Siapa Aku Sebenarnya?

Siapa Aku Sebenarnya?
Mencari Perhatian


__ADS_3

"Rin,buatin aku kopi dong!" pinta Reno,Ririn yang saat itu sedang mengecek surat kerja sama perusahaan mereka dengan Adi Jaya langsung menghentikan pekerjaannya,tanpa di suruh dua kali dia pun keluar dari ruang kerja Reno untuk membuatkan kopi yang di minta cowok itu.


Hal inilah yang membuat Reno masih tetap mempertahankan Ririn sebagai sekertarisnya,karena Ririn apa saja yang di suruh tidak banyak tanya dan langsung di kerjakan begitu juga dengan urusan kantor,setiap kali ada masalah sama klien pasti dia yang mengatasinya.


"Ini Ren!" Ririn sudah kembali dengan membawa kopi untuk Reno.


Bau harum dari kopi buatan Ririn membuat Reno semakin tidak sabar untuk meminumnya. "Kopi buatan kamu memang enggak ada duanya ya," puji Reno sambil menyesap kopi buatan Ririn.


Reno meletakkan kembali cangkirnya seraya bertanya "Kamu tidak berniat untuk mencari pasangan Rin?"


Pertanyaan Reno membuat Ririn sedih. "Asal kamu tahu Ren,lelaki yang aku cinta itu cuma kamu." Dia membatin.


"Aku masih ingin kerja di sini Ren,untuk apa buru-buru cari pasangan hidup,jodoh itu sudah di tentukan dan aku juga seorang perempuan,entar kalau sudah saatnya,jodoh aku juga bakal datang sendiri," jawab Ririn. "Atau bisa jadi selama ini jodoh aku selalu berada di sisi aku,kita kan enggak tahu." Sambungnya lagi dan dia menyunggingkan senyuman penuh arti.


"Mungkin saja," Reno mengangkat kedua bahunya acuh.


Ririn berniat melanjutkan kembali pekerjaannya,mengambil surat kerja sama tadi yang kebetulan di letakkan di atas mejanya Reno.


"Aku bawa ini ke ruangan aku aja,ya!" ucap Ririn.


Reno hanya menjawab sekilas,karena dia mulai sibuk dengan pekerjaan sendiri.


"Yah,kunci mobil aku ketinggalan lagi," gumam Ririn dia segera kembali untuk mengambil kuncinya.


"Ada yang ketinggalan,ya?" tanya Reno saat melihat Ririn balik lagi.


"Iya,kunci mobil aku ketinggalan," sambil berjalan ke arah Reno. Ririn yang tidak hati-hati saat berjalan menjadi tersandung dengan kakinya sendiri,hingga tanpa sengaja tubuhnya itu jatuh dan menimpa Reno yang duduk di kursi kerjanya,sialnya lagi wajahnya Ririn bahkan telungkup di dada cowok itu dan kejadian tersebut membuat baju kemeja putih yang di pakai Reno terkena lipstiknya Ririn.


Reno bengong untuk beberapa saat,dia dan Ririn begitu dekat. Pintu terbuka dan yang datang adalah Bella. Ririn masih dalam posisi yang sama tidak bergerak sama sekali,baru kali ini dia merasakan jantungnya berdegup kencang. "Aku bisa memandangnya begitu dekat,semoga saja momen ini tidak cepat berlalu. Ketampanannya benar-benar membuat aku tersihir." Ririn membatin.


"Kak Reno!" teriak Sasya,suaranya menggema memenuhi ruangan.


Reno tersadar dan buru-buru menjauhkan tubuh Ririn yang menimpanya.

__ADS_1


"Sasya? Ini enggak seperti yang kalian pikirkan." Reno berusaha menjelaskan. Jelas terlihat kalau Bella berusaha menahan emosinya.


"Maaf,kalian jangan salah paham. Ini murni kecelakaan." Ririn berkata jujur.


Sasya yang memang cemburu dan tidak suka dengan Ririn sejak awal,langsung saja menjadikan hal itu untuk memanas-manasi keadaan. "Kak Ririn pasti sengaja kan? Kakak pasti ingin merebut kak Reno dari kak Bella," tuding Sasya.


"Eh,en-enggak kok. Aku beneran enggak sengaja." Jawab Ririn gugup.


"Ririn,sebaiknya kamu keluar aja sana!" usir Bella,tak ingin ada keributan di dalam ruangan Reno


"Ba-baik!" Ririn yang tidak punya kesempatan untuk menjelaskan langsung pergi dengan wajah masam. Saat dia berpapasan dengan Sasya,dia melihat Sasya tersenyum sinis ke arahnya.


"Dasar perempuan licik,awas kamu!" ada kata mengancam dalam ucapannya. Ririn keluar dari ruangan Reno,tapi dia sudah bertekad untuk memberi perhitungan dengan Sasya.


