Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 47


__ADS_3

"Oxu."


Suara itu membuatku mengalihkan pandanganku dari ponsel ke sosok yang baru saja masuk ke Radio Rebel.


"Bang Win!" seruku seraya berdiri dari sofa. "Udah beres surveynya?"


"Alhamdulillah udah. Kamu kenapa jam segini udah di sini?" tanya Bang Win duduk di sofa.


"Mau ketemuan sama Bunga," jawabku.


"Bunga?"


"Iyah, pendengar yang ngirim kisahnya lewat email. Mau ngasi souvenir," jawabku. "Udah aku tawarin ke sininya siang aja, malah keukeuh mau sekarang. Katanya sekalian mau liat siaran. Eh, gimana di Cianjur?"


"Ada beberapa titik pengungsian yang kesulitan dalam menerima distribusi bantuan karena medan jalan yang rusak. Di beberapa titik lainnya justru terjadi penumpukan. Sekarang lagi dibutuhkan banget tenda sama perlengkapan bayi termasuk susu dan makanan bayi. Nanti hasil donasi akan disalurkan sesuai kebutuhan titik pengungsian masing-masing," jelas Bang Win.


"Itu, yang di berita itu bener Bang Win?" tanyaku penasaran.


"Berita apa?"


"Ada pengungsi yang nolak bantuan dari gereja dan juga nolak mie instan."


"Ngga, itu oknum. Ada beberapa pihak yang menunggangi. Untungnya para donatur tetap berkoordinasi dengan relawan lapangan, dan ngga benar kalau ada pengungsi yang menolak bantuan dari pihak mana pun," ucap Bang Win.


"Alhamdulillah, denger beritanya malah makin ke sini makin ke sana soalnya," tambahku.


"Aman," ucapnya sembari menyandarkan punggung.


"Teh Inoxu!" panggil seseorang yang ternyata Adul. Ia berjalan bersama dengan Teh Hani dan Gia.


"Eh, udah sembuh, Dul?" tanyaku terperanjat.


"Alhamdulillah udah Teh," jawabnya cengar cengir.


"Kapok ngga?" Giliran Bang Win bertanya.


"Kapok, Bang. Emak rutin nyelupin kepala Adul ke air dingin soalnya," jawabnya lirih.


Aku dan semua yang hadir menahan senyum melihat ekspresi Adul.


"Eh, ini Kisah Tengah Malam kenapa udah ada di sini? Masih jam delapan loh," sahut Teh Hani menatapku, Adul dan Gia bergantian.


"Mau ada pendengar yang dateng, Teh. Pengen ngobrol-ngobrol katanya, sekalian ikut siaran," jawabku.

__ADS_1


"Kalo Adul mah karena emang bosen di rumah, Teh. Pengen balik lagi siaran. Fans Adul kesian, pasti bertanya-tanya Adul ke mana," Adul menimpali.


"Gia mau bikin draft iklan, Teh. Buat kuis minggu depan. Besok pagi Gia ngga bisa karena mau ada acara, ya mending sekarang aja sebelum siaran," Gia ikut menjawab.


"Iya atuh, semangat ya dengan kegiatannya masing-masing. Teteh mau makan siomay aja," ucapnya sembari duduk.


"Saya ke studio dulu," pamit Bang Win tidak lama kemudian. Aku mengangguk dan menatap punggungnya lekat sebelum menghilang di balik pintu.


***


Seorang gadis yang berdiri di ambang pintu menyita perhatianku. "Teh Hani," ucapku pelan. "Teteh bisa liat cewek yang berdiri di depan ngga?"


"Bisa! Orang jelas gitu kok. Eh, dia siapa ya? Kok bukannya masuk aja?"


"Ngga tau. Apa si Bunga ya? Aku samperin dulu deh," sahutku seraya berdiri lalu berjalan menghampiri.


"Halo Kak?" sapaku. "Lagi nungguin siapa?"


Gadis itu terkejut lalu menengok ke arahku dengan pandangan malu-malu. "Lagi nungguin Teh Inoxu dari Kisah Tengah Malam, Teh. Mau ngambil souvenir," jawabnya menunduk.


"Bunga bukan?" tanyaku memastikan.


"Iya, Teh. Teh Inoxu udah dateng belum ya? Saya mau nanya tadi malu, mau nelpon Teh Inoxu tapi ponsel saya mati."


"Sungkan Teh," lirihnya sebelum mengikutiku ke arah sofa.


"Halo! Pendengarnya Kisah Tengah Malam ya?" sapa Teh Hani ramah. Bunga mengangguk dan menyodorkan tangannya kikuk.


"Bunga tunggu sebentar ya? Saya ambil dulu souvenirnya sekalian ngasi tau Adul sama Gia. Kalau Remi, belum dateng," pintaku yang direspon anggukan.


