
David menyingkap selimutnya dengan perasaan gundah,dia masih tampak linglung. Merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri.
Seharusnya masih malam,tapi sekarang sudah pagi.
"Kenapa aku bisa ada di sini? Seharusnya aku bersama Bella," David bingung 😕
"Masih bingung?" tanya mamanya,wanita itu masuk dalam kamar anaknya sambil membawa sepiring nasi goreng dan segelas susu.
"Siapa yang nganterin aku pulang semalam,ma?"
"Kak Reno lah!" sahut Sisi,dia berlari dari arah luar dan melompat ke atas tempat tidur kakaknya.
"Lho,kamu di sini dek? Enggak sekolah,ya?"
"Hari ini kan hari libur kak," jawab Sisi. Dia sekarang sudah duduk di bangku kelas 6 SD.
"Masih muda sudah pikun,gimana sih Dav." Ucap mamanya.
"Mandi dulu sana! Habis itu sarapan,ada yang mau mama sampein sama kamu." Tutur bu Riska.
David bangun dan meraih handuknya,dia berlalu masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi dan sarapan dengan nasi goreng yang di bawa bu Riska,David turun ke bawah untuk bertemu dengan mamanya yang saat itu sedang duduk ngobrol bersama si bungsu,yang tak lain adalah Sisi.
"Bagaimana Dav,sudah selesai sarapannya?"
"Sudah,ma" jawab David,seraya menghempaskan pantatnya di atas sofa.
Dia duduk bersandar,dan Sisi beralih duduk di sampingnya. "Kakak tahu semalam apa yang terjadi?" Sisi bertanya.
David mengernyitkan alisnya,menatap Sisi dengan rasa penasaran. "Tidak,memangnya ada kejadian apa semalam?"
"Kamu sungguh tidak mengingat apa-apa David?" tanya Bu Riska tidak percaya.
"Tidak!" David menggeleng pelan,masih tampak penasaran.
"Aurel memasukkan obat tidur dalam minuman kamu" ungkap bu Riska.
"Jadi ini ulah dia,pantesan aja aku ketiduran sampai enggak sadar siapa yang nganterin aku pulang" David bicara begitu cepat.
Mulai mengkhawatirkan Bella,takutnya gadis itu marah,karena dia terlalu asik ngobrol sama teman-teman sekantornya,sampai melupakan Bella,dan Aurel malah mengambil kesempatan untuk merusak hubungan mereka.
"Kak Bella nyuruh kak Reno buat nganterin kak David ke rumah,dan kayaknya dia marah deh sama kak David," Sisi sengaja menakut-nakuti kakaknya.
Dan David benar-benar terkecoh,dia langsung mengambil kunci mobil dan berpamitan kepada bu Riska untuk pergi menemui Bella,dia ingin menjelaskan kejadian semalam,supaya Bella tidak marah.
__ADS_1
David tidak tahu kalau sebenarnya Bella tidak marah dan tidak akan salah paham padanya.
\*\*\*
David sudah datang ke rumah Bella,tapi gadis itu tidak ada di rumahnya,jadi dia memutar balik arah mobilnya dan pergi menuju restoran Bella.
Bella duduk santai di atas pasir putih sambil menikmati pemandangan pantai.
Kedatangan David tidak di sadari olehnya,dia sibuk dengan pikirannya sendiri,sibuk memikirkan bagaimana jika dirinya dengan David menikah nanti,apakah akan ada orang ketiga? Yang sekarang dia sedang di ganggu sama Aurel,nantinya entah siapa yang akan mengganggunya.
"Sendirian aja sayang," ucap David di sampingnya.
"Idih,kok sayang?"
"Kan kamu pacar aku," jawab David
"Panggil aja Bella,enggak usah pakek sayang,geli dengarnya." Tukas Bella.
"Geli? Masa sih?" David duduk semakin dekat dengan Bella,tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Kamu marah ya Bella sama aku?" tanya David penuh perhatian.
"Enggak,aku cuma merasa di abaikan aja," Bella sedikit tersenyum,dia kembali menatap ombak yang menghantam karang.
"Maafkan aku,aku terlalu lalai semalam," David merasa bersalah dengan Bella.
"Enggak apa-apa kok,aku paham." Bella tidak mempermasalahkan hal itu.
