Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 22


__ADS_3

"Xu!" panggil Teh Hani dari balik meja resepsionis ketika melihatku baru datang untuk siaran.


"Kenapa Teh?" tanyaku menghampiri.


"Ada paket buat Inoxu, Kisah Tengah Malam," jawabnya sembari menyerahkan sebuah kotak.


"Ngga ada nama pengirimnya nih, Teh." Aku membolak-balik paket untuk mencari nama pengirim, namun nihil.


"Iyah, Teteh juga heran. Kayanya dianterin langsung ke sini deh. Teteh kurang tau, tiba-tiba udah ada di meja resepsionis."


"Iya atuh, makasi ya Teh? Pinjem gunting dong, mau aku buka aja di sini," ucapku setelah berpikir selama beberapa saat.


"Ngga usah, di rumah aja," ucap Bang Win yang baru keluar dari ruang meeting.


"Kenapa emang? Bang Win tau siapa yang ngirim? Kenapa ngga boleh dibuka di sini? Apa ini dari Bang Win? Bisa ngga sih kalau mau ngasi apa-apa itu ke orangnya langsung?" Aku mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Ehem! Pokoknya dibukanya di rumah aja," ucapnya berbalik pergi ke arah pantry.


"Udah nurut aja. Kali dia malu kalau aku ikut tau isinya," Teh Hani nyengir.


Dengan mengangguk-anggukan kepala, aku memasukan paket tersebut ke dalam tas dan duduk di sofa menunggu kedatangan Gia dan Remi.


"Xu!" seru Gia dan Remi bersamaan.


"Hayu, langsung siap-siap aja," ajak Gia.


"Adul mana?" tanyaku.


"Adul resign, tadi pagi dia dateng buat ngasi surat pengunduran diri. Ngga kuat katanya lama-lama kerja di sini," jawab Teh Hani.


"Beneran Teh? Yaah, padahal seru ada dia," keluh Gia.


"Beneran. Ya mau gimana, dia udah super ketakutan. Pas mau ngambil barang pribadi dia di pantry aja minta anter Kang Utep."


"Nanti kalau aku resign, yang gantiin siapa dong?" Gia berkata lirih.


"Loh, kamu juga mau resign, Gi?" Teh Hani bertanya dengan nada keheranan.


"Iya Teh, mau nikah dia," jawab Remi mewakili Gia yang hanya cengengesan.


"Oh mau nikah. Ya gampang, ada Remi kan? Bisa merangkap operator musik sekalian produser."


"Cape atuh Teh. Nambah kerjaan bikin konsep siaran, nerima iklan, bikin konsep promosi, dan lain-lain," jawab Remi lagi.


"Eh iya, kan ada Bang Win. Bisa kali bantuin handle," potong Gia. "Tapi itu juga kalau ngga keburu Bang Win resign. Aku denger dari Kang Utep, Bang Win ada niatan mau resign."


"Ngga mungkin," potong Teh Hani.


"Kenapa Teh? Karena sekarang ada Inoxu ya?" tanya Remi.


"Salah satunya. Lainnya ya karena dia salah satu owner radio ini, mau ke mana lagi coba, kalo ngga di sini?"


"Oh, Bang Win owner juga toh," kataku pelan.


"Yoi. Eh udah sana siap-siap. Malah ngegosip kita. Semangat ya kalian," tutup Teh Hani.


Kami bertiga mengangguk dan berjalan menuju tangga.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam dan selamat berjumpa kembali dengan saya Inoxu dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Selama satu setengah jam ke depan akan ada kisah-kisah dari narasumber kami untuk menemani waktu beristirahat para pendengar semua. Satu lagu permintaan Mamah Allya dari Seventeen dengan Kemarin akan saya putarkan sesaat lagi. Jangan kemana-mana dan terus dengarkan Kisah Tengah Malam sampai selesai."


