Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 41


__ADS_3

"Sini," panggil Bang Win menepuk sisi karpet yang kosong di sebelahnya. Aku menghampirinya dan memberikan satu piring berisi jagung, sosis, dan ayam bakar. Sehabis sholat isya, semua berkumpul di taman dengan menggelar karpet plastik dan memanggang beberapa bahan makanan yang sudah dibeli untuk makan malam.


Terlihat juga ada penyiar lain yang memainkan gitar sehingga membuat suasana menjadi hangat. Sayangnya, di saat menyenangkan seperti ini, Adul masih tertidur di kamar setelah menyamar menjadi karpet masjid.


Aku masih menatap Bang Win sesekali akibat ucapannya sore tadi sehingga lama-kelamaan ia pun menyadarinya.


"Kamu bisa bertanya apa saja, jika ada yang mau kamu tanyakan, Oxu," ucapnya sembari menatapku lekat.


Aku tersentak untuk sesaat, namun rasa penasaran membuatku memberanikan diri. "Bang Win pernah nyoba buat ma*ti?"


"Pernah. Ngga sekali dua kali, tapi sering. Sampai-sampai setiap bangun pagi, saya selalu berpikir, cara apa lagi yang harus saya lakukan hari ini agar bisa secepatnya enyah dari dunia ini," jawabnya pelan.


"Tapi?" potongku cepat.


"Tapi yang terjadi malah semakin membuat masalah saya bertambah. Saya dicap sebagai tukang mencari perhatian," jawabnya lagi.


"Sama siapa?"


"Keluarga."


"Lebih spesifiknya?" tanyaku lagi sembari menggigit jagung.


"Orang tua dan keluarga besar."


"Emang ada apa sampai mau ma*ti?"


Untuk sesaat, Bang Win menarik nafas panjang. "Kamu tau kalau orang tua saya bercerai?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Sayangnya perceraian mereka tidak dilakukan secara baik-baik. Awal saya menyadari situasi di rumah saat saya di bangku SMP. Walaupun tidak setiap hari, orang tua saya mulai bertengkar di depan saya. Mereka saling melontarkan kata-kata pedas tanpa saya tau apa permasalahan utamanya."


"Terus gimana?"


"Kondisi itu semakin sering terjadi dan keduanya sudah tidak sungkan lagi menahan emosi di depan saya. Mereka bisa bertengkar hanya karena masalah sepele namun saya tau ada sesuatu yang lebih serius dari pada itu. Keduanya terlihat mencari-cari kesalahan yang lain agar bisa menjadi pemicu untuk membenarkan diri. Kamu ngerti?"

__ADS_1


"Ngga," jawabku pendek.


"Misalnya gini, ada pasangan yang sudah tidak cocok dan ingin bercerai. Namun, karena alasan yang ada tidak kuat, mereka mencari kesalahan yang lain agar orang di sekitar mereka memaklumi. Orang akan bilang, pantes aja dia menceraikan istrinya, kerjaannya istrinya ngga becus. Ngga pernah masak, ngga pernah beresin rumah, dll. Padahal intinya bukan itu."


"Oh iya ngerti. Jadi nyari kesalahan biar bisa jadi alesan pisah?" tanyaku


"Iya. Begitu juga halnya mereka. Papa saya orang yang keras dan berdisiplin tinggi. Perkataannya adalah perintah dan tidak bisa dilanggar. Mama saya yang seorang penyabar pun bisa habis kesabaran menghadapi papa. Beliau sudah tidak nyaman dan tidak bahagia dalam pernikahannya. Mau mundur tapi tidak ada alasan yang kuat."


"Terus gimana?" Kali ini aku mengigit sepotong sosis.


"Begitu pula dengan papa. Beliau juga sudah tidak sanggup menjalani rumah tangga dengan mama karena mama dianggap tidak bisa mengimbangi pemikiran papa yang lebih maju. Namun, tidak mau disalahkan jika sampai terjadi perceraian. Itulah kenapa, setiap hari ada kesalahan yang dicari keduanya agar bisa menggugat terlebih dahulu dan tidak menjadi pihak yang salah.


Pada waktu itu, saya sudah mengerti semuanya. Saya terbiasa diabaikan di rumah sendiri dan juga mulai terbiasa melihat pertengkaran mereka yang intensitasnya semakin sering dan semakin kasar. Jika awalnya mereka bertengkar dengan nada suara tinggi, lama-kelamaan mereka melontarkan makian satu sama lain. Dan itu tepat terjadi di depan saya.


Jika ada pasangan suami istri urung bercerai dengan alasan anak, itu omong kosong. Omong kosong jika mereka tetap berperilaku sama. Mereka tetap bertengkar di depan anak, tetap menghadirkan suasana yang tidak kondusif, itu lebih merusak dibandingkan jika mereka berpisah. Kecuali, jika kedua pasangan tersebut ikut merubah sikap dan memang berniat memperbaiki.


Pada akhirnya, orang tua papa turun tangan karena muak dengan drama rumah tangga orang tua saya. Saat itulah keduanya bercerai."


