Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 49


__ADS_3

Setelah menghabiskan tidak kurang dari seminggu di rumah sakit, aku diijinkan pulang ke rumah oleh dokter yang merawatku dengan catatan, harus menghabiskan obat yang sudah diresepkan dan langsung berkonsultasi jika terjadi sakit kepala parah, pusing, mual dan mengalami pingsan. Walau pun dinyatakan berhasil, tapi tidak menutup kemungkinan terjadinya efek samping paska operasi.


"Pokoknya istirahat seminggu lagi, jangan siaran dulu," ucap mama ketika menjemputku bersama Nyx. Aku mengangguk mengiyakan agar beliau tidak cemas.


Nyx mengemudi dengan pelan karena jalanan mulai macet menjelang sore. Hujan yang turun deras, membuat beberapa titik jalan terendam air.


"Pssst... Pssst," panggil Nyx menatapku. Sebelum aku menjawab ia melihat ke arah spion tengah untuk melihat mama yang rupanya tertidur.


"Naon?" bisikku lirih.


"Liat itu di samping kaca kamu," suruh Nyx.


Aku menoleh untuk melihat, namun tidak ada apapun yang aneh, "Ada apaan?"


"Itu anak ada anak kecil di sebelah kaca kamu. Masa ngga keliatan?"


"Mana? Ngga ada ah." Aku menengok sekali lagi dan mencari-cari sosok yang dimaksud Nyx.


"Ngga ada ih," sahutku lagi.


Nyx hanya menggaruk kepalanya dan menatapku dengan tatapan yang dalam.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu dan Adul kembali lagi menemani istirahat para pendengar semua dalam Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung," ucapku membuka siaran.


Setelah seminggu beristirahat di rumah sekeluarnya dari rumah sakit, ini kali pertama aku kembali siaran bersama Adul.


"Yak, malam ini istimewa ya gaes ya, karena Teh Inoxu sudah hadir bersama kita semua untuk menemani kalian selama satu setengah jam ke depan. Satu buah lagu permintaan Andi Farhasni dari Sherina dengan Simfoni Hitam akan Adul putarkan sebagai pembuka kisah. Jadi, pastiin jangan ke mana-mana ya gaes ya," Adul melanjutkan pembukaan siaran.


Aku mematikan mic dan mulai melihat di monitor daftar nomor telepon pendengar yang sudah mengirim pesan berformat ke nomor Whatsapp Kisah Tengah Malam.


"Xu! Pusing ngga?" tanya Gia menatapku.


"Ngga, aman kok," jawabku sembari mengangkat jempol. Mataku sendiri masih tertuju pada deretan nomor telepon.


Pintu studio terbuka dan menampilkan sosok Bang Win yang membawa bungkusan. "Dimakan ya?" ucapnya setelah berdiri di sebelahku.


"Apa?" tanyaku lagi. Bukannya menjawab, Bang Win melepaskan headphone yang kupakai dan berbisik di dekat kepalaku. "Dimakan. Habisin."


"Oh oke," jawabku salah tingkah karena menyadari kepala kami terlalu dekat.


Bang Win tersenyum dan kembali memasangkan headphoneku sebelum berjalan meninggalkan studio. Aku menoleh ke arah Remi dan Gia yang ternyata sedang menatapku dengan pandangan sinis sebelum meraih bungkusan yang ditaruh Bang Win di atas meja.


"Naon liat-liat?" tanyaku kepada mereka.


"Seneng ya, kalo deket sama yayang mah. Diperhatiin terus," balas Gia sembari menghembuskan nafas panjang.


Aku hanya terkekeh dan membuka plastik yang ternyata berisi roti setelah menghubungi narasumber. "Adul mau?" tawarku.


"Mau, Adul laper," jawabnya mengambil sepotong roti dari dalam bungkusan. Gia dan Remi ikut mendekat dan masing-masing mengambil satu. Kami makan dalam diam sembari mendengarkan lagu dari headphone masing-masing. Setelah beberapa saat, aku bersiap untuk kembali on air saat lagu hampir berakhir.


"Selamat datang saya ucapkan pada para pendengar yang baru bergabung. Itulah satu lagu dari Sherina Munaf dengan Simfoni Hitam. Buat generasi 90'an mungkin inget ya kalau Sherina ini pernah membintangi satu film layar lebar yang booming pada waktu itu yang berjudul Petualangan Sherina. Keren banget pokoknya film ini!


Ngga perlu lama-lama lagi. Di ujung saluran, kita sudah terhubung dengan narasumber malam ini. Halo? Dengan siapa di mana?"

__ADS_1


"Halo Teh Inoxu dan Kang Adul. Saya Aang dari Margahayu Raya."


"Hai Aang, punya kisah apa nih buat para pendengar?" tanya Adul.


