
"Hahaha!"
Gelak tawa menyambutku ketika memasuki gedung stasiun radio. Entah dalam rangka apa, banyak penyiar senior sedang berkumpul duduk di sofa tepat di depan meja resepsionis.
"Xu! Udah sehat?"
"Shock ya, Xu?"
"Kapok tidack?"
"Dua yang lain mana?"
"Jagoan emang ini, anak-anak Kisah Tengah Malam!"
Ini adalah kedatanganku pertama kali setelah seminggu sakit sejak siaran terakhir yang kutinggalkan begitu saja. Siaran di mana seorang korban kecelakaan menelepon dan minta untuk dibantu.
"Oh, lagi pada ngetawain aku toh?" jawabku sinis.
"Sini geura, duduk dulu." Teh Hani bangun dan merangkulku menuju ke sofa.
"Jangan pundung, kita semua ngetawain kamu bukan karena nyepelein. Kita semua tadi lagi nyeritain kisah mistis masing-masing selama jadi penyiar," jelas salah satu penyiar senior.
"Iya, Xu! Hampir semua dari kita pernah ngalamin, jadi tadi kita lagi nostalgia. Kita kira kalian ngga ngalamin hal yang sama, taunya sama aja," Teh Hani terkekeh.
"Jadi yang kaya gini biasa?" tanyaku.
"Biasa banget. Malah di antara kita semua ada yang pernah punya penggemar misterius yang terobsesi banget. Diikutin pulang ke rumah, diteror, ditelponin, sampe luar biasa ketakutan."
"Ada yang kaya gitu juga?" tanyaku tidak percaya.
"Ada! Sampe satu stasiun ini gempar karena dia dikirimin paket isinya aneh-aneh."
"Wih, ngeri banget," ucapku lirih.
"Iya, kuat-kuatin mental aja. Kerjaan kita kan berhubungan sama orang banyak. Ada yang orang beneran, ada yang jejadian," timpal salah satu penyiar.
"Kan niat kita kerja. Yang namanya kerja ada aja hambatannya, tapi kalau meluruskan niat, Insya Allah semua bakal aman." Teh Hani menepuk bahuku pelan seolah memberi semangat.
Aku mengangguk dan menyandarkan punggung di sofa.
***
__ADS_1
Aku masuk ke studio siaran bersama dengan Gia, Remi dan juga Teh Hani.
"Ini ada kiriman tiang lampu dari bos. Karena belum sempet dibuka, jadi ditaro di sini dulu ya? Teteh ngasi tau biar kalian ngga parno, ntar nyangkanya itu apaan," ucap Teh Hani menunjuk sebuah dus seukuran kotak sepatu setinggi orang dewasa yang terletak di pojok.
"Aman Teh, keliatan kok itu labelnya," jawab Gia. Teh Hani keluar setelah mengucapkan kata-kata penyemangat untuk kami bertiga.
"Standby Xu!" ucap Gia setelah kami duduk di meja masing-masing. Aku mengangguk dan memakai headphone.
"Dalam 3, 2, 1, on air!" Remi mengangkat jempolnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam saya ucapkan untuk semua pendengar di mana pun berada. Inoxu menyapa dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Apa kabar semuanya? Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.
Saya pribadi beserta seluruh tim mau minta maaf kepada para pendengar semua karena absen selama seminggu setelah siaran kita terakhir kali. You know-lah, narasumber kita terakhir kali itu siapa. Semoga almarhumah diberikan ketenangan dan diampuni segala kesalahannya. Lagu pembuka kita datang dari We The Kings dengan Sad Song. Selamat mendengarkan."
Aku menyandarkan punggung dan langsung memilih narasumber dari daftar pendengar yang mengirim pesan berformat ke nomor whatsapp Kisah Tengah Malam. Setelah dapat, aku mulai menghubungi nomor tersebut yang rupanya seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta kota Bandung.
"Itulah We The Kings dengan Sad Song alias lagu sedih. Dan di ujung saluran sudah ada narasumber kita pada malam hari ini. Halo? Dengan siapa di mana?"
"Halo Teh Inoxu, saya Linda, dari Kopo," jawab suara di ujung sana.
"Silakan, Linda. Ada cerita apa nih?" tanyaku.
"Saya mau cerita pengalaman saya pas pulang kemaleman dari kampus. Jadi gini Teh, beberapa minggu kemarin itu, di kampus saya lagi masuk pekan kuis. Jadinya banyak dari mahasiswa-mahasiswa yang pulang malem karena kerja kelompok dan juga nyari bahan kuis mata kuliah di perpustakaan. Karena kuis selanjutnya itu presentasi perkelompok yang satu kelompoknya beranggotakan dua orang, saya dan temen saya bermaksud buat ngerjain bareng.
Waktu itu bertepatan dengan mogoknya angkot jurusan Cileunyi-Tanjungsari-Sumedang. Itu kenapa, sampai jam sebelas malam, kita berdua masih nunggu angkot di Cileunyi. Untungnya ada penjual di pinggir jalan yang ngasi tau kalau angkot jurusan itu lagi pada mogok dan menyarankan untuk pakai bis yang ke arah Cirebon.
