
Menit-menit terus berlalu,handphonenya Bella tiba-tiba berdering,ini yang dia tunggu-tunggu dari tadi. "Dari siapa Bella?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Dari Sasya,pa."
"Cepat di angkat!" suruh bu Fanya sudah tidak sabar ingin mengetahui di mana keberadaan Sasya dan Reno saat ini.
Perasaan Bella mulai tidak tenang, "Halo kak,kak buruan ke sini! Aku lagi di rumah barunya kak Reno,hiks...." terdengar suara Sasya menangis dan setelah itu dia memutuskan panggilan. Bella langsung pergi tanpa mengatakan apapun pada mereka.
Melihat kepanikan di wajah Bella,mereka tidak bertanya lebih lanjut,mereka juga ikut pergi mengikuti Bella dari belakang.
****
Bella tidak menyangka dengan apa yang akan dilihatnya malam ini,tubuh Reno yang terbalut dengan selimut dan Sasya yang menangis sesenggukan di sampingnya,pakaian yang bercecer di lantai sudah memberi penjelasan kepada Bella tanpa perlu mendengar penjelasan dari mereka.
Bella perlahan mendekat ke sisi Reno yang masih terlelap,tanpa perduli dengan Sasya yang terus menangis.
Dia hancur sekarang,sekuat tenaga bertahan untuk tidak menangis. Bu Fanya,pak Alex dan juga Mirna mereka baru saja sampai,mereka juga tak kalah terkejutnya melihat kejadian itu. Kenapa bisa jadi begini? Semua orang mulai bertanya-tanya.
"Ren,Reno... Bangun Ren!" panggil Bella.
"Bangun Ren! Bangun dan jelasin semuanya sama aku! Bella mengguncang-guncangkan tubuh Reno dengan begitu kuat,Reno tidak bergeming sama sekali.
"Reno,bangun Ren!!!" teriak Bella kuat,bersamaan dengan itu pula tangisnya pecah.
Suaranya yang menggelar tadi berhasil membuat Reno terjaga,Reno yang masih tampak linglung menatap Bella yang menangis di depannya dan kemudian menoleh ke arah Sasya yang juga masih menangis dengan tubuh terbalut selimut.
Melihat keadaan saat ini,Reno paham sudah dengan apa yang sedang terjadi,tapi dia bingung bagaimana semua itu bisa terjadi.
"Mama!" panggil Reno,wanita itu kemudian mendekat,pak Alex masih berdiri di tempatnya tidak tahu harus berbuat apa. Bu Mirna datang menghampiri Sasya dan memeluknya,dia bersikap seolah sedang menenangkannya,Mirna tidak bodoh dia tahu kalau semua itu adalah perbuatan Sasya,dia sendiri tidak menyangka kalau Sasya mampu berbuat sejauh ini.
Menurut Mirna apa yang dilakukan Sasya sudah sangat keterlaluan.
"Mama,bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Reno bingung.
__ADS_1
"Kamu masih berlagak bodoh Reno? Seharusnya kami yang menanyakan hal itu sama kamu,kenapa kamu membawa Sasya ke sini dan melakukan hal terlarang di rumah ini! Di rumah yang akan kita tempati setelah pernikahan nanti?" tanya Bella marah,dia mulai terisak.
"Bella,ini tidak seperti yang kamu lihat. Kami berdua di jebak,dengerin dulu penjelasan aku!" Reno mencoba menjelaskan.
"Kak Reno benar,kita di jebak kak," sambung Sasya ikut memberi penjelasan.
"Diam kamu!" bentak Bella.
"Kenapa kakak jadi marah sama aku? Di sini aku yang jadi korbannya," Sasya tidak terima Bella membentaknya.
"Bella,kita bicarakan ini baik-baik nak! Kita dengerin dulu penjelasan mereka," bu Fanya berusaha menenangkan.
Bella menghapus air matanya yang terus mengalir,nafasnya memburu,dadanya kembang kempis menahan amarah yang sudah meledak-ledak.
"Tante benar sayang,di saat-saat seperti ini kita tetap harus tenang jangan sampai membuat keadaan semakin kacau," mendengar ucapan papanya membuat Bella semakin kesal,pak Alex memang payah dalam soal menghibur,suasana hati Bella semakin tidak baik.
