Siapa Aku Sebenarnya?

Siapa Aku Sebenarnya?
Di Ganggu Lagi


__ADS_3

"Ada apa lagi kamu datang kesini?"


"Bu,sepatu Bella sudah koyak. Boleh enggak beri Bella sedikit uang untuk membeli sepatu sekolah baru?" Pinta Bella hati-hati. Dia sangat takut kalau ibunya marah.


"Makanya kalau dikasih uang jajan itu disisihkan sedikit dong buat ditabung. Nah,kalau lagi kepepet kayak gini kamu punya uang sendiri buat beli,enggak harus selalu minta sama ibu." Omel Bu Santi.


"Bu,uang jajan Bella kan cuma 5000 ibu kasih. Kadang buat beli makanan dikantin aja enggak cukup,gimana bisa Bella sisihkan buat ditabung.?" Bella menjawab pelan.


"Jawab aja,jawab aja tahunya kalau orang tua ngomong. Mulut kamu itu bisa nggak sih diem aja?" Ucap Bu Santi sambil mendorong kasar kepala Bella dengan tangan kanannya.


"Lalu Bella mau pakek apa besok kesekolah?" Tanya Bella,dia mencoba menahan tangisnya. Berpura-pura baik saja dengan ucapan kasar ibunya. Ingin sekali Bella menjerit dan menangis sekencang-kencangnya,agar dadanya pun tidak terasa sesak lagi.


Bu Santi segera bangun dari duduknya,melangkah ke depan lemari dan mengambil lem,kemudian diberikannya kepada Bella.


"Ambil ini,di lem aja dulu sepatunya. Kita bukan orang kaya Bella. Seharusnya kamu sadar diri jangan terlalu banyak gengsi." Ucap Bu santi sambil memberikan lem itu pada Bella.


"Kalau ini sih Bella juga punya bu dikamar." Ujar Bella untuk yang terakhir kalinya,setelah itu dia langsung pergi dengan hati sedih.


****


Jam baru menunjukkan pukul 06:00,tapi Bella sudah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya.


"Bu,Bella pergi dulu ya! Maaf enggak bisa bantuin ibu masak." Ucap Bella sambil mencium tangan ibunya.


Wanita itu hanya mengangguk,tangannya kemudian merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar uang lima ribuan untuk Bella.


Bella menerimanya dengan senang,meski uang itu tidak cukup untuk jajannya disekolah nanti.


Itu sebabnya Bella selalu berangkat jam 06:00 pagi kesekolah. Sebab Bella tidak mungkin naik angkot,sudah tentu uangnya tidak cukup.


Bella keluar dari rumah mewah keluarga Erwin,matahari bahkan belum menampakkan sinarnya. Rembulan juga masih terlihat diatas langit yang masih diselimuti awan hitam.


Udara terasa begitu sejuk,Bella mulai merasa tubuhnya dingin diterpa angin yang berhembus perlahan pagi itu. Jalanan masih sangat sepi,dia seolah berjalan dalam mimpi.


Kalau teman-temannya belum tentu ada yang bangun jam segini. sedangkan dia sudah harus berangkat kesekolah hanya karena tidak punya cukup uang untuk naik angkot.


Kanaya juga sama,gadis itu masih ngeringkel dibalik selimutnya. Kalau dia sih suka-suka hati mau pergi terlambat atau enggak. Yang pasti tetap tidak akan dikasih hukuman sama guru-guru di sekolah. Soalnya keluarganya itu punya pengaruh yang cukup kuat disekolah.


****

__ADS_1


"Eh anak babu,sendirian aja lo. Mana uang jajan lo?" Tanya dikta. Cowok paling nakal dikelas mereka.


Bella tidak menanggapi ejekan cowok itu. Dia masih dengan santai duduk dikursinya sambil membaca buku sejarah.


"Yach,malah pura-pura tuli ni anak." Enzi menarik kasar buku yang berada ditangan Bella.



Bella menatap tajam kearah Enzi dan Dikta. Dengan dua cowok itu Bella tidak terlalu takut,tapi kalau sudah berhadapan dengan Andini dan kawan-kawannya barulah Bella tidak akan berani membalas.



"Kalian mau apa?" Bella bertanya



"Akhirnya ngejawab juga,gue kira pendengaran lo udah enggak berfungsi lagi." Ujar Dikta sinis.



Dari arah luar Andin dan dua temannya masuk. Melihat kedatangan Andin,Dikta cepat-cepat kembali ke bangkunya diikuti oleh Enzi dari belakang.




"Bella,tolong kerjakan tugas Biologi gue!" Suruh Andin seraya meletakkan buku pelajaran Biologinya diatas meja Bella.



Bella menatap bingung tiga orang didepannya. "Kan ini tugas kamu,kenapa harus aku yang mengerjakannya?" Bella memberanikan diri untuk menjawab.



"Lo mau membantah? Lo masih mau sekolah disini kan?" Andini dengan kasar menarik rambut Bella,membuat Bella tertengadah.



"Eh Babu dengar ya,Lo itu enggak boleh membantah apa pun yang di suruh sama Andin." Ucap meta.

__ADS_1



"Udah kerjain! Gue lagi males ribut hari ini." Pungkas Andin,gadis itu kemudian mengajak kedua temannya untuk pergi kekantin.



Bella mengambil buku Andini dengan perasaan sedih dan marah. Semua berbaur menjadi satu,dia tidak punya hak untuk melawan hanya karena dia anak seorang pembantu.



Saat dirinya dibully didepan keramaian pun,tidak ada yang tergerak untuk menolong. Mereka hanya menonton dan tertawa. Terkadang Bella menganggap hidup itu terlalu berat untuk dijalaninya. Dia ingin mati saja.



Bella tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan,dia hanya bisa berdoa semoga tuhan memberikan seseorang yang bisa melindunginya dari teman-temannya yang jahat itu.



\*\*\*\*



Bel tanda jam istirahat berbunyi,semua siswa-siswi berhamburan keluar. Mereka sudah pasti pergi kekantin.



Bella masih duduk di bangkunya,sebenarnya dia sangat lapar. Tapi kalau uang itu di gunakan untuk membeli makanan maka Bella harus kembali pulang dengan berjalan kaki.



Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?



Setelah berpikir cukup lama,akhirnya Bella memutuskan untuk kekantin. Dia bisa membayarnya dengan membantu Kak Siti mencuci piring-piring kotor. Menurutnya itu adalah ide yang bagus.



🌹🌹 ----------,🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2