"Ada lipstik di baju kamu!" tunjuk Bella saat dia sudah duduk di sofa yang di letakkan dalam ruangan Reno.


"Tadi itu murni kecelakaan Bella,kamu jangan berpikir yang bukan-bukan terhadap Ririn. Aku jadi enggak enak sama dia,apalagi selama ini Ririn sudah banyak membantu aku mengatasi masalah-masalah di kantor." Ucap Reno,dia memang membela Ririn,karena Ririn memang tidak bersalah.


"Banyak alasannya,kak Reno pasti senang kan? Bukankah semua cowok seperti itu? Suka mencari kesempatan dalam kesempitan." Sindir Sasya,dia sengaja membuat Bella marah kepada Reno.



"Sini!" panggil Bella,menyuruh Reno untuk duduk di sampingnya.


Melihat Bella yang bersikap lembut menjadikan Reno sedikit was-was. Bukankah Bella selalu begitu? Bersikap lembut dan tenang tapi pada akhirnya dia malah marah-marah.


Sasya sangat geram saat melihat Bella tidak terkecoh dengan ucapannya,dia malah bersikap lembut terhadap Reno. "Benar-benar sulit di tebak." Batinnya.


"Sudah duduk aja! Aku enggak bakalan ngebunuh kamu tahu."


Reno pun akhirnya duduk juga "Sya,bawa sini paper bag itu!" ucap Bella meminta tas belanjaan yang di pegang Sasya.


Reno penasaran melihat isi di dalam tas itu. Dan ternyata isinya adalah kemeja yang sangat ingin di belinya tapi enggak jadi,karena hari itu saat di mana dia dan Bella sedang melihat-lihat kemeja keluaran terbaru dia lupa membawa dompetnya.

__ADS_1


"Wow... Ini kan kemeja yang ingin aku beli Bella,baik banget kamu mau membelinya untuk aku," Reno tersenyum bahagia.


"Buka baju kamu!" suruh gadis itu.


Sasya membeliakkan matanya mendengar perintah Bella. "Seberani itu Bella menyuruh kak Reno untuk membuka bajunya?" dia tidak menyangka sama sekali.


"A-aku harus membuka bajuku di sini?" dia bertanya bingung. Melihat Bella dan Sasya secara bergantian. "Enggak mungkin kan di sini? Aku malu Bella," ucap Reno.


"Cepat Reno! Ganti saja,toh Sasya juga tidak akan tergoda dengan tubuh kamu," celetuk Bella.


Kata-katanya membuat wajah Sasya bersemu merah. "Apa dia sedang meledek aku,ya?" Sasya menduga.


"Perlahan Reno melepaskan kancing kemejanya satu persatu dan Bella ikut membantu. "Kenapa harus sok romantis di depan aku?" Sasya semakin kesal dengan sikap Bella. Dia tidak kuat menahan rasa cemburunya.


Sasya berdecak kagum melihat tangan Reno yang kekar dan berotot. "Gagah banget,kalau saja kak Reno tidak memakai singlet itu,pasti aku sudah bisa melihat perut sixpacknya," hatinya berbisik.


Dari tadi Sasya hanya berdiri saja,matanya terus menatap tubuh atletis Reno tanpa berkedip.


"Nyaman banget di perlakukan seperti ini sama kamu Bell,aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikahi kamu," kata-kata Reno sontak membuat Sasya tersadar dari lamunannya.


"Jangan banyak ngomong!" ucap Bella.


"Enggak,kak Reno itu milikku! Kalian berdua tidak bisa menikah,aku akan membuat hubungan kalian renggang tanpa kalian sadari."


"Sasya,aku sama Reno mau melihat rumah kami yang sudah rampung,kamu bisa kan ke restorannya sendiri aja hari ini?"


"Aku juga mau ikut sama kalian," ucap Sasya,dia pikir Bella akan membawanya untuk ikut juga.


"Enggak bisa gitu,kamu kan baru dua hari masuk kerja masa sudah main libur aja," cegah Bella.


"Iya Sya,sebaiknya kamu ke restoran aja. Lain kali kamu pasti kita bawa deh," janji Reno.


"Ya sudah,aku masuk kerja hari ini. Tapi janji ya,lain kali kakak harus ngajak aku."

__ADS_1


Mereka berdua mengangguk mengiyakan,Sasya keluar dari ruangan itu. Ada sesuatu yang membuat dia sangat marah,yaitu tentang rumah yang sengaja di buat Reno untuk Bella. "Mereka berdua belum resmi menjadi suami istri,tapi kak Reno sudah membangun rumah untuk Bella,enggak bisa di biarkan terus begini aku harus bertindak cepat."


__ADS_2