"Tenang? Tenang papa bilang? Kalian semua bisa menyuruh aku untuk tetap tenang,karena ini tidak terjadi sama kalian,tapi sama aku! Di sini aku korbannya bukan Sasya!" ucap Bella dengan nada tinggi.
Tak ingin terus berlama-lama di dalam kamar yang semakin membuat dia sesak,akhirnya Bella memilih pergi,dia pergi tanpa menghiraukan panggilan dari keluarganya.
----
Hari sudah pagi saat Ririn bangun dari tidurnya,dia sama sekali tidak menyangka saat matanya terbuka dia sudah ada di kamarnya. Terakhir yang dia ingat ada seseorang yang memukulnya di parkiran.
"Ya Tuhan,apa yang terjadi sama aku semalam.?"
Ririn berjalan menuju cermin dan melihat penampilannya,semua masih sama seperti semalam,tidak ada yang aneh. Tapi ada satu yang berkurang,anting. Ya,antingnya Ririn hilang sebelah.
"Antingku di mana?" dia mulai panik.
"Apa mungkin jatuh di tempat parkiran?" mulai menduga-duga.
"Oh tidak! Aku sudah terlambat!" saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat,Ririn baru sadar kalau dia harus kerja dan dia buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya,untuk sejenak Ririn melupakan kejadian aneh semalam.
__ADS_1
----
"Ngapain kamu di sini?" tanya Reno yang saat itu duduk membelakangi Ririn,cowok itu terus menatap ke luar jendela.
Melihat sikap Reno yang jadi dingin terhadapnya,Ririn semakin curiga kalau semua itu ada sangkut pautnya dengan kejadian semalam. Sepertinya ini tidak semudah yang dia bayangkan.
"Ya kerja,ngapain lagi coba?" Ririn tetap bersikap santai.
"Mulai hari ini kamu aku pecat!" tegas Reno,dia bangkit dari duduknya dan sekarang menatap Ririn dengan tajam.
Ririn terkejut melihat lingkaran hitam di matanya Reno,cowok itu pasti tidak tidur dengan nyenyak semalam.
"Kamu mecat aku?" Ririn masih tidak percaya,dia pikir Reno sedang main-main.
Namun keseriusan di wajahnya membuat Ririn semakin yakin kalau masalah besar telah terjadi. "Kali ini siapa lagi dalangnya?" batin Ririn.
"Iya,kamu aku pecat!" Reno memperjelas.
"Salah aku apa Ren? Kenapa kamu mecat aku tiba-tiba begini?" Ririn tidak terima dirinya di pecat tanpa tahu apa alasannya,dan dia juga tidak melakukan kesalahan apapun.
Reno yang sejak dari semalam ingin melampiaskan kemarahannya berjalan lebih dekat dengan Ririn,mereka sekarang sudah berdiri berhadapan.
"Itu punya kamu,kan?" Reno melempar anting Ririn.
"Kenapa anting itu bisa ada di kamu?"
"Masih berlagak bodoh rupanya,heh!" Reno tersenyum kecut. "Semalam kamu pura-pura pulang duluan agar bisa menjebak aku dan Sasya. Kamu bilang ada masalah di rumah padahal itu semua cuma akal-akalan kamu doang kan,?" Reno diam menunggu reaksi Ririn.
"Jadi benar,ini semua kerjanya Sasya?"
"Kamu nuduh Sasya sebagai pelakunya? Dia itu korban Rin,ini semua rancangan kamu,kamu yang sudah menyewa beberapa preman untuk memukul aku dan menjadikan aku dan Sasya tidak sadarkan diri,kemudian kamu membawa kami ke rumah baru aku itu,dan kamu juga membuat seolah-olah aku dan Sasya sudah melakukan hubungan terlarang,itu semua perbuatan kamu kan?"
Ririn terdiam seribu bahasa,tubuhnya bergetar dan pikirannya sangat kacau,sulit untuk mempercayai apa yang sedang terjadi. "Sasya tidak bisa diremehin,aku lengah hingga dia bisa mengambil kesempatan," batin Ririn.
__ADS_1