"Mama bilang,semalam Reno yang nganterin aku ke rumah,apa kamu yang menyuruhnya?"
"Iya,karena aku enggak berani nganterin kamu pulang. Takutnya mama nanyain ini itu,dan aku tidak bisa menjawabnya. Jadi,aku suruh saja Reno mengantarkan kamu pulang." Tutur Bella.
David menatapnya penuh tanda tanya,dia masih penasaran kenapa Bella tahu kalau Aurel yang memasukkan obat tidur itu dalam minumannya.
"kenapa ngelihatin aku kayak gitu Dav? Kamu masih penasaran kenapa aku tahu kalau Aurel lah yang memasukkan obat tidur dalam minuman kamu?" tanya Bella menebak.
David mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Semalam aku mendengar pembicaraan Aurel dan seorang wanita,dia menyuruh wanita itu untuk memasukkan obat dalam minuman kamu,tapi untungnya wanita itu enggak mau,dan kemudian dia melakukanya sendiri." Ujar Bella bercerita.
"Jadi kamu sudah tahu niat busuk dia,tapi kamu malah membiarkan dia melancarkan aksinya,gitu?"
"Ya,aku membiarkan saja apa yang di lakukan Aurel,aku hanya memantau aksinya dari jauh. Begitu melihat kamu sudah agak pusing,aku langsung datang dan mengajak kamu pulang. Kamu tidak lupa,kan?" tanya Bella mencoba mengingatkan.
David diam,lalu mencubit gemas hidung Bella. "Kamu ini nyebelin banget sih,Bell. Gimana kalau aku beneran jatuh dalam perangkap dia,lalu aku di bawa sama Aurel ke hotel,dan akhirnya aku sama dia berada di atas satu ranjang yang sama,apa kamu tidak marah?"
Bella melotot garang,pertanyaan David membuat kupingnya panas. "Jangan bilang kalau kamu memang mengharapkan hal itu terjadi?" Bella menatap kekasihnya dengan curiga.
"Enggak! Siapa yang mau satu ranjang sama wanita licik itu?" David berkata tegas.
"Coba jujur sama aku Dav," Bella mulai terlihat serius. Dia duduk dengan tegak di sisi David,menatap dengan dalam sepasang mata indah sang kekasih.
"Jujur tentang apa?" David sedikit gugup melihat keseriusan di wajah Bella.
"Ini menyangkut kedekatan kamu dan Aurel,kalian berdua sudah melewati banyak hal bersama,selama empat tahun dia berada di samping kamu. Dia menemani kamu,setiap hari bersama,dia tahu apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka." Ucap Bella,dia kemudian diam. Pikirannya tiba-tiba menjadi tidak fokus,dia tidak tenang setiap kali memikirkan Aurel dan David yang pernah sangat akrab seperti sepasang kekasih.
"Kenapa diam? Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan sama aku?" tanya David lembut.
"Apa pernah sekali aja terbersit di pikiran kamu untuk membalas cinta Aurel?"
"Pertanyaan macam apa itu,Bella?" tanya David gusar.
"Apa aku salah menanyakan hal ini Dav?"
"Bella,kamu tidak seharusnya menanyakan hal ini sama aku,karena aku menganggap Aurel hanya sebagai teman biasa,enggak lebih." Jawab David.
"Tapi,kamu sama dia sudah menjalani hari-hari bersama,dan itu berlangsung selama empat tahun,baik buruk sifat dia kamu sudah tahu,dan aku yakin enggak mungkin kamu bisa menjauhi diri dari Aurel begitu aja." Bella menundukkan pandangannya,wajahnya murung "Aku hanya tidak ingin dia menjadi orang ketiga dalam hubungan kita,sebelum kita mengambil langkah yang lebih jauh lagi,aku ingin kamu yakin pada pilihan kamu sendiri." Lanjut Bella.
"Bella,sampai kapan pun aku tetap tidak akan melepaskan kamu,aku tidak mencintai Aurel,aku cuma cinta sama kamu," David meyakinkan Bella.
Tangannya bergerak perlahan,dan dia mencoba merangkul Bella dan memeluknya. Hatinya sudah yakin,Bella adalah pelabuhan terakhirnya,meski gadis itu bukan yang pertama mengisi relung hatinya,tapi dia akan menjadi yang terakhir.
__ADS_1