Apa kalian masih tinggal serumah?"
"Tidak," Mirna menggeleng pelan,nada suaranya terdengar sangat sedih. Bu Fanya yang tidak tahu kalau adiknya itu sedang bersandiwara jadi dia percaya gitu aja.
"Apa dia pernah melakukan kekerasan terhadap kamu?"
"Kalau itu sih enggak,mas Andre cuma ngancam aku doang,mbak. Kalau aku tidak memberikannya uang untuk membayar pinjamannya sama rentenir,maka aku harus merelakan Sasya untuk di jadikan sebagai jaminan atas semua hutang-hutangnya mas Andre." Lirih Mirna putus asa.
Setiap kata-katanya mampu membuat bu Fanya menaruh simpati sama cerita bohongnya itu.
"Jadi ini sebabnya makanya kamu nyuruh Sasya untuk tinggal di sini?" wanita itu memastikan.
"Iya,mbak." Mirna membenarkan.
"Kenapa kalian harus lari-lari kayak gini? Memangnya berapa sih hutangnya si Andre?" tanya mamanya Reno,jauh di dalam hatinya,wanita itu sudah berniat untuk menolong Mirna,itupun kalau hutang mereka tidak terlalu banyak.
"Lima ratus juta,mbak." Jawab Mirna,dia menatap Fanya dengan tatapan sedih,dia sangat berharap kalau kakak perempuannya itu mau mengeluarkan sedikit uangnya untuk membantu mereka.
"Kamu benar-benar tidak berhubungan lagi sama Andre?" bu Fanya tidak mau percaya begitu saja. Dan setelah mendengar jumlah hutang Andre,niat untuk membantu melunasi hutang mereka langsung sirna.
"Berarti selama ini kamu tidak pernah ke luar negeri,ya?"
"Maafkan aku mbak,aku terpaksa berbohong. Tolong jangan ceritakan masalah ini sama Sasya ya,sebab dia tidak tahu akan permasalahan yang sedang terjadi antara aku dan mas Andre."
"Aku tidak akan menceritakannya sama Sasya kok,kamu tenang aja. Kalau memang kamu tidak keberatan,kamu juga boleh tinggal di sini Mir,kebetulan aku juga sendirian di rumah sebesar ini. Reno juga jarang di rumah,apalagi sebentar lagi dia akan menikah,jadi aku akan benar-benar kesepian."
Mendengar ajakan Fanya,perasaan Mirna sangat senang. Akhirnya apa yang di rencanakannya dengan Andre berjalan lancar. "Bagus sekali,mbak. Kamu memang sangat baik,beruntung sekali aku memiliki kakak seperti kamu." Batin Mirna,senyum licik terukir di bibirnya.
"Ak-aku bisa tinggal di sini? Mbak enggak keberatan kalau aku tinggal di sini?"
__ADS_1
"Kenapa harus keberatan? Kamu juga keluarga aku Mir." Tanpa rasa curiga,bu Fanya dengan begitu mudah menyuruh Mirna untuk ikut tinggal di rumahnya.
\*\*\*
"Makasih sudah nganterin aku," ucap Reno tersenyum penuh arti ke arah Bella.
"Sama-sama," jawab Bella singkat. Dia mulai memperlihatkan sikap cueknya lagi sama Reno.
"Kamu enggak mau singgah dulu?"
"Enggak ah,sudah sore. Aku langsung pulang aja,soalnya aku juga harus masak buat nanti malam," jawab Bella.
"Makan malam di sini aja!" Reno mengusulkan.
"Lalu kak Tika bagaimana?"
"Dia kan sudah besar Bell,kalau enggak mau masak,ya pesan makanan aja kan gampang."
"Enggak apa-apa deh,lain kali aja." Bella menolak ajakannya. Reno hanya bisa pasrah sama keputusan Bella.
"Ya sudah kalau begitu,aku turun dulu. Hati-hati di jalan ya!" ucap Reno berpesan,dia keluar dengan perasaan kecewa.
Bella yang masih duduk di bangku kemudi,langsung menarik tangan Reno begitu matanya menatap sosok Sasya yang sudah berdiri di depan pintu masuk utama,menunggu kepulangan Reno.
"Tunggu Ren!"
"Ada apa lagi,?" tangan Reno tertahan,dia tidak bisa menutup pintu mobil karena Bella sudah memegang tangannya.
"Aku turun,aku singgah sebentar untuk ketemu sama tante."
__ADS_1
Tak menyangka dengan keputusan Bella,Reno jadi heran dengan sikap kekasihnya yang berubah-ubah itu. Namun,begitu melihat kalau di belakangnya sudah ada Sasya yang sedang menunggu kepulangannya,barulah Reno paham ternyata Bella cemburu.