Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 12


__ADS_3

"Udah, sini-sini! Ngga usah takut, masuk aja hayu?" ucapku kepada Gia dan Remi yang masih berdiri di depan studio tempat kami siaran.


"Sehat, Xu? Ngga takut kamu?" tanya Gia pelan.


"Aman dong. Ada apa-apa mah tinggal teriak aja."


"Teriak apa?" tanya Remi.


"Teh Hani, di sini ada setan!"


"Sshht! Sompral kamu mah!" sentak Gia kaget.


Aku terkekeh dan dengan santai berjalan ke arah mejaku. Gia dan Remi tidak lama kemudian ikut masuk dan menuju ke meja mereka masing-masing.


"Xu jadi pemberani euy sekarang mah," celetuk Remi.


"Woyadong! Kata Teh Hani jangan takut. Selow aja." Aku menatap monitor dan menyetel mic serta headphone.


"Standby, Xu!"


"Ongkeh!" jawabku.


"3, 2, 1, on air!" seru Remi.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam dan selamat berjumpa kembali dengan Inoxu dari lantai dua tempat Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung mengudara. Malam hari ini kita akan mendengarkan satu kisah yang berasal dari para pendengar sendiri. Satu buah lagu dari Utopia dengan Antara Ada dan Tiada request dari Marwah Hanindhiya Hidayat, wih namanya bagus banget, akan menjadi pembuka Kisah Tengah Malam kali ini.


Sebagai informasi, lagu ini merupakan sountrack dari sebuah sinetron terbaik pada masanya yang berjudul Di Sini Ada Setan yang diperankan oleh Thomas Nawilis, Dude Harlino, Nagita Slavina, dkk. Sinetron terbaik sebelum munculnya sinetron-sinetron yang berkisah tentang penyiksaan menantu oleh para mertua dan suami yang doyan selingkuh. Oke skip, hahaha! Selamat menikmati lagu ini untuk semua pendengar di mana pun berada."


Aku mematikan mic dan langsung memilih narasumber yang akan mengisi Kisah Tengah Malam kali ini. Setelah memilih, dengan cepat aku menghubunginya langsung dan memintanya menunggu di ujung sambungan telepon.


"Si Xu lancar banget ya malem ini, beda banget," Gia berkata sembari menatap ke arahku.


"Woyadong, udah ngga takut lagi aku mah. Mau di sini ada setan juga aku bakal selow."


"Xu!" tegur Remi. "Jangan songong, ah!"


Aku nyengir dan kembali menatap monitor menunggu lagu selesai diputar.


"Itulah lagu dari Utopia dengan Antara Ada Dan Tiada. Kalo jaman sekarang itu kaya kamu. Iya kamu. Kamu yang jadi pacarnya tapi dia lebih milih jalan sama sahabat baiknya. Jadinya kamu antara ada dan tiada, lebih tepatnya ada tapi ngga dianggap, hahaha! Di ujung sambungan sudah ada narasumber kita. Halo? Dengan siapa di mana?"


"Halo, Teh. Saya Esti di Margacinta."


"Silakan Esti, mau cerita apa?"

__ADS_1


"Cerita tentang kampus saya, Teh. Kampus saya itu bangunan baru sebetulnya, sebelumnya lokasi kampus ada di jalan Riau, Bandung. Tapi, karena tiap tahun banyak mahasiswa baru yang masuk, jadinya pindah ke lokasi baru di Jalan Soekarno-Hatta."


"Oh, kampus XXX?" tanyaku memastikan.


"Betul, Teh. Jadi semua mahasiswa pindah ke kampus baru setelah kampus selesai dibangun. Awal-awal pindah sih masih aman terkendali. Cuma lama-kelamaan banyak cerita serem yang beredar."


"Cerita kaya gimana?" tanyaku.


"Kaya cerita sekelompok mahasiswi liat ada mahasiswi lain masuk ke kamar mandi, tapi ngga keluar-keluar. Pas di samperin taunya kamar mandinya kosong. Terus ada juga cerita dosen yang liat mahasiswi duduk di pojokan, tapi ngga pakai seragam kaya mahasiswa lainnya," jelas Esti.


"Kuliahnya pake seragam?" tanyaku lagi.


"Iya Teh, selama dua hari dalam seminggu itu kita harus pakai seragam. Kampus kami kan lulusannya siap kerja, jadi emang dari awal udah dituntut berpakaian rapi untuk mencerminkan profesionalitas."


"Cerita yang paling nyeremin kalau kata Esti yang mana?"


"Yang dosen itu, Teh. Soalnya saya ikut ngalamin langsung. Waktu itu kuliah sore, jam lima sampai jam tujuh. Nah, kita semua kebagian ruang di lantai empat. Lantai empat ini tempat kamar mandi, di mana sekelompok mahasiswi liat ada cewe masuk ke sana tapi ternyata pas dicek ngga ada.


Hari itu, dosen ngabarin kami semua kalau akan datang agak terlambat. Kita semua udah masuk kelas dan mulai ngerjain tugas yang sebelumnya dikasih dosen lewat koordinator kelas. Dan baru menjelang magrib, pas dosennya dateng."


"Dosen beneran atau jejadian?"


"Xu!" Gia berbisik keras dan Remi melotot. Aku nyengir menghadap keduanya.


