Siapa Aku Sebenarnya?

Siapa Aku Sebenarnya?
Kemarahan Aurel


__ADS_3

Ting tong!


Ting tong!


Bella berlari cepat menuju pintu masuk,dia berharap kalau yang datang adalah David.


"Dav..." ucapan Bella terhenti begitu melihat sosok lelaki yang berdiri didepannya kini. Tak seperti yang di harapkan.


"Hai Bella,!" Reno tersenyum lembut saat menyapanya.


"Hai..." balas Bella,dia menatap Reno dari ujung rambut sampai ujung kaki. Melihatnya dengan pandangan aneh.


"Kenapa? Apa penampilan ku jelek?" Reno bertanya. Bella menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Lalu...?"


"Hanya aneh saja karena kamu tahu dimana rumah aku,"


"Aku meminta alamat rumah kamu sama David."


"Kenapa kamu datang sendiri? Kenapa enggak ajak David sekalian?" tanya Bella.


"Dari tadi kamu ngajak aku ngobrol di luar,kamu tidak mau mempersilahkan aku masuk? Aku tamu loh!" Reno tidak menjawab pertanyaan Bella.


"Oh ya aku lupa!" ucap Bella,seraya menepuk jidatnya sendiri.


"David lagi ada pekerjaan di kantor Bell,dalam beberapa hari ini sepertinya dia akan sangat sibuk." Reno memberitahu.


Untuk beberapa menit lamanya mereka sama-sama terdiam,sepertinya sedang mencari topik pembicaraan yang bagus,supaya suasana tidak membosankan.


"Rumah kamu sepi Bell,ibu kamu pergi kemana?" tanya Reno.


"Ibu sibuk ngurusin para pegawai baru di restorannya." Jawab Bella.


"Oh pantesan sepi."


"Kamu sendiri enggak kerja?"


"Hari ini aku sengaja enggak masuk,soalnya nanti sore aku juga harus ikut turun ke lapangan untuk melihat proyek yang sedang dikerjakan para pekerja,"


"Proyek yang seperti apa?" Bella penasaran.


"Proyek biasa Bell,hanya sebuah bangunan kecil." Jawab Reno,jawaban yang membuat Bella semakin penasaran.


"Bangunan kecil?" 🤔


"Sebuah rumah." Reno berkata terus terang.


"Kamu membangun rumah? Untuk Siapa? Jangan bilang kalau kamu sebentar lagi akan menikah." Ucap Bella. Dan perkataannya itu sukses membuat senyuman Reno merekah,cowok itu tersenyum manis.


Kayaknya benar kalau Reno akan segera menikah,tapi siapa gadis yang beruntung itu?


"Wah aku benar,ya?" tanya Bella,saat melihat Reno hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan darinya.

__ADS_1


"Ya kamu benar,aku sudah punya calonnya,tapi sepertinya dia bukan jodoh ku." Reno menjawab lemah,sorot matanya tak terlihat bersemangat.


"Apa gadis itu tidak menyukai kamu?" Bella lanjut bertanya.


"Dia tidak tahu kalau aku menyukainya" jawab Reno. Pandangannya tak pernah lekang dari wajah Bella.


Bella mulai risih,dia jadi salah tingkah.


"Ungkapin dong Ren,biar dia tahu!" usul Bella.


"Tidak!" Reno menggeleng pelan,dan menarik nafas panjang.


"Kamu perlu bantuan ku,mungkin aku bisa bantu,"


"Tidak perlu,memang lebih baik seperti ini,gadis itu sebaiknya tidak tahu kalau aku menyukainya,karena aku juga tidak ingin membuat dia terbebani." Alasan Reno membuat Bella semakin penasaran dan bingung 😕


"Aku tidak mengerti jalan pikiran kamu Ren."


"Suatu saat kamu juga akan mengerti."


"Apa aku mengenal gadis itu?"


Deg!


Tiba-tiba Reno membelalak mendengar pertanyaan Bella,namun dia buru-buru tersenyum, "Kamu juga mengenalnya,malah kamu lebih mengenal dia dari pada aku."


"Aku lebih mengenal dia daripada kamu? Kok bisa?"


Reno semakin membuat Bella bingung,gadis itu tambah penasaran,siapa sebenarnya perempuan yang di cintai Reno.


"Membuat aku penasaran aja,siapa sih gadis yang beruntung itu?"


