
Bella bimbang,dia tidak tahu bagaimana cara menyikapi kondisi yang ada saat ini. Haruskah dia pergi dan mengabaikan permintaan maaf dari David,atau memaafkannya begitu saja dan melupakan apa yang sudah di lakukan oleh cowok itu kepada dirinya.
"Bella,tolong maafkan aku!" suara David terdengar seperti mengiba,Bella tidak ingin berlama-lama di sana,kalau terlalu lama berada di dekat David,Bella takut hatinya akan luluh dan dia malah dengan mudah memaafkan cowok itu.
"Aku enggak ada waktu untuk ngeladeni kamu Dav,aku mau masuk kelas dulu!" ucap Bella. Dia beranjak pergi dari sana,David tidak lagi menghalanginya,dia sadar sudah membuat Bella terluka,dan Bella butuh waktu untuk memaafkan kesalahannya. Tidak mudah bagi Bella melupakan kejadian memalukan itu.
"Aku akan tetap menunggu Bella,aku akan menuggu sampai permintaan maaf aku kamu terima." Lirih David.
\*\*\*\*
Bella masuk ke ruang kelasnya untuk pertama kali setelah libur selama seminggu lebih,siswa-siswi di kelas itu terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing,ada yang lagi mengerjakan PR,dan ada juga yang sibuk bergosip.
Sepasang mata indah Bella terpaku menatap cowok yang berada di samping tempat duduknya,bangku itu awalnya kosong karena siswa yang duduk di bangku itu sudah pindah sekolah,dan sekarang di ganti sama murid lain. Dan murid itu adalah cowok tampan yang sekarang sedang di pandang Bella.
Bella duduk di bangkunya. "Hai,aku Riko siswa baru di sini," cowok itu mengulurkan tangannya,mengajak Bella bersalaman.
Bella sedikit ragu-ragu untuk menyambut uluran tangan Riko,Bella tidak mau di jadikan lelucon oleh teman-temannya yang jahat itu,dia melirik ke kanan dan kiri,tak ada orang yang melihatnya sekarang. Sekarang apa yang harus Bella lakukan? Bella bingung.
"Kamu tidak mau berteman sama aku?" cowok itu bertanya lembut,tatapan matanya juga sangat meneduhkan.
"Sepertinya dia tulus." Batin Bella.
"Nama aku Bella," ucap Bella.
"Nama yang cantik,secantik orangnya" puji Riko,Bella hanya tersenyum mendengar pujiannya.
Tatapan cowok itu kemudian beralih menatap tangan Bella,dia menyipitkan matanya karena penasaran kenapa tangan Bella terlihat seperti di pukul seseorang.
Bella mulai mengeluarkan buku pelajarannya,dia tidak memperdulikan Riko yang terus menatapnya dengan pandangan aneh.
"Gadis ini,kenapa dengan tangannya? Apakah dia di siksa sama keluarganya?" Batin Riko.
"Cowok itu kenapa ngelihat aku terus ya? Pasti karena tangan aku ini," Bella membatin,mereka sama-sama bicara dalam hati.
Nah,di saat suasana lagi tenang-tenangnya,si nenek lampir datang,sambil meletakkan tasnya di atas meja dia bersuara keras "Kayaknya bakal ada pertunjukan baru hari ini!" ucap Andini,matanya melirik ke arah Bella.
__ADS_1
"Eh Bella,masih berani juga ya lo nginjakin kaki di kelas kita." Tambah Meta,dia mulai mendekati tempat duduk Bella.
Bella dengan susah payah mencoba menenangkan perasaannya,dia tidak boleh takut. Andini dan dua temannya juga manusia biasa,kalau Bella takut dan hanya diam saja saat di bully maka selamanya mereka akan terus membully dirinya.
"Bangun!" Suruh Andini.
Bella mendongakkan kepalanya menatap wajah mereka satu persatu,lalu dia tersenyum sinis.
Tingkahnya itu membuat Andini dan dua temannya merasa di remehkan.
"Kalian mau apa lagi?" tanya Bella santai.
"Mau gue? Lo nanya mau gue apa? Gue mau lo minta maaf sekarang juga sama gue,karena perbuatan keji lo hari itu,sampai sekarang luka cakaran kuku lo masih membekas di wajah gue!" bentak Andini.