"Wooh," desahku pelan.


"Pada awalnya, masing-masing memperebutkan saya. Namun setelah mereka bertemu dengan pasangan baru mereka, kehadiran saya dianggap sebagai pengganjal. Mereka kembali bersitegang dan melempar tanggung jawab atas diri saya.


"Terus gimana?" Aku semakin penasaran.


"Ngga ma*ti malah masuk rumah sakit. Makanya saya dicap sebagai anak yang suka cari perhatian. Sampai akhirnya, nenek saya dari pihak mama datang ke Indonesia dan membawa saya ke Jepang. Nenek menangis histeris mengetahui nasib saya. Saat itu juga beliau memarahi mama dan memutuskan membawa saya."


"Wooh, pernah tinggal di Jepang?" tanyaku kaget.


"Pernah. Sampai lulus SMA dan saya kembali ke Indonesia ketika kuliah."


"Kok ngga ada yang bilang ke aku kalau Bang Win pernah tinggal di Jepang?"


Bang Win tergelak, "Kamu memata-matai saya ke siapa? Kan saya pernah bilang, kalau ada yang kamu mau tau, kamu bisa bertanya langsung."


Aku terkekeh tanpa menjawab.

__ADS_1


"Yang lain taunya saya putus sekolah. Lalu iseng membuka Radio Rebel bersama teman-teman saya."


"Padahal bagian waktu sekolah di Jepang itu keren banget," aku menimpali.


"Tapi ngga berlaku di sini. Ini Indonesia, di mana kamu hanya akan dilihat jika memiliki uang banyak. Mau kamu sepintar apapun, pernah pergi ke mana pun, kalau kamu tidak menunjukan kamu memiliki uang, semua hanya akan melihat kamu sebagai pribadi yang biasa. Tidak semua, tapi rata-rata begitu."


"Teh Lena tau cerita ini?" Entah kenapa aku penasaran dan bertanya.


"Tau," jawab Bang Win menatapku.


Aku mengangguk dan mengerti. Itulah kenapa, Teh Lena menitipkan Bang Win padaku.


"Saya takut, Oxu. Takut jika kelak saya menyakiti kamu. Saya takut jika suatu hari nanti perasaan saya berubah dan saya bisa melakukan hal seperti apa yang papa saya lakukan. Padahal dulu, saya sering mendengar cerita kalau beliau sangat sayang pada mama."


"Ya tergantung niat itu mah," jawabku pendek.


"Maksudnya gimana?"


Aku menghembuskan nafas panjang. "Menurut Bang Win, menikah itu untu apa? Biar punya pasangan? Biar punya anak sebagai penerus keturunan? Biar ngga diomongin orang? Atau apa?"


"Setau saya, menikah itu untuk menyempurnakan setengah dari agama."


"Betul, kalau urusannya udah sama agama, berarti nikah itu ibadah. Contohnya gini, ini mah contoh nih ya. Bang Win puasa di bulan Ramadhan karena banyak hasil penelitian yang bilang kalau puasa itu menyehatkan. Jadi niatnya agar sehat. Nah, di mana Bang Win jatuh sakit, Bang Win akan mulai menyangsikan atau meragukan hasil penelitian itu. Katanya puasa bikin sehat, ini buktinya masih aja sakit. Dan itu bikin Bang Win nyerah untuk puasa. Buat apa puasa kalau masih juga sakit."


"Iya saya ngerti," sela Bang Win.


"Beda halnya kalau Bang Win berpuasa karena niatnya ibadah. Mau sakit, mau lemes, mau kliyengan, Bang Win tetep puasa karena itu perintah Allah. Yakin kalau puasa yang Bang Win lakukan akan diganjar pahala berkali lipat. Itu yang bikin Bang Win untuk terus berpuasa kembali walaupun rasanya sulit.


Sama seperti menikah. Kalau niatnya biar dapet pasangan, suatu saat pas bosen atau ngga sreg, Bang Win pasti mundur dengan alasan yang sepele. Ah ternyata berpasangan sama dia ngga seperti apa yang dibayangkan. Ngga usah diterusin-lah. Karena ngga sesuai ekspektasi, kan?


Tapi, kalau niatnya ibadah. Walau pasangan Bang Win kelak ngga sesuai ekspektasi, Bang Win akan terus bertahan karena mengharap pahala dari Allah. Karena menikah adalah ibadah terpanjang dan proses belajar seumur hidup. Ngerti kan bedanya?" Aku hampir terengah-engah karena berkata panjang lebar.


"Ngerti sayang," balasnya lirih.


Aku tertegun sejenak karena berusaha menata hatiku. "Nah makanya, kuatkan niat dari sekarang. Jangan setengah-setengah," lanjutku lagi.

__ADS_1


Bang Win tersenyum mengangguk dan kembali mengacak rambutku. Setelahnya ia menunduk ke arahku untuk memasangkan tudung hoodie yang kupakai.


"Saya sayang kamu, Oxu," bisiknya lirih.


__ADS_2