
"Inoxu."
"Inoxu."
"Inoxu."
Aku menghembuskan nafas kasar, menutup mata dan telingaku rapat-rapat ketika bisikan-bisikan itu mulai terdengar.
Pluk!
Sepasang tangan menyentuh kedua tanganku yang masih menutupi telinga sehingga membuatku seketika membuka mata. "Bang Win," ucapku lirih.
"Kedengeran lagi?"
Aku mengangguk dengan masih menatapnya. Bang Win mengeluarkan sebuah dus dari paper bag yang ia bawa dan membuka bungkusnya. Setelah mengutak-utik ponselnya sejenak, ia melepaskan kedua tanganku.
Sebagai gantinya, ia memasangkan headphone kecil di telinga. Alunan musik yang kukenali sebagai karya Kitaro memasuki gendang telinga dan menciptakan perasaan nyaman. Volume yang tidak terlalu keras, membuatku masih bisa mendengar suara Bang Win, namun cukup ampuh meredam bisikan mereka yang tidak terlihat.
"Kalau mulai denger yang aneh-aneh, pake ini aja ya? Nanti download aja Murottal di ponsel kamu sebagai gantinya musik atau dengarkan keduanya bergantian. Senyamannya kamu aja," ucap Bang Win.
Aku mengangguk mengerti dan menyandarkan punggungku.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Inoxu hadir dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung menyapa semua pendengar di manapun berada. Malam ini seperti biasa, saya yang ditemani oleh Adul, akan berbagi kisah dari narasumber untuk pendengar semua. Satu lagu permintaan Andyaz Nurita Ayuningtias dari Sujiwo Tedjo dengan Ingsun akan menjadi pembuka kisah pada malam ini. Stay tune terus dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic dan melihat ke arah Adul yang sedang menghubungi narasumber. Sempat terdengar olehku, ia meminta narasumber kami untuk menunggu sejenak.
"Yak itulah dia lagu dari Sujiwo Tejo dengan Ingsun. Saya ucapkan selamat datang untuk para pendengar yang baru saja bergabung. Dan di ujung sambungan kita, sudah ada narasumber pada malam hari ini. Halo? Dengan siapa di mana?"
"Halo, dengan Roni di Tongkeng."
"Wah, deket dari sini dong, Kang?" tanya Adul.
"Iya Kang, saya di rumah petak gang belakang Deltamart."
"Oh iya tau, soalnya cuma ada satu rumah petakan di sana," sambung Adul. "Kang Roni mau cerita apa nih?"
"Mau cerita kisah cinta saya boleh, Kang?"
"Silakan Kang."
"Saya sehari-hari bermata pencaharian sebagai penjual siomay."
"Wih, kesuakaan Teh Inoxu nih," sela Adul.
__ADS_1
"Bisa ngga kalau saya lagi ngomong jangan dipotong dulu?!" terdengar suara dari ujung sambungan meninggi. Aku kaget dan saling menatap dengan Adul, Remi dan Gia secara bergantian.
"Maaf, Kang," ucap Adul. Aku menyentuh bahunya untuk memberinya semangat.
"Saya lanjut ya? Saya bermata pencaharian sebagai tukang siomay yang berkeliling di sekitar tempat tinggal saya selepas Ashar dan kembali jika dagangan sudah habis. Biasanya paling malam jam sepuluh. Selama berjualan, saya selalu melewati komplek di dekat sini. Ada satu rumah yang tidak pernah absen saya lewati karena anak gadis pemilik rumah hampir setiap hari membeli. Lama-kelamaan, karena seringnya bertemu, saya jatuh hati pada gadis tersebut. Tingkahnya yang tidak berlebihan, terutama tutur katanya yang lembut membuat saya tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu."
Keheningan tercipta sehingga aku memutuskan bertanya dengan hati-hati. "Kang Roni ceritanya jatuh cinta?"
"Iya, Teh. Saya jatuh cinta dan memupuk keberanian untuk mengungkapkannya. Karena saya lihat, respon gadis ini juga positif, semakin hari saya semakin memantapkan niat."
"𝚃𝚘𝚕𝚘𝚗𝚐 ...."
Aku memiringkan kepala untuk memperjelas apa yang baru saja kudengar. Walaupun lirih, suara itu bisa terdengar jelas lewat headphone yang kupakai.
"𝚃𝚘𝚕𝚘𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚢𝚊 ...."
Nafasku tercekat ketika menyadari jika suara itu memang berasal dari ujung sambungan. Namun herannya Adul, Gia dan Remi sama sekali tidak bereaksi. Dalam waktu singkat aku mengerti, dari mana suara itu berasal.
"Terus gimana, Kang Roni?" tanya Adul memecah perhatianku.
"Saya mengatakan isi hati saya pada gadis itu di suatu sore saat ia dan teman-teman sekolahnya sedang berkumpul. Sikap gadis itu lebih manis dibanding hari kemarin dan itu semakin membuat saya bersemangat. Saya mengungkapkannya langsung dan apa yang saya terima, jauh dari perkiraan saya.
Hati saya sakit ketika gadis itu tertawa mendengar apa yang saya ucapkan. Saya bilang, saya tertarik dan ingin menjalin hubungan dengannya. Karena ia tertawa, saya masih mengira, mungkin gadis itu pikir saya bercanda. Oleh karena itu, saya ulangi lagi perkataan saya, dan tawa gadis itu semakin kencang hingga mengundang perhatian teman-temannya.