"Itu salah kamu sendiri,siapa suruh nyari gara-gara sama aku," ucap Bella. Nindi yang melihat tingkah santai dan bawaan Bella yang tenang semakin membuat darahnya mendidih.
"Mulai berani ngejawab ya lo sekarang?" giliran Meta yang bicara. Dia juga tidak tinggal diam,sepertinya mereka benar-benar akan membuat pertunjukan heboh hari ini.
"Dasar anak pembantu!" ejek Andini dengan sinisnya,tangan Bella dengan cepat melayang dan kemudian mendarat di wajahnya.
***PLAK***
Andini tidak menyangka Bella menamparnya,semua murid berdecak kagum,ada yang menyemangati Bella dan ada juga yang marah karena perbuatannya.
"Kurang ajar! Kamu berani sekali menampar Andin," ucap Nindi berusaha membalas tamparan Bella,tapi gadis itu dengan gesit menahan tangannya Nindi. "Aku tidak ada urusan sama kamu." Ucap Bella dengan ekspresi datar.
Bella tidak mau menjadi gadis lemah lagi,benar seperti kata Reno kalau dia terus diam saat di rendahkan oleh mereka,maka selamanya mereka akan terus membully dirinya.
Riko yang duduk di sebelah kanan meja Bella,dia juga merasa takjub melihat keberanian gadis itu.
"Bella,disini enggak akan ada yang peduli sama lo,termasuk guru sekalipun. Jadi lo enggak usah sok hebat disini.!" Bentak Andini. Tanpa di sadari Bella tangan Andini sudah menarik rambutnya dengan kencangnya,Bella merasakan rambutnya itu seperti akan lepas dari kulit kepalanya.
"Akh..." Pekik Bella,rasanya benar-benar sakit.
Merasa mendapat kesempatan untuk memberi pelajaran yang setimpal kepada Bella,Meta menekan kepala Bella dan membuatnya bersimpuh di depan Andini.
__ADS_1
Andini masih menarik rambut Bella,membuat gadis itu tertengadah,dan Meta memegang kedua tangan Bella dan menguncinya kebelakang,membuat Bella tidak bisa melawan,sedangkan Nindi dia dengan kejamnya menampar wajah Bella dua kali dengan sangat keras,membuat sudut bibir Bella berdarah.
Anak-anak yang lain terus memanas-manasi keadaan,Riko yang sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan buruk Andini dan kedua temannya dia langsung bangkit dari duduknya hendak melerai mereka.
Namun tiba-tiba dari arah luar David dan dua temannya masuk.
"Andini,berhenti!" Teriak David.
Andini dan kedua temannya terkejut,mereka segera melepas Bella.
Andini menjadi gugup,dia tidak tahu harus berbuat apa,di depan David dia seperti seekor semut kecil yang bisa di injak kapan saja.
"Apa yang kalian lakukan terhadap Bella? Kalian sudah gila apa?" Reno melampiaskan kemarahannya,ingin sekali di layangkan tinjunya ke arah mereka bertiga,untung aja mereka perempuan,coba saja kalau cowok pasti sudah di pukul habis-habisan sama Reno dan David.
David membantu Bella bangun,suasana yang tadinya rame mendadak senyap karena kedatangan tiga pangeran itu.
Arman dengan gaya cueknya hanya menatap Andini tanpa kata,tapi tatapannya sangat menakutkan,seperti ingin memangsanya hidup-hidup.
"Ayo kita ke UKS!" ajak David,namun Bella menolaknya dengan halus,tatapannya juga tidak dingin seperti saat mereka bicara di belakang gedung sekolah tadi.
"Tidak usah,aku tidak apa-apa."
"Bibir kamu berdarah,apanya yang tidak apa-apa," David membujuk.
"Ke UKS aja dulu Bell,masalah ini biar aku sama Reno yang nangani,kamu enggak usah khawatir." Ucap Arman.
Semakin membuat Bella curiga aja,kenapa tiba-tiba mereka bertiga jadi sebaik itu sama Bella.
"Iya Bella,hari ini sepertinya para guru juga tidak akan ada yang masuk,karena mereka sedang rapat di kantor,jadi kamu bisa istirahat di UKS,sambil menunggu bel pulang berbunyi." Tambah Reno.
Bella tampak berpikir,tapi kelamaan hingga David menariknya dengan paksa supaya dia mau pergi ke UKS untuk mengobati memar di wajahnya.
\*\*\*\*
__ADS_1