Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 16


__ADS_3

"Oxu!" panggil seseorang ketika aku sedang berjalan ke arah tangga.


"Kenapa Bang Win? Tumben amat masih di sini jam segini."


"Kacau ini mah," serunya.


"Kenapa sih?" tanyaku penasaran.


"Xu!"


Sebelum Bang Win menjawab pertanyaanku, terdengar seruan dari arah pintu depan yang langsung membuatku mengenali empunya suara.


"Nah, untung si Gia dateng. Sini Gi!" panggil Bang Win.


"Apaan Bang?"


"Banyak thread masuk tuh buat siaran kalian. 70% suara pembaca yang masuk, minta Adul ikut siaran sama kalian.


" APA?!" seruku dan Gia bersamaan.


"Serius! Banyak yang minta Adul masuk buat siaran."


"Duh, Bang Win. Gimana ya bilangnya? Aku sih ngga masalah kalau Adul masuk, tapi yang aku takutin itu, hal-hal sesudah siaran," jelas Gia.


"Ada apa emangnya?" Bang Win terdengar penasaran.


Gia menceritakan kejadian terakhir kami saat siaran bersama Adul.


"Jadi kalian ninggalin Adul di studio sendirian?!" tanya Bang Win terkejut.


"Iya."


"Sampe kelojotan kaya cacing kepanasan karena ketakutan?"


"Iya."


"Ya udah, gituin lagi aja kalau dia aneh-aneh pas abis siaran," ucap Bang Win santai.


"Ish bukan itu! Kita tuh pada takut tau ngga, Bang? Kecuali, ada penyiar senior yang nemenin," sambung Gia.


"Ehem!" Aku melirik Gia yang tersenyum samar. Sudah dari awal aku tau jika dia menaruh hati pada Bang Win.


"Mau saya temenin?" tawar Bang Win.


"Ah elah," aku mengeluh lirih. Perjalanan kisah cintaku yang tidak semulus orang-orang pada umumnya membuatku malas melihat interaksi dua sejoli yang sedang dalam masa pendekatan.


"Boleh deh kalau Bang Win ada waktu," sambut Gia. Entah kenapa aku mendengar nada centil dalam suaranya.


"Ya udah, kalian siap-siap dulu. Saya cari Adul, nanti saya nyusul."


Gia mengangguk dengan bersemangat serta menarik tanganku dengan cepat menuju ke lantai atas.


***


"Dul, denger ya? Satu, jangan motong aku kalo lagi ngomong dan sebelum aku mempersilakan kamu ngomong. Kedua, jangan ngomong songong atau sompral yang aneh-aneh. Ketiga, kalau ngga ditanya jangan maen nyeletuk aja. Oke? Ngerti? Kalo ngerti alhamdulillah, kalo ngga aku umpanin lagi sama penunggu studio ini. Mau?" Aku berkata panjang lebar.


"Ampun! Iya Teh Inoxu, Adul ngerti."


"Oke-oke. Good kalo ngerti mah. Sekarang kita siap-siap. Liat tuh, ada Bang Win merhatiin kamu, jadi jangan macem-macem kalau ngga mau dijitak. Paham? Bagus!" sambungku.


"Standby, Xu!" seru Remi.


Aku mengangguk dan memakai headphone. Dengan gerakan isyarat, aku juga meminta Adul memakai headphone. Sedangkan Gia? Produserku itu pura-pura sibuk membaca sesuatu di tabletnya dan sesekali melempar pandang pada Bang Win. Tidak lama, Remi mengangkat jempolnya tanda on air.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam untuk para pendengar semua, selamat berjumpa lagi dengan saya Inoxu yang akan menemani para pendengar semua selama satu setengah jam kedepan. Malam ini cukup istimewa dan sudah saya prediksi akan cukup heboh karena malam ini kita akan ditemani juga oleh Adul. Yes, Adul yang sama dengan Adul yang terakhir kali menjadi narasumber di Kisah Tengah Malam."

__ADS_1


"Halo gaes, Adul hadir lagi di sini bareng sama Teh Inoxu." Adul menyapa para pendengar setelah aku memberikan isyarat.


"Halo Adul, mohon kerjasamanya ya?" balasku. "Satu lagu persembahan dari Daniel Sahuleka dengan Don't Sleep Away yang direquest oleh Ayank Afliansyah akan mengawali perjumpaan kita kali ini. Stay tuned dan jangan kemana-mana."