Alunan musik yang menyapa telinga secara otomatis membuatku ikut bernyanyi kecil.

__ADS_1


"Xu, kok udah ada telepon masuk aja sih?" seru Remi tiba-tiba.


Aku menatap monitor, dan benar saja, tanda merah berkedip sebagai penunjuk jika ada telepon masuk. "Angkat aja gitu?" tanyaku.


"Coba angkat, kalau sekiranya mencurigakan, langsung matiin aja," jawab Gia.


"Ngga mau ah, ntar taunya setan," tolakku.


"Ish, coba aja dulu. Kali itu pendengar biasa, kan banyak dari mereka yang udah save nomer. Jadinya pas waktunya siaran, cepet-cepetan nelpon."


Mau tidak mau, akhirnya aku mengangkat panggilan tersebut. "Halo, dengan Kisah Tengah Malam. Ada yang bisa dibantu?"


"Halo Teh Inoxu, selamat malam. Pengen jadi narasumber lagi dong, Teh."


"Maaf, ini dengan siapa?"


"Alex, Teh. Yang dulu pernah jadi narasumber juga. Yang cerita beli sate di rumah nenek."


Aku mengerutkan kening selama beberapa waktu dan akhirnya bisa mengingat. "Oh iya! Yang mau jemput mamanya di rumah nenek ya? Mau jadi narasumber lagi sekarang?"


"Iya Teh."


"Boleh, mangga. Tunggu sebentar ya, Kang? Masih muter lagu," ucapku dengan penuh kelegaan.


"Oke, Teh. Saya tunggu."


Aku tersenyum kecil menertawakan keparnoanku akan panggilan telepon. Sambil menunggu lagu selesai diputar, aku melihat ke sekeliling studio. Studio ini sering memberikan suasana yang berbeda-beda. Terkadang terasa menakutkan dan terkadang juga biasa saja seperti saat ini. Melihat jika durasi lagu masih agak lama, aku memutuskan untuk pergi ke toilet yang terletak di lantai satu.


Begitu turun dari tangga, mataku menatap beberapa orang penyiar yang sedang bercengkrama. Terlihat Bang Win yang duduk di sebelah Teh Opi, tertawa lebar karena sesuatu yang Teh Opi katakan. Perasaan tidak nyaman memasuki hatiku dan tanpa menoleh lagi aku langsung menuju ke toilet. Melihat Bang Win yang dingin bisa sehangat itu berbicara dengan perempuan lain membuatku kesal.


Keluar dari toilet, Bang Win sudah berdiri di depan pantry dengan memegang sebuah gelas karton. Secepat yang aku bisa, aku berjalan dengan menundukkan kepala.


"Oxu?" panggilnya.


"Oxu!"


Menaiki tangga dengan berlari rupanya membuat nafasku terengah-engah. Sebisa mungkin aku mengatur nafasku sebelum waktunya siaran kembali. Setelah beberapa saat, aku merasa lebih baik dan melihat jika lagu yang diputar sudah selesai.


"Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru saja bergabung di Kisah Tengah Malam. Baru saja kita dengarkan Seventeen dengan Kemarin. Di ujung sambungan sudah menunggu narasumber yang akan berbagi kisah pada malam hari ini. Halo dengan siapa dan di mana?"


"Alex, Teh Inoxu. Apa kabar?"


"Kabar baik, Alhamdulillah Kang," jawabku. "Punya cerita apa lagi nih Kang Alex selain cerita tukang sate waktu itu?"


"Cerita waktu nginep di mess adik saya, Teh."


"Mangga , silakan mulai Kang Alex," aku mempersilakan.


"Jadi adik saya ini ceritanya baru keterima kerja di Nagoya, Batam dan tinggal di mess yang ngga jauh dari tempat kerjanya. Messnya berupa bangunan rumah berlantai 3. Jadi bukan kaya kamar petak-petak gitu, Teh. Lantai pertama diperuntukkan bagi karyawan laki-laki, lantai dua untuk perempuan dan lantai tiga untuk manager kantor beserta keluarganya. Adik saya di lantai satu, dan satu kamar itu bisa ditinggali empat sampai lima orang karyawan karena saking besarnya."


