
"Woi, Xu! Lemes banget jalannya. Mentang-mentang Bang Win lagi ke Jakarta," sapa Remi menepuk bahuku keras.
"Ish kamu mah, sakit tau, Rem!" balasku menepuk bahunya juga.
"Ya lagian, aku perhatiin dari tadi jalannya pelan pisan. Kaya ngga ada semangat hidup," sambung Remi.
Aku terkekeh. "Sembarangan banget dih kalau ngomong."
"Sabar, Bang Win akan pulang jika sudah saatnya tiba," tambah Remi dengan senyum menyebalkan.
"Iya tau. Noh liat," balasku sambil menunjuk ke sebuah titik dengan daguku.
"Ah elah, kirain masih lama pulangnya. Udah di sini aja ternyata," lirihnya.
"Hoi evribadi!" sapa Adul sembari melambai heboh dari pintu masuk.
"Masuk duluan yak? Kamu mah diem di sini aja, tungguin Bang Win," ucap Remi sembari berjalan meninggalkanku.
Aku mengangguk dan memperhatikan Bang Win yang baru saja turun dari mobil. Bukannya menghampiriku, ia malah melambai dan memintaku mendekat.
"Bawa oleh-oleh ya?" tanyaku langsung.
Bang Win terkekeh mendengar pertanyaanku. Dengan pelan ia menarik dan menyuruhku masuk ke dalam mobil sebelum akhirnya memelukku erat lalu mencium keningku ringan. Tanpa bicara sedikitpun, ia memberikan sebuah paperbag kecil dengan brand perhiasan di bagian depannya.
"Buat aku?" tanyaku salah tingkah.
"Iya," jawabnya pendek.
Mataku berbinar melihat seuntai kalung dengan liontin mungil dalam genggaman. Tanpa banyak bicara, Bang Win memasangkan kalung tersebut.
"Suka?" tanyanya.
Aku mengangguk mengiyakan sambil meraba kalung yang sudah terpasang di leherku. Setelah puas, Bang Win mengajakku turun dari mobil sembari membawa oleh-oleh.
"Wih, Win. Kirain betah di Jakarta," sapa Kang Utep begitu melihatku dan Bang Win masuk.
"Betah kalau Oxu ikut," balas Bang Win santai. Ia meletakkan oleh-oleh yang dibawanya di atas meja. Teh Hani dan Teh Opi yang kebetulan masih belum pulang, menatapnya berbinar.
"Sering-sering nemenin Kang Saija ke luar kota deh Win. Mayan pulangnya bawa banyak oleh-oleh." Teh Opi mengedipkan matanya ke arahku.
"Males," sambung Bang Win seraya duduk.
"Teh Opi sama Teh Hani tumben masih di sini?" tanyaku.
"Rekaman Offline, Xu. Biasa, nama-nama pemenang kuis dari vendor," jawab Teh Opi.
Aku menganggukkan kepala dan menatap ke arah Adul yang sibuk mengunyah makanan. "Hayu siaran," ajakku padanya dan Remi.
"Bentar atuh, Teh. Ini seret banget, susah ditelen," balasnya dengan wajah memelas.
Sepuluh menit kemudian, Adul menyudahi makannya dan berjalan bersamaku serta Remi ke lantai atas.
__ADS_1
***
"Ini koneksinya agak ngga stabil ya, Xu?" tanya Remi dengan tiba-tiba sesaat setelah aku duduk di kursi siaran.
"Bentar, aku cek dulu," sahutku menatap monitor dan melakukan pengecekan. "Iya nih, agak down. Kenapa ya? Kang Utep ngga bilang apa-apa? Kan tadi dia abis siaran."
"Ngga. Kang Utep ngga bilang apa-apa. Kalau ada masalah, biasanya dia suka bilang," jawab Remi.
"Bentar atuh, Adul tanya Kang Utep dulu," kata Adul seraya bergegas ke luar studio.
Tidak lama, ia kembali bersama dengan Kang Utep dan Bang Win.
"Iya nih agak turun ya sinyal kita," sahut Kang Utep menatap Bang Win.
"Bisa siaran ngga?" tanya Bang Win balik.
"Bisa, tapi mungkin suara kita putus-putus didenger sama pendengar radio," jawab Kang Utep.
"Mau dicoba siaran aja?" tanya Bang Win menatapku.
Aku mengangguk. "Iya, soalnya ada list pemenang kuis minggu lalu."
"Ya udah coba aja siaran. Nanti kalau ada trouble, cepet kasih tau," sambung Kang Utep.
Aku segera mengecek kesiapan mic dan headphone setelah Bang Win dan Kang Utep ke luar dari studio. Dalam beberapa menit, musik pembuka program Kisah Tengah Malam sudah terdengar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu dan Adul hadir menyapa para pendengar semua dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Maafkan untuk siaran yang agak terlambat, karena baru aja ada sedikit masalah di studio. Sambil menunggu narasumber kita, satu buah lagu permintaan Adinda Putri dari Anima dengan Bintang akan menemani para pendengar semua. Stay tuned terus dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic dan melihat Adul yang baru saja menghubungi narasumber kami. Setelah memintanya untuk menunggu sejenak, Adul menekan tombol hold dan menoleh padaku.
"Iya biarin aja dulu. Pengaruh sinyal kayanya," jawabku mulai merasa cemas.
Setelah lagu yang diputar hampir berakhir. Aku meminta Adul bersiap di depan mic.
"Itulah Anima dengan Bintang, ya gaes ya? Adul ucapkan selamat datang buat kalian semua yang baru bergabung di 12,08FM. Biar ngga kelamaan, ayo langsung aja kita sapa narasumber kisah kita pada malam ini. Halo? Dengan siapa di mana?" tanya Adul.