Dalam sekejap, saya menjadi bulan-bulanan anak sekolah itu. Mereka bilang seharusnya saya berkaca, saya sadar diri dan tidak menaruh harapan terlalu tinggi. Dalam hati, saya menangis. Rasa sakit mengubah perasaan cinta saya menjadi emosi dalam seketika."
"Cerita saya belum selesai!" sentak Kang Roni.
"𝚃𝚘𝚕𝚘𝚗𝚐 ... 𝚂𝚊𝚢𝚊 𝚖𝚊𝚞 𝚙𝚞𝚕𝚊𝚗𝚐 ...."
Aku kembali mengerutkan kening.
"Silakan dilanjut Kang Roni," wajah Adul sudah tidak bersemangat karena beberapa kali terkena sentakan.
"Sekarang saya hidup bahagia dengan gadis pujaan saya, tidak ada yang bisa memisahkan kami lagi. Selamanya kami akan selalu bersama," sambung Kang Roni.
Bruak!
Aku melepas headphone, meletakkannya kasar dan berlari ke lantai bawah untuk mencari Bang Win. Untungnya, Bang Win sedang duduk di sofa bersama Kang Utep.
"Anterin aku ke rumah petak di belakang Deltamart!" seruku dengan napas terengah.
"Kenapa Inoxu?" tanya Kang Utep.
Bang Win sendiri tanpa banyak bertanya langsung berdiri dan menuju ke luar.
__ADS_1
"Ayo Kang, ikut aja!" ajakku.
Kang Utep mengekoriku sampai di tempat mobil Bang Win terparkir. Dengan cepat aku masuk, dan meminta Bang Win menuju lokasi.
"Ada apaan Inoxu?" tanya Kang Utep lagi.
Aku menceritakan suara yang kudengar di telepon, termasuk bagaimana pada awalnya aku tidak sadar, jika suara meminta tolong itu berasal dari ujung sambungan.
Sesampainya di lokasi, kami segera turun. Bang Win bertanya pada beberapa warga pria yang sedang meronda tentang rumah petak yang dihuni Roni. Menurut perkataan warga, sudah beberapa hari ini Roni tidak terlihat keluar untuk berjualan.
Lokasi rumah petak yang dihuni Roni terletak di bagian paling belakang dan bersebelahan dengan halaman yang penuh dengan gerobak-gerobak jualan milik penghuni lainnya. Begitu mendekat, terlihat kamar tersebut gelap gulita dan tercium wangi kapur barus yang sangat menyengat.
Tok tok tok!
"Roni!"
"Ron? Roni!
"Roni!"
Warga yang datang bersama kami mengetuk pintu rumah petak tersebut namun tidak ada sahutan sama sekali. Setelah kembali mengetuk selama beberapa saat, salah seorang warga pergi menemui pak rt karena melihat adanya kejanggalan. Dalam ketegangan yang menyesakkan napas, kami menunggu kedatangan pak rt sebelum mendobrak pintu.
Bruak!
Pintu didobrak setelah pak rt datang dan membuat semua yang melihat ke dalam rumah petak langsung memalingkan muka. Aku yang berusaha ikut melihat, langsung dihalangi oleh Bang Win yang berdiri memungungiku. Saat tau jika aku masih melompat kecil untuk melihat, ia berbalik dan memegang kepalaku dengan kedua tangannya.
"Kalau saya minta kamu untuk jangan liat, kamu mau denger?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk walaupun masih dalam keadaan penasaran. Bang Win membawaku menjauh dari rumah petak itu. Kang Utep sendiri masih berada di sana dengan bapak-bapak warga. Entah siapa yang menelepon, tidak lama kemudian datang beberapa mobil polisi beserta dengan mobil tim Inafis (Indonesia Automatic Finger Print Identification System) yang bertugas dalam olah tempat kejadian perkara untuk mendapatkan bukti, sidik jari atau petunjuk dalam sebuah kasus.
"Di dalem liat apa sih Bang?" tanyaku masih penasaran. Kami kembali ke mobil untuk menunggu Kang Utep yang belum kembali.
Bang Win menatapku lekat, "Janji ngga takut?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Seorang pria tidur dengan memeluk jenazah seorang gadis berpakaian seragam sekolah yang sudah mulai membusuk."
"Roni?" tanyaku tidak percaya.
"Bisa jadi. Dan kemungkinan besar, suara yang kamu dengar, adalah suara gadis itu," tambah Bang Win.
Kang Utep menghampiri kami dan mengatakan jika pihak kepolisian bermaksud meminta keterangan karena kamilah orang pertama yang datang ke mari untuk bertemu Roni.
Di kantor polisi, aku menceritakan semuanya pada pihak kepolisian. Rekaman siaran membuktikan jika aku mengetahui sosok Roni karena ia seorang narasumber dalam siaran malam ini. Saat polisi mendengarkan rekaman siaran yang dibawakan Kang Utep, mereka terhenyak dan tau alasanku mengunjungi Roni. Suara meminta tolong itu terdengar jelas saat kami memutar rekaman bersama-sama.
__ADS_1
Hal ini membuat pihak kepolisian ikut bergidik karena hasil pemeriksaan tim Inafis yang menyatakan, jika korban sudah meninggal lebih dari dua hari yang lalu.