Aku mematikan mic dan mengajak Adul untuk tos. "Nah gitu atuh, kalo gitu kan enak siarannya."


"Siap Teh," jawab Adul meringis. Sejak masuk ke studio ini aku perhatikan Adul selalu berkali-kali melirik ke arah pundaknya.


"Tenang, selama kamunya sopan di sini, ngga akan ada yang nyolek-nyolek," ucapku yang dianggukinya.


Aku memilih satu nomor yang sudah masuk ke nomor Whatsapp Kisah Tengah Malam dan menghubunginya langsung. Setelah terhubung, aku meminta narasumber untuk menunggu sebentar di ujung sambungan telepon.


"Adul, setelah ini kan ada narasumber yang cerita. Nah di sesi ini, kamu bebas mau nanya, mau nyeletuk atau mau ngapain juga asal inget, jangan songong."


"Siap, Teh," jawab Adul. Kami berdua menunggu sampai lagu selesai diputar.


"Daniel Sahuleka dengan Don't Sleep Away. Selamat bergabung untuk para pendengar yang baru saja mendengarkan siaran ini. Di ujung sambungan sudah ada narasumber kita pada malam hari ini. Halo? Dengan siapa dan di mana?"


"Dengan Kunti, Teh. Pake T,H."


"Astagfirullah Teteh, belum apa-apa udah ada demit yang nelpon ke sini," celetuk Adul.


"Ssshhhtt," aku menyuruhnya diam. "Kun-thi? pake T,H?" tanyaku.


"Betul Teh Inoxu, lidahnya naik ke belakang gigi atas ya?"


"Iyah, okey, siap," jawabku. "Mau berbagi kisah apa nih Teh?"


"Bentar Teh, tanyain dulu atuh, ini yang nelpon manusia beneran atau bukan? Nanti gempar kaya yang waktu itu tea," bisik Adul.


Posisi mic yang sedang menyala membuat suara Adul terdengar jelas walaupun ia berbisik. Seketika mataku membola dan aku menoleh ke arahnya.


"Ih takutnya demit," bisik Adul lagi.


Adul hampir membalas ucapan Kunthi saat aku menatapnya tajam.


"Iya maaf ya Teh Kunthi, ngga bermaksud gimana. Ya becanda aja kita mah," aku meminta maaf karena takut Kunthi tersinggung. "Teh Kunthi mau cerita apa?"


"Saya ngga mau cerita Teh, pengen aja ngobrol-ngobrol sama minta lagu buat nanti di akhir acara."


"Lagu apa tuh?"


"Sephia Teh, Sheila on Seven."


"Siap, nanti diputerin yah? Kalau Teh Kunthi ngga mau cerita, saya boleh atuh ya nanya-nanya?"


"Boleh kok Teh, mau nanya apa?"


"Nama Teh Kunthi unik banget, pemberian siapa?"


"Nama saya emang unik dan bahkan berkesan horor, yang ngasi nama itu nenek saya."


"Pantes," sela Adul.


"Kenapa Kang Adul?" tanya Kunthi.


"Unik Teh, ngga biasa," jawab Adul seraya nyengir ke arahku ketika aku hampir memu*kul tangannya.


"Oh, kirain apa. Nama Kunthi sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu ibu pandawa. Kalau dari bahasa Indonesia, artinya keibuan. Sedangkan kalau dari bahasa India, artinya Pencinta dewa matahari," jelas Kunthi.


"Bagus ya artinya," timpalku. "Teh Kunthi tinggal di mana kalau boleh tau."


"Saya di Batununggal Teh, tapi sering juga ke daerah tempat radio Rebel. Ada temen di situ soalnya."


"Oya? Mampir atuh kapan-kapan ke studio," tawarku. Walaupun secara konsep, siaran kali ini sudah gagal dari awal, namun rasanya menyenangkan juga bisa berbincang dengan pendengar secara langsung.

__ADS_1


"Temen saya katanya mau main ke situ Teh, boleh ngga? Pengen ketemu sama Kang Adul."


"Boleh atuh, masa ngga boleh," jawab Adul. "Jangan-jangan Adul udah terkenal ya? Sampai ada yang mau ketemu."


"Iya, lucu soalnya. Apalagi pas lonjak-lonjak di kursi karena ketakutan," jawab Kunthi santai.


Aku menengok ke arah Gia dan Remi untuk melihat reaksi mereka. Dan benar saja, keduanya menatapku balik dengan wajah tegang. Bang Win sendiri sibuk dengan ponselnya dari awal kami siaran.


