
Aku sedang berjalan pelan menuju pintu masuk bangunan stasiun radio saat tiba-tiba seseorang menggandeng tanganku dari belakang.
"Bang Win?" ucapku sembari menoleh.
"Jalannya pelan banget sih! Males siaran ya?" tanyanya.
"Bentar!" seruku menepiskan tangan. "Ini Bang Win Asli atau jadi-jadian?"
"Astagfirullah Oxu! Saya asli," jawabnya gemas.
"Ya mana saya tau 'kan? Nanti tiba-tiba di dalem ketemu sama Bang Win yang lain, gimana? Lama-lama saya bingung."
"Bingung kenapa?" Bang Win menatapku lekat.
"Bingung pacar saya yang bener yang mana!"
"Hahaha! Ya kamu perhatiin aja. Kalau yang asli banyak ngomong kaya saya. Kalau yang gadungan ya biasanya diem aja," balasnya.
"Emang gitu? Berarti sering ada yang nyerupain?"
"Ada, tapi ngga sering. Saya mau ngejelasin, takut kamu jadi parno. Mana mau siaran kan?" tanyanya.
"Iya sih. Ya udah ngga usah aja."
"Nanti kapan-kapan saya ceritain. Masuk yuk?" Bang Win menyodorkan tangannya untuk kugenggam. Kami kembali berjalan pelan menuju pintu masuk.
***
"Win, saluran telepon belum bisa normal nih. Masih keputus-putus," lapor Kang Utep ketika melihat Bang Win dan aku yang masih bergandengan tangan baru saja masuk.
"Gimana dong? Kamu kayanya ngga bisa nelpon narasumber," ucap Bang Win menoleh padaku.
"Ya paling narik narasumber beneran," jawabku pendek.
"Ya udah kalau gitu," sela Kang Utep. Pria itu berbalik dan aku sempat mendengar kalimat terakhir yang ia katakan sebelum menaiki tangga.
"Plis deh Win. Kalau mau bucin-bucinan jangan di depan jomblo sejati. Ngenes you know!"
Perkataan Kang Utep hanya direspon cengiran oleh Bang Win. Kami berdua menuju sofa untuk duduk ketika sesuatu melintas di ingatanku dan membuatku bertanya.
"Boneka yang kemarin aman, Bang?"
"Aman. Udah dibakar sama Utep. Ya walaupun harus pake usaha keras buat ngebakarnya."
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ada isinya."
"Kok Bang Win tau?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Utep yang bilang. Dia ada bakat dalam hal yang kaya gitu."
"Oh, Kang Utep ngerti yang kaya gitu?"
"Ngerti. Kenapa? Mau jadiin dia narasumber?" tanya Bang Win balik.
"Ngga tau atuh, nanti aja tanya Gia," jawabku.
Kami menghabiskan beberapa menit ke depan dengan mengobrol ringan sampai Gia, Remi dan Adul datang lalu Bang Win menjelaskan kondisi saluran telepon radio yang belum berfungsi maksimal setelah listrik padam pada malam kami gagal siaran. Dan setelah diskusi beberapa saat, diputuskanlah jika narasumber kami malam ini adalah Kang Utep. Adul akan mengambil alih tugasku sebagai penyiar penuh serta melakukan wawancara.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halow semua pendengar setia Kisah Tengah Malam. Kali ini Adul yang akan menemani tengah malam kamu semuanya dengan satu kisah dari narasumber langsung di studio. Ceritanya kan kemarin teh di sini mati listrik ya gaes ya, jadinya saluran telepon masih belum bisa dipake. Karena itu, mau ngga mau kami harus datengin narasumber langsung. Tapi sebelum itu, Adul mau puterin dulu satu lagu dari Hijau Daun yang judulnya Ilusi Tak bertepi yang minta diputerin oleh pendengar bernama Eva Al Fadillah. Selamat ngedengerin, dan jangan ke mana-mana ya gaes ya?"
Aku menahan tawa melihat gaya centil Adul saat melakukan opening sedangkan Gia yang duduk di sebelahku, berkali-kali mencubit pahaku dan melirik Bang Win yang berdiri di belakang kursi yang kududuki. Remi juga berkali-kali kupergoki sedang menatapku dan tersenyum jahil.
"Saya keluar dulu," pamit Bang Win.
Begitu sosoknya menghilang di balik pintu, Gia langsung memekik. "An*jir! Bang Win bisa romantis kaya gitu astaga!"
Remi yang mendengar ucapan Gia menahan tawa dengan menekan telapak tangannya ke mulut.
"Emang! Selama kenal sama Win, saya juga baru liat dia kaya gitu. Dulu-dulu ngga," sambung Kang Utep.
Gia terlihat kaget. Sepertinya dia lupa jika teman Bang Win ada di dalam studio dan mendengar perkataannya. Aku hanya nyengir karena tidak tau harus berkata apa.
"Dingin-dingin kaya gini dengerin lagu Hijau Daun emang paling mantul!" Adul kembali melanjutkan siaran setelah lagu selesai diputar.
"Kang Utep. Akang udah lama jadi penyiar?" tanya Adul.