"Mau cerita pengalaman di tempat kerja saya, Kang."


"Mangga Aang," aku mempersilakan.


"Saya bekerja di sebuah rumah makan di daerah XXX. Rumah makan ini adalah cabang yang kesekian dari rumah makan YYY. Awalnya saya kerja di rumah makan pusat, tapi karena cabang baru dibuka, saya dipindahin ke sana. Lokasi rumah makan terletak di depan jalan raya antar provinsi, jadi bisa dibilang cukup ramai. Pembeli pun selalu berjubel sampai makanan yang dijual setiap hari selalu habis tanpa sisa.


Dari awal berdiri, tepat di depan rumah makan sering terjadi kecelakaan. Seringnya pejalan kaki yang menyeberang, tertabrak."


"Innalillahi," sela Adul.


"Pernah juga ada pengendara motor yang keserempet, tapi alhamdulillah ngga kenapa-kenapa," lanjut Aang.


"Alhamdulillah," celetukku.


"Awalnya karena saya kira emang jalannya rame, wajar kalau sesekali terjadi kecelakaan. Apalagi jalan di depan rumah makan ini agak nanjak dan berbelok sedikit. Otomatis para pengendara pasti ngegas kan? Saya mikirnya biasa aja, masih positif thinking-lah.


Lama-kelamaan, kecelakaan di depan rumah makan makin sering terjadi. Hampir setiap hari ada aja kejadian. Para karyawan termasuk saya mulai was-was karena seringnya terjadi kecelakaan. Kaya yang aneh gitu Teh, Kang. Kok hampir setiap hari banget kejadiannya. Kan ngeri aja gitu liat orang kecelakaan di depan mata kami langsung."


"Iya sih, ngeri gaes," potong Adul.


"Beberapa waktu lalu, karyawan rumah makan kami yang mengalami kecelakaan. Dia lagi nyebrang waktu kena tabrak mobil yang lewat. Pas kejadian, rumah makan udah tutup karena udah malam juga, dan ada satu temen saya yang ngeliat langsung dari lantai dua. Jadi, bangunan rumah makan itu dua lantai. Lantai satu untuk rumah makan, lantai dua untuk tempat nginep para karyawan yang berjumlah lima orang," Aang melanjutkan bercerita.


"Temen saya yang jadi saksi mata ini liat jelas kalau korban nyebrang pas keadaan jalan sepi. Karena udah malem, kadang beberapa karyawan suka nongkrong di balkon buat sekedar cari angin. Temen saya ini bilang kalau pas kejadian, mobil yang nabrak itu ngga keliatan dateng dari ujung jalan. Dia sadarnya pas ada suara benturan, padahal sesaat sebelumnya dia liat jelas kalau jalan di depan itu kosong banget."


"Terus gimana? Pengendara mobilnya bertanggung jawab ngga?" tanya Adul.


"Iya, dia bertanggung jawab, tapi temen saya meninggal di tempat. Pengendara mobil bilang kalau dia sama sekali ngga liat ada orang nyebrang. Dan dari hasil penyelidikan di TKP, polisi juga bilang kalau ngga ada tanda-tanda si pengemudi ini ngerem. Sempet disangka mabuk tapi nyatanya ngga. Nah baru di situlah kami ngerasa aneh. Masa ada orang nyebrang ngga keliatan? Padahal posisi jalan terang banget karena banyak lampu.


Dua minggu kemarin, dua dari empat karyawan yang tersisa mengundurkan diri secara mendadak. Mereka kaya yang ketakutan gitu, tapi pas ditanya ngga mau bilang apa-apa. Jadinya, karyawan rumah makan hanya tinggal saya sama temen yang jadi saksi mata.


Pas ketemu ngga sengaja di luar rumah makan dengan salah satu karyawan yang mengundurkan diri, dia cerita banyak. Katanya udah ngga betah kerja di sana karena beberapa kali sering liat penampakan karyawan yang meninggal karena tertabrak."


"Ih serem banget!" Adul spontan bersuara.


"Iya Kang! Katanya karyawan itu minta tolong. Ngga tau minta tolong apa. Neror banget pokonya mah, sampai dia akhirnya ngga kuat terus ngundurin diri."


"Kalau Aang sendiri pernah ngeliat penampakannya ngga?" tanyaku penasaran.


"Ngga pernah, Teh. Mudah-mudahan mah jangan ya? Saya ngeri," jawab Aang. "Cuma temen saya yang satu lagi ini, udah mulai diganggu. Sempet bilang ke saya mau berhenti juga, tapi karena nanti saya sendirian, saya tahan-tahan."


"Ya kalau ngga kuat sih mau gimana?" tanya Adul. "Nanti malah kerjanya jadi ngga nyaman."