"Oh ya? Kata siapa Adul lonjak-lonjak di kursi, Teh?" tanyaku penasaran.


"Kata temen saya Teh, dia bilang Kang Adul lucu kalau ketakutan."


"Adul memang selucu itu," timpal Adul.


Keduanya lalu berbincang, sedangkan aku terdiam dan menatap ke arah Adul lekat. Perasaan was-was mulai menyelusup di hati, dan punggungku menjadi dingin. Bagaimana tidak? Ketika Adul ketakutan saat ia menjadi narasumber kami, siaran radio sudah sepenuhnya selesai. Itulah kenapa, akan sangat mengherankan jika ada pendengar yang tau apa yang terjadi di studio ini setelah siaran berakhir. Terlebih, tidak ada siapapun selain kami di sini.


"Berarti boleh ya? Temen Kunthi ke situ pas abis siaran selesai." tanya Kunthi lagi.


Aku menggeleng pelan ke arah Adul, si*alnya dia tidak bisa menangkap maksudku.


"Boleh banget, Adul tunggu ya?"


Tidak lama Kunthi meminta ijin untuk mematikan sambungan. Dengan cepat aku mengambil alih siaran setelah sambungan terputus.


"Seru ya pendengar semuanya? Sekali-kali bikin sesi tanya jawab dengan pendengar asik juga. Ngga terasa sudah satu setengah jam kami menemani para pendengar semua. Lagu Sephia permintaan dari Teh Kunthi akan menjadi ujung perjumpaan kita kali ini. Terima kasih sudah mendengarkan acara ini sampai akhir. Inoxu dan Adul pamit. Sampai jumpa lagi di Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan melepas headphone serta dengan cepat meraih tasku. Gia dan Remi juga melakukan hal yang sama. Bang Win sendiri sudah pergi ke luar studio saat aku melakukan closing siaran. Hanya Adul yang terlihat santai, duduk di kursi sebelahku.


Tok tok tok!


"Kayanya temen Teh Kunthi tuh," ucap Adul seraya berdiri menuju ke arah pintu. Gia dan Remi dengan cepat mendekat ke arahku. Aku sendiri sudah bersiap untuk lari jika sesuatu yang aneh terjadi.


"Loh kok ngga ada siapa-siapa?" tanya Adul lirih. Anehnya suara ketukan masih terdengar.


Aku berjengkit ketika menyadari ketukan berasal dari jendela. Adul yang hampir duduk kembali, melihat arah pandanganku dan malah berjalan ke arah jendela.


"Lucu banget temen Teh Kunthi, ada pintu malah mau masuk lewat jendela," ucapnya membuka jendela.


Pemandangan yang kulihat membuatku sesak seketika. Bagaimana tidak? Terlihat seorang gadis cantik berambut sebahu sedang tersenyum.


"Temennya Teh Kunthi ya? Masuk sini teh. Kapan lagi bisa masuk ke studio siaran," ajak Adul.


Aku, Gia dan Remi berjalan pelan menuju ke arah pintu dengan masih memperhatikan mereka. Sudah terlihat jelas keanehannya namun yang mengherankan, Adul masih bisa santai.


Adul berjalan ke arah kursi dan menarik satu kursi lagi untuk tamunya. "Sini masuk Teh. Cape kan berdiri aja di luar jendela? Mana dingin lagi," ucapnya.


"Emang saya boleh masuk, Kang?" tanya sosok di luar jendela.


"Boleh atuh, duduk sini Teh. Nih saya juga duduk," jawab Adul.


Aku memaki Adul habis-habisan dalam hati dan tidak habis pikir kenapa sampai saat ini ia tidak bisa menyadari keanehan apapun.


"Ya udah deh saya masuk," ucap sosok tersebut.


Nafasku tercekat seketika ketika melihat sosok itu masuk ke studio dengan cara melayang. Selain itu, sosok tersebut hanya separuh badan. Dari kepala sampai ke perut. Mirip manekin yang sering dipajang di toko hijab.


"Mama!"


"Hiyaaa!"


Aku dan Adul teriak bersamaan. Bedanya, dengan kecepatan kilat aku membuka pintu dan lari keluar diikuti Gia dan Remi sedangkan Adul terpaku di posisinya yang sedang duduk.


Gubrak gubrak gubrak!


Tanpa melihat aku bisa tau jika Adul kembali melonjak-lonjak di kursinya dari suara yang terdengar.

__ADS_1


__ADS_2