"Halo Kang Adul. Ini Kunthi di Batununggal."
Aku, Adul dan Remi saling berpandangan untuk sementara waktu.
"Kunti yang pake T-H? Yang kalo nyebut namanya lidah harus naik ke bagian belakang gigi atas?" tanyaku penasaran.
"Iiih, Teh Inoxu masih inget aja!" serunya terdengar girang.
"Ya inget lah! Kan situ yang nyuruh temennya maen ke sini," ketus Adul.
"Hihihihi, Kang Adul penakut rupanya," balas Kunthi.
"Hiih, Teh. Ketawanya kaya demit," bisik Adul menoleh padaku.
"Teh Kunthi mau ngobrol lagi?" tanyaku mengalihkan perasaan was-was.
__ADS_1
"Mau cerita dong, Teh," jawab Kunthi cepat.
"Mangga," aku mempersilakan.
"Tujuh tahun lalu saat saya lulus dari sekolah menengah pertama, saya mengalami kecelakaan. Waktu itu, sekolah saya mengadakan perpisahan dengan pergi ke Yogyakarta. Sayangnya, tepat disaat teman-teman saya sedang menikmati kunjungan kami, saya mengalami kecelakaan, tepat di sebuah pantai yang terkenal.
Saya terbawa ombak dan tenggelam pada saat itu. Beberapa orang yang mencoba menyelamatkan saya mengalami kesulitan karena ombak yang tiba-tiba membesar. Karena itulah saya membutuhkan waktu cukup lama sebelum pada akhirnya bisa diselamatkan. Karena hal itu juga, saya mengalami koma."
"Lama komanya?" tanya Adul.
"Satu tahun," jawab Kunthi. "Saya baru tau jika saya koma selama itu setelah saya sadar. Keluarga dan teman-teman tidak menyangka saya bisa bangun lagi, karena bahkan dokter sendiri sudah angkat tangan dengan kondisi saya.
Mereka semua bergembira dan berbahagia untuk saya. Tapi itu tidak berlaku untuk saya pribadi. Semenjak sadar dari koma, saya bisa melihat segala sesuatu yang orang normal tidak dapat melihatnya.
Keluarga dan teman-teman menyangka saya gi*la karena kepala saya terbentur. Padahal tidak, saya bisa melihat jelas makhluk-makhluk halus dan bisa berkomunikasi dengan mereka. Kebiasaan baru saya berbicara sendiri semakin menguatkan dugaan mereka jika saya gi*la.
Perlahan semua orang mulai menjauh, kayanya sih takut. Karena ngga punya temen lagi, pada akhirnya saya berteman dengan para makhluk halus itu, salah satunya dengan yang mengunjungi Radio Rebel untuk bertemu Kang Adul."
"Ih nyebelin banget," seru Adul. "Bilangin sama temennya, ngga usah dateng ke sini lagi! Nyebelin tau ngga. Setan setengah badan! Ca*cat!"
"Heh! Ini mulut ya!" ucapku kesal sembari meremas bibir Adul keras. "Pendengar ngga tau kalau temen Kunthi itu setan. Ntar dikiranya kamu lagi maki-maki manusia!"
Adul membelalak dan seketika menepuk dahinya keras. "Duh, Adul lupa," keluhnya.
"Ada lagi lanjutan ceeitanya, Kunthi?" tanyaku hati-hati.
"Ngga teh, udah segitu aja. Minta lagu Sandekala dari Risa Saraswati ya? Makasi loh, mau ngehubungin Kunthi lagi. Dadah!"
"Dadah kunthi, makasi juga ya udah mau cerita," balasku sebelum mematikan sambungan.
"Itulah dia Kunthi di Batununggal dengan cerita tentang pengalamannya waktu perpisahan ke Yogyakarta. Satu lagu permintaan Kunthi dari Risa Saraswati dengan Sandekala, akan menjadi penutup Kisah Tengah Malam kali ini. Inoxu, Adul dan tim pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Aku mematikan mic lalu melepas headphone pelan. Dengan cepat, indera pendengaranku menangkap suara keributan dari luar. Banyak orang yang berteriak dan berbicara dengan nada tinggi. Adul dan Gia yang juga baru melepas headphone mereka, menatapku bingung.
Brak!
Pintu studio terbuka dan menampilkan sosok Teh Hani. "Cepet keluar! Menara pemancar kebakar dan hampir roboh!"
Kami yang mendengar itu langsung bergegas ke luar dari studio setelah mengambil tas dan barang pribadi masing-masing. Di lantai satu, asap tebal sudah terlihat menutupi pandangan, namun kami bisa menemukan pintu keluar dengan mudah.
"Bang Win sama yang lain mana, Teh?" tanyaku pada Teh Opi yang sudah berdiri di depan Radio Rebel. Warga terlihat membantu, dengan mengestafet ember berisi air.
"Masih di belakang, Xu! Tadi Win sama Utep nyoba madamin api pake APAR (alat pemadam api ringan) di bantu warga," jawab Teh Opi cemas.
Aku melihat panik ke arah api yang semakin lama semakin membesar di bagian belakang bangunan Radio Rebel. Tidak lama, terlihat Bang Win dan Kang Utep keluar dari arah samping.
Gelengan pelan yang kutangkap dari Bang Win membuat hatiku mencelos seketika, terlebih ketika kobaran api semakin besar dan perlahan merambat ke arah depan.
Genggaman tangan Bang Win terasa erat. Mataku berkaca-kaca melihat bangunan Radio Rebel perlahan menghilang, digantikan oleh kobaran api yang semakin besar.
SIARAN RADIO TENGAH MALAM
__ADS_1
T A M A T
BANDUNG, HARI INI DI JAM SEGINI SAAT LANGIT MULAI MENDUNG.