
"Tuan Arga sudah membunuh salah satu mantan Art Pak Alex,bisa jadi yang dibunuhnya itu adalah orang yang sudah menyelamatkan Bella." Ujar Tino. "Itu sih menurut pemikiran saya," sambung lelaki itu lagi.
"Tapi sepertinya tidak mungkin,kalau menurut saya yang di bunuh Arga adalah Art yang lain,sedangkan orang yang sudah menyelamatkan Bella hanya Bella sendiri yang tahu,apa orang itu masih hidup atau tidak," ucap Bu Dewi,dia mulai membuka map yang di berikan Tino tadi.
"Apa ada informasi lain yang kamu ketahui?"
"Untuk saat ini belum ada."
"Kalau begitu kamu sudah boleh pergi untuk kembali melanjutkan pekerjaan kamu,dan ingat! Terus pantau apa yang di lakukan Arga!" Bu Dewi mengingatkan.
"Baik bu,!" Tino mengangguk patuh,setelah itu dia langsung undur diri,dan kembali ke ruangannya.
"Ini sangat aneh,kenapa Arga tahu kalau Bella masih hidup." Gumam Bu Dewi.
\*\*\*\*
Bella ingin membantu ibunya di dapur,tapi Bu Santi melarangnya,karena tangan Bella belum sembuh total.
"Bu,tadi di sekolah...
"Kalau mereka terus membully kamu di sekolah kamu balas saja,kamu jangan selalu diam saat mereka menginjak-nginjak harga diri kamu." Potong Bu Santi,beliau tidak memberikan Bella kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.
"Kenapa ibu tahu apa yang ingin aku katakan?" tanya Bella penasaran.
"Tadi guru BK kamu di sekolah menelpon ibu,dia mengatakan semuanya sama ibu," ucap Bu Santi. Meski dirinya sedang sibuk menggoreng ikan,tapi dia tetap fokus dengan pembicaraan bersama Bella.
Ikan gorengnya sudah siap di sajikan,bu Santi mematikan kompor dan menyuruh Bella untuk meletakkan piring berisi ikan goreng di atas meja makan.
Bella mengambil piring itu dan membawanya untuk di letakkan di atas meja.
Bella agak ragu-ragu saat melangkahkan kakinya menuju ruang makan,rasa takutnya muncul begitu melihat wajah Kanaya dan Bu Dewi,kepalanya mendadak sakit,sangat sakit dan sulit untuk di jelaskan.
Sekarang Bu Dewi dan Kanaya mulai memandang kearah Bella,dan hal itu membuat Bella semakin ketakutan "Kenapa aku takut? Kepala ku juga sangat sakit. Oh Tuhan,cobaan apa lagi ini? Kaki ku kenapa gemetaran begini?" batin Bella,dia menghindari tatapan ibu dan anak itu.
Bella dengan hati-hati meletakkan ikan goreng ke atas meja,saat dia berbalik hendak kembali ke dapur untuk mengambil masakan yang lain tubuhnya ambruk ke lantai,pandangannya nanar,dan kepalanya juga semakin sakit,seiring dengan itu pula bayangan demi bayangan terus bermunculan di memori ingatannya, berputar-putar seperti kaset rusak.
"Akh...!!!" Erang Bella sembari memegang kepalanya yang berdenyut-denyut kesakitan.
"Ibu!" panggil Bella, "Kepala aku sangat saki!" dia mengiba,melihat kondisi Bella yang memprihatinkan Kanaya dan Bu Dewi tergerak juga untuk membantu. Si nenek lampir sama anaknya jadi baik begitu terasa aneh juga ya?
__ADS_1
"Bella,kamu kenapa Bell?" tanya Kanaya,dia menyentuh pelan pundak Bella.
Bu Dewi berseru memanggil Bu Santi.
Bella tidak tahu apa yang terjadi di dekatnya,dan bagaimana ekspresi mereka saat melihat dirinya kesakitan,dia hanya fokus dengan bayangan yang terus bermunculan.
"Jangan-jangan... Aku mohon lepaskan dia! Jangan bunuh dia!" Bella mengucapkan kata-kata yang tidak bisa di pahami mereka,dia menjerit-jerit minta di lepaskan dan terus menangis,mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi sama dia.
Bu Santi hanya bisa memeluknya dengan erat,Bella terus menangis dan akhirnya dia jatuh pingsan.
\*\*\*\*
INGATAN BELLA
"Apa yang harus kita lakukan kak?" Bella bertanya pada pengasuhnya.
"Kita harus tetap bersembunyi di sini,sampai keadaan aman."Jawab Agnes.
"Apa kita akan selamat?" Bella kecil bertanya dengan hati di selimuti rasa takut yang dalam.