"Gede banget atuh rumahnya," celetukku.


"Banget Teh. Nah pas saya ke sana itu posisi udah malam. Karena habis perjalanan jauh, saya istirahat di kamar adik saya ini. Adik saya sendiri nyuci baju sepulangnya dia kerja, dan temen-temennya yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing. Karena ngantuk, saya rebahan di kasur busa milik adik saya. Awalnya ngga ada yang aneh. Suara mesin cuci kedengeran, suara televisi kedengeran, bahkan suara temen-temen adik saya yang lagi ngobrol di ruang keluarga juga kedengeran. Sampai akhirnya tiba-tiba semua suara ilang. Sunyi gitu teh, hening banget. Di saat yang sama, saya ngerasa kaya badan saya melayang di atas kasur. Langsung saya mikirnya, wah ada yang aneh ini."


"Berarti Kang Alex sadar ya ada yang aneh? Maksud saya, ngga ketiduran atau mimpi gitu?" tanyaku penasaran.


"Sadar Teh, malah saya sempet baca doa-doa sebisanya. Sambil mikir juga kenapa bisa kaya gini. Sampai taunya ada suara yang kedengeran, suara itu bilang kalau saya mau dipindahin, tapi dalam bahasa Jawa. Dan saya langsung mikir, apa saya ngalamin kaya gini karena belum permisi-permisi."


"Terus gimana, Kang?"


"Ya saya ngucap dalam hati, maaf saya ngga mengganggu, cuma mau numpang nginap di sini sama adikku. Jangan dipindah dan jangan diganggu karena niat saya datang bukan untuk mengganggu. Ajaibnya Teh, selesai ngucap gitu dalam hati, suasana kembali rame kaya semula dan badan saya berasa di kasur lagi."


"Wooh!" seruku. Aku mulai merinding mendengar cerita Kang Alex.

__ADS_1


"Terus saya juga inget kalau belum sholat isya. Karena takut keulang lagi, saya buru-buru bangun buat menunaikan sholat."


"Aman tapi malam itu?"


"Aman, Teh. Nah besoknya saya dapet cerita kalau ternyata rumah itu udah lama kosong dan pernah ada peristiwa perampokan yang menewaskan ARTnya."


"Astagfirullah, serem amat!" seruku spontan.


"Dari cerita orang yang tinggal di sekitar rumah itu, dulu rumah itu dihuni satu keluarga dengan salah satu ART cewek yang berasal dari Jawa. Nah, suatu waktu, ada perampok yang dateng ke sana dan dipergoki sama ART ini, jadi dia dibu*nuh. Denger-denger juga ada korban lain dari pihak keluarga, cuma jumlah pastinya ngga jelas. Sejak saat itu, rumah itu dibiarin kosong dan hanya dibersihkan sesekali. Sampai akhirnya disewa oleh kantor tempat adik saya kerja dan dijadiin mess karyawan."


"Ngeri juga ya Kang? Saya baru tau kalau yang gitu-gitu punya energi buat mindahin manusia. Serem sih kalau sampai kejadian kaya gitu menimpa saya," sahutku.


"Jangan sampai deh Teh. Semoga itu pengalaman saya pertama dan terakhir."


"Aamiin, tapi kalo yang pertama kayanya ngga deh. Kan Kang Alex juga ada pengalaman sama bapak sate. Mudah-mudahan jadi yang terakhir ya, Kang?" balasku.


"Aamiin, semoga ya Teh? Paling gitu aja Teh, cerita dari saya. Makasi udah mau dengerin. Sehat selalu ya Teh Inoxu dan tim."