Dengan segera, aku menuju ke studio untuk memanggil Gia dan mengambil souvenir berisi kaos dan lanyard bertuliskan Kisah Tengah Malam.


"Mau ikut siaran 'kan?" tanyaku pada Bunga sembari memberikan bungkusan.


"Jam berapa, Teh?"


"Jam sebelas mulainya, selesainya jam setengah satu. Eh, tapi kamu ke sini sendiri? Naik apa? Kemaleman ngga kalau ikut kita siaran?" tanyaku lagi.


"Kayanya kemaleman Teh. Saya nanti dijemput sama Aa saya. Dia lagi ada perlu dulu sebentar di sekitar sini."


"Oh iya atuh," ucapku mengangguk. Tidak lama, Adul dan Gia menghampiri kami dan terlibat obrolan seru dengan Bunga. Gia bertanya banyak hal tentang kisah yang Bunga ceritakan, saat terakhir kali menelepon.


"Sekarang keadaan di sekitar rumah aman tapi kan?" tanya Gia.

__ADS_1


"Aman Teh Gia. Udah ngga ada kejadian aneh-aneh lagi kok. Kayanya bener yang Teh Inoxu bilang, kalau itu cuma kebetulan aja."


"Syukur atuh ya. Ngeri juga waktu denger cerita kamu," balas Gia.


Kami menghabiskan waktu hingga setengah jam kemudian sebelum Bunga berdiri dan berpamitan. "Itu kakak saya udah di depan," tunjuknya pada seorang pengendara motor yang baru saja berhenti.


"Oxu, temenin saya makan dulu sebelum siaran ya?"


Perkataan Bang Win membuat Bunga membalikkan badan ke arah belakang dan membuat gadis itu seketika membeku. "Bang Win?" tanyanya lirih.


Bang Win menatap Bunga selama beberapa saat dibawah pandanganku, Gia, Adul dan Teh Hani.


"Bunga?" lirih Bang Win.


Bhuuh!


Adul menyemburkan air mineral yang sedang diminumnya sedangkan aku dan yang lain kaget luar biasa saat Bunga menghampiri Bang Win dan memeluknya. Selama beberapa saat tidak ada yang berani mengeluarkan suara hingga terdengar bunyi benturan.


Gubrak!


Kang Utep yang terpana melihat Bang Win sedang dipeluk Bunga, kehilangan fokus dan menabrak pintu masuk yang terbuat dari kaca tebal sehingga membuatnya terpental ke belakang.


Seolah disadarkan, Bang Win melepaskan rangkulan Bunga. Sebagai gantinya, ia tersenyum menunduk ke arah gadis itu. "Apa kabar?" bisiknya lembut.


Bukannya menjawab, Bunga balik menatap mata Bang Win dengan pandangan berkaca-kaca. "Bang Win kenapa ngga pernah datang lagi?"


Aku yang tidak tertarik mendengar dialog diantara keduanya hanya bisa menyandarkan punggung dan memainkan ponsel sampai mendengar kata perpisahan dari Bunga yang disahuti Bang Win.


"Hati-hati pulangnya. Salam buat Baron." Bang Win berjalan ke luar untuk mengantarkan Bunga. Setelah beberapa saat pria itu kembali berjalan masuk dan berdiri tidak jauh dariku.


"Oxu, makannya kapan-kapan aja ya? Saya masuk dulu," ucapnya menatapku lekat. Aku hanya bisa mengangguk tanpa berniat membalas ucapannya.


***


Sepanjang siaran aku tidak bisa berkonsentrasi. Untungnya, Adul bisa menangani siaran sampai akhir dengan sangat baik. Gia dan Remi berkali-kali menatapku iba, namun berkali-kali juga aku tersenyum lebar ke arah keduanya untuk meyakinkan mereka jika aku baik-baik saja.


"Pulang duluan ya?" pamitku begitu Adul mematikan mic. Tanpa menunggu jawaban, aku berjalan ke luar studio dan berharap menemukan sosok Bang Win yang selalu menungguku setiap kali selesai siaran.


Nihil. Aku tidak menemukan sosoknya di mana pun. Pada akhirnya aku melangkah gontai keluar dari Radio Rebel dan mulai menyusuri trotoar. Sempat terpikir untuk menghubungi Nyx agar menjemputku, namun nyatanya, aku mengurungkan niat. Saat ini aku hanya ingin sendiri.


Setelah beberapa menit berjalan, aku melihat warung tenda penjual bajigur langganan Bang Win masih buka. Tanpa berpikir panjang, aku segera memutar arah dan menyeberang tanpa melihat lagi.


Bruak!

__ADS_1


Suara itu terdengar tepat di telinga. Aku sempat shock saat menemukan diriku terbaring di atas aspal jalan yang keras sebelum akhirnya kegelapan total menutupi pandangan.


__ADS_2