Siapa Aku Sebenarnya?

Siapa Aku Sebenarnya?
Bella Adalah Bunga


__ADS_3

"Bella..." terdengar suara lembut yang sudah tidak asing lagi di telinganya,membuat Bella terjaga,dia melihat satu persatu wajah orang-orang di depannya.


Ada Kanaya,Bu Dewi dan ibunya sendiri. Hei enggak salah ni,bu Dewi juga ada di sana menunggu Bella hingga gadis itu tersadar dari pingsannya.



"Bella,kamu sudah sadar nak,apa kepala kamu masih sakit?" tanya Bu Santi penuh kasih.


"Masih sakit sedikit bu." Jawabnya lemah.


"Apa kamu mengingat sesuatu Bella?" Bu Dewi terlihat cukup perhatian dengan Bella.



Tidak! Dia bukan perhatian,tapi sedang mencari informasi tentang Bella. Tentang siapa yang menyelamatkan Bella pada saat kebakaran malam itu.



"Aku seperti bermimpi,mimpi yang seperti nyata. Ya,itu memang nyata."



"Apa yang kamu lihat dalam mimpi kamu itu,cepat katakan!" desak Bu Dewi.



"Nyonya,ceritanya nanti saja,tolong biarkan Bella istirahat dulu,kepalanya pasti masih sangat sakit." Ucap Bu Santi.


"Tidak apa-apa bu,aku bisa menceritakannya sekarang sama Nyonya Dewi."


"Nah,Bella saja tidak masalah dengan permintaan saya,tinggal cerita doang apa susahnya."


"Aku melihat Kak Agnes di tembak,dia di tembak sampai mati di depan mata aku." Ungkap Bella,tak terasa air matanya mengalir jatuh.


"Siapa Agnes?" Kanaya juga jadi ikutan penasaran.



"Pengasuh aku,aku sudah ingat sedikit kejadian tragis yang menimpa ku." Lirih Bella.



"Kamu kenal siapa yang sudah menembak pengasuh kamu itu Bella?" tanya Bu Santi.



"Tidak bu,lelaki itu memakai topeng,setelah menembak Kak Agnes dia pergi begitu saja,sedangkan aku bersembunyi dalam lemari."



"Hanya itu saja yang kamu ingat Bella?" tanya Bu Dewi.

__ADS_1



"Iya hanya itu yang aku ingat." Jawab Bella membenarkan.



\*\*\*\*\*\*



"Kamu ngapain melamun di sini sisi?" David menghampiri adiknya yang sedang duduk di ruang tengah sambil melamun.


"Jangan gangguin aku,aku lagi mikirin sesuatu ni!" jawab Sisi sembari menopang dagunya,tingkahnya memang menggemaskan.


"Mikirin apa sih? Coba bilang sama kakak!" pinta David.


"Aku lagi mikirin kak Ella."



David mengernyitkan alisnya,baru kali ini dia mendengar nama Ella,apa dia teman barunya sisi ya?


"Ella itu siapa sih? Teman baru kamu ya?"


"Kepo banget sih," Sisi enggan menceritakan tentang Ella sama David. Kalau saja David tahu siapa sosok Ella yang di maksud Sisi,dia pasti sangat terkejut.


"Ya ampun,anak-anak mama ada di sini rupanya,kalian lagi pada ngomongin apaan sih?" Bu Riska ikut nimbrung.


"Tau tuh ma,katanya Sisi lagi ngelamunin Ella,enggak tahu deh Ella itu siapa." Jawab David.


"Kak Ella adalah teman Sisi,sudah dua kali aku bertemu dengan Kak Ella,dia kakak yang baik. Tapi hari terakhir saat aku bertemu sama Kak Ella,dia tampak sedih,wajahnya murung dan dia pergi tanpa memakai alas kaki,melihatnya membuat aku sedih."


David dan mamanya mendengar cerita Sisi dengan begitu fokus. David mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Sisi,tentang gadis yang bernama Ella itu,David seperti kenal dengan sosok yang di ceritakan adiknya.


"Kalian bertemu di mana?" tanya David,mungkin dia mulai penasaran dengan Ella.