"Aamiin, makasi ya Kang? Sehat selalu juga." Aku mematikan sambungan dan fokus ke arah mic.


"Itulah cerita Kang Alex yang buat saya pribadi cukup menyeramkan ya pendengar semua. Pentingnya untuk permisi-permisi dulu setiap akan memasuki tempat baru itu bukan berarti tanda kita tunduk pada yang gitu-gitu. Itu lebih ke apa ya? Kaya pemberitahuan pada sesuatu yang sudah menghuni tempat tersebut kalau kita sedang berkunjung dan ngga punya niat jelek. Intinya sih, ya mau di mana juga tetap berdoa dan jangan lupain sholat. Yak, satu lagu dari Ada Band dengan Manusia Bodoh permintaan dari Siti Robiah menjadi akhir perjumpaan kita kali ini. Inoxu dan tim pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic, melepas headphone dan meraih botol air mineral milikku. Setelah isinya tandas, aku memasukkan barang-barang pribadi lalu bangkit berjalan menuju meja Gia yang juga sedang membereskan barangnya.


"Alhamdulillah beres, hayu cepetan," ajak Remi. Kami keluar dari studio dan aku tersentak melihat Bang Win sedang berdiri tidak jauh dari pintu studio.


"Xu, duluan ya," pamit Gia terkikik. Dengan cepat, ia menggandeng tangan Remi yang melambaikan tangan padaku.


"Beres?" tanya Bang Win.


"Ya kalau saya udah berdiri di depan Bang Win tandanya udah beres," jawabku datar.


Bang Win terlihat mengerutkan kening. Sebelum ia membuka mulut untuk bertanya, aku melangkahkan kaki menuju tangga.


"Bang, saya pulang duluan," pamitku tanpa menengok.


Tepat di anak tangga terakhir, Bang Win sudah berjalan di sebelahku dan tanpa aba-aba menggandeng tanganku. Aku merasa tarikan yang cukup kuat dan menyentaknya ketika kami sudah berada di halaman.


"Ngapain sih Bang? Kan saya bilang, saya mau pulang duluan," aku berkata tanpa mampu melihat ke arah wajahnya.


"Dan saya juga bilang, mulai dari kemarin, saya yang akan selalu mengantar kamu pulang."


Aku mendongak dan melihat matanya yang menatapku dalam. "Ngga usah. Nanti ada yang marah," elakku.


"Kamu ngomong apa sih? Kamu jadi aneh gini sejak tadi pergi ke to—." Bang Win tidak menyelesaikan perkataannya.


"Kamu cemburu sama Opi?" tanyanya pelan. Entah kenapa aku bisa melihat jika dia tersenyum samar.


"Menurut Bang Win gimana?" tanyaku menantang.


"Iya! Jangan salah paham, saya sama Opi ngga ada perasaan apapun. Kami cuma teman, lagipula suami Opi itu sepupu saya."


"Oh," sahutku pendek namun mulai memaki diri sendiri dalam hati. Seharusnya aku tidak bersikap sejauh ini sebelum tau yang sebenarnya.


"Tapi ngga apa-apa sih. Kalau kamu cemburu tandanya kamu sayang."


Aku membolakan mataku dan membuang pandangan ke arah lain.


"Sama seperti sayang saya ke kamu," tambahnya dengan suara lirih.


Perkataan Bang Win menciptakan ledakan kembang api di hati dan membuatku sekuat tenaga menahan senyum.


"Mulai sekarang, kalau kamu mau kejelasan, saya cuma bisa bilang. Saya milik kamu, Inoxu. Dan kamu juga, sepenuhnya milik saya," Bang Win berkata tegas.

__ADS_1


Aku menunduk menahan rasa berdebar di hati.


"Oh iya, jangan lupa dibuka paketnya. Semoga kamu suka," tambahnya lagi seraya mengambil tanganku, dan memasukkannya ke dalam saku hoodie yang ia pakai.


__ADS_2