
"Apa maksud kak Tika? Bukankah papanya Bella sudah lama meninggal?" Reno masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Tika.
"Tidak Ren,sebulan yang lalu aku sempat melihat pak Alex duduk dalam mobilnya. Aku masih ingat betul wajah papanya Bella,aku enggak mungkin salah,begitu hendak aku panggil mobilnya sudah keburu pergi,dan aku juga terjebak dalam kemacetan." Cerita Tika.
"Kakak yakin enggak salah orang?" Reno masih tidak yakin,mana mungkin ada orang yang sudah mati bisa hidup kembali.
"Yakin Ren,aku melihatnya sendiri!" berusaha membuat Reno percaya.
"Kak Tika,pak Alex sudah meninggal saat kebakaran itu,mereka di temukan dengan tubuh terbakar. Pak Alex,istrinya dan juga kakaknya Bella,mereka semua sudah meninggal."
"Tidak kah kamu berpikir Ren,kalau kematian Pak Alex hanya di buat-buat saja. Kemungkinan besar jasad yang di temukan itu bukanlah jasadnya pak Alex,tapi pak Bandi."
"Siapa pak Bandi?" Reno tambah penasaran.
"Salah satu orang kepercayaannya pak Alex,semua orang yang tewas dalam kebakaran itu di temukan,sedangkan pak Bandi tidak. Bisa jadi itu pak Bandi dan pak Alex masih selamat,aku rasa ada seseorang yang sudah campur tangan dalam masalah ini." Tika mencoba mengingat-ingat kejadian bertahun-tahun lalu yang menurutnya ada keanehan di sana.
"Kenapa kak Tika sangat yakin?"
"Aku masih ingat betul dengan kejadian malam itu Ren,saat aku meminta untuk melihat jasadnya pak Alex ada seorang anggota polisi yang melarang aku untuk melihat papanya Bella,padahal aku cuma ingin memastikan aja."
Reno mulai yakin kalau papa Bella bisa jadi masih hidup,setelah mendengar cerita dari Tika,harapannya untuk bertemu dengan calon mertuanya itu mulai tumbuh. Dia juga berharap semoga aja memang benar kalau pak Alex masih hidup.
\*\*\*
Bella terus menimang-nimang cincin di tangannya. Cincin indah itu sudah menjadi miliknya,pertanda kalau dia sudah menerima Reno untuk menjadi calon suaminya.
"Keputusan aku tidak salah kan?" monolog Bella. "Ibu dan mama pasti sangat senang melihat aku bahagia dengan orang yang tepat. Ya,mereka senang. Semoga aja Reno memang orang yang tepat,meski untuk saat ini aku belum merasakan adanya cinta itu." Bella masih belum sadar akan perasaan dirinya sendiri,dia sebenarnya mulai mencintai Reno.
"Aku pulang!" seru Tika begitu dia sampai di rumah.
Bella buru-buru menyimpan kembali cincin itu dalam kotak.
"Sebentar lagi sudah sah jadi istri orang,ni" Tika mulai mengusik kenyamanan Bella.
"Gini ni kalau kak Tika sudah pulang," gumam Bella.
Tika menghempaskan tubuhnya yang terasa letih ke atas sofa. Bella memperhatikannya dengan seksama,dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Usia kak Tika sudah 33 tahun,kenapa belum nikah?" pertanyaan Bella membuat Tika terdiam.
__ADS_1
"Belum punya calon,ya? Mau Bella cariin nggak?"
Pertanyaannya benar-benar mengusik pikiran Tika.
"Enggak perlu!" Tika mulai cemberut.
"Kalau ada yang melihat kak Tika,mereka juga tidak akan menyangka kalau umur kakak sudah 33 tahun." Ucap Bella sembari tertawa cekikikan.
"Kayaknya ada yang lagi happy ni,karena sudah bertemu sama calon mertua," sindir Tika,sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
Bella cuma nyengir aja mendengar ucapan Tika,tidak ada minat untuk meladeni.
"Enggak takut jadi perawan tua?" kembali Bella meledek Tika.