"Tidak! Aku tidak akan mengatakannya sama kakak,aku juga tidak akan mengenalkannya sama Kak David.! Tegas Sisi "Kak Ella sangat cantik,dia juga baik jadi tidak pantas kalau kak David dekat sama Kak Ella." Sambung Sisi. Dia sudah pernah melihat David bertengkar dengan mantan pacarnya,David membuat gadis itu menangis.


Sisi yang tidak tahu tentang kejadian yang sebenarnya,membuat dia mengambil kesimpulannya sendiri. Menurutnya David tidak bisa membuat orang-orang yang berada di dekatnya bahagia.



"Apa Ella itu sebaya sama kakak?" David terus bertanya.



"Kamu begitu ngotot pengen tahu Ella itu siapa,kalau Sisi bilang sama kamu memangnya kamu kenal?"


"Tuh,mama aja enggak mau aku ngasih tahu lebih jelas tentang kak Ella sama kakak," celetuk Sisi.


"Siapa bilang mama enggak mau? Kayaknya mama enggak ngomong gitu deh tadi." Bu Riska membuat Sisi kesal.

__ADS_1


"Huh...kasian banget kamu enggak di belain sama mama!" ledek David.


"Au ah,mama sama Kak David nyebelin,sama-sama suka bikin Sisi kesal." Sisi menghentakkan kakinya dengan kasar sambil berlalu pergi.


Kakak dan mamanya tertawa lucu melihat tingkahnya yang gemesin.


. ****


Membuka lembaran demi lembaran namun,tak ada sedikit pun informasi yang di carinya. Dia menghela nafas berat. Ponselnya berdering membuat dia terkejut dan hampir saja gelas di atas meja tersenggol dengan sikunya.



"Aih,beruntung gelasnya enggak pecah." Gumam wanita itu.



Seorang wanita berambut panjang,dengan wajah yang hampir mirip dengan Agnes,pengasuh Bella dulu.



"Kamu sudah bertemu dengan anak itu?" Tanya temannya.



"Belum Roy,tapi aku sudah tahu di mana keberadaannya" jawab si wanita.


"Kamu ingat kan dengan pesan Agnes,kita harus menjaga Bunga,apa pun yang terjadi dia tidak boleh sampai di temukan oleh Arga," Roy mengingatkan.


"Arga..." ucap Tika terdengar parau,dia menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh kebencian "Aku akan membalas dendam adik ku pada lelaki itu."


"Andai saja kita datang tepat waktu,mungkin dia tidak akan meregang nyawa di sana," tambah Roy penuh sesal. Mereka bertiga adalah sahabat,dia dan Agnes sangat dekat,Agnes sudah di anggap seperti adiknya sendiri,jadi wajar jika kepergiaan Agnes membuatnya sangat terpukul.



"Tika,tadi kamu bilang sudah tahu di mana keberadaan Bunga,jadi di mana dia sekarang?" tanya Roy.


"Dia ada di keluarganya Mahendra,saat ini biarkan saja Bunga berada di sana,karena aku rasa Bunga lebih aman di sana,tidak akan ada anak buah Arga yang mengetahui keberadaannya."


"Arga,dia tidak bisa di kalahkan begitu saja,anak buahnya ada di mana-mana,sedikit saja kita salah mengambil langkah,Dor... Satu peluru akan menembus kepala kita." Ucap Roy,merasa ngeri dengan kebengisan Arga.


"Kekejamannya melampaui batas,Pria yang penuh dengan ambisi jahatnya,dia menginginkan semua harta yang di miliki Pak Alex,hingga sanggup membunuh semua keluarga kakaknya sendiri." Tika tersenyum kecut,kejahatan Arga membuat adiknya jadi korban.


"Kita harus menemukan markas anak buahnya,dengan begitu kita bisa menghabisi Arga," Tika tersenyum senang saat membayangkan kekalahan Arga di depan matanya.



"Kita harus bertemu dengan Bunga dulu,lalu membawa dia keluar dari kota ini,keberadaanya di sini sudah tidak aman lagi,karena Arga sudah tahu kalau Bunga masih hidup."



Tika mengangguk setuju dengan idenya Roy,mereka memang harus membawa Bunga pergi sejauh mungkin,karena keberadaannya di sana lama kelamaan pasti akan di temukan oleh Arga dan anak buahnya.

__ADS_1



^^{{•••}}^^


__ADS_2