Untungnya ngga lama kemudian, bis yang dimaksud tiba. Di dalam bis, saya iseng ngecek ponsel dan kaget waktu ada pesan dari mama saya yang nyuruh supaya pulang ke rumah teteh. Soalnya mama saya juga lagi di rumah teteh. Bingung dong harus gimana. Balik lagi ke Bandung ngga mungkin. Lanjut ke Tanjungsari, tapi rumah saya dikunci karena mama saya ngga ada. Akhirnya temen saya nyaranin nginep di rumahnya."
"Jadinya nginep?" tanyaku.
"Nginep teh."
"Rumah temennya ada setannya?" tanyaku lagi.
"Hahaha, ngga teh. Rumahnya aman kok. Yang ngga aman itu pas di jalan masuk ke komplek."
"Ada apaan?" aku kembali bertanya karena penasaran.
"Jadi karena udah malem, ojek buat masuk ke komplek dari jalan raya itu udah ngga ada. Kita berdua jalan kaki akhirnya. Ngelewatin kebon jagung dan juga kolam renang serta tempat cuci mobil manual kolam dangkal.
Pas kita berdua lewat di depan tempat cuci mobil, banyak anak-anak kecil lagi pada maen air. Kita sih biasa aja, malah senyum-senyum karena kebawa suasana gembira yang anak-anak itu rasain. Main ciprat-cipratan air gitu deh. Sampai akhirnya kita sampai di rumah temen saya dan dibukain pintu sama mamanya. Saya masih belum sadar waktu temen saya bilang, kalau ini udah hampir jam dua pagi.
__ADS_1
Saya masih aja selow, dan akhirnya dia bilang lagi, kalau ini jam dua pagi. Kok masih ada anak anak kecil maen air di luar rumah ya. Nah disitu saya kaget dan mikir kejadian barusan. Pas sadar ternyata emang kejadian itu janggal banget. Ngga mungkin kan ada anak kecil main di luar jam segitu?"
"Itu teh setan?" tanyaku spontan.
"Ish Teteh, langsung to the point deh! Kalau kata temen saya sih kayanya gitu."
"Tapi kamu ngga kenapa-kenapa kan?" Aku menunggu jawaban Linda dengan cemas.
"Sakit teh selama seminggu, demam tinggi. Jadinya malah ikut kuis susulan."
"Hahahah," aku tertawa. "Sama kaya kita di sini kemaren. Pada sakit semua."
"Iya Teh, katanya mah kalo abis ketemu yang gitu-gitu suka sakit," jelas Linda.
"Terus, ada lagi Lin?" tanyaku dengan masih terkekeh.
"Udah teh segitu aja. Itu pengalaman pertama dan Insya Allah yang terakhir. Jangan lagi deh, amit-amit."
"Oke Linda, makasi banyak buat ceritanya, sehat selalu ya?" aku berkata menutup pembicaraan.
"Sama-sama, Teh Inoxu."
Aku melihat sambungan telepon telah terputus. "Cerita dari Linda menambah banyaknya kisah mistis yang sudah masuk ke Kisah Tengah Malam. Semoga pendengar terhibur dan jangan lupa setiap hari senin, rabu, jumat, Kisah tengah Malam akan kembali mengudara. Satu lagu dari Bondan Prakoso dengan Bunga akan menjadi akhir perjumpaan kita kali ini. Selamat beristirahat untuk para pendengar semua. Dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung, Inoxu dan seluruh tim pamit. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan melepas headphone setelah terdengar lagu diputar. Dengan pelan, aku menyandar dan merenggangkan badan. Setelah seminggu sakit, tubuhku terasa menjadi gampang lelah.
"Hayu pulang?" ajak Gia.
Aku mengangguk dan seketika terpaku ke sudut ruangan di mana dus berisi tiang lampu berdiri. Terlihat jika benda itu bergoyang pelan.
"Gempa?" tanyaku spontan.
"Apaan?" Gia dan Remi serentak menatapku.
"Gempa ya?" tanyaku lagi. Aku memicingkan mata ke titik tersebut dan membuat Gia dan Remi ikut menoleh.
Nafasku tercekat, punggungku dingin dan lututku mendadak lemas saat melihat dus setinggi orang dewasa itu masih bergoyang seperti sebelumnya. "Dusnya berkuncir di atas kaya permen," kataku lirih.
Dalam hitungan detik, Gia serta Remi berdiri dan berlari menuju keluar. Tepat sebelum sampai di pintu, keduanya menoleh dan kembali berlari menuju ke arahku.
"Lari, Xu! Itu goyang bukan karena gempa! Itu setan an*jir!" sentak Gia menarik tanganku.
__ADS_1
Seolah disadarkan, aku terkejut dan langsung berlari keluar ruang siaran meninggalkan mereka berdua.