"Lumayan lama, Dul. Hampir delapan tahun, tapi kalau di Radio Rebel mah baru empat tahunan."
"Kang, kan stasiun radio kita teh udah terkenal angker sepenjuru kota Bandung. Kalau Akang sendiri, punya ngga kisah mistis pas kerja di sini?"
"Ada, tapi pas awal-awal aja. Kebetulan bisa dibilang saya punya kemampuan sejak lahir."
"Ibego?" tanya Adul.
"Indigo, Adul," ralat Kang Utep.
"Iya itu. Jadi bener dong yang dulu Adul pernah bilang kalau ada orang-orang Belanda di sini?"
"Bener! Ada di tempat ini dan beberapa dari mereka suka usil. Buat yang baru-baru pasti kaget, tapi lama kelamaan mah ngga. Selain itu kalau kitanya udah biasa aja, mereka ngga akan ganggu lagi. Cuma memang ada beberapa manusia yang jadi favorit mereka, jadinya mereka kaya pengen deket gitu."
"Emang ada, Kang?" tanya Adul tidak percaya.
"Ada. Ada beberapa manusia yang lahir di bawah weton yang disukai makhluk halus. Biasanya manusia yang kaya gitu, punya tingkat kepekaan yang tinggi. Ngga selalu melihat wujud mereka tapi bisa ngerasain. Yang kaya gitu bakal makin tajem kalau diasah dan bakal hilang dengan sendirinya kalau manusia yang bersangkutan biasa aja."
"Serem ya, Kang?" respon Adul.
__ADS_1
"Ya serem buat yang ngga biasa."
"Seremnya tuh ya Kang, takut diikutin pulang ke rumah," sambung Adul.
"Kalau yang itu sih saya rasa ngga, Dul. Buat jiwa-jiwa yang terikat di suatu tempat, biasanya mereka ngga akan bisa keluar dari tempat tersebut. Jadi hanya di sekitar tempat mereka terikat aja."
"Ah Kang Utep bohong. Adul sering denger cerita ada yang diikuti pulang sampai ke rumah."
"Nah, itu yang gentayangan. Mereka ngga terikat di suatu tempat dan kerjanya mondar mandir terus. Golongan mereka itu ditolak bumi dan tidak diterima langit."
"Golongan apa itu Kang?" tanya Adul.
"Orang yang bu*nuh diri. Konon mereka bergentayangan sampai kiamat karena mendahului takdir. Tapi balik lagi, semua itu kan rahasia Allah, jadi ngga ada satu manusia pun yang bener-bener tau."
"Masa iya sih Kang?"
"Iya! Emang ada manusia yang udah jadi arwah gentayangan terus balik lagi jadi manusia? Terus mereka cerita, pas jadi arwah, kerjaannya ditolak bumi dan langit? Kan ngga. Jadinya ya ngga ada yang bener-bener tau," jelas Kang Utep.
"Iya juga ya? Tapi kok lama-lama saya merinding ya Kang?"
"Iyalah! Kalau kita lagi ngomongin hal yang kaya gini, energi yang keluar dari tubuh kita itu negatif karena rasa takut. Itu yang mengundang mereka-mereka untuk datang. Jadi ngga heran kalau kalian, anak-anak Kisah Tengah Malam yang abis siaran, nemuin hal aneh-aneh. Sugesti positif, itu yang utama. Kalau kitanya happy dan ngga takut, biasanya aman. Tapi, kalau udah takut sampai stres karena ketakutan itu sendiri, ya biasanya kejadian."
Remi mengangkat tangannya, tanda durasi hampir habis. Dengan segera, Adul berpamitan pada para pendengar dan mengingatkan mereka tentang jadwal siaran Kisah Tengah Malam. Tepat setelah Adul dan Kang Utep melepas Headphone, Bang Win masuk kembali ke studio.
"Dari mana?" tanyaku pelan dan menoleh ke arahnya.
"Abis ngopi sebentar sama owner, yank."
Gubrak gubrak gubrak!
Aku kaget dan otomatis melihat ke arah Gia lalu ke arah Remi. Keduanya menatapku dengan pandangan yang sama herannya.
"An*jir Win! Romantis pisan!" seru Kang Utep.
Gubrak gubrak gubrak!
Ia melonjak-lonjak gemas di kursinya. "Udahlah hayu pulang! Makin baper aing (saya-sunda kasar) liat yang bucin!" tambahnya sambil berdiri.
Bang Win hanya tersenyum lebar dan memegang bahuku yang masih duduk santai. Setelah Gia, Remi dan Adul membereskan barang pribadinya masing-masing, kami semua keluar dari studio.
Tepat di halaman parkir, kami berpisah dan hanya menyisakan aku dan Bang Win.
"Mau makan dulu ngga?" tanya Bang Win.
"Mau, tapi ngga mau yang berat-berat," kataku.
"Jangan bilang terserah ya?"
"Ngga kok. Mau roti bakar aja," jawabku tersenyum lebar.
__ADS_1
"Iya atuh, hayu."
Sudah menjadi kebiasaan, Bang Win akan mengambil tanganku, memasukkannya ke dalam saku hoodie dan menggenggamnya erat.