Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 34


__ADS_3

"Xu, mau pulang dulu atau diem di sini sampe ntar siaran?" tanya Gia yang ikut duduk di sofa. Di tangannya sudah ada sepiring ketoprak. Tidak lama, Remi juga bergabung bersama kami dengan semangkok mi ayam.


"Mau pulang tadinya, tapi kata Bang Win disuruh bantu penyiar lain rekaman off air buat siaran pas kita gathering," jawabku.


Gia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Loh Xu, kamu kok ngga makan?" gantian Remi yang bertanya.


Aku menggeleng, "Masih kenyang sarapan tadi pagi."


Keduannya mulai makan ketika Bang Win berjalan ke luar dari studio bersama dengan Kang Utep. "Saya ke luar sebentar," pamitnya padaku yang kemudian kuangguki. Keduanya terlihat masuk ke dalam mobil dan pergi entah ke mana.


"Jadi si Luigi itu dateng karena mau pamer undangan nikah?" tanya Gia di sela-sela mengunyah. Ia melihat undangan yang tergeletak di atas meja.


"Masih sok banget itu orang," sambung Remi. Keduanya tau tentang Luigi karena aku yang menceritakannya sesaat setelah menjadi penyiar di Radio Rebel.


"Padahal kata Teh Hani cakep loh orangnya. Sayang banget attitudenya minus," sambung Gia.


"Ampir-ampiran berantem tadi sama Bang Win. Gara-gara dia nanya, selera kamu sekarang om-om?" tambahku.


"Wooh! Berani-beraninya si kodok zuma ngomong kaya gitu. Biar pun usianya lebih tua dari kita, tapi gaya Bang Win itu cool tau. Misterius gitu, ditambah lagi suka pake baju warna item. Beuh, damagenya ngga ada obat!" seru Gia.


Aku menatapnya sesaat, "Itu yang dulu bikin kamu suka sama Bang Win?"


Gia ngakak mendengar pertanyaanku, "Gosah jealous sama aku! Aku suka ngeliatin doang, ngga lebih! Kamu mah kalo udah bucin, itu o*tak ikutan kriting. Jadinya jealous mulu."


Aku dan Remi tertawa keras.


"Ya maap," ucapku. "Abisnya kamu dulu kalo nyeritain Bang Win tuh kaya yang tertarik banget. Udah gitu aku liatnya kalian deket."


"Heh, Bang Win deket sama aku tuh karena sering nanyain kamu. Gimana siarannya, gimana makannya, pulangnya sama siapa, naik apa, rumahnya di mana, hobinya apa."


"Oh iya?" Aku kaget mendengar perkataan Gia.


"Iyah, aku saksinya. Tiap kali Bang Win manggil pasti yang ditanyain kamu. Katanya mah pengen bisa ngobrol sama kamu, tapi kamu kaya yang jaga jarak," tambah Remi.


"Dih, kenapa baru pada bilang sekarang?" tanyaku.


"Ya karena kita liatnya kamu biasa aja. Malah cenderung menghindar kalau ada Bang Win. Ya masa kita ngojok-ngojokin kamu deket sama dia." Gia melirikku sinis.


"Iya sih, aku tuh sungkan gitu. Takut juga karena keliatannya Bang Win itu kaku, dingin, jarang ngobrol. Pas udah deket baru deh tau, kulkas dua pintu kaya dia bisa romantis banget."


"Ah elaaah, gosah pamer sama aku! Aku LDR tau," ucap Gia.


"Jangan pamer sama aku juga! Aku jomblo," lirih Remi dengan muka memelas.


Aku tertawa keras melihat ekspresi keduanya.


***

__ADS_1


"Katanya aku disuruh bantuin rekaman off air para penyiar, kok malah bantuin Bang Win di sini?" Aku berkata sinis pada Bang Win yang duduk di balik meja siaran.


"Terus kamu pikir, saya bukan penyiar?"


"Oh iya ya?" responku pendek dan kembali mengetik beberapa skript atau naskah yang akan dibacakan dalam siaran off air. Dari sudut mata, aku kembali melihat sosok berkemben itu lekat memperhatikan Bang Win.


"Bang Win," panggilku. "Kenapa penunggu studio ini suka banget ngeliatin Bang Win?" tanyaku setelah Bang Win menoleh.


"Mana saya tau. Kenal juga ngga," jawabnya.


"Cantik padahal," tambahku menoleh ke arah sosok berkemben itu, yang ternyata sedang menatapku dengan wajah kosong.


"Cantik, putih, rambutnya bagus," aku melanjutkan dan melihat sosok itu tersipu samar. "Tapi sayang banget, bajunya itu-itu aja, ngga pernah ganti. Hahaha!"


Aku tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat jelas sosok itu berubah cemberut.


"Oxu?" panggil Bang Win.


"Ya?"


"Jangan aneh-aneh, oke? Jangan bikin saya khawatir." Bang Win menatapku lekat. "Salah satu alasan saya mau kamu untuk terus di sisi saya itu biar saya bisa mengawasi kamu setiap saat."


Aku balas menatap matanya dalam diam.


"Pulang dari gathering, saya mau ketemu mama dan kakak kamu," lanjut Bang Win.


"Mau apa?" tanyaku penasaran.


Deg! Walaupun diucapkan secara santai, nyatanya kalimat tersebut membuatku berdebar-debar. Aku kembali menunduk untuk menekuni tumpukan kertas di meja, padahal moodku untuk bekerja sudah hilang entah ke mana.


"Saya ngga akan maksa. Kalau kamu belum siap, saya akan nunggu," sambung Bang Win karena aku diam saja.


"Siap kok!" ucapku cepat yang berbuah cengiran.