"Wow, mahasiswi tambahan? Gimana ceritanya?"


"Nah kan baru menjelang magrib dosen kami datang. Beliau menunggu kami semua sampai selesai ngerjain tugas. Setelah itu dia maju buat nerangin materi di depan kelas. Pas banget lagi adzan tuh. Aturan mah kan, diem dulu sampai adzan selesai. Si ibu mah ngga, lanjut terus nerangin. Kita juga pada fokus dengerin dan sesekali nyatet.


Ga lama, suasana hening banget karena bu dosen tiba-tiba diem. Kita yang tadinya pada nyatet langsung ngangkat muka dan ngeliat si ibu berdiri sambil ngeliat ke kursi di pojok belakang ruangan. Area pojok belakang ini jarang banget ditempatin kecuali kalau ada anak dari kelas lain yang ikut masuk mata kuliah."


"Si ibu dosen kenapa?"


"Sawan teh, beliau ngeliat sesuatu. Karena ngga lama kemudian, dia teriak-teriak sambil nunjuk-nunjuk ke arah bangku kosong, sampai akhirnya kesurupan. Pas kesurupan, nangis-nangis minta pulang. Satu kelas pada panik dan ada yang lapor ke dosen piket. Singkat cerita, bu dosen yang kesurupan ditolongin-lah. Dan waktu udah sadar beliau cerita. Ada mahasiswi yang duduk di pojokan, pas beliau nerangin, si mahasiswi ini naik ke atas kursi terus kayang. Yang bikin shock, dengan posisi kayang, dia merayap naik ke atas dinding sampai akhirnya hilang."


"Astagfirullah! Terus gimana?"


"Ya kelas dibubarin. Takut kesurupan massal karena para mahasiswa yang hadir udah ketakutan semua. Serem banget-lah Teh pokoknya."


"Ya padahal tinggal sentak aja, jangan ganggu! Gitu. Yang kaya gitu kan sebenernya takut sama manusia," ucapku menasehati.


"Iya sih teh, tapi kalau udah ngalamin sendiri, yang muncul malah insting melarikan diri," balas Esti.


"Hahaha, iya sih bener. Ada lagi Esti?"

__ADS_1


"Udah teh, segitu aja cerita dari saya. Maapin kalau ceritanya acak-acakan. Makasi ya Teh?" sahutnya sebelum mematikan sambungan.


"Sama-sama Esti, makasi juga karena udah mau berbagi kisah di sini. Nah pendengar semua, bangunan baru ngga jadi jaminan suatu tempat ngga ada penunggunya ya. Pengalaman Esti barusan nunjukin kalau mereka emang ada di mana-mana dan hidup berdampingan dengan manusia. Satu lagu dari TATU dengan Gomenasai akan menjadi akhir Kisah Tengah Malam kali ini. Inoxu mohon pamit, sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan mengangguk-angguk kecil mengikuti irama lagu.


"Xu! Hayu pulang?" ajak Remi yang kurespon dengan anggukan setelah melepas headphone.


"Keren banget Inoxu malem ini, ngga ada takut-takutnya loh," puji Gia.


Aku mengangguk bangga, " Iya dong! Udah dapet ilmu dari Teh Hani. Sekarang mah aku berani, mau kaya gimana juga pokoknya berani!"


Gia dan Remi saling berpandangan sebelum keduanya menggeleng pelan. Saat sedang fokus membereskan barang pribadiku, terdengar suara ketukan di dalam ruangan yang entah berasal dari mana.


"Apaan itu?" tanya Gia.


Aku mengangkat bahu, "Yang suka ketawa kik kik kik kik kali."


"Ish Inoxu! Itu mulut ya!" potong Remi.


Aku hanya nyengir menanggapi. "Kok cuma ngetok-ngetok aja sih? Suaranya manaaa?"


"Astagfirullahaladzim!" lirih Gia. Ia semakin cepat membereskan barang pribadinya.


Aku hendak bangun tapi entah kenapa kakiku terasa berat. Saat aku menengok ke bawah, saat itu pula suara tawa terdengar.


Kik kik kik kik!


"Xu," panggil Gia lirih.


"Nyingkah! Bisi diduruk ku aing! (menyingkir! nanti saya bakar!)" sentakku keras.


Kik kik kik kik! Bukannya berhenti suara tawa tersebut semakin jelas terdengar.


"Nyingkah siah! Arek diduruk?! (menyingkir sana! mau dibakar?!)" sentakku lagi.


Suara ketukan yang terdengar, bercampur dengan suara tawa seseorang dalam ruangan ini.


"Nyingkah! Aing duruk yeuh! (menyingkir! saya bakar nih!)" sentakku untuk ketiga kalinya.


Kriet kriet kriet! Bukannya berhenti, suara ketukan dan tawa ditambahi lagi dengan suara seperti kuku panjang menggaruk papan tulis.


Rasa panik ditambah rasa takut mulai menjalar dan aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku. Saat aku menunduk, terlihat sepasang tangan pucat sedang mengusap kakiku berkali-kali.

__ADS_1


"Mama, tolong!" teriakku spontan serta langsung menyambar tas, dan seperti biasa meninggalkan Gia dan Remi masih di dalam ruang siaran.


__ADS_2