"Nggak,masa bodoh tentang perawan tua itu,aku enggak peduli!" sahutnya acuh tak acuh.
"Aku mau ke dapur dulu mau makan,kamu masak enggak hari ini?" tanya Tika sembari memegang perutnya.
Bella kembali termenung setelah kepergian Tika,dia mulai merasa rindu sama kedua orangtua kandungnya, "Besok aku ajak kak Tika aja untuk ziarah ke makam mama papa." Gumam Bella. Setelah itu dia beranjak bangun dan pergi menuju ruang makan untuk mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Bella makan malam bersama Tika,setelah bu Santi meninggal hanya Tika yang selalu menemaninya,Tika itu tidak hanya menjadi kakak tapi dia juga sudah seperti ibu bagi Bella.
"Andai aja papa aku masih hidup kak,pasti kak Tika bakal aku jodohin sama papa aku," ucap Bella seraya tersenyum usil.
Tika yang saat itu hendak memasukkan makanan ke mulutnya mendadak berhenti dan menatap Bella dengan mata melotot garang. Bella benar-benar membuatnya marah,ingin sekali Tika memasukkan jeruk yang ada di depannya itu ke dalam mulut Bella.
"Ih,takut ah! Mata kak Tika tajam banget," Bella pura-pura merasa ngeri.
"Kamu pikir aku enggak laku apa?" ucap Tika kesal.
"Enggak laku apa enggak ada yang mau?" lagi-lagi omongan Bella membuat Tika bad mood.
"Bella...!" Tika sudah tidak bisa menahan diri lagi,ingin sekali mulut Bella di remas-remas dan di jahit,biar enggak bisa ngomong lagi.
__ADS_1
"Maaf!!!" Bella kabur sambil membawa piring di tangannya,tidak berani lagi dia makan satu meja dengan Tika karena sudah membuatnya marah.
"Awas kamu,ya!"
"Jangan di balas kak,aku cuma bercanda!" seru Bella,dia sudah menghilang dari pandangan Tika.
"Huh,bikin tensi gue naik." Tika menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
\*\*\*\*\*
Reno dengan setianya mau menemani Bella untuk berkunjung ke makam orangtua gadis itu,padahal hari ini dia ada janji dengan rekan bisnisnya. Tapi dia menyuruh Ririn untuk menghandle semuanya.
Ingin rasanya Ririn protes sama sikap Reno yang terlalu memanjakan Bella,saat di tanya kenapa harus dia yang menemani Bella,dia dengan santainya menjawab kalau Tika sedang ada pekerjaan yang enggak bisa di tinggal.
Lalu,bukankah Reno juga sama? Dia juga punya pekerjaan yang harus di selesaikan,tapi dia malah melimpahkan semua pekerjaan kepada Ririn,membuat Ririn semakin muak dengan Bella.
Setelah berdoa di pemakaman kedua orangtuanya,Bella tidak langsung pergi. Dia mulai penasaran dengan bunga yang diletakkan di atas kuburan mamanya.
Reno jadi teringat pembicaraannya bersama Tika kemarin siang,tentang pak Alex yang menurut Tika masih hidup.
"Bunga ini enggak mungkin kak Tika yang membawanya,kan?" Bella mendongakkan kepalanya,menatap Reno yang berdiri di sebelahnya.
"Kalau bukan Tika,lalu siapa?" Reno sama herannya.
Bella yang masih dalam posisi jongkok,dengan agak ragu-ragu mengambil bunga mawar itu kemudian menciumnya.
"Baunya sangat harum,bunganya masih segar,seseorang pasti baru saja mengunjungi makam mama." Ucap Bella.
Reno ikut berjongkok di samping Bella, "Kenapa bunga ini hanya di taruh di makam mama kamu aja?"
"Iya,aku baru sadar. Bukankah ini aneh?" Bella baru menyadarinya.
"Kenapa di makam papa enggak ada,dan orang yang tahu bunga kesukaan mama hanya aku,papa dan kakak," lanjutnya kemudian.
Semakin membuat curiga,Reno mengedarkan pandangannya ke seluruh area makam,mencari-cari orang yang mungkin bisa dicurigai.
__ADS_1