"Mau ikut survey vila habis ini?" tawarnya. "Nanti balik lagi ke studio pas waktunya kamu siaran malam. Saya udah minta ijin ke mama dan kakak kamu."


"Hah? Minta ijin apa?" tanyaku kaget.


"Ijin kalau kamu ngga akan pulang ke rumah karena mau survey vila buat gathering."


"Kan Bang Win baru aja ngajak aku. Kok udah minta ijin ke mama?"


"Saya minta ijin ke orang tuanya dulu baru ngajak anaknya. Kalau anaknya ngga mau, ya udah resiko," jawabnya sembari menatap monitor.


"Yang lain tuh ya, nanya yang mau diajak dulu, baru minta ijin orang tua. Bang Win malah kebalikannya" lanjutku.


"Saya pengecualian, Oxu. Saya mau mama dan kakak kamu percaya sama saya kalau saya bisa ngejaga kamu dengan baik."


Lagi-lagi aku tersentuh. 'Pak tua ini memang berdiri di level yang berbeda,' kataku dalam hati.

__ADS_1


***


"Satu lagu terakhir dari Vina Panduwinata dengan Surat Cinta menandai akhir kebersamaan kita kali ini di Oldies But Goldies. Sampai jumpa lagi di siaran selanjutnya, di mana banyak tembang kenangan akan kami putarkan untuk menemani nostalgia pendengar semua. Win Patriadi pamit undur diri, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku masih duduk di meja kerja Bang Win dan berkutat dengan lembaran kertas yang semakin banyak saat Adul masuk dengan membawa beberapa lembar kertas tambahan di tangannya.


Kertas-kertas itu ia berikan pada Bang Win yang langsung memeriksa dengan seksama ketika sosok berkemben yang menatap tepat ke punggung Adul maju perlahan.


Nafasku tertahan saat sosok itu masuk ke badan Adul dan membuatnya tersentak ke depan, dan semakin kaget ketika ia mengangkat kepala lalu dengan cepat menghampiriku.


"Lalaki eta nu aing! (pria itu punya saya!)," ucapnya keras sembari menarik rambutku.


Aku yang kaget dan juga kesakitan, seketika menjadi emosi hingga balik menjam*bak rambut Adul. "Aisia waras?! Sia saha wawanian ngajenggut aing? (kamu waras?! Kamu siapa berani-beraninya ngejambak saya?)" balasku berteriak.


Bang Win terpana melihatku dan Adul saling jam*bak, pu*kul, ca*kar dan berteriak.


"Oxu!" panggilnya keras setelah tersadar. Ia maju dan berdiri tepat di antara aku dan Adul. Hal itu membuatnya menjadi sasaran pu*kulan Adul selanjutnya.


"Si an*jing! Wawanian ngagebug salaki aing! (Si an*jing! Berani-beraninya memukul suami saya!)." Aku mendorong Bang Win ke samping dan kembali mengha*jar Adul.


Bang Win yang terlihat semakin kebingungan, berlari ke luar studio dan kembali tidak lama kemudian bersama Kang Utep serta yang lain, yang dengan segera memisahkan kami.


Kang Utep menyentuh kepala Adul yang masih saling ha*jar dan jam*bak denganku hingga kami berdua terbungkuk-bungkuk.


Bang Win sendiri memeluk dan menarikku mundur ketika aku masih berusaha mengha*jar Adul yang sudah pingsan karena sentuhan tangan Kang Utep.


"Oxu sadar! Itu Adul! Dia bisa masuk rumah sakit kalau kamu ha*jar terus! Istigfar!" seru Bang Win setelah menarikku menjauh dari tubuh Adul.


"Istigfar!" ucapku keras.


Bang Win menggeleng kencang. "Astaghfirullahaladzim," ia mencontohkan.


Seketika aku tersadar dan mengikuti ucapannya, "Astaghfirullahaladzim."


Sekuat tenaga aku berusaha mengatur napas. Emosi membuat tubuhku terasa panas sedangkan di lantai, Adul masih berusaha disadarkan oleh Kang Utep dan yang lainnya.


Setelah merasa lebih baik, aku menuju kursi dan duduk. Bang Win menyodorkan air mineral yang dengan segera kuhabiskan. Tidak lama kemudian, terlihat Adul sudah sadar dan duduk di lantai.


"Aduh ... Aduh ... Ini Adul kenapa? Kok kepala sama badan Adul sakit?" tanyanya memelas.


Aku yang melihat itu dengan segera menghampirinya dan ikut duduk di lantai. "Adul maaf, Teteh tadi ngehajar kamu," ucapku semakin tidak enak hati karena melihat keadaannya.


Setelah diberi minum, Adul terlihat jauh lebih baik. Kang Utep menjelaskan semuanya dan Adul ikut meminta maaf karena sudah mengha*jarku duluan. Ajang maaf memaafkan menjadi terasa kikuk karena yang lain menatap kami dengan pandangan geli.


"Pulang aja deh, Dul, ngga usah siaran. Liat tuh kamu babak belur. Si Inoxu mah casingnya doang perempuan, jiwanya mah laki-laki. Awas loh Win, jangan-jangan nanti kalo kamu pulang telat dapet jambakan juga," Kang Utep terkekeh.


Adul mengangguk dan memutuskan pulang di antar pak satpam. Sebelum pulang, aku kembali memegang tangannya dan menunduk meminta maaf.


"Kamu galak juga," komentar Bang Win berjalan ke arahku duduk dan mengacak rambutku yang memang sudah acak-acakan ketika yang lain sudah membubarkan diri. "Tapi saya sayang ...."

__ADS_1


Aku yang sedang memeriksa luka cakaran di tangan seketika berhenti dan menatap wajahnya lekat sebelum merangkulnya kuat.


__ADS_2