"Iya sih Kang, bener. Saya juga kepikiran mau mengundurkan diri, tapi bos masih nahan. Katanya sampai dapet karyawan pengganti. Saya juga kalau berhenti, bingung mau kerja di mana."


"Terus temen Aang sendiri yang jadi saksi mata gimana?" tanyaku.


"Dia stres tiap hari. Katanya, dia sampe nanya ke orang pinter, dan kata orang pinter, kecelakaan masih bakal terus terjadi karena bos kami naro sesuatu di jalan. Makin stres-lah dia."


"Maksudnya gimana?" tanya Adul.


"Ya naro sesuatu buat narik tumbal, Kang."

__ADS_1


"Astagfirullah!" seruku dan Adul bersamaan.


"Tapi 'kan itu baru katanya. Saya mah masih positif thinking walaupun heran karena frekuensi kecelakaan yang ngga normal dan sikap bos yang kayanya santai-santai aja. Doain saya ya Teh, Kang? Biar ngga kenapa-kenapa di tempat kerja."


"Aamiin," seruku lagi dan Adul bersamaan.


"Ya paling itu aja cerita dari saya, makasi udah mau dengerin. Maap kalau ceritanya ngga menarik. Sehat selalu ya Teh Inoxu dan Kang Adul. Wassalamualaikum."


"Waalaikumusalam," jawabku lirih dan diikuti oleh Adul. Setelah memutus sambungan, aku kembali menghadap mic.


"Yak itulah satu kisah dari Aang yang jujur aja bikin saya heran. Di 2022, kalau bener kata si orang pinter itu, kok masih ada yang make tumbal terlepas dari apa pun tujuannya. Ngga ngerti aja gitu kalau iya bener. Kesannya nyari kepuasan duniawi itu sampai segitunya. Miris, pokonya mah," lanjutku.


"Iya ya, Teh. Ngga habis pikir aja gitu, ada yang tega ngorbanin orang lain lewat jalur instan," tambah Adul.


Aku mengangguk mengiyakan sebelum kembali berbicara. "Berakhirnya kisah dari Aang pertanda kami harus pamit. Satu lagu permintaan Revalina Andhara dari Roulette dengan Aku Jatuh Cinta akan menjadi penutup kisah kali ini. Saya Inoxu dan—."


"Dan Adul pamit," lanjut Adul. "Sampai ketemu lagi di kisah-kisah lainnya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan melepas headphone lalu duduk menyandar di kursi.


"Kasian ya itu temennya Aang yang kecelakaan?" ucap Adul.


"Kenapa?" tanyaku penasaran. Gia dan Remi ikut mendekat dengan menenteng tas masing-masing.


"Jadi setan di rumah makan. Ngga kebayang ya? Ketemu setan yang wujudnya temen sendiri. Pasti kaget banget," jawab Adul.


Aku hanya terkekeh mendengarnya dan memasukkan barangku ke dalam tas.


"Untung setan-setan di sini udah pada kenal Adul. Apalagi sama Teh Inoxu, udah bersahabat baik."


Aku, Gia dan Remi menoleh kaget menatap Adul yang sedang kembali memakan rotinya. Dengan tiba-tiba, ia berhenti mengunyah dan menatap ke sudut ruangan.


"Tuh, temen Teh Inoxu. Mau ngucap selamat datang kali, karena Teh Inoxu baru keliatan lagi," ucap Adul dengan raut wajah ketakutan dan mulai mendekat padaku.


Aku menolehkan kepala ke seluruh penjuru ruangan namun tidak menemukan sosok yang dimaksud Adul.


"Tuh, si Nini (nenek) ngedeketin Teteh. Suruh pergi Teh, Adul takut," lanjut Adul mencekal lenganku dengan tangannya yang gemetar. Gia dan Remi mulai menatapku tegang.


Aku menoleh kembali diikuti Gia dan Remi, untuk mencari sosok yang dimaksud Adul.


"Usir Teh! Usir!" pekik Adul mulai histeris.


Plak!


Aku memukul keras tangan Adul karena kesal. "Diem Adul, ngga usah nakut-nakutin! Dari tadi ngga ada siapa-siapa selain kita di sini."


Adul menatapku heran, "Teteh ngga bisa liat?"


Tanpa menjawab, aku berdiri dan meraih tasku. "Hayu pulang," ucapku cepat dan berjalan ke arah pintu diekori oleh Gia dan Remi.


Kik kik kik kik!


"Bang Win!" teriakku keras sebelum membuka pintu dan berlari ke luar studio.


"Teteh! Adul jangan ditinggal!" teriaknya keras dengan nada panik.

__ADS_1


Gubrak gubrak gubrak!


Aku yang sudah bisa membayangkan situasi Adul di dalam studio, tidak memelankan langkah dan terus berlari bersama Remi dan Gia menuruni tangga.


__ADS_2