"Bunga sayang,kamu harus yakin kita bisa selamat,setelah keadaan aman kita akan keluar dari tempat ini dan mencari bantuan." Agnes meyakinkan.
Bella dan Agnes bersembunyi di rumah kontrakan miliknya,dia pikir cukup aman berada di sana. Namun siapa sangka takdir berkata lain,anak buah Arga ternyata sudah mengetahui keberadaan mereka.
Ada tiga mobil yang terparkir di luar kontrakan Agnes.
"Sepertinya kita sudah di kepung Bunga,kita tidak bisa lari lagi dari sini." Ucap Agnes dengan suara bergetar. Wajahnya panik,mereka benar-benar berada dalam kondisi terjepit.
Jalan satu-satunya adalah lewat pintu belakang.
Agnes melihat beberapa lelaki berpakaian serba hitam menuju ke arah kontrakannya,semakin dekat.
Dia memutar otaknya berusaha mencari cara yang tepat untuk menyelamatkan Bella.
"Bunga,kakak punya ide. Kamu bersembunyilah di dalam lemari,kakak akan mencoba mengulur waktu di sini,kalau lewat pintu belakang kakak juga tidak yakin kamu bisa selamat." Ucap Agnes berusaha untuk menahan tangisnya di depan Bella,alias Bunga.
"Lalu bagaimana dengan Kak Agnes?" Bella terlihat sedih,gadis kecil itu tidak tahu apa yang sedang terjadi saat itu. Dia juga masih tidak terlalu mengerti kenapa harus bersembunyi.
"Cepat bersembunyi! Dan ingat jangan keluar apa pun yang terjadi!" perintah Agnes,dia mencium Bella beberapa kali,tahu bahwa hidupnya akan berakhir hari itu juga.
__ADS_1
Bella bergegas masuk ke lemari yang berukuran besar,yang ada di dalam kamar Agnes.
Saat Agnes ingin menutup pintu kamarnya,tiba-tiba pintu di dobrak dengan keras hingga jatuh ambruk ke lantai.
Jantung Agnes berdetak kencang,tiga lelaki berpakaian serba hitam masuk ke rumahnya,mereka berjalan beriringan. Dua di antaranya membawa pistol dan lelaki yang di tengah dia memakai penutup wajah,tanpa membawa senjata apapun.
"Mau lari kemana lagi kamu?" tanya lelaki yang berdiri di tengah dua pria yang memegang pistol.
Agnes mencoba untuk tidak panik,dengan sikap dingin dia menjawab "Aku tidak punya urusan apa-apa sama kalian!"
"Masih berlagak bodoh rupanya,tunjukkan di mana kamu menyembunyikan Bunga,kalau kamu memang masih mau selamat."
Lelaki itu mengancam. Ancaman mereka tidak membuat Agnes gentar. "Kalian tidak akan menemukan Bunga disini,karena dia sudah pergi dari tadi." Ucap Agnes berbohong.
"Siksa dia!" perintah pria yang memakai topeng.
Kedua anak buahnya langsung menyerang Agnes,namun sayangnya Agnes tidak bisa langsung di hajar begitu saja,karena gadis itu juga memiliki ilmu beladiri yang cukup kuat. Setiap serangan dari lawan,Agnes bisa menangkisnya dengan cepat.
Melihat kalau anak buahnya tidak memiliki peluang untuk menang,pria bertopeng itu memutuskan untuk menembak Agnes.
DOR...
Satu peluru lolos dan tepat mengenai sasaran,perut Agnes mengalir darah.
Bella dapat melihat kejadian tragis itu melalui celah lemari,dan kebetulan pintu kamar juga terbuka lebar.
Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya supaya tidak menimbulkan suara.
"Kalian pengecut,beraninya pakai senjata." Agnes tersenyum sinis,tubuhnya mulai terhuyung-huyung dan kemudian jatuh ke lantai.
"Aku masih memberikan kamu kesempatan untuk hidup,tinggal memilih saja. Pilihannya ada di tangan kamu,bekerjasama dengan kami dan mengatakan dimana keberadaan Bunga,atau mati dan kamu tidak akan mendapat apa-apa." Pria itu memberinya pilihan.
"Cih,aku lebih baik mati dari pada jadi pengkhianat hanya untuk kerja sama dengan anjing-anjing seperti kalian." Ucap Agnes dengan mantap,tak ada ketakutan di matanya.
Karena marah dengan sikap sombong yang di tunjukkan Agnes,pria bertopeng itu kembali menarik pelatuknya dan satu peluru lagi lolos keluar.
DOR...
__ADS_1
Tembakan ke dua mengenai kepalanya,Agnes menutup matanya,kematiannya yang tragis menoreh luka dan akan menjadi masa lalu yang menyakitkan bagi Bella.