"Ayo katakan padaku Ren!" pinta Bella,dia memaksa Reno untuk mengatakannya.


Tapi Reno tetap pada pendiriannya,dia tidak akan mengatakannya pada Bella.


Membiarkan gadis itu penasaran. "Kamu benar-benar tidak akan mengatakannya sama aku Reno?" Bella masih berharap Reno mau menceritakan siapa gadis yang sudah merebut hatinya itu.


"Kelak kamu juga akan tahu siapa gadis yang aku maksud." Ucap Reno menatap Bella penuh arti.



"Kenapa hati aku mengatakan kalau gadis yang di katakan Reno adalah aku,ya?" batin Bella.



"Duh Bella,kamu kepedean banget sih!" Bella jadi malu sendiri.



Dia senyam senyum enggak jelas di depan Reno. "Kenapa senyum gitu Bell? Apakah ada yang lucu?"


__ADS_1


"Tidak ada... Tidak ada" Bella menjawab cepat.



Di tempat lain,di kediamannya Aurel naik pitam. Gadis itu tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Sayang,dengerin mama!" bu Erin mencoba menenangkan anak semata wayangnya.


"Dengerin apa ma? David sudah jadi milik Bella dan dia tidak akan bisa aku dapetin lagi,aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk hari ini,tapi semuanya di buat kacau karena kehadiran Bella!"


Pyar...


Aurel melempar cermin riasnya dengan high heels yang dipakainya,membuat cermin itu retak.


Bu Erin hanya bisa mengelus dada melihat amarah sang anak.


"Ya Allah kuatkan aku,mungkin sikap Aurel jadi begini karena aku terlalu memanjakan dia."


"Aku enggak mau tahu,pokoknya mama harus bisa membujuk David supaya dia mau datang kesini," Aurel memaksa.


"Aurel,David itu sudah punya pilihannya sendiri,mama enggak mau merusak hubungan dia dan kekasihnya,masih banyak laki-laki lain di dunia ini yang lebih baik dari dia." Mamanya mencoba memberi pengertian.


"Mama enggak sayang sama aku,ya? Aku kan anak mama satu-satunya,seharusnya mama ngedukung aku dong!" suara Aurel begitu lantang.


"Aurel!"


Bu Erin mengangkat tangannya hendak menampar wajah sang anak. Tapi tidak jadi,bu Erin menurunkan lagi tangannya.


"Kenapa? Mama enggak berani nampar aku? Mama enggak tega?" Aurel terus menguji kesabaran mamanya.


"Kamu sudah dewasa Aurel,bukan lagi anak-anak. Seharusnya kamu juga bisa membedakan mana baik mana buruk."


"Jadi maksud mama apa yang aku lakukan sekarang ini tidak baik,begitu?"


Lagi-lagi bu Erin harus sabar sama sikap Aurel yang menyebalkan. Dia keras kepala,tidak mau mendengarkan nasihat mamanya.


"Bukan begitu sayang,"


"Terus bagaimana maksud mama?"


"Mama keluar aja,capek bicara sama kamu!" bu Erin keluar dan menutup kembali pintu kamar Aurel,dia tidak sanggup berlama-lama di kamar anaknya,Aurel semakin lama semakin sulit di atur.


Rasa cintanya kepada David sudah membuat dia buta. "Awas kamu Bella,aku tidak akan membiarkan kamu bahagia bersama David."


"Seharusnya David menjadi milik aku,kamu hanya masa lalu,dan aku adalah masa depan David. Aku pastikan kamu akan tenggelam dalam kisah cinta kamu sendiri. Sekarang cahaya kamu memang bersinar terang,tapi tidak lama lagi cahaya itu akan padam,dan aku akan membuat cahaya baru yang lebih terang." Monolog Aurel.


Dia tertawa keras di kamarnya,benar-benar seperti orang kesurupan.


Bu Erin dapat mendengar tawa Aurel dengan jelas.



Dia menatap foto suaminya dengan berlinang air mata. "Mas,coba aja kalau kamu masih disini,aku pasti tidak akan seperti ini." Bu Erin menangis sedih.

__ADS_1



Sekarang yang bisa mengobati kerinduannya terhadap sang suami hanyalah foto itu saja,dan kenangan,wanita itu harus menjalani hidup yang begitu berat tanpa sosok terkasih yang bisa menguatkan hatinya. Aurel tak bisa di harapkan,gadis itu hanya bisa membuat batin mamanya menderita.


__ADS_2